Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.
Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.
Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Jejak Tanpa Wajah
Angin salju di Benua Utara melolong melintasi tebing-tebing kapur yang membeku. Di padang salju yang membentang seratus mil dari Puncak Pedang, sosok bergaun abu-abu tanpa wajah itu melangkah tanpa suara.
Setiap kali kakinya menyentuh butiran salju, salju di bawahnya tidak tertekan sedikit pun. Ia bergerak tidak seperti makhluk bernapas, melainkan bagaikan bayangan tak bertuan yang tersapu oleh angin malam.
Ini adalah 'Bayangan Pemisah Takdir', salah satu eksekutor tingkat tinggi dari Paviliun Dunia bawah.
Di Tiga Benua, Paviliun dunia bawah bukanlah sekadar organisasi pembunuh bayaran biasa. Mereka adalah faksi kuno yang telah berdiri selama puluhan ribu tahun, bergerak di dalam celah-celah hukum karma. Mereka tidak memiliki emosi, tidak memiliki sekte tanah air, dan tidak terikat pada aturan kekaisaran mana pun. Bagi mereka, setiap nyawa di alam semesta memiliki nilai yang diukur dengan batu roh.
Ssssshh...
Pria tanpa wajah itu menghentikan langkahnya di puncak bukit salju yang menatap langsung ke arah Puncak Pedang. Matanya yang tak kasat mata menyipit saat menatap kubah cahaya keemasan yang menyelimuti markas Sekte Angin Merah kubah dari Formasi Waktu: Roda Samsara Terlarang.
"Formasi manipulasi waktu kelas Kaisar Raja..." desis sang pembunuh, suaranya halus seperti desiran pasir kering. "Penyelidikan Keluarga Ye benar. Sekte kecil di pedalaman Utara ini memelihara monster tua yang menyembunyikan keterikatannya dari Istana Pusat."
Sang pembunuh memiringkan kepalanya. Sesuai dengan kontrak yang disepakati dengan Patriark Ye Wushuang dari Keluarga Kuno Ye, tugas utamanya bukanlah bertarung mati-matian melawan eksistensi Kaisar Raja tersebut. Tugasnya adalah Menguji dan Mengumpulkan Informasi: menemukan celah, menculik seseorang yang penting, serta memicu kekacauan untuk melihat seberapa jauh jangkauan kekuatan Zeng Niu dan pelindungnya.
Dari balik jubah abu-abunya, pembunuh itu mengeluarkan sebuah belati tipis yang terbuat dari Batu Hitam Lemah-Jiwa. Belati itu tidak memancarkan Qi, melainkan menyerap Niat Kehidupan di sekitarnya.
"Tugas pertama: Potong persediaan dan pancing keluar."
ZRAASH!
Tubuh pria tanpa wajah itu melebur menjadi kabut abu-abu, menyatu sempurna dengan salju yang berterbangan, lalu melesat menembus celah formasi terluar Puncak Pedang tanpa memicu alur formasi sedikit pun.
Di waktu yang sama — Dalam Gua Es Puncak Pedang
Zeng Niu masih duduk bersila, dadanya naik turun teratur saat ia menstabilkan gejolak Jiwa Dewa-nya pasca memotong Benang Karma Kaisar Naga. Di sampingnya, Zhao Ying sedang menyisir rambut putihnya yang panjang, memancarkan hawa dingin yang lembut.
Tiba-tiba, kelopak mata Zeng Niu bergetar pelan.
Mata sebelahnya yang berwarna emas gelap berkilat tajam di dalam kegelapan gua es. Meskipun Qi jiwanya sedang terkuras, Tulang Emas Asura dan pemahamannya yang baru akan [Otoritas Ketiadaan] telah membuat kepekaan indranya berada di tingkat yang menakutkan.
Ia tidak merasakan Niat Membunuh. Ia tidak mendengar suara langkah kaki. Namun, ia merasakan ada kekosongan tak wajar yang bergerak di dalam ruang fisik Puncak Pedang seolah-olah ada sepotong kain abu-abu yang sengaja dihapus dari hukum alam semesta.
