NovelToon NovelToon
Bayangan Penguasa

Bayangan Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
​Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Bangsal Keputusasaan dan Akar Penyakit

​Kabut kelabu yang menyelimuti kompleks Rumah Sakit Universitas Yonsei terasa lengket di kulit. Udara di tempat itu seakan telah mati, digantikan oleh aroma busuk formalin, obat-obatan yang kedaluwarsa, dan daging yang membusuk.

​Dari balik tirai kabut, puluhan siluet melangkah terseok-seok mendekati Han Do-Yoon dan Yoo Ji-Ah.

​Saat jarak mereka tersisa sepuluh meter, wujud asli para monster itu terlihat jelas. Mereka dulunya adalah manusia—para dokter dengan jas putih bersimbah darah, perawat dengan seragam terkoyak, dan pasien-pasien yang masih menyeret tiang infus besi di tangan mereka.

​Mata mereka memancarkan api hijau pudar. Jari-jari mereka telah bermutasi memanjang, dengan kuku hitam setajam pisau bedah.

​"Mereka bukan manusia lagi, Ji-Ah. Jangan ragu," ucap Do-Yoon datar, mengangkat Bilah Penebas Malam-nya.

​"Aku tahu," balas Ji-Ah. Gadis itu menggertakkan giginya, menekan rasa iba yang sempat muncul di sudut hatinya. Ini adalah hukum kelangsungan hidup.

​Seekor Mayat Hidup yang mengenakan seragam ahli bedah menerjang maju dengan raungan serak. Kuku hitamnya mengayun lurus ke arah wajah Ji-Ah.

​"Keahlian: Langkah Angin!"

​Tubuh Ji-Ah bergeser ke samping dengan kecepatan yang meninggalkan bayangan buram. Ia mengayunkan Pedang Panjang Besi Hitam-nya dari arah bawah ke atas, membelah udara dengan energi hijau pucat.

​CRAT!

​Kepala ahli bedah itu terpotong bersih dari lehernya, terlempar ke udara sebelum jatuh menggelinding di atas aspal. Tubuh tanpa kepala itu maju selangkah lagi karena sisa momentum, sebelum akhirnya ambruk ke tanah. Darah hitam pekat tumpah membasahi jalanan.

​Namun, tepat ketika Ji-Ah hendak beralih ke target berikutnya, sebuah anomali terjadi.

​Sulur-sulur daging berwarna hitam yang menjalar di aspal tiba-tiba bergerak liar. Sulur-sulur itu melesat ke arah mayat tanpa kepala tersebut, menusuk masuk ke dalam leher yang terpotong, dan bertindak layaknya tulang belakang pengganti. Tubuh ahli bedah itu kembali bangkit berdiri, mengayunkan kuku tajamnya secara membabi buta ke arah Ji-Ah.

​"Apa-apaan ini?!" seru Ji-Ah terkejut, melompat mundur untuk menghindari sabetan beracun tersebut.

​Sebelum monster itu bisa mengejarnya, sebuah kilatan petir gelap menyambar dari samping. Do-Yoon muncul dan menebaskan pedang bayangannya secara mendatar, memotong tubuh monster itu menjadi dua bagian di bagian pinggang, sekaligus memutuskan sulur hitam yang mengendalikannya.

​Energi Ketiadaan merembes ke dalam potongan sulur itu, membuatnya mendesis kesakitan lalu hancur menjadi abu abu-abu.

​"Sulur wabah itu bertindak sebagai parasit," jelas Do-Yoon tanpa mengalihkan pandangannya dari gerombolan yang semakin mendekat. "Selama akar dari penyakit ini belum dihancurkan, mayat-mayat ini akan terus dibangkitkan. Hancurkan kepala mereka, dan jika sulur itu bergerak, potong sulurnya!"

​"Dimengerti!"

​Ji-Ah kembali merangsek maju. Kali ini, ia jauh lebih waspada. Ia menari di antara gerombolan Mayat Hidup layaknya hembusan angin puting beliung. Setiap kali pedangnya mengayun, satu kepala terlepas. Dan setiap kali sulur hitam mencoba merayap mendekati kakinya, ia mengirimkan Sabit Angin Bersih untuk mencincang parasit menjijikkan tersebut.

​Di sisi lain, Do-Yoon bahkan tidak repot-repot menggunakan keahlian gerakan yang menguras energi.

​Dengan Mata Kehampaan, setiap pergerakan canggung dari para Mayat Hidup terlihat seperti siaran lambat baginya. Ia berjalan santai menembus kerumunan. Setiap kali seekor monster mengayunkan cakar, Do-Yoon hanya memiringkan kepalanya atau menggeser bahunya, membiarkan serangan itu mengenai udara kosong.

​Sebagai balasan, Bilah Penebas Malam di tangannya bergerak dengan efisiensi mutlak. Tusukan ke dahi. Sayatan melintang di leher. Tebasan diagonal yang membelah tengkorak hingga ke rahang.

​Tidak ada satu pun gerakan yang sia-sia. Setiap langkahnya meninggalkan mayat yang hancur menjadi debu karena energi bayangannya.

