Lin Xuan, seorang pemuda modern penyuka novel web, tiba-tiba bertransmigrasi ke Benua Langit Surgawi. Sialnya, ia terbangun dalam tubuh Ketua Sekte termuda dari "Sekte Bintang Jatuh"—sebuah sekte yang dulunya merupakan penguasa benua, namun kini hanya menyisakan dirinya dan sebuah gunung usang karena diserang oleh aliansi musuh. Di saat musuh datang untuk mengambil alih tanah sektenya, Lin Xuan membangkitkan "Sistem Pembangunan Sekte Abadi".
Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang klan, membangun paviliun ajaib, hingga memanggil naga penjaga, Lin Xuan memulai perjalanannya untuk mengubah sekte bobroknya menjadi kekuatan nomor satu di seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Kedatangan Algojo Darah
Malam semakin larut, awan hitam tebal menutupi cahaya rembulan di langit Benua Langit Surgawi. Di kaki Gunung Bintang Jatuh, suara derap langkah berat memecah keheningan malam.
Seratus prajurit berjubah zirah hitam kemerahan berbaris rapi. Mata mereka memancarkan niat membunuh yang dingin dan kejam. Mereka adalah Pasukan Serigala Besi, pasukan elite yang rekam jejaknya selalu dihiasi dengan pembantaian sekte-sekte kecil.
Di garis paling depan, tiga pria bertubuh kekar menunggangi Serigala Bertanduk Besi raksasa. Mereka adalah Tiga Algojo Darah. Pemimpin mereka, Mo Sha, menyipitkan matanya yang penuh luka gores saat menatap ke arah puncak gunung.
"Berhenti!" Mo Sha mengangkat tangannya. Pasukan di belakangnya berhenti serentak tanpa suara, menunjukkan kedisiplinan yang mengerikan.
"Kakak Tertua, ada yang aneh," ucap algojo kedua sambil mengendus udara. "Gunung ini seharusnya memiliki energi spiritual yang paling tipis di wilayah ini. Tapi mengapa... ada kabut spiritual setebal ini di puncaknya?"
Mo Sha memusatkan Qi ke matanya dan menatap menembus kegelapan. Wajahnya yang kejam tiba-tiba berubah menjadi ekspresi keterkejutan yang luar biasa, disusul oleh keserakahan yang meluap-luap.
"Itu... Formasi Pengumpul Roh! Dan melihat dari kepadatan kabutnya, ini setidaknya Formasi Tingkat 3!" napas Mo Sha memburu. "Hahaha! Ketua Sekte benar-benar salah perhitungan! Tidak heran Zhao Wu terbunuh. Sekte bobrok ini pasti menemukan peninggalan rahasia leluhur mereka!"
Algojo ketiga menjilat bibirnya yang kering. "Jika kita bisa membawa inti formasi ini kembali ke Aula Darah, Ketua pasti akan menghadiahi kita dengan Pil Inti Emas!"
"Bunuh semua yang bernapas di atas sana. Jangan sisakan satu pun, dan rampas semua hartanya! Maju!" raung Mo Sha.
Seratus prajurit Serigala Besi mengaum serempak, bergegas mendaki gunung layaknya gelombang kematian berwarna merah.
Di dalam Paviliun Samping, Aula Bintang Jatuh.
Ye Chen yang sedang bermeditasi menyerap energi spiritual dari Seni Api Penyucian Sembilan Matahari tiba-tiba membuka matanya. Suara lolongan serigala dan getaran langkah kaki ratusan orang terasa samar dari bawah gunung.
«Bocah, ada niat membunuh yang sangat pekat mendekat. Tiga orang di tahap pertengahan Pembangunan Yayasan, dan seratus pasukan Kondensasi Qi tingkat akhir,» suara Tetua Yan bergema di benaknya dengan nada waspada.
Ye Chen mengerutkan kening, tangannya mengepal erat hingga buku-bukunya memutih. "Sekte Serigala Darah... Mereka benar-benar tidak memberi ampun."
