**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**
Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?
Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.
Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.
Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.
Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?
Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?
Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Kamu Menyerah?
Setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga puluh menit, mobil Haselyn akhirnya berhenti di depan kediaman Kevin Artadinata. Rumah megah yang selama tiga tahun terakhir tidak pernah lagi ia datangi. Rumah milik pria yang secara sah masih berstatus sebagai suaminya, sekaligus ayah kandung dari putra semata wayangnya.
Mario menatap ke arah halaman rumah dengan dahi berkerut. “Ma, kok ramai sekali?” tanyanya heran. “Apa Ayah lagi mengadakan acara?”
Deretan mobil memenuhi area parkir. Tamu-tamu berdatangan dengan pakaian yang rapi dan mewah. Dari dalam rumah terdengar alunan musik yang samar, diselingi suara percakapan banyak orang.
Haselyn ikut memandang ke arah rumah itu, lalu menggeleng pelan. “Entahlah, Nak. Kita lihat saja.”
Ia menggenggam tangan Mario dan mengajaknya melangkah memasuki halaman rumah. Semakin dekat mereka berjalan, semakin jelas suasana meriah yang menyambut mereka. Namun, begitu berdiri di ambang pintu utama, langkah Haselyn mendadak terhenti.
Matanya membulat. Wajahnya seketika memucat. Suara seseorang menggema dari dalam ruangan, menghantam pendengarannya tanpa ampun. “Silakan kedua mempelai bertukar cincin.”
Mario yang berdiri di sampingnya ikut membelalakkan mata. Tatapannya lurus ke arah tengah ruangan, lalu ia menarik pelan ujung baju Haselyn.
“Ma…” suaranya bergetar. “Ini acara apa?”
Ia menunjuk ke arah seorang pria yang berdiri di atas pelaminan. “Itu Ayah, kan?”
Napas Mario tercekat. “Kenapa orang itu menyuruh Ayah bertukar cincin dengan wanita itu?”
Dunia Haselyn seolah runtuh dalam sekejap.
Di hadapannya, Kevin berdiri mengenakan setelan jas hitam, sementara seorang wanita cantik berdiri tepat di depannya dengan gaun putih yang anggun. Di sekeliling mereka, para tamu tersenyum dan bertepuk tangan, menyaksikan prosesi yang tampak seperti sebuah pertunangan atau pernikahan.
Mata Haselyn berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas.
Ia datang dengan harapan untuk memulai kembali kehidupannya bersama suaminya. Ia datang dengan keyakinan bahwa setelah tiga tahun berpisah, mereka masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki segalanya.
Namun, kenyataan yang menyambutnya justru menghancurkan seluruh harapan itu.
“Ma…” bisik Mario, suaranya semakin pelan.
Haselyn hampir tidak mampu menjawab. “Mama tidak tahu…”
Air mata mulai mengaburkan pandangannya. Tatapannya tidak pernah lepas dari sosok Kevin yang berdiri beberapa meter di depannya.
Apa kamu sudah melupakanku, Kak?
Apa kamu sudah menyerah menungguku?
Tiga tahun.
Apakah tiga tahun sudah cukup untuk menghapus janji yang pernah mereka ikrarkan, dan menggantikannya dengan cincin yang kini hendak disematkan pada wanita lain?
*
*
*
Kevin masih memegang kotak cincin berwarna biru tua di tangannya. Tatapannya terpaku pada benda kecil itu, sementara pikirannya dipenuhi kebingungan. Ia sama sekali tidak memahami mengapa tiba-tiba kakaknya memintanya memasangkan cincin pada seorang wanita yang memang ia kenal, tetapi tidak pernah ia pilih sebagai pasangan hidupnya.
“Ayo, cepat pasangkan cincinnya, Kevin!” desak Reza sambil menyikut lengan adiknya. “Nggak lihat semua orang sedang menunggu?”
Suara tepuk tangan para tamu mulai terdengar, seolah mereka benar-benar mengira prosesi itu akan segera berlangsung.
Kevin mengangkat kepalanya perlahan. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti pada wajah Reza yang tampak begitu puas dengan semua kekacauan yang telah ia ciptakan.
Napas Kevin memburu. Rahangnya mengeras. “Apa-apaan ini, Kak?” suaranya rendah, tetapi dipenuhi kemarahan yang berusaha ia tahan.
Reza justru tersenyum tipis. “Ini yang terbaik buat kamu. Sudah tiga tahun kamu hidup sendiri. Sudah saatnya kamu menikah lagi.”
