Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk Sarang Villain
Begitu Eve melewati pintu utama mansion, langkahnya tanpa sadar melambat.
Bagian dalam kediaman keluarga Valois jauh lebih mengesankan daripada apa yang terlihat dari luar. Langit-langitnya tinggi, dihiasi ukiran rumit berwarna keemasan yang tampak sedikit mengilap ketika terkena cahaya dari lampu gantung besar di tengah ruangan. Lantai marmer membentang luas hingga ke tangga utama, begitu bersih sampai Eve bisa melihat samar-samar pantulan sepatunya sendiri. Pilar-pilar tinggi berdiri di sepanjang aula, sementara lukisan-lukisan berukuran besar tergantung di antara jendela-jendela tinggi.
Bahkan vas bunga yang diletakkan di atas meja kecil di dekat tangga saja tampak lebih mahal daripada seluruh isi kamar panti tempat Eve sebelumnya tinggal.
Eve mendongak cukup lama.
'Gila...gue di istana?'
Dia hampir lupa bahwa dirinya sedang berada di rumah seorang tokoh antagonis. Saat mata eve melihat patung dan vas bunga mewah di dalam ruangan itu, dia tidak bisa menahan ekspresinya.
'Itu kalau dijual, gue bisa kaya sampe tahun monyet, gila, gila, gila!'
Para pelayan yang sebelumnya sibuk dengan pekerjaan mereka perlahan berhenti. Beberapa menundukkan kepala ketika melihat Vins, tetapi perhatian mereka tidak bisa sepenuhnya dialihkan dari anak kecil yang berjalan di sampingnya. Tatapan-tatapan penasaran mulai mengikuti Eve dari berbagai arah.
Bisikan pelan terdengar di antara mereka
"Apakah itu anak yang dibawa Yang Mulia dari panti?"
"Entahlah. Aku belum pernah melihatnya."
"Rambut dan matanya.. "
Eve menangkap beberapa potongan percakapan itu, tetapi tidak terlalu memperdulikannya. Dia justru sibuk memperhatikan sekeliling. Rumah ini terlalu besar untuk disebut sekadar tempat tinggal. Rasanya lebih seperti istana kecil yang kebetulan dimiliki oleh satu keluarga.
'Mau di mana pun, ada ya orang seperti itu, ya gue ga peduli sih. Toh juga dulu sering di bicarain gitu'
Vins terus berjalan melewati aula tanpa memperhatikan bisikan para pelayan. Eve mengikuti di sampingnya sampai seorang pria tua dengan rambut yang sudah dipenuhi uban muncul dari salah satu lorong. Pakaiannya jauh lebih rapi dibandingkan pelayan lain. Jas hitam panjang yang dikenakannya tampak sederhana, tetapi setiap gerak gerikya menunjukkan bahwa pria itu memiliki kedudukan tinggi di mansion ini.
Dia berhenti beberapa langkah di depan Vins, lalu membungkukkan tubuh dengan sopan.
"Tuan Vins, saya menerima kabar bahwa Yang Mulia telah kembali dari kunjungan beliau, tetapi saya tidak mendapat pemberitahuan bahwa beliau membawa seorang anak. Bolehkah saya mengetahui siapa anak ini?"
Nada suaranya tenang, meskipun nada suaranya tidak bersahabat, seakan mengisyaratkan tidak boleh membawa orang sembarangan ke dalam rumah ini, lalu pandangannya sempat beralih kepada Eve, kemudian kembali menatap Vins
Vins berhenti.
"Dia adalah anak yang diangkat oleh Duke."
Pria itu terdiam.
Tatapannya kembali jatuh kepada Eve. Kali ini lebih lama. Dia memperhatikan rambut putih yang jatuh sampai bahu, kulitnya yang pucat, kemudian mata merah tua yang menatap balik tanpa rasa takut.