«Apakah kau akan keluar dan bertarung?» tanya Tetua Yan.
Ye Chen terdiam sejenak, lalu perlahan kembali menutup matanya dan mengatur napasnya. "Tidak. Jika aku keluar dengan kekuatanku saat ini, aku hanya akan menjadi beban bagi Guru. Lagi pula..."
Sudut bibir Ye Chen melengkung, membentuk senyum penuh keyakinan fanatik. "...dengan Guru di sini, apalagi seratus prajurit, bahkan jika Kaisar Langit sendiri yang datang memimpin jutaan pasukan dewa, mereka tidak akan bisa menggoyahkan satu pun genteng di gunung ini."
Mendengar keyakinan muridnya, Tetua Yan hanya bisa menghela napas panjang. Anehnya, ia pun menyetujui ucapan Ye Chen. Pria berjubah putih itu terlalu tidak masuk akal.
Halaman Utama Aula Bintang Jatuh.
Gerbang halaman sekte hancur ditabrak oleh puluhan Serigala Bertanduk Besi. Mo Sha dan pasukannya menyerbu masuk ke pelataran giok putih. Namun, alih-alih menemukan murid-murid yang panik atau formasi pertahanan yang ketat, mereka disuguhi pemandangan yang membuat mereka terpaku di tempat.
Di tengah halaman yang diselimuti kabut spiritual, seorang pemuda tampan berjubah putih sedang duduk bersantai di kursi batu giok. Di atas meja di depannya, secangkir teh spiritual yang masih mengepulkan asap panas memancarkan aroma wangi.
Pemuda itu mengaduk tehnya dengan tenang, sama sekali tidak mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah pasukan mematikan yang baru saja mendobrak pintu rumahnya.
"Aku sudah menunggu cukup lama. Apakah kaki kalian patah sehingga butuh waktu selama ini untuk mendaki gunung kecilku?" tegur Lin Xuan perlahan, suaranya sangat santai namun menyebar jelas ke telinga setiap prajurit di sana.
Mo Sha merasakan hawa dingin merayap di tengkuknya. Di bawah tatapan ilusi dari Jubah Ilusi Surgawi, pemuda di depannya tampak seperti jurang maut yang tak berdasar. Tidak ada sedikit pun fluktuasi Qi yang bocor, membuktikan bahwa orang ini mempraktikkan teknik penyembunyian tingkat tinggi, atau... kekuatannya jauh melampaui mereka.
Namun, mengandalkan jumlah pasukannya, Mo Sha memberanikan diri.
"Kau pasti ahli yang membunuh Zhao Wu! Jangan berpura-pura tenang di hadapan Tiga Algojo Darah! Serahkan inti Formasi Pengumpul Roh, dan aku akan berbaik hati memberimu kematian yang cepat!" teriak Mo Sha, menarik golok raksasa berwarna merah darah dari punggungnya.
Lin Xuan akhirnya berhenti mengaduk tehnya. Ia mengangkat cangkir giok itu dan menyesapnya pelan.
"Memberiku kematian yang cepat?" Lin Xuan meletakkan cangkirnya, lalu mengangkat wajahnya. Mata yang memancarkan kilat keemasan menatap lurus ke arah seratus pasukan di depannya.
"Bahkan Kesadaran Surgawi tidak berani mengatakan kata-kata arogan seperti itu di dalam wilayahku."
Lin Xuan mengangkat tangan kanannya, dan memetikkan jarinya dengan santai.
SNAP!
Suara petikan jari itu sangat ringan, namun di telinga Pasukan Serigala Besi, suara itu terdengar seperti lonceng kematian dari neraka.
Ruang dan waktu di seluruh halaman sekte tiba-tiba membeku. Mo Sha yang baru saja melompat dari serigalanya dengan golok terangkat, tertahan di udara, tidak bisa bergerak satu sentimeter pun. Matanya melotot dipenuhi teror murni.
BOOOOM!
