NovelToon NovelToon
Sang Pembantai Dewa

Sang Pembantai Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sarmadi

BANGKIT TANPA WARISAN.
Pemuda jenius terlahir tanpa dantian. di hina dan di hianati. pada suatu hidup dan mati ia baru menyadari diri nya telah merubah jantung di dada nya hingga menjadi jantung abadi. semua itu karena tekat nya hingga membuat rasa takut yang menghiasi hidup nya menjadi Entitas yang tidak berbentuk. hingga menyatu dengan jantung di dada nya. membuat jantung itu dikenal sebagai jantung dao yang tak terhancurkan,
kini jantung dao yang tak terhancurkan itu menggantikan dantian yang tidak ia miliki, dengan jantung dao yang tak terhancurkan, dia mampu bangkit dengan menginjak lautan darah musuh yang menghalangi jalan menjadi yang tak terkalahkan.

👉👉Tolong baca dulu sampai 10 bab, jika tertarik terimakasih. jika tidak pun terimakasih telah membantu karya ini meski tidak sebaik yang lain 🙏🙏🙏 Saya doakan kalian pada sehat, Amiin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarmadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10 awal kebangkitan yefan/jantung abadi.

Yefan memaksa tubuhnya yang penuh luka untuk berdiri, menahan rasa sakit tak tertahankan yang membakar seluruh persendiannya. Ia enggan menyerah begitu saja. Di hadapan ajal yang mengintai, tekadnya untuk bertahan hidup tetap bergelora.

Namun, fisiknya yang hancur tak lagi mampu mengimbangi kehendak jiwanya. Yefan kembali ambruk ke tanah. Perutnya yang terbelah akibat hantaman kapak Fanyun memperlihatkan organ yang terburai, sementara tulang rusuk kanannya mencuat keluar dari punggung akibat tikaman pedang Xifeng yang kejam.

Tanpa disadari oleh kawanan tupai maupun Yefan sendiri, tepat di atas langit, dua sosok melayang di balik celah awan: seorang pria paruh baya bertubuh tegap dalam balutan jubah kebangsawanan, serta seorang gadis muda berusia sekitar dua belas tahun yang mengenakan gaun ungu bermotif bulan dan salju.

"Paman Ketiga... apakah kita tidak akan menyelamatkan pemuda itu?" bisik sang gadis, menatap Yefan dengan raut iba setelah menyaksikan pengkhianatan keji yang baru saja terjadi.

Sebenarnya, pria itu tengah mengawal keponakannya menyusuri perbatasan hutan demi mencari peruntungan agar sang gadis dapat menapaki jalan kultivasi. Ketika melintas, mereka tak sengaja menyaksikan sebagian keputusasaan yang dialami Yefan.

Paman Ketiga hanya mendesah panjang.

"Kegigihan pemuda itu memang luar biasa. Tekad seperti itu bahkan sulit ditemukan pada para jenius di Kota Kekaisaran. Tapi sayang... ia tak memiliki dantian. Seandainya ia bisa berkultivasi, dengan tekad seperti itu. ia pasti akan tumbuh menjadi tokoh agung di masa depan. Sungguh sangat disayangkan."

Ia menggeleng pelan.

"Lagipula, meski ia memiliki pusaka kuas dan busur tulang yang mumpuni, itu semua tak cukup untuk menyelamatkannya dari cengkeraman maut."

Gadis muda itu hendak membujuk kembali, tetapi sang paman mengibaskan lengan bajunya secara halus.

"Ayo pergi. Bentrokan di sini berpotensi memancing keluar entitas berbahaya dari pedalaman hutan," ujarnya dingin, sama sekali tak berniat campur tangan.

Bagi seorang pakar yang telah mengarungi kejamnya dunia kultivasi, kebrutalan dan pengkhianatan seperti ini sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

Sebenarnya, Paman Ketiga sempat tertarik pada dua pusaka di tangan Yefan. Namun, ketika indra spiritualnya menyapu kedua pusaka tersebut, ia menyadari adanya segel kuno yang membuat pusaka itu hanya bisa diaktifkan oleh garis keturunan pemilik aslinya.

"Ciiitt! Ciittt!"

Kawanan Tupai Berekor Tiga saling mencicit gencar, seolah bertukar perintah. Detik berikutnya, gerombolan monster itu menerjang serempak ke arah Yefan.

Sadar tak ada lagi jalan untuk selamat, mata Yefan berkilat nekad.

"Jika harus mati... maka kita hancur bersama!" teriaknya seraya mencengkeram erat Kuas Bertinta Hitam.

BOOM!

