Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.
Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 5: Tentang Mimpi yang Mulai Dekat
Jarum jam dinding di ruang keluarga Fernansyah terus bergulir pelan hingga hampir menyentuh angka setengah sepuluh malam.
Suasana ruangan itu kembali lengang, hanya dipenuhi suara gesekan pensil di atas kertas dan bunyi helai demi helai halaman buku yang dibalik. Setelah perbincangan hangat nan emosional bersama Pak Surya dan Bu Dita tadi, Arga dan Nadira memfokuskan kembali pikiran mereka untuk menuntaskan sisa-sisa tugas sekolah.
Sesekali, Arga melenguh pelan, meratapi soal Matematika Lanjut yang langkah pengerjaannya sepanjang silsilah keluarga. Di sampingnya, Nadira masih setia menggoreskan pena dengan tulisan tangannya yang rapi dan teratur.
"Beres!" Arga melempar pensilnya ke meja kayu dengan gestur lega. "Kelar juga akhirnya!"
Nadira ikut menutup buku catatan tebalnya, membuang napas panjang. "Akhirnya... bebas."
Arga meregangkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas, sampai terdengar bunyi kretek pelan dari persendian punggungnya. "Ahhh... nikmatnya dunia."
Nadira meliriknya dari sudut mata sambil terkekeh halus. "Kamu encok, ya? Masih SMA padahal."
"Enak aja! Ini namanya peregangan badan otot atlet," sahut Arga tak mau kalah.
Mereka tertawa pelan, menahan agar suara tawa tak sampai memecah ketenangan malam. Tak berapa lama, Bu Dita Pertiwi melangkah keluar dari arah dapur sambil membawa piring berisi potongan buah semangka segar yang berair.
"Udah selesai belajarnya, Nak?" tanya Bu Dita
lembut.
"Udah, Tante Dita," sahut Nadira penuh kesopanan.
"Alhamdulillah. Nih, dimakan dulu semangkanya biar segar. Jangan langsung buru-buru pulang ya, Dira. Ngobrol-ngobrol santai dulu aja sebentar."
"Siap, Tante. Makasih banyak ya..."
Bu Dita tersenyum mengusap bahu Nadira singkat lalu kembali ke kamarnya.
Kini, ruang keluarga itu kembali hening. Televisi di sudut ruangan menyala tanpa ada yang benar-benar menontonnya. Mereka menikmati buah semangka dingin dalam diam, membiarkan pikiran masing-masing melayang jauh.
Jam menunjukkan pukul 21.35 WIB. Masih ada sedikit waktu sebelum Nadira harus melangkah pulang ke rumah sebelah.
Arga menyandarkan punggungnya ke dalam kehangatan sofa krem. "Nad."
"Hm?"
"Lu... merasa deg-degan nggak sih akhir-akhir ini?"
"Soal apa?"
"Seleksi masuk PTN. SNBP, SNBT"
Nadira tertawa kecil, ada nada cemas yang tersembunyi di baliknya. "Banget, Ga. Siapa yang nggak deg-degan?"
"Gue juga," bisik Arga, matanya menatap langit-langit plafon.
Beberapa detik berlalu dalam hening. Hanya deru tipis kipas angin gantung yang berputar konstan di atas mereka.
Nadira meletakkan kulit semangkanya, lalu memiringkan posisi duduk menghadap Arga. "Ga..."
"Hm?"
"Kalau misalnya... gue nggak keterima di UPI Bandung..." Nadira menggantung kalimatnya.
Arga seketika menoleh, menatap sahabatnya lekat-lekat. "Gimana?"
"...gue keterima di UGM juga nggak apa-apa kok," lanjut Nadira dengan senyum tipis di bibirnya.
"Meski artinya... gue tetap nggak bisa merantau dan masih di Jogja lagi, di Jogja lagi. Haha."
Arga ikut tersenyum hambar, namun matanya menatap hangat. "Ya emang kenapa kalau di UGM?"
"Ya kan dari dulu pengennya ngerasain hidup mandiri jauh dari rumah, Ga."
"Iya, sih. Tapi kalau akhirnya takdir lu tetap bertahan di Jogja... ya mungkin emang itu jalan terbaik dari Tuhan."
"Iya juga," gumam Nadira pelan. "UGM kan kampus impian sejuta umat. Bagus banget malah."
"Top dua nasional, Nad. Sangat amat bagus," timpal Arga mantap.
Nadira terkekeh geli. "Iya, sih."
"Lagian..." Arga membetulkan posisi duduknya, menatap Nadira dengan raut wajah yang mendadak sangat serius. "...dengan rekam jejak dan nilai lu selama tiga tahun ini, gue rasa peluang lu buat lolos Kedokteran itu gede banget, Nad."
