Hola ...
Update setiap hari ... !!!
Warning :
Novel ini bisa membuat kalian tersenyum-senyum sendiri dan tertawa gemasss ...!!!
Novel ini juga mengandung banyak bawang ditengah!!! Selamat membaca ...
Karena ada yang minta sekuel anaknya Galas dan Gayung. Ini aku kasih sekuel mengenai anak kedua mereka, Jusuf Alexander.
Dalam perjalanan menuju kampung halaman untuk menengok kedua orang tuanya yang kini menetap dikota kelahiran mereka. Jusuf Alexander tersesat dijalan karena mengikuti Google Map. Padahal ibunya sudah mengingatkannya untuk tidak mengendarai mobil sendiri. Karena Alex lemah mengingat jalan.
Hingga akhirnya ia tersesat dijalanan terjal dalam kondisi mobil yang tiba-tiba mogok. Apesnya hujan mengguyur begitu deras malam itu. Hingga ia kebingungan untuk meminta bantuan. Sampai kemudian muncul seorang gadis yang menolongnya.
Dari sanalah perjalanan cintanya yang amazing bermula. Ikuti terus ya ...Ok say ...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Curly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 ( Dipukul Dimana? )
Alex baru saja keluar dari kamar mandi, bersamaan dengan Pandan yang masuk ke walk in closet. Wajah gadis itu nampak muram, membuat Alex mendekatinya dengan bertanya-tanya.
"Pandan, kenapa?" Alex menangkup wajah Pandan yang memerah dengan kedua tangannya.
"Kamu menghapusnya?" Pandan mengangkat ponselnya, dan menggeser layarnya. Menunjukkan foto sumber pertengkaran mereka kemarin yang sudah tak ada lagi disana.
Alex menarik tangannya pelan-pelan. Ia yakin dia sudah membuat kesalahan yang besar, meski tak tahu itu apa, sampai Pandan terlihat hampir menangis karena tak menemukan foto itu lagi digalerinya.
"Kenapa?" Bukannya mengakui, Alex lebih penasaran apa pentingnya foto itu bagi istrinya. Ingatan Alex mengenai foto itu lebih kepada istrinya yang tersenyum bahagia bersama sang mantan kekasih. Dan entah kenapa, Alex merasa tak rela melihat Pandan yang jarang sekali menunjukkan ekspresinya itu tersenyum karena laki-laki lain dan bukan dirinya. Meski hal itu terjadi jauh sebelum mereka bertemu.
"Alex, kenapa kamu menghapusnya?" Air mata yang semula Pandan tahan akhirnya lolos juga, membuat Alex semakin tak mengerti dimana letak kesalahannya.
"A-aku hanya tidak suka kamu tersenyum karena laki-laki lain." Alex memilih jujur. Dan ia bisa memaklumi ketika Pandan menatapnya dengan tak percaya mendengar alasan darinya.
"Alex, itu foto lama. Kita bahkan belum bertemu ...."
"Justru itu, Pandan. Aku tidak suka kamu masih menyimpan kenanganmu bersama laki-laki itu."
"Tapi, Alex ... itu satu-satunya foto ayah yang aku punya."
"A-apa?" Alex berucap pelan dengan nada terbata mendengar alasan Pandan masih menyimpan foto itu. Rasa bersalah tiba-tiba menyeruak dalam dadanya, mendapati kedua bola mata istrinya itu berlinang air mata. "Pandan ...."
Dan Alex tak tahu harus bagaimana, ketika didetik berikutnya Pandan keluar dari walk in closet begitu saja. Laki-laki itu menggusak kasar rambutnya yang masih basah dan bergegas mencari baju ganti. Satu yang pasti, ia harus segera meminta maaf pada istrinya itu. Diakuinya, ia memang laki-laki pencemburu. Namun baru kali ini ia menyesali sifat buruknya itu. Seharusnya ia mempercayai Pandan kemarin. Rasa bersalah itu kian menjadi kala mengingat curahan hati Pandan dimemo semalam. Dalam tulisan itu Pandan menuliskan, meski hubungannya dengan sang ayah kandung tidak begitu dekat, tapi Pandan sangat menyayangi ayah kandungnya itu. Bahkan wanita itu memiliki kesan mendalam dalam pertemuan terakhirnya dengan sang ayah. Karena setelah itu mereka tak pernah bertemu lagi, dan yang Pandan dengar selanjutnya hanyalah kabar kematiannya.
"Pandan, maafkan aku." Alex memakai pakaiannya terburu dengan frustasi. Rasanya ia rela dipukul, ditampar atau apapun asal Pandan memaafkannya.
***
"Pandan, aku minta maaf." Alex langsung berjongkok didepan Pandan yang tengah duduk disofa ruang santai mereka. Wanita itu nampak menunduk mengecek isi ponselnya mengabaikan Alex berusaha membujuknya.
"Pandan ...." Alex tak menyerah, ia mengikuti kemanapun wajah Pandan, yang bergerak ke kanan dan ke kiri karena tak ingin bertatap muka dengannya. Sementara Alex paling tidak bisa melihat Pandan mengacuhkannya seperti ini. Jadi, meski terkesan memaksa, Alex ingin masalah ini selesai saat ini juga. Bagaimana pun caranya.
"Pandan, aku benar-benar minta maaf. A-aku tidak tahu kalau dia ayahmu," ucap Alex sungguh-sungguh menunjukkan rasa bersalahnya. Namun Pandan tetap dengan kediamannya.
"Pandan, kamu boleh pukul aku, tampar aku atau apapun. Lampiaskan amarahmu padaku tapi ... tolong jangan diam ...." Alex meraih tangan Pandan yang bebas dan memukul-mukulkannya ke pipinya. "Kalau perlu boleh menghajarku sampai babar belur ...." Alex mengeluarkan seluruh usahanya demi bisa berbaikan dengan istrinya itu.