​[Anda telah membunuh Mayat Hidup (Tingkat E) x 34.]

[Anda mendapatkan 1.700 Poin Pengalaman.]

[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' menguap kebosanan, meminta Anda untuk mencari musuh yang lebih besar.]

[Rasi Bintang 'Penguasa Wabah' memelototi Anda dari singgasana busuknya!]

​Hanya dalam waktu sepuluh menit, halaman depan rumah sakit itu bersih dari ancaman. Tumpukan daging dan tulang berserakan di sekitar mereka, tidak lagi bisa dibangkitkan karena sulur-sulur hitam di area tersebut telah hangus oleh aura Ketiadaan Do-Yoon.

​Mereka melangkah menaiki tangga marmer menuju pintu masuk utama. Pintu kaca geser otomatis itu telah hancur berantakan.

​"Kita masuk," ucap Do-Yoon, menginjak pecahan kaca.

​Ruang Tunggu Utama (Lobi) rumah sakit itu sangat luas, namun suasananya mengerikan. Lampu-lampu padam total. Meja informasi hancur. Dinding-dinding putihnya dipenuhi bercak darah yang telah mengering menjadi cokelat gelap. Ratusan sulur hitam berdenyut di langit-langit, menyerupai sarang laba-laba raksasa yang terbuat dari pembuluh darah.

​Ji-Ah mengaktifkan keahlian Penglihatan Malam-nya. Matanya langsung disuguhi pemandangan yang membuat perutnya kembali mual.

​Di tengah-tengah lobi, tumpukan mayat manusia menggunung hingga menyentuh lampu kristal di langit-langit. Namun itu bukanlah sekadar tumpukan biasa. Tubuh-tubuh itu dijahit menjadi satu oleh sulur-sulur hitam, membentuk sebuah gumpalan daging raksasa yang berdenyut pelan.

​Puluhan tangan dan kaki manusia menonjol dari gumpalan itu, sesekali bergerak-gerak sendiri.

​[Peringatan Mutlak!]

[Anda telah membangunkan Penjaga Gerbang Bangsal: Raksasa Daging Mutan (Tingkat C) !]

​KREEEEKKK...

​Suara retakan tulang yang memuakkan terdengar saat Gumpalan Daging itu mulai bangkit. Tumpukan mayat itu mengubah bentuknya, berdiri dengan enam kaki tebal yang terbuat dari gabungan paha manusia. Tinggi makhluk itu mencapai empat meter. Di bagian atasnya, puluhan wajah manusia yang telah mati menatap Do-Yoon dan Ji-Ah secara bersamaan.

​"S-sistem ini benar-benar sakit jiwa," bisik Ji-Ah ngeri. Pemandangan ini jauh melampaui batas kewarasan manusia modern mana pun.

​"Ini bukan murni perbuatan Sistem," Do-Yoon menengadah, membiarkan aura pembunuhnya meluap. "Ini adalah selera busuk dari Rasi Bintang Penguasa Wabah. Entitas itu menggunakan energi Sistem untuk menciptakan karya seninya sendiri di bumi."

​WOOOOAAAAAA!

​Puluhan mulut di wajah Raksasa Daging itu membuka serentak, melepaskan raungan yang menggabungkan tangisan bayi, jeritan wanita, dan geraman pria. Gelombang suara itu membawa gas beracun berwarna hijau pekat.

​"Tahan napasmu dan menjauh dari gas itu, Ji-Ah!" perintah Do-Yoon.

​Gadis itu tidak membuang waktu. Ia menggunakan Langkah Angin untuk melompat mundur sejauh dua puluh meter, menjaga jarak aman dari jangkauan gas beracun.

​Namun Do-Yoon justru melesat ke depan.

​"Keahlian: Langkah Petir Hitam."

​Sosoknya memudar, meninggalkan jejak listrik gelap di lantai marmer, lalu muncul tepat di bawah Raksasa Daging Mutan tersebut. Do-Yoon mengayunkan pedangnya ke arah salah satu kaki tebal yang menyangga makhluk itu.

​TRANG!

​Sesuatu yang mengejutkan terjadi. Alih-alih memotong daging tersebut dengan mudah seperti biasanya, Bilah Penebas Malam memantul, seolah baru saja menebas balok karet padat yang dilapisi baja.

​Makhluk itu tidak memiliki zirah, melainkan kepadatan otot dari puluhan mayat yang dipadatkan secara tidak wajar. Serangan fisik biasa tidak akan mampu menembusnya dengan mudah.

​Merasa ada mangsa di bawahnya, puluhan lengan yang menonjol dari tubuh Raksasa Daging itu memanjang dan mencoba mencengkeram Do-Yoon.

​Do-Yoon berdecak pelan, melompat mundur untuk menghindari cengkeraman tangan-tangan busuk tersebut.

​"Fisik yang terlalu padat, ya?" gumam Do-Yoon.

​"Do-Yoon! Biar aku yang mengalihkan perhatiannya!" teriak Ji-Ah dari kejauhan.

