Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.
Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.
[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]
Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.
Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030: Badai yang Datang
Untuk pertama kalinya sejak nama Ardi muncul dalam hidupnya, Surya Pradana tidak langsung tersenyum.
Di lantai atas gedung Surya Perkasa Group, SCBD, Jakarta terlihat seperti papan catur yang menyala.
Surya Pradana berdiri di depan kaca tinggi, memegang cangkir teh yang belum ia minum. Di belakangnya, layar besar menampilkan grafik saham grup. Garis merah turun tidak tajam, tetapi cukup jelas untuk membuat ruang rapat darurat terasa lebih dingin.
Lima persen.
Untuk perusahaan sebesar Surya Perkasa, lima persen bukan sekadar angka. Itu kepercayaan investor, kredit bank, kontrak distribusi, dan ribuan percakapan di pasar modal.
“Kemenkes sudah mengirim permintaan resmi ke BPOM,” kata direktur hukum. “Media kesehatan mulai mengutip forum IDI. Belum ada larangan edar, tapi sentimen pasar bergerak buruk.”
Surya meletakkan cangkirnya perlahan.
Tidak pecah. Tidak bergetar.
Justru karena itu, semua orang di ruangan semakin takut.
“Seorang dokter dari Surabaya,” katanya pelan, “yang baru keluar dari penjara, membuat produk utama kita masuk radar BPOM.”
Tidak ada yang berani menjawab.
“Rangga membuat keributan di rumah sakit dan gagal. Agung memberi panggung akademik dan gagal. Sekarang anak itu membawa data ke Kemenkes.” Surya berbalik. Matanya dingin. “Kalian menyebut ini gangguan kecil?”
Direktur pemasaran menunduk. “Kami bisa menyiapkan klarifikasi publik, Pak. Menekankan bahwa Bronkosol aman sesuai izin edar.”
“Jangan bicara aman kalau regulator sedang membuka berkas.” Surya duduk. “Kendalikan narasi. Siapkan ahli. Cari kelemahan data Ardi. Dan jangan biarkan dia punya produk pengganti.”
Kalimat terakhir membuat direktur riset mengangkat kepala.
Surya melihatnya. “Setiap obat yang dijatuhkan menciptakan ruang kosong. Kalau ruang itu diisi orang lain, kita bukan hanya kehilangan nama. Kita kehilangan pasar.”
Di Surabaya, Ardi sudah memikirkan hal yang sama.
Ia duduk di ruang dokter setelah shift malam. Rudi tidur di kursi dengan mulut sedikit terbuka. Di layar laptop Ardi, laporan Bronkosol, catatan BPOM, dan daftar kebutuhan obat pengganti tersusun dalam beberapa folder.
Menghancurkan produk berbahaya tidak cukup.
Pasien masih batuk. Dokter masih butuh obat. Apotek masih butuh stok. Jika Bronkosol ditarik tanpa alternatif aman, pasar akan dipenuhi produk asal-asalan atau Surya Perkasa akan kembali dengan kemasan baru.
Ponsel Ardi bergetar.
Nomor baru, tetapi pesan pembukanya langsung jelas.
Dokter Ardi, saya Kevin Mahardika dari PT Timur Lestari. Saya mengikuti presentasi Anda tentang Bronkosol. Saya punya fasilitas produksi farmasi skala menengah dan jaringan distribusi. Yang tidak saya punya adalah produk inti yang cukup kuat. Bisa bicara?
Ardi membaca pesan itu dua kali.
Hartono pernah menyebut nama Kevin sebagai pengusaha yang tidak banyak tampil tetapi bergerak cepat ketika melihat peluang sehat.
Ardi membalas.
Besok pagi. Video call.
Kevin muncul di layar tepat pukul delapan.
Usianya sekitar empat puluh, wajahnya bersih, kemejanya sederhana, tetapi di belakangnya terlihat peta distribusi dan foto pabrik. Ia bukan tipe pengusaha yang memulai pembicaraan dengan pujian panjang.
“Dokter Ardi,” katanya. “Saya bicara langsung. Bronkosol akan goyah. Kalau BPOM meminta peninjauan label atau pembatasan, dokter butuh alternatif. Saya punya pabrik, tim registrasi, dan distribusi. Saya tidak punya formula yang bisa dipercaya komunitas medis.”
Ardi menatapnya. “Anda ingin menjual obat dari celah krisis?”
Kevin tidak tersinggung. “Saya ingin mengisi celah dengan produk yang benar. Kalau tidak, orang lain akan mengisinya dengan produk buruk. Bedanya, saya tahu saya butuh dokter yang punya data, bukan hanya marketing.”