Nadira mengerjap. "Hah? Masa sih?"
"Iya! Lu pikir gue nggak merhatiin?" Arga mulai menghitung menggunakan jari-jarinya. "Dari kelas sepuluh sampai semester kemarin, lu selalu bertengger di peringkat satu paralel. Itu namanya konsisten tanpa cela."
Pipi Nadira memanas. "Ya kan... beruntung aja."
"Nggak ada keberuntungan yang diulang sampai lima semester, Dira. Terus, lu sering diutus ikut Olimpiade Kimia sama Fisika. Meskipun belum sampai medali emas nasional, itu sertifikat bernilai tinggi."
Nadira menunduk, memainkan ujung kaosnya.
"Belum lagi jejak organisasi lu," lanjut Arga tak berhenti memuji. "Lu pengrus aktif, bahkan sempat jadi Ketua OSIS. Dapet gelar siswa terteladan. Kalau gue jadi panitia penerimaan mahasiswa baru... gue nggak bakal mikir dua kali buat meloloskan lu."
Nadira menatap Arga beberapa detik, tersentuh oleh keyakinan tanpa ragu di mata cowok itu. "Lu... segitu yakinnya sama gue, Ga?"
"Yakin seratus persen."
"Kenapa?"
"Soalnya gue saksi hidup perjuangan lu tiap hari, Nad," jawab Arga halus, suaranya merendah. "Lu kalau belajar nggak pernah setengah-setengah. Kalau ada materi yang belum paham, lu kejar gurunya sampai ngerti. Ada tugas, langsung dikerjain hari itu juga.
Mau ulangan harian biasa aja, lu udah belajar dari seminggu sebelumnya."
Arga tertawa kecil menyindir dirinya sendiri. "Beda sama gue. H-1 ujian baru sibuk panik nyari rangkuman."
Nadira refleks tertawa menyenggol bahu Arga. "Itu mah dasarnya kamu yang pemalas!"
"Makanya!" Arga menyeringai. "Kalau ada orang yang paling layak dan berhak masuk FK UGM atau UPI... ya menurut gue, orang itu cuma lu."
Rona merah di pipi Nadira kini menjalar hingga ke ujung telinganya. "Ih, Arga... kok jadi malu-malu gini gue."
"Nggak usah malu, itu fakta lapangan."
Suasana mendadak hening kembali. Kali ini giliran Arga yang menunduk, memainkan ujung sendok kecil di atas meja dengan pandangan redup.
"Nad..."
"Hm?"
"Jujur... gue malah yang lagi krisis percaya diri."
Nadira memajukan duduknya, menatap Arga penuh perhatian. "Bingung kenapa, Ga?"
"Gue mikir... kalau misal gue gagal tembus Arsitektur ITB..." Arga menarik napas berat.
"...apakah gue harus nekat ikut lu daftar di UGM? Atau malah ke UNY?"
Nadira menaikkan sebelah alisnya. "Loh? Kenapa patokannya harus ikut gue?"
"Soalnya..." Arga menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar. "Gue tetep harus kuliah. Tapi ITB itu harga mati buat impian gue. Kalau semisal jalur prestasi ini gagal... gue butuh jaring pengaman."
Nadira mengangguk paham. "Itu pemikiran yang dewasa, Ga. Wajar banget. Tapi... kamu sempat kepikiran kampus alternatif di Jogja?"
"Pernah. UGM, UNY, bahkan ISI juga sempat melintas. Yang ada jurusan Arsitek atau Desain-nya."
Arga terdiam sebentar, menggigit bibir bawahnya.
"Terus masalahnya di mana?"
"Gue minder sama UGM atau ITB, Nad," aku Arga jujur. Suaranya terdengar begitu rapuh.
"Minder kenapa? Nilai kamu kan bagus?"
Arga menggeleng lesu. "Dari empat semester kemarin... rata-rata rapor gue cuma 90,67."
Nadira spontan membelalakkan mata. "Cuma?! 90,67 kamu bilang 'cuma'?!"
"Iya, Nad! Lu tahu sendiri anak-anak kelas kita yang mau ngincar ITB atau UGM UI, UNPAD, rata-rata mereka udah 93, 95, bahkan ada yang tembus 97! Angka 90 koma sekian mah nggak ada baunya!"
Nadira menyelami kegelisahan di mata sahabatnya itu. Ia paham betul, di balik sosok Arga yang selalu ceria dan terkesan meremehkan masalah, cowok ini menyimpan kecemasan luar biasa tentang masa depannya.
Arga menatap Nadira penuh keraguan. "Menurut lu... Arsitektur jalur prestasi itu minimal nilai rapornya berapa, sih?"