Dan harapan itu terbit kala Pandan akhirnya mau menatapnya.
"Kamu yakin?" tanya Pandan dingin.
"Yakin." Alex bahkan langsung memejamkan matanya siap menerima apapun yang akan Pandan lakukan padanya.
"Kamu tidak akan melaporkanku atasan tuduhan KDRT bukan?" tanya Pandan sekali lagi.
"Tidak akan," jawab Alex yakin masih dengan mata tertutup.
Hening. Alex menunggu tapi Pandan belum juga melakukan apapun padanya. Walau sedari awal Alex yakin bahwa Pandan tidak akan mungkin sanggup melakukan hal seperti itu.
"Alex." Pandan malah memanggil namanya, mau tak mau membuat Alex membuka matanya.
"Ya?" Alex menunggu apa yang Pandan hendak katakan padanya.
"Kamu tahu ... kenapa aku sangat menyayangi ayah tiriku?" Wajah Pandan berubah sendu.
"Karena dia pria yang baik." Sepertinya itu yang tertulis dimemo yang ia baca.
"Itu salah satunya. Tapi apa kamu tahu ... ibuku sangat galak." Pandan masih memasang wajah dinginnya.
"Benarkah?" Alex rasanya tak percaya, Ibu segalak apa yang memiliki putri semanis ini? Bahkan dengan wajahnya yang datar seperti inipun, Pandan tetaplah sempurna dimatanya. Alex bukannya fokus pada cerita tapi malah sibuk mengagumi kecantikan alami istrinya.
"Ayah kandungku orang berada. Jadi saat hidup dengannya, ibu tidak pernah merasakan kekurangan materi. Tapi Bapak ... cuma kuli biasa, jika ia pulang tak memberi uang banyak, ibu sering memarahinya bahkan memukulinya." Pandan dapat melihat ekspresi Alex sedikit berubah mendengar cerita darinya.
"A-apa separah itu?" Alex bergidik ngeri. Terbayang jika Pandan sampai menuruni sifat buruk ibunya. Tapi akhirnya ia mengenyahkan pikiran buruk itu. Semoga kamu tetap manis seperti ini, Pandan. Doa Alex dalam hati. Kamu diam saja sudah membuatku gila apalagi ditambah galak. Astaga ... tak terbayangkan ...
"Alex, apa yang kamu pikirkan?" Pandan menahan senyumnya, rasanya ia tahu apa yang Alex pikirkan kini.
"Ti-tidak ada." Alex tersenyum konyol menutupi kebohongannya, demi kebaikan.
"Kamu pernah mendengar bukan, bahwa ... buah biasanya jatuh tak jauh dari pohonnya." Pandan sedikit menarik ke atas kaos panjang bergaris yang dipakainya. Membuat Alex seketika meneguk salivanya susah payah.
"Kamu mau dipukul pakai apa?" tanya Pandan dengan wajah seriusnya sembari menguncir rambut panjangnya.
"Pa-pakai apa?" Alex memastikan pendengarannya. Pandan tidak mungkin sesadis itu bukan?
"Bukannya tadi kamu yang menawarkan diri?" ejek Pandan dengan sengaja.
"Ta-tapi Pandan. Memangnya kamu sudah siap menjanda?" Alex sudah membayangkan saja palu mendarat mulus dibatok kepalanya. Meski ia menyangkalnya kemudian. Pandan tak mungkin setega itu padanya.
"Aku hanya akan membuatmu babak belur sesuai permintaanmu bukan membunuhmu." Pandan akhirnya tak dapat menyembunyikan senyum gelinya melihat wajah pucat Alex. Hal itu, membuat Alex menyimpulkan bahwa rasa kesal Pandan mungkin sudah sedikit mereda.
"Oh oke ... ya, sudah kalau begitu, silahkan pukul aku." Alex menyodorkan wajahnya sembari memejamkan matanya kembali.
"Kamu belum menjawab, Alex. Kamu mau dipukul pakai apa?" Pandan mengulang pertanyaannya tapi kali ini sudah mulai melunak.
"Pakai ...." Alex pura-pura berpikir dengan matanya yang masih terpejam itu. Lalu senyum nampak terukir dibibirnya setelah menemukan jawabannya. "Pakai ... bibir boleh?"
"Aleeexx ... dasar mesum." Pandan benar-benar memukul bahunya kali ini. Namun tentu saja tidaklah menggunakan tenaga yang seberapa malah diiringi dengan tawa kecil. Mau tak mau Alex membuka mata dan ikut tertawa, menelusupkan kedua tangannya dipinggang ramping itu dan membawa mereka lebih merapat.
"Sayang, maafkan aku," ucap Alex sungguh-sungguh didepan wajah istrinya yang hanya beberapa centi didepannya itu.
Pandan mengangguk pelan. Sejujurnya, ia juga tak bisa marah terlalu lama dengan suaminya itu. Hanya Alex yang ia miliki kini, hanya Alex yang bisa membuatnya tersenyum, tertawa. Alex adalah sumber kebahagiaannya. Andai Alex tahu bahwa ia sangat mencintai laki-laki itu dan begitu takut kehilangannya. Apalagi melihat mantan kekasih Alex dikantor tadi. Rasa takut itu semakin nyata dan ia tak bisa berhenti membandingkan dirinya dengan wanita anggun nan lembut itu.
***
Lanjut besok ya semuanya. Author ngantuk mau buat adegan mesra mereka ...
Jangan Lupa LIKE KOMEN VOTE