"Kalau begitu, saya memahami maksud Anda. Atas keputusan Yang Mulia, anak ini akan menjadi bagian dari keluarga Valois dan secara resmi berkedudukan sebagai putri bungsu keluarga Duke. Saya hanya ingin memastikan bahwa saya tidak keliru menerima informasi, mengingat keputusan sebesar ini biasanya akan disampaikan kepada seluruh staf kediaman terlebih dahulu. Dan biasanya..seharusnya Tuan Duke yang lebih dulu memberitahu saya."
Vins menatapnya tajam.
"Sebaiknya Anda tidak meragukan keputusan Duke. Anda juga dapat melihat sendiri bahwa rambut dan mata Nona ini memiliki kemiripan yang sangat jelas dengan seseorang di keluarga Valois."
Bastian terdiam.
Tatapannya kembali tertuju kepada Eve. ekspresi skeptis di wajahnya berubah lebih serius. Dia memperhatikan mata merah tua Eve, kemudian rambut putihnya yang sama sekali tidak biasa. Seolah baru menyadari sesuatu, pria itu menundukkan kepala lebih dalam.
"Saya mohon maaf atas keraguan saya, Tuan Vins. Saya tidak bermaksud mempertanyakan keputusan Yang Mulia. Saya hanya terkejut karena kedatangan Nona ini sama sekali tidak kami antisipasi."
Eve yang sejak tadi diam langsung sedikit mengernyit.
'Mirip siapa?'
Dia melirik rambutnya sendiri, kemudian mengangkat pandangan kepada Vins dan Bastian.
Rambut putih dan mata merah.
'Memangnya ada siapa di keluarga Valois yang punya ciri seperti itu?'setahuku gak ada deh di novelnya'
Namun sebelum Eve sempat memikirkan lebih jauh, Vins sudah kembali menghadap para pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Siapkan air mandi untuk Nona. Cari pakaian yang pantas untuknya dan pastikan semua kebutuhannya disediakan. Setelah selesai, antarkan dia ke kamar yang sudah disiapkan."
Beberapa pelayan saling bertukar pandangan.
Mereka jelas ragu.
Tidak sulit bagi Eve untuk melihat alasannya. Anak yang baru saja dibawa masuk oleh Duke secara tiba-tiba tentu membuat seluruh mansion kebingungan. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana harus memperlakukannya, terlebih setelah melihat sikap Lucien sendiri yang bahkan meninggalkan Eve di kereta.
Namun Vins hanya perlu menoleh.
Tatapannya yang tajam membuat para pelayan segera menundukkan kepala dan bergerak menjalankan perintah.
Eve memperhatikan mereka satu per satu sambil berdiri di tengah aula.
Salah seorang pelayan akhirnya maju setelah mendapat isyarat dari Vins. Wanita itu membungkuk kecil kepada Eve, kemudian mempersilakannya mengikuti mereka. Eve menurut tanpa banyak protes. Setelah seharian mengalami hal-hal yang semakin tidak masuk akal, mandi dan berganti pakaian terdengar seperti kegiatan yang akan melepaskan stressnya saat ini.
Begitu pintu kamar dibuka, langkah Eve langsung terhenti. Kamar itu jauh lebih besar daripada ruangan tempat dia tidur di panti. Tempat tidur berukuran besar berdiri di tengah ruangan dengan seprai putih bersih dan tirai tipis yang menjuntai dari kepala ranjang. Sebuah karpet tebal memenuhi sebagian lantai, sementara meja kecil, kursi, lemari pakaian, dan beberapa perabot lain tertata rapi di sekeliling ruangan. Jendela tinggi di sisi kamar memberikan pemandangan langsung ke taman mansion yang tadi sempat membuat Eve terpukau dari dalam kereta.
Eve berdiri di ambang pintu sambil menatap semuanya.
'Ini kamar gue? ini mah gue tiba-tiba jadi Sisca kohl kw'
Dia perlahan masuk. Kakinya yang kecil menginjak karpet empuk, membuat langkahnya terasa sedikit aneh. Dia kemudian mendekati tempat tidur dan menekan permukaannya dengan telapak tangan.
'Empuk banget woii' Eve tidak dapat menyembunyikan senyumnya.