Jawaban itu cukup jujur untuk didengar.
Ardi membuka satu folder terenkripsi.
Di sana ada rancangan formulasi yang sudah lama ia simpan dari hasil pembacaan sistem dan pengetahuan farmakologi yang berkembang sejak kasus Bronkosol. Bukan obat ajaib. Bukan pengganti semua terapi. Tetapi formula antitusif-kardioprotektif dengan risiko aritmia lebih rendah, metabolisme hati lebih bersih, dan protokol kontraindikasi yang jelas.
Nama kerja: Kardiofix.
“Saya punya konsep produk,” kata Ardi. “Tapi saya tidak akan melepasnya untuk dijual liar. Harus ada uji stabilitas, registrasi BPOM, farmakovigilans sejak hari pertama, dan label risiko yang jujur.”
Kevin tersenyum tipis. “Itu justru alasan saya menelepon Anda.”
Mereka bicara dua jam.
Bukan soal slogan.
Soal pabrik, batch produksi, uji toksisitas, biaya registrasi, jalur BPOM, strategi distribusi, dan batas klaim medis. Kevin menghitung pasar. Ardi menolak setiap kalimat promosi yang terlalu berani. Rudi, yang sudah bangun, duduk di samping sambil berbisik, “Gila, Di. Lo lagi bikin perusahaan?”
Menjelang siang, kerangka kerja terbentuk.
PT Abadi Sehat Farma.
Kevin melalui PT Timur Lestari memegang 51%, menyediakan pabrik, modal operasional, distribusi, dan tim regulasi.
Ardi memegang 49%, membawa formula Kardiofix, validasi klinis, reputasi medis, dan pengawasan etik produk.
“Kenapa saya 49?” tanya Ardi.
Kevin menjawab tanpa berputar. “Karena saya menanggung manufaktur dan modal awal lebih besar. Tapi tanpa formula dan reputasi Anda, perusahaan ini tidak punya jantung. Empat puluh sembilan persen untuk dokter yang tidak punya pabrik adalah angka yang sangat besar.”
“Saya tidak mau hanya jadi wajah medis.”
“Anda punya hak veto untuk klaim klinis dan perubahan formula.”
Ardi diam sebentar, lalu mengangguk.
“Kalau begitu kita jalan.”
Notaris menyiapkan akta pendirian lebih cepat dari dugaan karena Kevin sudah memiliki struktur korporasi siap pakai. Hartono meninjau klausul dari sisi perlindungan Ardi. Dalam dua hari, draft pendirian PT Abadi Sehat Farma berdiri di meja.
Rudi melihat nama itu dan tertawa kecil.
“Abadi Sehat Farma. Kedengarannya kayak perusahaan yang sudah tua.”
“Bagus,” kata Kevin. “Kepercayaan kadang dimulai dari nama yang tidak terdengar seperti startup panik.”
Ardi menandatangani dokumen.
Panel sistem muncul.
[Jalur pengganti terdeteksi.]
[Misi Berantai — Tahap 4/5 pratinjau terbuka.]
[Target: membawa Kardiofix melalui jalur BPOM dan memasuki pasar sebagai alternatif aman Bronkosol.]
[Hadiah tahap: 5.000 PM.]
[Status: menunggu validasi regulasi.]
Ardi menatap panel itu.
Perang melawan Surya Perkasa tidak lagi hanya soal membuktikan Bronkosol berbahaya.
Sekarang ia harus membuktikan bahwa pasar bisa hidup tanpa mereka.
Di SCBD, Surya Pradana membaca laporan baru dari tim intelijen bisnis.
PT Abadi Sehat Farma didirikan. Pemegang saham: PT Timur Lestari 51%, dr. Ardi Pratama 49%. Produk awal diduga bernama Kardiofix.
Surya meletakkan laporan itu di meja.
Untuk pertama kalinya, ia menyebut nama Ardi tanpa perantara.
“Ardi Pratama.”
Ia mengambil cangkir teh, meminumnya sedikit, lalu meletakkannya kembali.
“Seorang dokter kecil ingin menantang imperium saya.”
Tidak ada orang di ruangan yang berani bernapas keras.
Surya mengambil ponsel.
“Cari semua tentang dia. Keluarganya, anak-anaknya, perusahaannya, semua.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan suara lebih dingin.
“Dan Rangga. Masa percobaannya terlalu tenang. Buat dia berguna lagi, atau buat kesalahannya menjadi pelajaran.”
Di layar bursa, garis merah Surya Perkasa turun satu titik lagi.
Surya menatapnya tanpa berkedip.
“Kalau dia mau perang,” katanya, “saya layani sampai akhir.”
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