"Ying'er," suara Zeng Niu sangat rendah, hampir tak terdengar.
Zhao Ying menghentikan jemarinya. "Ada lalat yang merayap masuk?"
"Bukan lalat biasa," senyum algojo Zeng Niu perlahan mengembang di kegelapan, matanya memancarkan rasa haus akan pertarungan yang dingin. "Seorang pembunuh dari faksi bayangan. Dia bergerak sangat rapi, mengincar murid-murid di luar Formasi Waktu."
Di dunia kultivasi, seorang pembunuh profesional tidak akan pernah langsung menyerang benteng terkuat atau target utama jika ia belum mengetahui kedalaman airnya. Mereka akan memotong anggota badan terlebih dahulu, menabur racun, dan menyerang saat target paling lengah.
"Apakah kau ingin aku membekukannya?" tanya Zhao Ying tenang.
"Tidak perlu," Zeng Niu bangkit berdiri, merapikan jubah hitamnya. Tulang Emas Asura-nya berderak halus tanpa suara. "Keluarga Ye di Benua Tengah rupanya terlalu takut untuk datang sendiri, jadi mereka menyewa tikus dari pasar gelap. Karena mereka ingin menguji kedalaman airku... mari kita berikan pertunjukan yang tidak akan pernah mereka lupakan."
Pelataran Luar Puncak Pedang — Di Luar Kubah Formasi Waktu
Malam semakin larut. Udara dingin menggigit tulang.
Beberapa murid pelataran luar sedang berpatroli di sepanjang dinding batu. Di antara mereka, Mo Tian berjalan dengan pedang besar bersandar di bahunya. Meskipun Formasi Waktu sedang aktif di area inti, patroli area luar tetap harus dijaga ketat untuk mencegah penyusupan faksi lokal.
Mo Tian menghentikan langkahnya di dekat sebuah menara pengawas yang tertutup es. Hidungnya berkerut.
Sebagai seorang kultivator yang melatih fisik dan telah mencapai Soul Transformation Tahap Akhir, insting bertarungnya sangat tajam. Ada aroma samar yang tidak asing baginya aroma asam dari racun pelumpuh jiwa.
"Siapa di sana?!" bentak Mo Tian, tangannya langsung mencengkeram gagang pedangnya.
Namun, tidak ada jawaban. Hanya embusan angin salju yang menderu.
Seketika, tepat dari balik bayangan tubuh Mo Tian sendiri, sebuah tangan abu-abu tanpa kulit menjulur keluar! Belati Batu Hitam yang menyerap cahaya melesat lurus menuju Dantian Mo Tian!
Serangan itu begitu mendadak, tanpa fluktuasi Qi, tanpa Niat Membunuh sedikit pun. Ini adalah teknik terlarang Paviliun Dunia Bawah: [Tebasan Bayangan Tanpa Nama]!
Mo Tian membelalakkan matanya. Ruang di sekitarnya terasa mengunci, membekukan gerak fisiknya. Di hadapan pembunuh elit dari Benua Tengah, perbedaan pengalaman bertarung membuat Mo Tian berada dalam bahaya maut seketika!
CRACK!
Namun, sebelum belati beracun itu sempat menyentuh jubah Mo Tian...
Sebuah tangan yang bersinar dengan pendaran Emas Gelap muncul dari dalam ruang hampa di samping leher Mo Tian, lalu mencengkeram bilah Belati Batu Hitam tersebut dengan dua jari!
KLANG!
Belati tingkat Surga yang sanggup melelehkan Dantian itu... berhenti seketika di udara, terkunci sempurna di antara jepitan dua jari Zeng Niu!
"P-Paman Muda?!" Mo Tian terperanjat, buru-buru melompat mundur sejauh lima tombak dengan keringat dingin membasahi punggungnya.