Tanpa ada kilatan sihir, tanpa ada ledakan Qi, seratus prajurit elit beserta serigala tunggangan mereka meledak secara bersamaan. Tubuh mereka hancur menjadi kabut darah yang sangat pekat, mewarnai kabut spiritual putih di udara menjadi merah menyala, sebelum akhirnya terhapus dari eksistensi oleh hukum alam yang dikendalikan Lin Xuan.
Bruk! Bruk! Bruk!
Hanya tersisa Tiga Algojo Darah yang kini terbanting ke tanah giok putih. Tulang-tulang di sekujur tubuh mereka remuk redam akibat tekanan gravitasi yang meningkat puluhan ribu kali lipat. Mereka tidak mati, karena Lin Xuan sengaja menahan kekuatannya.
"A-apa yang kau... E-eksistensi macam apa kau ini?!" Mo Sha memuntahkan darah yang bercampur dengan potongan organ dalamnya. Kesombongannya telah hancur lebur menjadi debu. Membantai seratus kultivator elit tanpa mengangkat satu jari pun? Bahkan Ketua Sekte di Ranah Inti Emas tidak memiliki kekuatan konyol semacam ini!
"T-tolong... ampuni kami... Leluhur, tolong ampuni nyawa anjing kami!" dua algojo lainnya menangis histeris, mencoba bersujud meski tulang mereka telah hancur.
Lin Xuan menatap mereka dengan dingin. "Kembalilah ke neraka, dan beri tahu raja peramalmu bahwa dia mengirim kalian ke tempat yang salah."
Lin Xuan menghentakkan kakinya perlahan ke tanah.
KRRAK!
Sebuah riak kekuatan absolut menyapu ketiga algojo tersebut. Dalam sekejap, tubuh mereka berubah menjadi abu yang tersapu bersih oleh angin malam, seolah-olah mereka tidak pernah ada di dunia ini. Halaman giok putih itu kembali bersih, tanpa ada setetes pun darah yang tersisa.
Lin Xuan kembali duduk dan menyeruput tehnya yang masih hangat, seolah-olah ia baru saja mengusir beberapa ekor lalat yang mengganggu waktu minum tehnya.
Di dalam benaknya, melodi indah dari sistem akhirnya berbunyi.
[Ding! Misi Pertahanan: Serangan Darah Serigala Berhasil Diselesaikan!]
[Penilaian: Sempurna. Tidak ada kerusakan pada fasilitas sekte, tidak ada korban di pihak sekte.]
[Hadiah Diberikan: 1.000 Poin Sekte.]
[Hadiah Diberikan: Kartu Bangunan: Paviliun Senjata Surgawi.]
[Hadiah Diberikan: Token Pemanggilan Hewan Penjaga (Tingkat Awal).]
Mata Lin Xuan berbinar gembira. "Seribu poin! Aku kaya lagi! Sistem, mari kita lihat penjaga seperti apa yang akan kudapatkan dari token ini. Gunakan Token Pemanggilan Hewan Penjaga sekarang!"
[Menggunakan Token Pemanggilan Hewan Penjaga...]
[Menghubungkan ke dimensi ruang acak...]
[Pemanggilan selesai!]
WUUUSH!
Sebuah pusaran cahaya biru tercipta di tengah halaman. Angin bertiup kencang, membawa aura kuno yang sangat liar dan buas. Lin Xuan menahan napasnya, menantikan seekor Naga Suci, Harimau Putih, atau setidaknya Serigala Fenrir raksasa yang menakutkan.
Cahaya perlahan memudar. Di tengah pusaran itu, berdiri sosok penjaga sekte yang baru saja dipanggil.
Lin Xuan mengucek matanya, merasa ada yang salah dengan penglihatannya.
Di tengah halaman yang megah itu, duduk seekor anak anjing berbulu hitam legam seukuran telapak tangan. Anak anjing itu menatap Lin Xuan dengan mata bulat yang polos, lalu menguap lebar, memperlihatkan deretan gigi susunya, sebelum menggonggong pelan.
"Guk!"
Lin Xuan menatap sistem dengan wajah datar. "Sistem... jangan bilang ini hewan penjaga sekte abadiku?"