Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.
Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.
Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.
Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISA-SISA ISTANA YANG DILUPAKAN
Jalan menuju istana terapung bukanlah jalan yang terbuat dari batu atau emas. Ia terbuat dari cahaya yang memadat pijaran lembut yang melayang di antara awan, seakan langit itu sendiri membukakan jalan bagi mereka yang berani melangkah. Di kiri dan kanan, reruntuhan menara kuno menonjol dari samar-samar kabut, pecahan pilar yang bertuliskan huruf-huruf yang sudah tidak dibaca siapa pun selama ribuan tahun.
Xuanyuan berjalan di depan. Setiap langkahnya tenang, mantap, namun di dalam dadanya, sesuatu bergetar bukan ketakutan, melainkan pengenalan. Seakan setiap batu yang terinjak, setiap bayangan yang lewat, pernah dilihatnya sebelumnya dalam mimpi yang terlupakan.
Lian Yue berjalan di sampingnya. Matanya menatap pilar-pilar yang berlalu, lalu ia berhenti di salah satu pecahan dinding yang masih utuh. Di sana, terukir dua sosok seorang pria dan seorang wanita, berdiri berdampingan, dan di antara mereka, bayangan seorang anak kecil yang digendong.
"Xuanyuan..." suaranya pelan, segan mengganggu keheningan. "Lihatlah ini."
Xuanyuan berbalik. Saat matanya jatuh pada ukiran itu, napasnya tertahan. Pria di ukiran itu memegang pena di tangan kanannya, wanita itu memegang cermin yang retak. Dan di mata kiri bayi itu meski hanya goresan batu yang sederhana terukir dua lingkaran konsentris yang tak bisa disalahartikan.
"Ini aku," katanya pelan, tangannya gemetar menyentuh permukaan batu yang dingin. "Ini ayahku. Ibuku. Dan aku... sebelum semuanya dihapus."
Ia mengusap permukaan batu itu, seakan menyentuh wajah yang tak pernah ia kenal.
"Mereka tidak dihapus dari sejarah," bisiknya. "Sejarah saja yang ditulis ulang. Tapi batu tidak berbohong. Batu hanya diam, menunggu seseorang yang cukup berani untuk melihatnya kembali."
Mereka melanjutkan perjalanan. Semakin dekat ke istana, semakin jelas terlihat kerusakannya. Tidak hancur oleh perang, tidak dimakan waktu tapi dihapus. Bagian-bagian dinding lenyap seakan tidak pernah ada. Lorong-lorong berakhir di udara kosong. Dan di mana-mana, ada jejak tinta emas yang tergores kasar, seakan seseorang dengan marah mencoret setiap nama, setiap kisah, setiap jejak keberadaan mereka.
Di aula utama, di tengah ruangan yang sebagian langit-langitnya hilang, berdiri sebuah meja batu yang masih utuh. Di atasnya, tumpukan gulungan kertas tua yang menguning. Namun setiap gulungan itu kosong bersih, tanpa satu huruf pun.
"Dihapus," kata Xuanyuan, tangannya menyentuh kertas yang dingin. "Setiap catatan. Setiap nama. Setiap kisah. Dia tidak hanya membunuh mereka. Dia memastikan seakan mereka tidak pernah ada."
Lian Yue mengambil selembar kertas yang terjatuh di lantai. Ujungnya masih hangat, seakan baru saja dipegang.
"Tapi ada satu yang tidak sempat dihapus," katanya pelan, menunjuk ke sudut bawah gulungan paling bawah. Di sana, tertulis dengan tinta yang memudar, hanya satu kalimat:
"Jika kau membaca ini, berarti kau hidup. Jika kau hidup, berarti kita gagal menghapusmu. Dan jika kau tidak bisa dihapus... maka kaulah yang akan menulis akhir ini."
Xuanyuan membaca kalimat itu berulang kali. Rasa hangat menjalar dari dadanya, naik ke tenggorokan, dan untuk pertama kalinya sejak ia ingat dirinya hidup ia menangis. Bukan tangis kesedihan. Bukan tangis kelelahan. Tapi tangis seorang anak yang akhirnya menemukan bukti bahwa ia pernah dicintai. Bahkan ketika seluruh dunia berpura-pura ia tidak ada.
"Mereka tahu," katanya dengan suara pecah namun teguh. "Mereka tahu dia akan menghapus semuanya. Tapi mereka tetap meninggalkan jejak. Bukan untuk dia temukan. Tapi untukku. Untukku, yang mungkin akan datang ribuan tahun kemudian, sendirian, tidak tahu siapa dirinya."
Ia melipat gulungan itu dengan hati-hati, menyimpannya di dekat dadanya, di atas tempat jantungnya berdetak.
"Terima kasih," bisiknya ke ruangan yang kosong. "Aku datang. Dan aku tidak akan mengecewakan kalian."
Namun keheningan itu tiba-tiba terpecah. Langit di luar aula berubah warna dari biru jernih menjadi ungu gelap yang berdenyut. Dan suara, suara yang bukan suara satu orang, melainkan ribuan suara yang berbicara serentak, bergema dari segala arah:
"Menemukan puing-puing masa lalu tidak mengubah masa depanmu, anak yang ditinggalkan. Kau berdiri di atas reruntuhan yang sudah lama kubuang. Dan sekarang... kau juga akan menjadi puing."
Lantai bergetar. Dari bayang-bayang pilar yang runtuh, sesosok makhluk melangkah keluar bukan manusia, bukan binatang. Sebuah wujud yang terbuat dari tinta emas yang mengeras, matanya adalah dua lingkaran sempurna tanpa pupil, tanpa jiwa.
"Penjaga yang ditinggalkan," bisik Lian Yue, mundur selangkah. "Dia meninggalkannya di sini untuk memastikan tidak ada yang menemukan kebenaran ini."
Makhluk itu mengangkat tangannya, dan tinta emas memuncrat dari telapak tangannya, membentuk ribuan jarum yang menunjuk tepat ke arah Xuanyuan.
"Kembalilah ke dalam ketiadaan. Ini bukan tempatmu. Ini bukan ceritamu."
Xuanyuan melangkah maju. Ia tidak mengeluarkan senjata. Ia tidak memanggil kekuatan apa pun. Ia hanya berdiri tegak, di antara meja batu dan reruntuhan masa lalu yang kini miliknya.
"Kau salah," katanya. Setiap kata jatuh berat, tenang, dan tak tergoyahkan. "Ini bukan puing-puing. Ini adalah fondasi. Dan ceritaku... baru saja dimulai."
Di saat itu, kain mantra hitam di matanya terlepas sendiri. Angin meniupnya perlahan, jatuh ke lantai batu, dan tergeletak di sana tidak lagi sebagai penutup rahasia, tapi sebagai tanda perpisahan dengan masa lalu yang penuh ketakutan.
Pupil Gandanya terbuka sepenuhnya. Dua lingkaran hitam-perak berputar perlahan, dan di dalamnya, tidak ada lagi kegelapan yang tersembunyi. Yang ada hanyalah cahaya yang begitu dalam, begitu kuno, sehingga penjaga itu mundur selangkah benda mati yang tiba-tiba merasakan ketakutan.
"Kau adalah pena yang dia gunakan untuk menghapus mereka," kata Xuanyuan pelan namun tajam. "Dan hari ini... pena itu akan patah."