Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4
"Di rumah ini, tidak semua orang seperti yang terlihat."
Kalimat Stella tidak terdengar seperti nasihat. Bagi Nana, itu terdengar seperti kunci yang baru setengah diputar, sementara pintu di depannya masih belum mau terbuka.
Sepanjang siang, Nana bekerja di dapur kecil paviliun belakang. Ia mencuci gelas, mengelap nampan, dan belajar membedakan cangkir teh untuk tamu biasa dengan cangkir untuk keluarga inti. Kepala pelayan mengawasinya tanpa banyak bicara. Nana melakukan semua dengan cepat, tetapi pikirannya kembali lagi pada kotak kayu di tangan Stella.
Patrick Pang.
Nama itu seperti serpihan kaca kecil. Tidak besar, tapi kalau diinjak bisa membuat orang berdarah.
Sore hari, Stella datang lagi. Kali ini ia tidak memakai senyum secerah biasa. Di tangannya ada payung lipat, padahal langit hanya mendung tipis.
"Ikut aku sebentar," katanya.
"Ke mana?"
"Ruang musik."
Nana mengeringkan tangan di kain lap. "Bukankah tadi Cici bilang ada banyak ruangan yang tidak boleh kumasuki?"
"Ruang musik boleh. Kalau bersamaku."
Mereka berjalan melewati lorong timur. Nana mencatat setiap belokan, setiap pintu, setiap jendela yang bisa dibuka dari dalam. Kebiasaan itu belum bisa hilang. Stella melihatnya, tapi tidak menegur.
Ruang musik berada di sisi rumah yang lebih tua. Begitu pintunya dibuka, bau kayu, debu halus, dan sisa dupa menyambut mereka. Ada piano hitam di sudut, rak piringan hitam, dan beberapa foto lama dalam bingkai perak.
Di salah satu meja kecil, Nana melihat foto tiga pemuda.
Steven Sie lebih muda beberapa tahun, berdiri dengan wajah datar seperti biasa. Di sampingnya, Elvin Song mengenakan kacamata tipis dan tersenyum sopan. Pemuda ketiga berdiri paling dekat dengan Stella, senyumnya lebar, matanya hidup, seolah orang di dalam foto bisa tertawa kapan saja.
"Itu Patrick?" tanya Nana.
Stella mengangguk.
Ia tidak menyentuh foto itu. Justru karena tidak menyentuh, Nana tahu benda itu penting.
"Dulu mereka disebut Trio Hujan," kata Stella pelan. "Koko Steven, Elvin, dan Patrick. Kalau tiga orang itu datang, rumah ini ribut sekali. Mereka selalu pulang dalam keadaan basah karena kehujanan, tapi masih tertawa seolah badai itu hiburan."
"Koko Steven juga tertawa?"
Stella menoleh. Untuk sesaat, wajahnya seperti ingin tertawa juga.
"Dulu, iya."
Nana sulit membayangkannya. Steven yang ia lihat kemarin seperti pintu besi. Tidak ada celah untuk suara tawa.
Stella membuka kotak kayu yang kemarin. Di dalamnya ada foto kecil, tiket konser yang warnanya sudah pudar, kartu nama Patrick Pang, dan sebuah koin tua berlubang di tengah.
"Patrick bukan keluarga Sie," ujar Stella. "Tapi dia lebih sering ada di rumah ini daripada beberapa orang yang benar-benar bermarga Sie."
"Dia pacar Cici?"
Jari Stella berhenti di atas tiket konser.
"Kau selalu langsung ke luka orang?"
Nana menunduk. "Maaf."
"Tidak apa-apa." Stella menarik napas pelan. "Iya. Dia orang yang kusukai. Orang yang membuatku berpikir, mungkin hidup tidak harus selalu mengikuti meja makan keluarga."
Di luar, angin menggoyang jendela. Suaranya tipis, tapi di ruangan yang penuh benda lama, bunyi sekecil itu terasa seperti seseorang mengetuk dari masa lalu.
"Dia meninggal?" tanya Nana.
Stella mengangguk.
"Kecelakaan?"
Senyum Stella muncul, pahit sekali. "Itu yang tertulis di laporan."
Nana mengangkat wajah.
