"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 32
Arga menutup pintu ruang praktik Dokter Alibie dengan sangat tenang. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit tanpa tergesa-gesa, mengangguk sopan pada beberapa perawat yang berpapasan dengannya. Tidak ada kepanikan, tidak ada jejak darah. Pria itu masuk ke dalam mobil SUV hitamnya di area parkir, lalu menyalakan mesin.
Ia mengambil selembar tisu basah, mengelap ujung jarinya dengan santai, lalu mengambil ponselnya dan menekan nomor Rena.
Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum suara bergetar Rena terdengar.
"H-halo? Arga? Kamu di mana?!" sapa Rena dengan nada histeris dari seberang.
"Aku di jalan, baru selesai meeting sama klien. Kamu kenapa panik begitu, Rena? Suaramu sampai gemetar." Arga menjawab dengan nada yang sangat datar dan santai.
"Kamu gila, Arga! Polisi... polisi baru aja datang ke kantor cari kamu!"
Arga menyipitkan matanya, namun suaranya tetap terkendali. "Polisi? Cari aku buat apa? Soal peretasan dana itu? Bukannya kamu yang harusnya dicari?"
"Bukan! Mereka nanya soal Dokter Alibie! Dokter Alibie baru aja ditemukan tewas di ruang praktiknya, Arga! Dia overdosis obat penenang! Kamu yang bunuh dia, kan?! Ngaku kamu!" jerit Rena, napasnya terdengar memburu di ujung telepon.
Arga tertawa kecil, tawa yang membuat darah Rena berdesir ngeri. "Rena, Rena... Kamu ini kebanyakan nonton film ya? Aku dari pagi keliling ketemu investor. Banyak saksinya. Kenapa kamu malah nuduh aku?"
"Terus siapa lagi?! Kemarin kamu bilang dia mau kamu singkirkan!"
"Pikir pakai otakmu, Rena!" Nada suara Arga tiba-tiba berubah tajam dan membentak. "Siapa yang paling diuntungkan kalau Dokter Alibie mati sebelum dia sempat bersaksi soal rekam medis Kirana? Pengacara tua itu! Pak Darmawan!"
"P-Pak Darmawan? Nggak mungkin... Kenapa dia..."
"Darmawan tahu kalau Dokter Alibie itu saksi kunci kita. Dia pasti nyuruh orang buat bunuh Alibie dan bikin seolah-olah itu bunuh diri, biar polisi curiga ke aku! Darmawan lagi berusaha ngejebak kita berdua, Rena!"
"T-tapi... pesan dari nomor Marni semalam..."
"Itu juga ulah Darmawan! Dia nyadap rumahku, nyuri HP Marni, terus neror kamu biar mentalmu hancur dan kamu berkhianat ke aku! Kamu mau aja dibodohi sama pengacara tua itu?!" manipulasi Arga bekerja dengan sangat sempurna.
Hening sejenak di seberang sana. Hanya terdengar isak tangis Rena yang kebingungan.
"Terus... aku harus gimana sekarang, Arga? Aku takut... Polisi bilang mereka bakal periksa semua CCTV rumah sakit..."
"Biarin aja mereka periksa. Aku nggak ada di sana, jadi nggak ada yang perlu ditakutin. Kamu diam di kantor, jangan bertingkah aneh, dan jangan berani-berani buka mulut ke polisi. Kalau kamu panik, mereka malah curiga soal penggelapan dana itu. Ngerti kamu?"
"I-iya, Arga... Aku ngerti."
"Bagus. Nanti malam aku ke apartemenmu. Kita harus susun rencana buat serang balik Darmawan."
Arga mematikan sambungan telepon. Ia membuang tisu basahnya ke luar jendela, tersenyum sinis. 'CCTV rumah sakit? Orang bayaranku sudah meretas dan menghapus semua rekamanku di lorong itu lima menit yang lalu. Kalian nggak akan pernah bisa menangkapku.'
Setengah jam kemudian, mobil Arga memasuki pekarangan rumahnya. Ia melangkah masuk ke dalam rumah dengan senyum hangat yang terukir di wajahnya.
"Sayang? Aku pulang," sapa Arga dari ruang tengah.
Kirana yang sedang duduk di sofa ruang keluarga, perlahan menolehkan kepalanya. Ia meraba-raba udara dengan ekspresi wajah yang cerah. "Sayang? Kok pulangnya cepat banget hari ini? Masalah di kantormu udah beres?"
Arga menghampiri istrinya, duduk di sebelahnya, lalu mengecup kening Kirana dengan lembut. "Udah lumayan beres, Sayang. Tapi ada berita yang agak mengejutkan tadi di jalan."
"Berita apa, Sayang? Kok nada suaramu kayak sedih gitu?" Kirana mengernyitkan dahi, tangannya membelai lengan kemeja Arga.
"Kamu ingat mimpimu tadi pagi, Sayang? Soal Dokter Alibie?"
Tubuh Kirana sengaja dibuat sedikit menegang. "I-ingat... Kenapa dengan Dokter Alibie, Sayang?"
