kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.
pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.
setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.
yuk simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
luka dan harapan
Seraphina atau yang akrab disapa Sera menarik napas panjang saat menutup pintu rumahnya.
Angin sore menyapu lembut rambutnya yang terurai, membawa aroma tanah basah dan bunga yang tumbuh di halaman.
Lima tahun kini sudah berlalu sejak ia melangkah keluar dari rumah tangganya yang hancur, lima tahun yang mengajarkannya berdiri tegak tanpa bersandar pada siapa pun. Ia kini bukan lagi perempuan yang lemah dan mudah menangis. Ia adalah Seraphina Anastasya yang mandiri, tenang, dan menawan, meski di balik senyumnya masih tersimpan luka yang belum sepenuhnya kering.
Banyak orang kagum pada ketangguhannya, namun tak banyak yang tahu betapa berat langkah yang telah ia tempuh. Pernah ia berjanji pada diri sendiri, tak akan lagi membiarkan siapa pun masuk terlalu jauh ke dalam hatinya.
Cukup sekali saja ia dikhianati, cukup sekali ia dihancurkan oleh kata-kata manis yang ternyata penuh kebohongan. Maka ia membentengi hatinya rapat-rapat.
Namun takdir berkata lain. Saat itulah Arga hadir, pria yang tenang, berwibawa, dan selalu tampak tulus dalam menatapnya. Yang selalu membantunya di saat dia kesulitan dalam mata perkuliahan.
Pertemuan mereka terjadi secara sederhana di lorong kampus.
Arga yang berdiri di hadapannya dengan senyum tulusnya. Sejak hari itu, ia seakan tak pernah lelah mencari alasan untuk bertemu.
Setiap pagi, sebelum matahari terlalu terik, Arga sering muncul di depan rumah Sera, kadang membawa sarapan hangat, kadang juga beralasan membantu Sera dalam tugas-tugas kuliah yang sempat tertinggal.
Ia tak pernah memaksa, tak pernah menuntut. Ia hanya berdiri di sana, sabar menunggu, seakan siap merawat hati Sera perlahan hingga luka itu sembuh sendiri.
“Sera,” panggilnya suatu sore saat mereka duduk berdampingan di bangku taman. Angin berhembus pelan, membelai wajah cantik itu yang tampak ragu. “Aku tahu hatimu masih tertutup rapat. Aku tahu masa lalu menyisakan rasa sakit yang tak mudah hilang.”
Arga menatapnya lekat-lekat, suaranya lembut namun tegas. “Aku tak berjanji akan melenyapkan semua lukamu dalam sekejap. Tapi aku berjanji tak akan menambah luka baru. Biarkan aku mendampingimu. Biarkan aku membuktikan bahwa tak semua janji adalah kebohongan, dan tak semua kehadiran hanya untuk pergi.”
Sera menunduk, menahan getar di dadanya. “Kau tidak mengerti, Arga. Aku bukan perempuan biasa. Aku pernah gagal membangun rumah tangga. Aku janda. Masa laluku kelam.”
“Justru karena itu aku mengagumimu,” potong Arga pelan namun tegas. “Karena di tengah badai yang pernah menghancurkanmu, kau tetap berdiri tegak. Kau tetap lembut hati meski pernah disakiti. Itulah sebabnya aku tak pernah berhenti. Bukan karena kau cantik semata, tapi karena hatimu jauh lebih indah dari apa yang tampak dimata.”
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.
Kesabaran Arga tak pernah surut. Saat Sera ragu, ia meyakinkan. Saat Sera menarik diri, ia tetap ada di dekatnya tanpa memaksa. Ia memahami ketakutan perempuan itu, menghormati batas-batasnya, dan merawat perasaannya dengan penuh kehati-hatian seolah Sera adalah hal paling berharga yang pernah ia temui.
...****************...
Langkah kaki Pak Herman berjalan mendekat, membuyarkan semua lamunan Sera di sore yang sejuk itu.
Pria paruh baya itu meletakkan sebuah buket bunga mawar putih dan sekotak coklat di meja.
"Dari siapa Yah?" tanya Sera meraihnya.
"Dari pangeran yang tidak menggunakan kuda putih tapi besi hitam...." canda Pak Herman yang membuat Sera terkekeh meski leluconnya terdengar garing.
"Masih belum ada kejelasan status dengan Arga?" tanyanya sembari mendudukkan diri di sisi Sera.
Sera meraih buket dan mencium aroma bunga yang masih segar lalu meletakkan buket mawar itu ketempat semula dan menggeleng lemah.
Pak Herman menghela nafas panjang.
"Masih takut?" tebaknya.
"Bukan takut Yah... Tapi ada sesuatu di dalam hati ini yang menolak hadirnya..." ucap Sera menunjuk dadanya.
Pak Herman bisa menerka tanpa Sera bercerita lebih detail.
Meski mereka tak pernah lagi menyinggung nama Dikta, tapi dia tahu jika nama itu masih tersimpan rapi di lubuk hati Sera.
"Beberapa bulan setelah kita pindah, Ayah sempat ketemu Pak Malik di sebuah pasar lelang... " Pak Herman mulai bercerita dan melirik reaksi Sera yang diam sembari menekan-nekan kotak coklat yang ada dipangkuannya.
"Pak Malik tanya keadaan mu dan beliau minta maaf atas kesalahan putranya... "
Pak Herman menyandarkan punggungnya pada sofa.
"Beliau tidak bertanya kita pindah kemana tapi Ayah yakin beliau tahu karena mengingat relasinya begitu banyak.... Beliau hanya berpesan, jika kelak kita kesulitan, jangan segan-segan menghubunginya... Dan juga, Pak Malik mengatakan jika Adel akan menempuh pendidikan di Paris sesuai keinginannya... Pak Malik juga menitipkan salam untuk mu... dan berpesan, agar kau selalu jaga kesehatan"
Sera tanpa sadar tersenyum mendengar nama mantan adik iparnya Adelina yang akhirnya bisa percaya diri mengambil sebuah keputusan bagi hidupnya.
"Pada akhirnya, semua akan meraih impiannya masing-masing dan semuanya telah kembali melanjutkan hidup... Bahagia dengan caranya masing-masing...." Pak Herman bangkit dan menepuk bahu Sera pelan sebelum dia menghilang masuk kedalam kamarnya.
"Buka hatimu Sera... " ucapnya sebelum masuk kedalam rumah.
Sera menunduk lesu dan helaan nafasnya terasa berat.
Ayahnya tidak menyebut nama itu.
Entah karena tak ingin dia terluka atau sebab lain.
Dan sejujurnya, Sera ingin tahu kabar Dikta. Dia ingin tahu apakah mantan suaminya telah menikah lagi atau masih sendiri sama seperti dirinya.
"Kamu bodoh atau apa sih Ser...? Mana mungkin dia masih sendiri... Dia itu jutawan, kaya raya, tampan. Mana mungkin tahan jomblo selama itu... Jika belum menikah paling tidak dia pasti punya pacar.... "
Sera meringis dengan isi pikirannya sendiri.
Bersambung...
Ditunggu crazy up nya💪