Untuk beberapa detik, semua masalah yang memenuhi kepalanya menghilang, kalau bukan karena dia masih ingat bagaimana Lucien Valois mengangkatnya seperti kucing beberapa waktu lalu, mungkin Eve sudah memutuskan bahwa reinkarnasi tidak terlalu buruk.
Sayangnya, kenyataan kembali mengingatkannya. Dia masih berada di rumah seorang antagonis utama.
Kemudian salah seorang pelayan memberi isyarat ke arah sebuah pintu di sisi kamar. Pintu itu ternyata mengarah ke kamar mandi pribadi yang terhubung langsung dengan kamar tidur.
Begitu pintunya dibuka, Eve kembali dibuat terdiam.
Kamar mandinya bahkan tidak kalah mewah. Lantainya menggunakan batu berwarna pucat, terdapat bak mandi besar yang sudah diisi air hangat, dan beberapa botol kecil berisi cairan beraroma bunga tersusun rapi di atas meja. Handuk bersih dan pakaian baru juga sudah diletakkan tidak jauh dari sana.
Eve memandangi bak mandi itu, kemudian memandangi para pelayan. Salah seorang dari mereka mendekat dan mulai mencoba membuka gaun Eve.
Eve langsung mundur.
"Eh, tungguu!"
Para pelayan berhenti.
Eve menahan bagian depan gaunnya dengan kedua tangan. Wajahnya langsung berubah waspada.
'Jangan bilang mereka mau mandiin gue.'
Ketika salah seorang pelayan kembali mengulurkan tangan, Eve mundur lagi.
"Aku bica cendili," tegur Eve suaranya sedikit melengking karena kaget.
Dia bahkan mulai mencoba membuka pakaiannya sendiri. Namun tangannya yang begitu pendek dan tidak terlalu kuat, dia gagal membukanya. Eve mendengus kesal dan mencoba lagi.
Dia adalah perempuan dewasa. Selama hidupnya, dia terbiasa mengurus dirinya sendiri. Tidak ada alasan baginya untuk membiarkan orang lain memandikannya hanya karena tubuhnya sekarang berusia empat tahun.
Ketika seorang pelayan kembali mendekat, Eve langsung menepis tangannya.
"Aku bica mandi cendili!"
Wanita itu tampak sedikit terkejut, lalu menghela napas. Tatapannya turun sebentar ke tubuh Eve yang kecil sebelum kembali ke wajahnya.
"Nona masih terlalu kecil. Dengan tubuh sekecil itu, Anda tidak mungkin membersihkan diri sendiri dengan baik," katanya dengan nada sabar, seolah sedang menjelaskan sesuatu yang sudah jelas.
Eve langsung mengerutkan kening.
'Kecil apanya? Jiwa gue umur tiga puluh tahun lebih! apalagi kalau dia buka baju gue otomatis gue bakal telan*ang kan ogah banget diliat sama orang lain'
Tentu saja dia tidak bisa mengatakan itu.
"Aku bica!"
Protesnya tidak banyak membantu. Dua orang pelayan sudah mulai membantunya melepaskan pakaian. Eve berusaha mempertahankan gaunnya, tetapi tenaga dua orang dewasa jelas tidak bisa dibandingkan dengan tubuh kecilnya.
Tidak lama kemudian, Eve sudah duduk di dalam bak mandi dengan wajah merah padam.
Harga dirinya benar-benar habis.
Air hangat menyentuh tubuhnya, tetapi bukannya merasa rileks, Eve justru semakin kesal ketika salah seorang pelayan mulai menyiram rambutnya dengan kasar. Air mengalir melewati rambut putihnya dan mengenai wajah. Eve langsung memejamkan mata dan mengusap hidungnya.
"Peyan-peyan!"
Para pelayan yang semula bergerak cepat akhirnya memperlambat gerakan. Salah seorang membersihkan rambutnya dengan lebih hati-hati, sementara yang lain membantu membasuh tubuhnya.
Eve terus menggerutu dalam hati sepanjang proses itu.