"Mimpimu ternyata semacam pertanda buruk, Kirana. Dokter Alibie... dia baru saja meninggal dunia siang ini."
"Apa?!" Kirana membelalakkan matanya yang dikosongkan, menutup mulutnya dengan kedua tangan, memainkan peran istri yang syok berat. "M-meninggal kenapa, Sayang?! Jangan bilang... dia dibunuh?!"
Arga menghela napas panjang, menepuk-nepuk punggung Kirana. "Polisi bilang dia bunuh diri, Sayang. Dia nyuntikin obat penenang dosis tinggi ke lehernya sendiri. Obat yang sama persis kayak yang sering dia resepin buat kamu."
"Ya ampun... Hiks... Kok bisa, Sayang? Dokter Alibie itu orang baik... Dia yang selama ini ngerawat mataku..." Kirana mulai terisak, air mata palsunya menetes dengan sangat natural. Di dalam hatinya, kebencian Kirana semakin mendidih melihat betapa tenangnya pria pembunuh ini mengarang cerita.
"Mungkin dia lagi banyak masalah, Sayang. Kita nggak pernah tahu isi hati orang," hibur Arga. "Tapi yang bikin aku kepikiran... mimpimu itu. Jangan-jangan firasatmu benar. Ada orang jahat di luar sana yang lagi coba-coba hancurin orang-orang di sekitar kita."
"A-aku takut, Sayang... Jangan-jangan orang jahat itu juga ngincar kita? Gimana kalau dia datang ke rumah ini?!" Kirana memeluk tubuh Arga dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.
"Sst... Tenang, Sayang. Nggak akan ada yang bisa nyakitin kamu selama ada aku di sini. Aku bakal lindungin kamu dari siapa pun."
Arga membalas pelukan istrinya dengan senyum kepuasan yang mengerikan. Ia merasa telah menang telak. Ia berhasil menyingkirkan satu ancaman besar tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, dan istrinya yang buta ini masih sangat bergantung padanya.
Malam harinya, setelah memastikan Arga tertidur lelap di ranjang, Kirana perlahan menyibakkan selimutnya. Ia turun dari kasur tanpa suara, mengambil ponsel curian milik Marni yang masih ia sembunyikan di kolong kasur.
Kirana masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan keran air wastafel untuk menyamarkan suaranya, lalu menekan nomor Pak Darmawan.
"Halo, Paman?" bisik Kirana sangat pelan.
"Nona Kirana! Syukurlah Anda menghubungi saya. Keadaan di luar sangat kacau, Nona," jawab Pak Darmawan dari seberang dengan nada frustrasi.
"Aku udah dengar dari Arga, Paman. Dokter Alibie mati. Arga ngeracunin dia pakai obat penenang."
"Benar, Nona. Tapi yang membuat saya sakit kepala, kepolisian menutup kasus itu murni sebagai bunuh diri! Tim investigasi tidak menemukan tanda-tanda perlawanan, dan seluruh rekaman CCTV di lantai ruang praktik Dokter Alibie tiba-tiba rusak akibat serangan virus dari peretas."
Kirana memejamkan matanya, menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya. "Arga mainnya rapi banget, Paman. Dia sengaja pakai obat penenang biar kelihatan natural. Dia emang psikopat yang cerdas."
"Lalu apa langkah kita selanjutnya, Nona? Rencana kita memancing pengakuannya gagal. Dokter Alibie sudah bungkam selamanya. Dan jika Arga secerdas ini, dia pasti akan segera menyingkirkan Rena juga."
"Nggak, Paman. Arga nggak bakal bunuh Rena sekarang," desis Kirana sambil menatap pantulan matanya yang tajam di cermin kamar mandi.
"Kenapa Anda begitu yakin, Nona?"
"Karena kalau Rena mati sekarang, polisi bakal langsung nyelidikin kasus penggelapan dana itu secara mendalam, dan ujung-ujungnya pasti nyeret nama Arga. Arga butuh Rena tetap hidup buat jadi kambing hitam yang sempurna kalau sewaktu-waktu polisi curiga."
"Jadi kita biarkan saja Rena berada di dekatnya?"
"Jangan biarkan dia tenang, Paman. Arga pikir dia udah berhasil ngeyakinin Rena kalau Paman yang ngebunuh Alibie. Kita harus putar balik manipulasinya. Paman, kirimkan satu bukti kecil ke apartemen Rena malam ini juga."
"Bukti apa, Nona?"
"Kirimkan salinan rekam jejak GPS mobil SUV Arga. Tim kita pasti udah pasang pelacak di mobilnya kan? Kirimkan bukti cetak yang nunjukin kalau mobil Arga ada di parkiran rumah sakit tepat pada jam kematian Dokter Alibie."
Terdengar tawa kecil dari ujung telepon. "Sangat brilian, Nona. Begitu Rena melihat bukti itu, dia akan sadar bahwa Arga sedang membohonginya mentah-mentah."
"Biar mereka saling gigit, Paman. Arga pikir dia udah megang kendali penuh, padahal dia lagi main di atas papan caturku. Lakukan sekarang."
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,