Yefan mentransfer seluruh esensi darah yang tersisa di dalam tubuhnya ke dalam Kuas Bertinta Hitam. Kulitnya mengerut seketika, dagingnya menyusut drastis hingga tubuhnya kini tak ubahnya kerangka yang terbungkus kulit keriput.

Pengorbanan ekstrem itu akhirnya berhasil memicu potensi puncak Kuas Bertinta Hitam.

Seketika, fenomena aneh muncul. Gambar Gambar tiga dimensi berlapis-lapis mengelilingi gagang kuas, memancarkan aura kuno yang membuat ruang di sekitarnya bergetar.

Yefan tak peduli betapa mengerikannya wujud asli pusaka peninggalan almarhum ayahnya itu.

Dengan sisa tenaga terakhir, ia mengayunkan kuas tersebut, melukis bayangan seluruh tupai yang menerjangnya di udara—seolah-olah membubuhkan tinta di atas kertas putih.

BOOM!

Lukisan tiga dimensi di sekeliling kuas bergetar hebat.

Seketika, dunia di sekitar Yefan kehilangan warna, berubah menjadi putih keabuan secara tidak masuk akal. Seluruh gerombolan tupai yang sedang menerjang nya itu mendadak membeku di udara tak bisa bergerak.

dengan tubuh yang telah berubah warna menjadi putih keabuan.

"Hancur!"

BAM!

Seluruh pepohonan, tanah, dan kawanan tupai yang terlukis tersebut meledak hancur menjadi serpihan debu tanpa sempat memberikan perlawanan sedikit pun!

Seiring musnahnya para monster, tubuh Yefan ambruk telentang ke tanah, benar-benar kehabisan semua nya. Bahkan untuk sekadar mempertahankan kelopak matanya tetap terbuka, ia harus berjuang setengah mati.

Di sisa kesadarannya yang meredup, Yefan sempat menangkap samar-samar kepergian pria paruh baya dan gadis bergaun ungu di awan.

Gadis itu bahkan sempat menoleh kepadanya dengan sorot mata penuh iba.

Namun, Yefan hanya menatap nya dengan datar. Ia sama sekali tidak memohon pertolongan sedikit pun.

Pengkhianatan rekan masa kecilnya telah menanamkan sebuah ikrar kelam di dalam dadanya.

Jika ada kehidupan selanjutnya, ia tak akan pernah lagi mempercayai seorang Kultivator—sekalipun orang itu rela mengorbankan nyawa untuk menyelamatkannya.

"Dunia seorang kultifator... ternyata sekejam ini," desah Yefan lirih.

Namun, malapetaka belum usai.

Dari kegelapan pedalaman hutan, seekor Tupai Berekor Tiga raksasa dengan tingkat kultivasi Ranah Pemurnian Qi tahap awal melesat keluar.

Matanya memerah menyala saat menyaksikan mayat kawannya yang telah hancur berceceran.

"CIIIIIIITTTT!"

Monster itu meraung murka seraya mengayunkan cakar tajamnya ke arah Yefan.

CRESS!

Tubuh kering Yefan terpotong menjadi dua bagian tanpa perlawanan.

Namun, tekad baja dan kebencian yang mendalam seakan menolak kematian, membuat jiwanya tetap bertahan dalam kesadaran yang sekarat.

Menjadi seorang Kultivator adalah impian hidupku... tapi pada akhirnya, segalanya sia-sia...

Yefan merasa seolah-olah dirinya tak lagi merasakan sakit. Tubuhnya yang terbelah mulai dicabik-cabik oleh monster tersebut, sementara kesadarannya perlahan semakin redup.

"Ciiittt! Ciittt!"

Tupai raksasa itu meluapkan amarahnya, lalu menancapkan cakar paling tajamnya tepat ke dada Yefan demi meremukkan organ vitalnya.

CRES!

Cakar itu merobek dada Yefan.

Namun, tepat saat cakar tajam tersebut menyentuh organ di dalam dadanya—

DUM!

Jantung Yefan yang semula telah berhenti berdetak mendadak berdenyut hebat!

Seolah-olah benda itu berontak merespons kesadaran Yefan yang hendak lenyap sepenuhnya akibat serangan musuh.

DUM! DUM! DUM!

Detak jantung itu semakin keras.

BOOM!

Kabut merah berkorosif yang sangat mengerikan menyeruak dari dalam jantung Yefan!

Kabut merah pekat menyembur keluar dan melilit tubuh tupai raksasa tersebut hingga terkunci kaku.

"CIIIIITTTT!"

Monster itu meraung dan meronta histeris. Ia mengerahkan seluruh energi kultivasinya hingga tanah di sekitarnya retak dan hancur.

Namun, di hadapan aura berdarah yang korosif tersebut, perlawanannya sama sekali tak berarti.

