NovelToon NovelToon
The Hidden Truth

The Hidden Truth

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku kembali

BRAK!

Pintu kelas terbuka dengan kasar, membuat seisi kelas terkejut, serentak menoleh ke arah pintu.

Seorang gadis yang lama tak muncul melangkah masuk dengan wajah datar, jauh berbeda dari sosoknya dulu yang selalu menunduk ketakutan.

Seisi kelas terkejut melihat kehadirannya.

"Lyn..." gumam mereka, saling berbisik satu sama lain.

Geng Aster yang duduk di bangku paling depan ikut terkejut, kecuali Clarisa yang wajahnya justru mengeras.

Selena langsung menoleh ke arah Clarisa. "Cla, kenapa Lyn masih hidup? Bukannya dia—" Selena tak melanjutkan ucapannya, buru-buru bungkam begitu Lyn melintas di dekat bangku mereka dengan langkah tenang.

"Dia berhasil lolos," desis Clarisa, nadanya penuh kekesalan.

"Loh, bukannya lo udah bayar orang buat menyingkirkan dia malam itu, Cla?" sahut Bianca, melirik sekilas Lyn.

Clarisa berdecih tajam. "Gue ditipu, sialan."

Sementara itu, Lyn kembali duduk di bangkunya yang lama kosong, merasakan tatapan seisi kelas terpaku padanya dari segala arah, tapi kali ini, ia sama sekali tidak peduli.

"Hai, kamu Lyn, ya?" sapa seorang gadis berambut pendek berkacamata dari bangku sebelah kanannya.

Lyn menoleh, mengerutkan kening menatap wajah asing itu. "Iya, gue Lyn. Lo siapa?"

"Kenalin, gue Ameka. Murid baru di kelas ini," gadis itu mengulurkan tangannya dengan senyum ramah.

Lyn menerima uluran tangan itu singkat. "Salam kenal."

"Semoga kita bisa berteman baik," Ameka tersenyum lembut, membetulkan posisi kacamatanya.

Lyn hanya mengangguk singkat, lalu kembali menghadap ke depan—hingga tatapannya bertemu dengan Geng Aster yang menatapnya penuh permusuhan.

Dulu, Lyn pasti akan langsung menunduk, menghindari kontak mata sebisa mungkin. Tapi kali ini, ia justru membalas tatapan itu dengan senyum miring, dingin dan penuh keyakinan.

"Gue kembali," gumamnya pelan, cukup untuk didengar oleh dirinya sendiri.

Geng Aster akhirnya kembali menghadap ke depan, dagu mereka tetap terangkat angkuh, seolah kehadiran Lyn sama sekali tak layak mereka pedulikan.

Clarisa mengepalkan tangannya di bawah meja, pikirannya mulai berputar liar, menyusun langkah untuk menghadapi kehadiran Lyn.

Tak lama, bel berbunyi nyaring, menandakan pelajaran pertama segera dimulai.

Pintu kelas terbuka, Ibu Riani selaku wali kelas melangkah masuk sambil membawa setumpuk buku. Namun baru beberapa langkah, ia terhenti, matanya membulat melihat sosok yang duduk di barisan belakang.

"Lyn? Kamu kembali ke sekolah? Bukannya kamu pindah, Nak?" tanya Ibu Riani, nada suaranya penuh keterkejutan.

"Aku nggak akan pindah, Bu. Hanya karena masalah sepele," jawab Lyn tenang, matanya melirik sekilas ke arah bangku Clarisa dengan tatapan datar yang penuh makna.

Ibu Riani tertegun, jelas terkejut dengan perubahan drastis pada sikap muridnya itu.

"Tapi kata kepala sekolah, kamu dipindahkan karena..." ibu Riani menoleh sekilas ke arah Clarisa, ragu melanjutkan.

"Aku kembali, Bu! Akan menuntut keadilan!" potong Lyn cepat, suaranya tegas tanpa keraguan sedikit pun.

Ibu Riani tak melanjutkan pertanyaannya, meski rasa penasaran masih jelas tersirat di wajahnya. Ia akhirnya mulai menjelaskan materi pembelajaran, meski sesekali matanya masih melirik bingung ke arah Lyn yang kini duduk dengan aura begitu berbeda dari yang ia kenal sebelumnya.

Di tengah pembelajaran berlangsung, Clarisa mengangkat tangan.

"Bu, saya izin ke toilet," ucap Clarisa datar, tanpa menunggu jawaban, langsung bangkit dari kursinya dengan gaya angkuh yang biasa ia tunjukkan.

Ibu Riani hanya bisa menghela napas melihat sikap Clarisa yang seenaknya itu. Ingin rasanya ia menegur, tapi ia tahu betul siapa Clarisa. Ia hanya mengangguk pasrah, membiarkan Clarisa melangkah keluar kelas.