Nadira berpikir sejenak, memilih kata-kata yang tepat agar tak memberi harapan palsu namun tetap menenangkan.
"Kalau angka pasti... nggak ada yang pernah tahu, Ga. Kuota dan standar tiap tahun itu dinamis, selalu berubah."
"Iya, sih..."
"Tapi menurut gue," lanjut Nadira lembut, "panel seleksi itu nggak cuma buta menatap angka di atas kertas."
Arga menoleh. "Maksudnya?"
"Nilai kuantitatif emang penting. Tapi mereka juga melihat variabel lain. Konsistensi, rekam jejak sekolah, sertifikat pendukung, portofolio... dan yang paling penting, karakter."
Arga mendengarkan dalam diam.
"Kalau cuma adu tinggi-tinggian angka rapor, mungkin kamu kalah beberapa poin dari mereka," ucap Nadira jujur tanpa berniat merendahkan.
"Tapi... kamu punya modal emas yang nggak dimiliki anak-anak berotak kalkulator itu."
Arga alisnya terangkat. "Modal apa?"
"Karakter dan karya nyata kamu."
"Hah?"
"Arga, kamu itu kapten tim basket yang memimpin sekolah kita sampai semifinal DBL. Kamu sering langganan ikut lomba desain banner dan tata ruang sekolah. Bahkan... tahun lalu kamu juara dua lomba desain maket bangunan tingkat kota, kan?"
Arga mengerjap, seolah baru teringat. "Oh... iya, ya?"
"Iya! Belum lagi Pak Damar sering banget minta bantuan kamu buat ngerancang denah bangunan proyek sekolah. Itu porto riil, Arga! Pengalaman lapangan yang belum tentu dimiliki anak kelas lain yang kerjaannya cuma mendam di dalam kamar sambil menghafal rumus!"
Perlahan tapi pasti, raut tegang di wajah Arga mengendur. Binar kehidupan kembali terpancar di matanya.
"Nad..."
"Hm?"
"Makasih ya," bisik Arga tulus.
"Makasih buat apa?"
"Selalu jadi orang pertama yang sanggup
mengembalikan rasa percaya diri gue setiap kali gue mau runtuh."
Nadira tersenyum hangat, manis sekali. "Kan kita udah buat kesepakatan dari dulu. Kalau salah satu dari kita mulai ragu sama langkahnya... yang satunya punya tugas mutlak buat meluruskan dan menguatkan."
Arga ikut tersenyum lebar, rasa hangat menjalar di dadanya. "Iya juga, ya."
Deng... deng...
Jam dinding tua berdentang pelan, menandakan tepat pukul sepuluh malam.
Nadira berdiri dari sofa lalu merapikan buku-buku pelajaran dan alat tulisnya ke dalam tas. "Kayaknya aku harus pulang sekarang, Ga. Udah kemalaman."
Arga ikut berdiri mengimbangi langkahnya. "Ayo, gue anterin sampai depan."
Sesuai tradisi bertahun-tahun, Arga mengantar Nadira hingga ke teras. Perjalanan pulang itu hanya memakan waktu belasan detik—cukup dengan melangkahi pagar besi setinggi pinggang yang membatasi halaman kedua rumah mereka.
Namun, tepat di ambang batas pagar pembatas, Nadira menghentikan langkahnya. Gadis itu memutar badan, menatap Arga yang berdiri di atas undakan teras.
"Ga."
"Hm?"
"Apa pun hasil yang bakal kita terima beberapa bulan lagi..." Nadira menatap mata Arga lekat-lekat, "...jangan pernah nyerah sama mimpi kamu, ya?"
Arga mengangguk mantap, tatapannya mengunci Nadira. "Kamu juga. Apa pun yang terjadi nanti."
"Kalau ternyata takdir bikin kita gagal se-kampus..." Nadira menggigit bibirnya pelan, "...kita tetap bakal terus sahabat bertetangga kayak gini, kan?"
Nadira perlahan mengangkat tangan kanannya, mengulurkan jari kelingking kecilnya di udara malam. "Janji?"
Arga menatap jemari mungil itu, tersenyum tipis nan teduh, lalu mengulurkan jari kelingkingnya sendiri untuk menyambut dan menyatukan ikatan itu.
"Janji."
Di bawah temaram cahaya lampu teras yang kekuningan dan dinginnya angin malam Yogyakarta tahun 2013, kedua jari kelingking itu bertaut erat.
Tak satu pun dari mereka menyadari... bahwa janji polos dan manis di ambang pagar malam itu kelak akan diuji oleh badai takdir yang jauh lebih dahsyat, rumit, dan menyakitkan daripada sekadar pengumuman kelulusan perguruan tinggi.