Dalam hitungan detik, daging sang tupai mengering dan membusuk dengan kecepatan mengerikan, menyisakan tengkorak yang kemudian retak dan hancur.

Sebelum kesadaran Yefan benar-benar padam, ia menyaksikan seluruh kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri.

Namun, sebelum ia sempat memahami lebih jauh—

Kesadarannya benar-benar tenggelam dalam kegelapan.

Ia tidak menyadari Jantung merah tersebut perlahan menyerap habis sisa-sisa jiwa Yefan yang hendak keluar dari tubuhnya.

Detik berikutnya, bagaikan memiliki kesadaran sendiri, jantung merah itu melesat terbang membawa serta Kuas Bertinta Hitam dan Busur Tulang milik Yefan.

Cahaya merah pekat menembus kegelapan, membawa dua pusaka tersebut menuju pedalaman Hutan Belantara Timur.

 

Sementara itu, jauh dari lokasi kejadian, tiga sosok berlari kencang melintasi belukar.

Wajah Xifeng, Fanyun, dan Yunlan dipenuhi kewaspadaan saat melintasi berbagai ancaman binatang buas dan perampok jalanan.

" cepat! Kita harus tiba di desa sebelum malam dan menyerahkan Teratai Hitam Tujuh Daun ini kepada Kepala Desa!" seru Xifeng.

"Hm, ayo!" sahut Yunlan.

"Tunggu! Bersembunyi!" bisik Fanyun mendadak seraya memberi isyarat.

Mereka bertiga secepat kilat merapat ke balik batang pohon raksasa.

Tak jauh dari sana, lima pemuda dari faksi asing tampak melintas sambil berbincang gencar.

"Kau sudah dengar beritanya? Tetua Yan Feng dari Keluarga Yujin murka besar atas kematian Yulin Zou. Dia mengerahkan seluruh pasukan elit untuk memburu orang yang membawa cakar besi gorila!"

"Lalu bagaimana hasilnya?"

"Hmph, di tangan pasukan elit, para pembawa cakar gorila itu langsung diringkus tanpa sisa! Dan konon, dari hasil interogasi, pelayan bernama Lei Ting itulah yang menjadi dalang utamanya."

"Lalu?"

"Entahlah, tapi kabarnya saat ini faksi internal Keluarga Yujin justru pecah dan saling berperang saudara!"

"Sudahlah, itu intrik politik klan besar. Tak usah ikut campur. Lebih baik kita cari sumber daya lain."

Setelah kelima pemuda itu berlalu, tubuh Fanyun, Xifeng, dan Yunlan gemetaran hebat.

"Ini... apakah rencana Yefan segila ini?" gumam Fanyun seraya menelan ludah. "Hanya dengan menyerahkan cakar gorila itu, dia berhasil membuat keluarga besar Yujin bersimbah darah dalam perang saudara?"

"Rencana yang benar-benar mengerikan..." sahut Yunlan.

Ia menundukkan kepalanya, wajahnya perlahan dipenuhi penyesalan.

"Jika dipikir-pikir... Yefan sebenarnya memperlakukan kita dengan sangat baik. Dia tidak pernah berniat buruk kepada kita."

Xifeng dan Fanyun terdiam.

"Berarti... kita benar-benar hanya salah paham terhadapnya?" suara Yunlan terdengar lirih.

"Benar," tambah Fanyun. "Jika waktu itu kita bertindak gegabah tanpa mempertimbangkan rasa persaudaraan yang selama ini kita miliki dengan nya, mungkin kita bertiga yang akan tewas di tangannya."

Wajah Fanyun berubah pucat ketika mengingat kembali kekuatan dan kecerdikan yefan.

Xifeng mengepalkan tangannya.

"Dan kita malah mengira dia berniat mencelakai kita...".

Namun, Xifeng segera mendengus dingin.

"Kejeniusan tak ada artinya di hadapan kekuatan absolut seorang Kultivator tingkat tinggi. Dugaanku, dalang sebenarnya akan segera terungkap."

Tatapan Xifeng menjadi tajam.

"Kita tetap harus waspada. Klan Yujin yang telah berdiri ratusan tahun tak akan hancur begitu saja hanya karena jebakan seorang bocah."

Meski begitu, mereka bertiga tak sanggup menyembunyikan senyum lega.

Berkat strategi gila yang dirancang Yefan sebelum kematiannya, fokus perhatian Klan Yujin telah teralih sepenuhnya.

Mereka kini memiliki kesempatan untuk bersembunyi dan memanfaatkan Teratai Hitam Tujuh Daun yang akan di suling menjadi ramuan oleh kepala desa demi mereka untuk menapaki jalan kultivasi, sambil menunggu situasi di luar kembali aman.