​Gadis itu berlari menyamping, mengitari Raksasa Daging tersebut. Ia mengumpulkan seluruh energi anginnya ke dalam bilah pedang.

​"Pukulan Badai!"

​Bukannya melepaskan tinju seperti saat melawan Serigala Besi, Ji-Ah meninju pangkal pedangnya sendiri. Ledakan angin puting beliung meletus dari ujung pedang, menghantam sisi kanan Raksasa Daging itu dengan kekuatan setara meriam udara.

​BUMMM!

​Makhluk raksasa itu terhuyung ke kiri. Puluhan wajahnya menjerit marah, lalu memutar tubuh menjijikkannya untuk mengejar Ji-Ah.

​"Kerja bagus," puji Do-Yoon pelan. Kesempatan ini tidak akan ia sia-siakan.

​Do-Yoon menyarungkan pedang bayangannya kembali ke dalam bentuk energi murni. Ia menatap ke arah punggung Raksasa Daging itu, tepat di titik di mana sulur-sulur hitam paling banyak berkumpul, membentuk sebuah benjolan besar berdenyut kemerahan.

​Inti wabah.

​"Jika ketajamannya tidak cukup untuk membelah dari luar," bisik Do-Yoon, memusatkan seluruh sisa Energi Sihirnya ke lengan kanannya, "maka aku akan meledakkannya dari dalam."

​Do-Yoon kembali menggunakan Langkah Petir Hitam, melesat menembus udara dan muncul tepat di atas benjolan merah di punggung sang monster.

​Ia mengepalkan tangan kanannya. Energi Ketiadaan yang memadat kini membungkus kepalan tangannya layaknya sarung tinju baja yang menyerap segala cahaya di sekitarnya.

​Mengabaikan puluhan tangan mayat yang mencoba mencakar kakinya, Do-Yoon menghantamkan tinjunya lurus ke dalam benjolan merah tersebut.

​CRAAAASSH!

​Lengan Do-Yoon menembus masuk hingga sebatas siku. Daging mutan itu memang keras terhadap tebasan, namun serangan tusukan yang difokuskan pada satu titik berhasil menembus pertahanannya.

​"Telan," perintah Do-Yoon dingin.

​Di dalam tubuh monster itu, energi Ketiadaan meledak. Bukannya menciptakan ledakan api atau kekuatan kinetik, energi itu menciptakan lubang hitam berskala mikro. Kegelapan mutlak merobek dan menyedot seluruh jaringan organ, darah busuk, dan inti sihir monster itu dari dalam ke luar.

​Raksasa Daging Mutan itu mengejang hebat. Raungannya terputus.

​KREK... SPLASH!

​Hanya dalam waktu tiga detik, tubuh raksasa seberat berton-ton itu mengerut drastis, lalu meledak menjadi hujan serpihan daging kering dan abu kelabu yang jatuh berhamburan ke atas lantai lobi.

​Do-Yoon mendarat dengan mulus, mengibaskan debu dari lengannya.

​[Anda telah mengalahkan Penjaga Gerbang Bangsal: Raksasa Daging Mutan (Tingkat C).]

[Anda mendapatkan 10.000 Poin Pengalaman.]

[Rasi Bintang 'Penguasa Wabah' berteriak murka! Ia bersumpah akan mengirimkan kutukan terburuknya untuk Anda!]

[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' tertawa terbahak-bahak melihat kehancuran karya busuk itu!]

​"Ancaman kosong," cibir Do-Yoon pada langit-langit lobi, mengabaikan dewa wabah yang sedang mengamuk di dimensi lain.

​Ji-Ah berlari menghampirinya. Gadis itu terengah-engah, namun senyum lega menghiasi wajahnya melihat rintangan utama di lantai dasar telah hancur.

​"Luar biasa... kau selalu tahu cara membunuh mereka dengan cepat," puji Ji-Ah.

​Do-Yoon tidak membalas pujian itu. Matanya yang kini dibantu oleh Mata Kehampaan sedang menelusuri ke arah lorong tangga darurat di ujung lobi. Melampaui lapisan beton dan kegelapan, ia mencari jejak energi kehidupan.

​Di dunia yang dipenuhi energi kematian yang kotor ini, melacak energi yang berlawanan menjadi jauh lebih mudah.

​Dan benar saja. Jauh di atas sana, di lantai lima rumah sakit, Do-Yoon melihat sebuah titik cahaya. Cahaya itu berwarna putih keemasan, sangat murni dan hangat, meski terlihat mulai meredup, seolah menahan beban yang teramat berat.

​Itu adalah aura energi suci. Satu-satunya anomali di dalam Kawasan Wabah ini.

​"Target kita masih hidup," ucap Do-Yoon, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Ia menoleh pada Ji-Ah. "Ia berada di lantai lima. Bersiaplah, Ji-Ah. Kita akan menaiki tangga dan membersihkan setiap lantai dari hama-hama ini. Waktu kita tidak banyak."

1
Alia Chans
Hadir kak 💪


jangan lupa hadir juga 😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!