'Mental gue.. tolong'
Salah seorang pelayan di belakangnya tiba-tiba mengeluarkan suara kecil seperti menahan tawa.
Eve langsung menoleh.
Pelayan itu segera menundukkan kepala dan kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa.
'Siapa yang ketawa?' Eve menyipitkan mata.
Dia tidak bisa memastikan dari mana suara itu berasal. Namun karena proses mandi belum selesai, Eve akhirnya memilih diam dan membiarkan mereka menyelesaikannya, dibandingkan harus berurusan dengan hal yang tidak penting, tidak heran kalau salah satu atau dua pelayan akan membullynya.
Setelah rambutnya selesai dicuci dan tubuhnya dibersihkan, Eve akhirnya bisa keluar dari bak mandi. Para pelayan segera membungkus tubuh kecilnya dengan handuk dan membawanya kembali ke kamar tidur.
Di sana, pakaian baru sudah disiapkan di atas tempat tidur.
Salah seorang pelayan membantu mengenakan gaun putih dengan detail renda sederhana, sementara yang lain mengeringkan rambut Eve dan merapikannya. Rambut putih yang sebelumnya berantakan disisir perlahan sebelum sebagian kecil diikat dengan pita.
Setelah itu, Eve didudukkan di depan meja rias.
Dia memperhatikan pantulan dirinya sendiri di cermin ketika wajahnya dibersihkan dan di dandani. Eve hampir tidak memperhatikan proses itu sampai salah seorang pelayan menarik bagian pinggang gaunnya.
"Baju Nona tampak sedikit kebesaran," katanya sambil merapikan kain yang longgar. "Padahal ini memang pakaian untuk anak kecil seusia Nona."
Eve menunduk.
Baru sekarang dia memperhatikan bahwa pakaian itu memang tidak pas. Bagian pinggangnya terlalu longgar, lengan bajunya sedikit kebesaran, dan tubuhnya terlihat jauh lebih kecil dibandingkan ukuran pakaian yang seharusnya.
Eve terdiam.
Dia tahu alasannya.
Tinggal di panti asuhan bukan sesuatu yang mudah. Anak-anak harus berbagi makanan dan kebutuhan dengan banyak orang lain. Dengan kondisi seperti itu, sangat mungkin tubuh Eve kecil mengalami kekurangan gizi sejak lama. Ia menatap kedua tangannya, tubuhnya saat ini mungkin bukan miliknya. Namun anak yang sebelumnya tinggal di dalam tubuh ini benar-benar pernah menjalani kehidupan seperti itu.
Salah seorang pelayan yang sedang merapikan rambutnya tiba-tiba tersenyum melihat hasil akhirnya.
"Wah, setelah didandani, Nona terlihat sangat imut. Terlebih rambut dan mata Nona benar-benar perpaduan yang sangat mirip dengan beliau."
Tangan Eve yang sedang memainkan ujung gaunnya berhenti.
'Beliau lagi.'
Kata itu sudah beberapa kali dia dengar sejak masuk ke mansion. Vins mengatakannya, Bastian juga mengatakannya, sekarang pelayan ini pun mengatakan hal yang sama. Eve mengangkat wajah dan menatap pantulannya sendiri. Ciri yang bahkan menurut dirinya sendiri terlalu mencolok untuk dianggap kebetulan.
'Siapa sebenarnya yang mereka maksud?'
Eve baru saja hendak membuka mulut ketika terdengar ketukan dari pintu kamar. Bastian muncul setelah mendapat izin masuk. Kepala pelayan itu membungkuk dengan sopan kepada Eve sebelum menyampaikan maksud kedatangannya.
"Nona, Yang Mulia telah menunggu di ruang makan. Beliau meminta agar Nona segera datang untuk makan malam bersama."
Eve langsung terdiam.
Bayangan Lucien yang menyebalkan kembali muncul di kepalanya, pria sudah mengangkatnya seperti kucing, lalu melempar nya seenak hati, dan meninggalkan nya begitu saja, memikirkan nya saja sudah membuat kepalanya berdenyut.
'Makan malam bareng Raja Iblis?'