"Ayo, kita pergi!" tegas Xifeng.

 

Jauh di pedalaman Hutan Belantara Timur, terhampar sebuah jurang raksasa yang diselimuti kabut hitam pekat.

Tempat itu memancarkan aura purba yang sunyi sekaligus mematikan.

Banyak orang menjuluki jurang tersebut sebagai Jurang Keputusasaan.

Legenda mengatakan bahwa tempat ini merupakan lokasi eksekusi massal para tawanan perang dari berbagai ras purba: manusia, iblis, siluman, hingga monster.

Siapa pun di bawah Alam Roh yang berani menginjakkan kaki ke dalamnya dipastikan tak akan kembali hidup-hidup.

Bahkan para master Alam Roh pun enggan mendekati wilayah terkutuk ini.

Begitu pekatnya aura kejahatan di sana hingga tak ada satu pun tumbuhan yang sanggup hidup di kedalamannya.

Tiba-tiba—

WUSSS!

Kabut hitam di dalam jurang yang pada awal nya tenang seketika bergejolak hebat.

Raungan ketakutan dari binatang-binatang buas menggema di sepanjang perbatasan saat merasakan anomali berbahaya dari jurang keputusasaan. mereka melarikan diri kesegala arah.

Di tengah gejolak kabut hitam tersebut, sebuah cahaya merah pekat menerobos masuk secara paksa.

Cahaya itu membelah kegelapan dan jatuh tepat di atas sebuah batu raksasa seluas pulau kecil yang dikelilingi ribuan tengkorak purba.

Cahaya merah perlahan meredup.

Di atas batu raksasa itu kini tampak sebuah jantung merah yang masih berdetak pelan, diapit oleh dua pusaka peninggalan ayah Yefan: Kuas Bertinta Hitam dan Busur Tulang.

DUM...

DUM...

DUM...

Detak jantung itu menggema pelan di tengah keheningan Jurang Keputusasaan.

Kemudian—

Kabut hitam di sekelilingnya perlahan bergerak.

Seolah tertarik oleh sesuatu.

Gumpalan-gumpalan kabut hitam mulai tersedot menuju jantung merah tersebut.

Sedikit demi sedikit...

Kabut hitam itu masuk ke dalam jantung.

DUM!

Detak jantung terdengar semakin kuat.

Jantung Yefan terus berdetak.

Seolah-olah sesuatu yang jauh lebih mengerikan sedang bersiap untuk terlahir kembali.

(Bersambung)

1
Ed Troivan
plagiat kau
Rozer Cros: diam Diam diam, 🥹
total 3 replies
Fajar Fathur rizky
bikin yefan jadi alkemis tingkat tinggi yang mana kaisar tianming sendiri harus berlutut dan memberi hormat bikin nanti yefan bantai klan yujin dan hancurkan kaisar itu beserta keluarganya kaisar itu
Fajar Fathur rizky
cepat bikin yefan bantai jendral
Rozer Cros
mksh kk ketitik nya.
aku cuma mau jelasin. ini karya hasil Kranggan ku sendiri kk, dan ga PP kalo KK ga percaya juga. dan terimakasih atas dukungan nya untuk karya ini meski tidak sebaik yang lain. 🙏🙏
intsomi: itu buzzer,jangan di liat komenannya,abaikan saja
total 5 replies
Ed Troivan
Author plagiat, ngga bakal ditamatin
Ed Troivan
Pasti ini karya plagiatmu lagi author tolol, kau bisa-bisanya menerjemahkannya lalu kau ubah nama tokoh-tokohnya makanya nggak kau lanjut novel Sang Penakluk... 👍
Rozer Cros: terima kasih kk udah dukung karya ini meski tidak sebaik yang lain. semoga sehat selalu kk
total 1 replies
Ed Troivan
kok rantaul
Ed Troivan: nggak bertanggung jawab lu Thor
total 4 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
Fajar Fathur rizky
nanti bikin yefan bantai keluarga yunjin dengan cara paling kejam dan sadis
Fajar Fathur rizky
cepat bantai yanfeng bikin ranah kultivasi yefan langsung naik ke ranah yang lebih tinggi dari ranah yanfeng
Farhan Sadewa
gereget BNR lihat tingkah laku Yulin zou ini 🤭
Ed Troivan: Author tolol
total 1 replies
Farhan Sadewa
membuat penassran
Farhan Sadewa
penuh misteri👍
Ed Troivan: penuh misteri🤣 author gak jelas. palingan ilang lagi nanti karena nggak bisa plagitin lagi
total 1 replies
Farhan Sadewa
penasarn
Farhan Sadewa
jadi penasaran🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!