Bukannya ke toilet sesuai izin pada Ibu Riani, Clarisa justru membelokkan langkahnya menuju ruang kepala sekolah yang tak jauh dari kelasnya.

Sesampainya di ambang pintu, ia langsung masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu.

Pak Ardi, sang kepala sekolah, terkejut mendapati Clarisa tiba-tiba berdiri di hadapannya tanpa permisi. Ingin rasanya ia menegur ketidaksopanan itu, tapi ia tahu betul, menegur Clarisa sama saja mengundang masalah baru.

"Clarisa..." ucapnya, mencoba tetap tenang.

"Pak, kenapa Lyn bisa masuk sekolah lagi, hah?! Bukannya dia udah keluar dari sekolah ini!" Clarisa langsung menyerang tanpa basa-basi, suaranya penuh emosi yang tak lagi bisa ia sembunyikan.

Pak Ardi menghela napas berat. Ia sudah menduga, cepat atau lambat Clarisa akan datang mempertanyakan hal ini.

"Ini instruksi langsung dari ketua yayasan, Clarisa. Bapak nggak bisa berbuat apa-apa," jawabnya, meski dalam hati ia tahu jawaban itu tak sepenuhnya jujur.

Sebenarnya, beberapa hari lalu, sebelum Lyn kembali masuk sekolah, gadis itu sendiri yang datang menghampiri Pak Ardi di ruangan ini. Awalnya, Pak Ardi menolak mentah-mentah permintaan itu, terlalu berisiko, mengingat siapa keluarga Clarisa. Namun kata-kata Lyn saat itu masih terngiang jelas di kepalanya.

"Pak Ardi izinkan saya masuk kembali," ucap Lyn tenang, matanya menatap lurus tanpa gentar, "atau saya pastikan semua orang tahu soal uang sekolah yang 'menghilang' tahun lalu, dan ke mana sebenarnya uang itu mengalir. Juga soal video di ponsel bapak yang tersimpan rapi di folder tersembunyi, dengan salah satu guru di sini."

Wajah Pak Ardi seketika pucat pasi, tangannya yang tadinya tenang kini mulai gemetar.

"D-Dari mana kamu..."

"Bapak nggak perlu tahu di mana aku mendapatkannya," potong Lyn dingin, senyum tipis terukir di bibirnya.

"Yang perlu bapak tahu, semua bukti itu sekarang ada di tangan saya. Tinggal bapak pilih, biarkan saya masuk dengan tenang, atau semua orang, termasuk istri bapak, tahu kebenarannya."

Terpaksa, Pak Ardi mengizinkan Lyn kembali bersekolah tanpa banyak protes.

Kini, di hadapannya, Clarisa menatap tajam, matanya penuh kecurigaan. "Kepala yayasan? Sejak kapan dia peduli soal murid kayak Lyn?"

"Bapak nggak tahu alasannya, Clarisa," Pak Ardi mencoba mengelak, meski keringat dingin mulai membasahi keningnya. "Bapak cuma jalankan perintah."

"Ini pasti ada sesuatu," desis Clarisa, matanya menyipit curiga menatap kepala sekolah yang terlihat gelisah. "Kepala yayasan tiba-tiba peduli soal anak beasiswa kayak Lyn? Nggak masuk akal."

Pak Ardi hanya bisa diam, tak berani membantah, meski dalam hati ia membenarkan sepenuhnya kecurigaan Clarisa.

"Bapak nggak tahu apa-apa lagi selain itu," ulangnya lemah, mencoba menghindar dari tatapan tajam Clarisa.

Clarisa mendecih kesal, tak mendapat jawaban yang memuaskan. Tanpa sepatah kata, ia berbalik dan melangkah keluar, membanting pintu hingga menggema di koridor.

BRAK!

Pak Ardi menghela napas panjang, tubuhnya merosot lemas ke kursi. Keringat dingin masih membasahi keningnya, pikirannya dipenuhi tanda tanya, dari mana sebenarnya Lyn bisa tahu rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

1
Anne Rukpaida
smgat lyn, balas perbuatan mreka satu persatu 🔥
Anne Rukpaida
smngat lyn 💪
Nona Jmn: Terima kasih
total 1 replies
Anne Rukpaida
akhirnya lyn ketemu juga 😇
Nona Jmn: Akhirnya🫰😁...
Ikutin terus yah... masih ada plot twist kebelakangnya🤭
total 1 replies
Anne Rukpaida
critanya luar biasa keren 😎
Nona Jmn: Terima kasih🫰🫰
total 1 replies
Anne Rukpaida
smangat ka, jadi smkin penasaran ma jln ceritanya asal muasal ortunya Lyn bisa punya keahlian bela diri gitu🔥
Nona Jmn: Sabar yah🤭🤭😁😁
total 1 replies
Anne Rukpaida
ceritanya bkin deg²n 🔥 smangat ka
Nona Jmn: Terima kasih kak😊😊🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!