"Mobilnya ditemukan di jalan dekat gudang lama Sie Group. Rem blong. Hujan deras. Tidak ada saksi yang mau bicara. Polisi menutup kasus cepat sekali." Stella menutup kotak itu separuh, lalu membukanya lagi seperti tidak tahu harus menyimpan kenangan atau membiarkannya bernapas. "Semua orang bilang aku harus menerima. Anak baik harus menerima. Keluarga besar harus menjaga nama baik."
"Cici tidak percaya?"
"Aku percaya Patrick tidak sebodoh itu."
Kalimat itu keluar pelan, tapi tajam.
Nana memandang foto Patrick lagi. Senyum pemuda itu memang terlalu hidup untuk cocok dengan kata kecelakaan yang rapi.
"Koko Steven bagaimana?"
Pertanyaan itu membuat Stella memejamkan mata sebentar.
"Setelah Patrick meninggal, Koko Steven berubah. Elvin pergi ke Jakarta untuk sekolah hukum. Aku..." Ia tersenyum kecil, matanya basah. "Aku tetap di sini. Menjadi Xiao Liu yang ceria, supaya Mama tidak menangis tiap melihatku."
Nana tidak tahu harus berkata apa.
Di jalanan, orang mati biasanya menghilang dari percakapan karena yang hidup harus mencari makan. Di rumah besar, orang mati tetap tinggal di dinding, di laci, di sela kalimat yang sengaja dipotong.
Pintu ruang musik tiba-tiba terbuka.
Tamara berdiri di ambang pintu. Wajahnya tetap lembut, tetapi matanya langsung jatuh ke kotak kayu di tangan Stella.
"Kau membukanya lagi?"
Stella menegakkan punggung. "Aku hanya menunjukkan Nana ruang musik."
"Stella."
Hanya satu kata, tapi seluruh ruangan berubah.
Nana menurunkan pandangan. Ia tahu kapan dua orang sedang bertengkar tanpa suara.
Tamara masuk, menutup pintu pelan. "Aku tidak melarangmu mengingat Patrick. Tapi jangan gali hal yang sudah membuatmu hampir hancur."
"Hampir hancur bukan berarti mati, Cici."
"Justru karena kau masih hidup."
Stella menggenggam kotak itu. "Kalau semua orang terus diam, apa bedanya hidup dengan pura-pura?"
Tamara tidak menjawab. Wajahnya tampak lelah, seperti ia sudah pernah mendengar kalimat itu terlalu banyak.
"Nana," katanya akhirnya, "tolong tunggu di luar sebentar."
Nana mengangguk. "Baik, Cici Tamara."
Ia keluar, tetapi tidak pergi jauh. Bukan karena ingin menguping. Setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Ia hanya berdiri di lorong, dekat rak bunga kering, cukup dekat untuk mendengar suara Stella yang pecah.
"Aku cuma ingin ada satu orang baru yang tahu bahwa Patrick pernah ada."
Setelah itu, suara mereka mengecil.
Nana menatap lantai.
Untuk pertama kalinya, ia merasa rumah ini bukan hanya besar. Rumah ini penuh ruangan yang dipakai untuk menyimpan kesedihan, lalu semua orang berpura-pura pintunya terkunci dari luar.
Malam itu, Nana sulit tidur.
Hujan turun lewat tengah malam, pelan-pelan, menimpa atap paviliun belakang. Ia terbangun karena ingin mengambil air. Koridor samping sepi. Lampu-lampu kecil menyala redup di dekat lantai.
Saat melewati ruang musik, Nana melihat pintunya tidak tertutup rapat.
Celahnya hanya selebar dua jari.
Dari dalam, cahaya kuning menyentuh lantai.
Nana seharusnya pergi. Aturan Stella jelas. Jangan terlalu banyak melihat.
Namun di meja kecil itu, di depan foto Patrick Pang, sebatang dupa baru saja dinyalakan.
Steven Sie berdiri sendirian di sana.
Kemeja hitamnya basah di bagian bahu, seolah ia baru pulang menerobos hujan. Wajahnya tetap dingin, tapi tangannya yang memegang korek api bergetar sedikit.
Nana menahan napas.
Steven menunduk di depan foto Patrick.
Lalu, dengan suara yang hampir habis, ia berkata pelan, "Maaf."