Dari dalam bayangan, sosok abu-abu tanpa wajah itu tampak terkejut untuk pertama kalinya. Mata tak kasat matanya menatap jari-jari emas Zeng Niu yang menahan belatinya tanpa tergores sedikit pun.
"Fisik Emas... dan kecepatan merobek ruang tanpa gelombang Qi..." suara pria tanpa wajah itu bergetar samar. "Kau... Zeng Niu."
Zeng Niu berdiri santai di samping Mo Tian. Jubah hitamnya melambai ditiup angin malam. Senyum algojonya yang kejam dan merendahkan terukir jelas di wajahnya.
"Pembunuh dari Paviliun Dunia Bawah," ucap Zeng Niu pelan, memutar pergelangan tangannya.
PRANG!
Belati Batu Hitam tingkat Surga itu patah menjadi dua bagian hanya dengan jepitan dua jari Zeng Niu!
Melihat senjata pusakanya hancur seperti kayu lapuk, pembunuh tanpa wajah itu tidak ragu-ragu sedetik pun. Ketika target terbukti jauh di luar jangkauan analisis, aturan utamanya adalah: Mundur dan Bawa Informasi!
WUUUSSSSH!
Tubuh pria abu-abu itu meledak menjadi ribuan bayangan benang, menyebar ke segala arah menembus padang salju dengan kecepatan melampaui kilat. Ini adalah teknik pelarian Dunia Bawah yang mengorbankan sepuluh persen darah esensi.
"Lari?" Zeng Niu tertawa sinis.
Ia tidak mengejar dengan tubuhnya. Zeng Niu hanya mengangkat tangan kanannya, mengarahkan telapak tangannya ke arah ribuan bayangan benang yang melesat di udara.
[Otoritas Ketiadaan: Penghapusan Konsep Jarak!]
Seketika, ruang dalam radius sepuluh mil di sekeliling Puncak Pedang terlipat secara ekstrem! Ribuan bayangan benang yang tadinya melesat jauh ke batas cakrawala... mendadak tertarik kembali secara paksa, menyatu kembali menjadi satu sosok manusia berjubah abu-abu yang jatuh berlutut di tanah tepat di depan kaki Zeng Niu!
"A-APA?!" Sang pembunuh berteriak histeris. Hukum ruang di sekitarnya telah dimanipulasi sedemikian rupa hingga konsep 'melarikan diri' dihapus sepenuhnya!
Zeng Niu membungkuk, mencengkeram leher pria tanpa wajah itu dengan tangan Emas Asura-nya, meremukkan pipa napas dan meridian utamanya seketika.
"Bawa pesan ini kembali pada Patriark Ye Wushuang dan majikanmu di Dunia Bawah," bisik Zeng Niu, matanya yang sebelah emas dan sebelah hitam menatap lurus ke dalam jiwa sang pembunuh.
"Jika Keluarga Ye ingin kepala saya, datanglah sendiri. Jika mereka terus mengirimkan tikus-tikus kecil seperti kalian... aku akan memotong setiap tangan pembunuh yang mereka sewa, lalu mengirimkan kepala kalian kembali dalam kotak hadiah."
Zeng Niu tidak membunuhnya seketika. Sebaliknya, ia menyalurkan seberkas Niat Ketiadaan langsung ke dalam Lautan Kesadaran sang pembunuh bukan untuk menghancurkannya, melainkan untuk mengunci ingatan akan ketakutan malam ini secara abadi.
BAM!
Zeng Niu melempar tubuh pembunuh yang Dantiannya telah dilumpuhkan itu ke luar gerbang gunung.
Mo Tian melangkah mendekat dengan napas memburu. "Paman Muda... Anda membiarkannya hidup?"
"Seekor utusan yang ketakutan jauh lebih berguna daripada mayat yang bisu," Zeng Niu menepuk bahu Mo Tian, tersenyum dingin. "Biarkan dia pergi dan menceritakan pada Benua Tengah... tentang monster seperti apa yang sedang menunggu mereka di Utara."