NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: "Omongan Sampai ke Kantor"

Laras mengambil ponsel Nindya.

Foto lama itu jelas berasal dari acara besar. Bahu seseorang masih terlihat di tepi kiri, sementara lengan orang lain terpotong di antara Tiara dan Arkan. Namun, dengan susunan baru dan kalimat tentang teman sejak kecil, siapa pun yang tidak tahu konteks akan mengira mereka tumbuh bersama.

"Mereka bukan teman kecil," kata Laras.

"Kamu yakin?"

"Arkan bahkan nggak pernah menyebut namanya sebelum reuni."

Nindya mengambil tangkapan layar yang menampilkan akun, waktu unggahan, foto, dan caption lengkap. "Simpan. Jangan cuma bagian fotonya."

Laras melakukan hal yang sama di ponselnya. Jarinya sempat bergerak menuju nama Arkan, lalu berhenti.

"Mau tanya sekarang?" ujar Nindya.

"Dia baru selesai long haul dan sedang istirahat. Aku juga belum tahu ini sudah menyebar sejauh apa."

"Itu keputusan yang tenang. Bukan berarti kamu harus diam selamanya."

Laras mengangguk. Ia tidak mau menelepon suaminya dengan tuduhan yang disusun Tiara. Namun, gambar itu tetap menempel di pikirannya sampai malam.

Keesokan harinya, jawabannya tentang seberapa jauh kabar itu menyebar datang sendiri.

Lina duduk di ruang istirahat AirNav sambil menunjukkan ponsel kepada dua rekan.

"Ini pramugari yang katanya dekat sama Kapten Arkan," katanya. "Ada yang bilang mereka teman dari kecil."

"Keluarganya dekat juga, kan?" sahut seorang rekan.

"Katanya begitu. Mungkin sebenarnya sudah dijodohkan."

Laras baru masuk membawa kopi. Langkahnya tidak berhenti, tetapi dadanya terasa sesak.

Setiap tambahan cerita terdengar lebih pasti daripada Story asli Tiara. Tidak ada lagi kata mungkin pada sebagian pesan yang berpindah di grup kecil mereka. Foto yang dipotong itu sudah dianggap bukti hubungan bertahun-tahun.

Rosa yang duduk dekat jendela menangkap wajah Laras. Ia berdiri dan mengambil ponsel Lina.

"Caption-nya cuma bilang teman sejak kecil," katanya. "Nggak ada kalimat soal pacaran atau dijodohkan."

"Tapi lihat fotonya," ujar Lina. "Dekat banget."

"Fotonya dipotong. Masih ada bahu orang lain di pinggir. Jangan mengubah gosip jadi fakta."

Lina mengangkat kedua tangan. "Aku cuma meneruskan."

"Semua rumor besar dimulai dari orang yang cuma meneruskan."

Suasana menjadi sedikit canggung. Bel pergantian posisi menyelamatkan mereka dari percakapan lebih panjang. Lina dan dua rekan pergi menuju briefing, sedangkan Rosa menahan Laras beberapa detik.

"Kamu baik-baik saja?"

"Baik."

"Bohong."

Laras menatap pintu yang sudah tertutup. "Aku lihat Story-nya kemarin."

"Arkan tahu?"

"Belum."

Rosa tidak mendesaknya. "Kalau kamu mau bicara setelah sif, aku ada."

"Terima kasih."

Selama berada di posisi, Laras memaksa semua suara lain keluar dari kepalanya. Pesawat tidak peduli siapa yang mengunggah foto dengan siapa. Setiap heading, altitude, dan readback tetap harus mendapat perhatian utuh. Hanya setelah ia menyerahkan posisi dan melepas headset, sesak itu kembali.

Di grup unit, seseorang sudah meneruskan tangkapan layar lain.

Katanya Kapten Arkan belum mengumumkan istrinya karena masih dekat sama Tiara.

Kali ini kebohongannya melangkah lebih jauh.

Laras mengirim tangkapan layar kepada Nindya, lalu menulis bahwa rumor sudah sampai ke kantor. Ia tidak memendamnya sendirian. Nindya membalas dengan pesan suara, mengingatkan bahwa rasa sakit Laras valid dan keputusan untuk menunggu fakta bukan kelemahan.

Malam itu, rumah Alam Sutera terasa terlalu sunyi. Setelah menyelesaikan long haul dan istirahat wajib, Arkan mendapat rotasi dua hari ke Makassar. Jadwal baru itu sudah masuk kalender bersama. Ia seharusnya kembali keesokan malam.

Di kamar hotel, Arkan juga merasakan keheningan yang berbeda. Dulu ia bisa menghabiskan malam luar kota tanpa memikirkan rumah. Sekarang, setelah meletakkan seragam dan memeriksa jadwal esok hari, tangannya justru membuka kalender Laras.

Sif perempuan itu sudah berakhir satu jam lalu. Biasanya Laras akan mengirim kabar singkat saat tiba di rumah, tetapi malam ini tidak ada apa pun.

Arkan sempat mengambil foto makan malam hotel untuk dikirim, lalu menghapusnya karena piring itu terlihat buruk. Ia membuka percakapan mereka, membaca ulang pesan tentang teknisi shower dan jadwal belanja, kemudian sadar dirinya sedang mencari alasan untuk berbicara.

Pada akhirnya, ia memilih pertanyaan paling sederhana.

Laras memanaskan sisa sup dan makan di depan meja tanpa menyalakan televisi.

Pesan Arkan masuk.

Arkan:

Sudah makan?

Laras:

Sudah.

Arkan:

Apa?

Laras:

Sup kemarin.

Arkan:

Masih layak?

Laras hampir tersenyum.

Laras:

Masih. Aku controller, bukan orang yang nggak bisa baca tanggal.

Ponselnya langsung berdering. Arkan menelepon dari hotel kru di Makassar.

"Kenapa langsung telepon?" tanya Laras.

"Mau memastikan kamu nggak keracunan."

"Supnya baik-baik saja."

"Kamu yang nggak baik-baik saja."

Laras terdiam.

Arkan berdiri dekat jendela kamar hotel. Ia baru selesai makan dan seharusnya tidur untuk penerbangan esok pagi. Namun, empat balasan pendek Laras cukup membuat rasa lelahnya berubah menjadi gelisah.

"Aku cuma capek," kata Laras.

"Sif tadi ramai?"

"Lumayan."

"Ada masalah di kantor?"

"Nggak ada yang nggak bisa kuatasi."

Itu bukan jawaban. Arkan mengenali cara Laras menjadi semakin formal ketika menyembunyikan sesuatu.

"Laras."

"Hm?"

"Suaramu beda."

Laras menatap tangkapan layar Story Tiara yang masih terbuka di meja. Ia ingin bertanya apakah Arkan benar pernah dekat dengan perempuan itu. Ia juga takut pertanyaan tersebut membuka jalan menuju alasan mengapa dirinya begitu mudah terluka.

Di seberang jarak Jakarta dan Makassar, Arkan menunggu.

"Ada yang harus aku tahu, nggak?" tanyanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!