Kalimat itu menjadi pemantik yang menghancurkan sisa kesabaran Kevin. Dengan gerakan cepat, ia melempar kotak cincin di tangannya ke sembarang arah. Kotak itu melayang dan jatuh di lantai dengan bunyi yang memecah keheningan ruangan.
“Apa-apaan ini, Kak!” teriak Kevin, kali ini tanpa berusaha meredam emosinya.
Semua tamu terdiam.
Musik yang semula mengalun pelan seolah kehilangan maknanya.
“Aku nggak pernah meminta acara ini! Ini rumahku, hidupku, dan pernikahanku. Kakak nggak punya hak mengatur siapa yang harus menjadi istriku!”
Tatapan Kevin berubah tajam. Kekecewaan, amarah, dan rasa dikhianati bercampur menjadi satu.
Ia tidak peduli pada tatapan para tamu yang mulai berbisik-bisik. Yang memenuhi pikirannya hanya satu hal: seseorang telah mencoba merampas haknya untuk menentukan hidupnya sendiri, bahkan di rumah yang ia bangun dengan tangannya sendiri.
Reza membelalakkan matanya lebar. Tatapannya menyorot tajam ke arah Kevin yang masih berdiri dengan napas memburu.
“Kevin!” bentaknya keras, suaranya menggema di seluruh ruangan.
Ia tidak terima melihat kotak cincin yang telah dipersiapkannya dengan susah payah kini tergeletak begitu saja di lantai.
Kevin menatap kakaknya tanpa gentar.
“Sudah berapa kali aku bilang, jangan ikut campur dalam hidupku, Kak!” teriaknya dengan suara menggelegar.
Amarah yang selama ini ia pendam akhirnya meledak tanpa sisa.
“Ini bukan pertama kalinya Kakak memaksakan keputusan buat aku. Kakak selalu merasa paling tahu apa yang terbaik untuk hidupku, padahal yang menjalaninya adalah aku!”
Ruangan itu berubah sunyi. Para tamu hanya bisa saling berpandangan, tidak berani menyela pertengkaran kedua bersaudara itu.
Reza mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menahan gejolak emosi yang nyaris meledak. Dadanya naik turun menahan amarah sekaligus rasa frustrasi.
“Kakak melakukan semua ini karena kakak sayang sama kamu, Kevin!” balasnya. “Mau sampai kapan kamu menunggu wanita itu?”
Ia menunjuk Kevin dengan tatapan penuh penekanan.
“Tiga tahun, Kevin! Sudah tiga tahun dia meninggalkanmu. Tiga tahun dia mengabaikanmu. Apa itu belum cukup buat menyadarkanmu?”
Rahangnya mengeras.
“Kamu terus menolak semua wanita yang mendekat. Kamu mengurung hidupmu dalam penantian yang bahkan belum tentu memiliki akhir. Kakak nggak sanggup lagi melihat kamu menghancurkan hidupmu sendiri demi seseorang yang tidak pernah memilihmu.”
Kalimat terakhir itu menusuk tepat ke dada Kevin.
Namun, hanya Kevin yang tahu bahwa selama tiga tahun itu, ia tidak pernah merasa ditinggalkan.
Ia merasa dipaksa kehilangan.
Dan itu adalah luka yang sama sekali berbeda.
Haselyn yang berdiri di ambang pintu mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Reza. Tidak ada satu pun kalimat yang luput dari pendengarannya.
Dadanya terasa sesak.
Rasa bersalah yang selama ini ia kubur dalam-dalam perlahan kembali menyeruak ke permukaan, menghimpit hatinya hingga sulit bernapas.
Tiga tahun.
Tiga tahun Kevin menunggu.
Tiga tahun Kevin mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar ia lepaskan.
Haselyn menundukkan kepalanya. Jemarinya menggenggam erat tangan Mario yang berdiri di sampingnya.
Ini memang salahku.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa mampu dibendung.
“Ini memang salahku, Kak…” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
Ia sadar, perpisahannya dengan Kevin bukan terjadi karena pria itu menyerah atau berhenti mencintainya. Perpisahan itu terjadi karena pilihannya sendiri. Karena ketakutannya. Karena baktinya kepada sang ayah yang membuatnya rela mengorbankan rumah tangganya.
Sementara Kevin…
Pria itu harus menanggung semua kehilangan itu seorang diri.
Menunggu tanpa kepastian.
Mencintai tanpa kehadiran.
Dan mempertahankan pernikahan mereka dalam kesunyian yang begitu panjang.
Untuk pertama kalinya, Haselyn benar-benar memahami betapa dalam luka yang telah ia tinggalkan di hati suaminya.