NovelToon NovelToon
Koh, Ini Salah

Koh, Ini Salah

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.

Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."

Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.

Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.

Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.

Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.

Empat tahun kemudian, badai datang lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32

Bunga Mawar Rambat

Setelah malam pengumuman London, Erlyn mulai menghitung hari tanpa sengaja.

Bukan dengan kalender.

Dengan benda.

Satu map dokumen baru muncul di meja kerja Om Changli. Satu koper besar dikeluarkan dari gudang atas. Satu brosur asrama sementara tergeletak di ruang keluarga. Satu daftar barang tertempel di kulkas, ditulis rapi oleh Jing, dengan beberapa catatan kecil seperti obat flu, vitamin, kaus kaki tebal.

Setiap benda itu berkata hal yang sama.

Chisen akan pergi.

Chisen sendiri terlihat paling tidak terganggu. Ia tetap sekolah, tetap melukis, tetap mengajar Erlyn, tetap mengkritik nasi gorengnya jika terlalu manis. Kadang ia menjawab pertanyaan Jing tentang London dengan singkat. Kadang Om Changli memanggilnya ke ruang kerja untuk membahas dokumen. Setelah itu, ia kembali ke loteng seperti biasa.

Seolah jarak antarnegara bisa dilipat dan disimpan di saku.

Erlyn tidak bisa begitu.

Di sekolah, ia mulai memperhatikan setiap kali guru menyebut masa depan. Jurusan. Universitas. Nilai rapor. Portofolio. Angie mengeluh bahwa kelas sepuluh terlalu awal untuk stres tentang kuliah, tetapi Erlyn justru mendengarkan lebih serius.

"Kamu mau jadi apa?" tanya Angie suatu siang.

Erlyn menatap buku fisika. "Belum tahu."

"Fisikawan?"

"Mungkin."

"Istri miliarder?"

"Angie."

"Apa? Itu juga karier di beberapa novel."

Erlyn melempar penghapus kecil ke arahnya. Angie menangkapnya sambil tertawa, tetapi pertanyaan itu tertinggal. Mau jadi apa? Mau ke mana? Selama ini jawabannya sederhana: ikut Mama, sekolah baik-baik, jangan membuat masalah. Sekarang, untuk pertama kalinya, masa depan punya arah yang mungkin tidak selalu berada di rumah Jalan Kenanga.

Malam itu, les selesai lebih cepat karena Chisen harus menyusun dokumen portofolio.

Erlyn menutup buku dengan pelan. "Koh."

"Apa?"

"Kalau di London, Koh tinggal di mana?"

"Sementara di apartemen kecil dekat kampus. Nanti lihat lagi."

"Sendiri?"

"Iya."

"Bisa masak?"

Chisen mengangkat mata. "Kamu sudah lupa aku menyelamatkan mi gorengmu?"

"Itu bukan jawaban."

"Bisa."

Erlyn menggambar garis tak jelas di sudut kertas. "Di sana dingin?"

"Lebih dingin dari Surabaya."

"Jauh?"

"Dari sini? Iya."

Jawaban jujur itu membuat dadanya turun. Ia tahu London jauh. Semua orang tahu. Tetapi mendengar Chisen mengatakannya langsung membuat jarak itu tiba-tiba punya berat.

Chisen memperhatikannya.

"Kamu bisa ke sana juga."

Erlyn tertawa kecil. "Aku?"

"Kenapa tidak?"

"Aku bahkan baru pindah sekolah tanpa tersesat."

"Sekarang kamu sudah tidak tersesat."

"Kadang masih."

"Di sekolah atau di kepala?"

Erlyn menatapnya. "Koh sedang bercanda atau menghina?"

"Dua-duanya."

Ia hampir tertawa, tetapi tertahan. "London itu untuk orang seperti Koh."

"Orang seperti apa?"

"Pintar. Punya portofolio. Punya pameran yang tidak boleh dibicarakan."

Chisen diam sebentar.

Erlyn menyesal menyebut pameran, tetapi Chisen tidak menutup wajahnya seperti biasa. Ia hanya menatap kertas di meja, lalu berkata, "London juga untuk orang yang belajar cukup keras sampai sampai di sana."

"Itu terdengar seperti slogan brosur."

"Kadang brosur benar."

Erlyn menggeleng, tetapi hatinya mendengarkan.

Chisen mengambil ponselnya, membuka galeri foto, lalu memutar layar ke arah Erlyn. Foto itu menampilkan sebuah jalan kecil di London, bangunan bata tua, langit kelabu, dan tanaman merambat di dinding. Di salah satu pagar besi, bunga mawar rambat merah muda tumbuh lebat, seperti tidak peduli cuaca dingin.

"Ini dekat tempat pameran dulu," katanya.

Erlyn menatap foto itu.

"Cantik."

"Di sana ada banyak bunga mawar rambat yang bagus sekali."

Suara Chisen lebih pelan daripada biasanya. Bukan lembut secara jelas, tetapi tidak sedingin instruksi soal.

"Kalau kamu bisa masuk universitas yang bagus," lanjutnya, "suatu hari kamu bisa ke London juga."

Erlyn menatapnya. "Untuk lihat bunga?"

"Untuk apa pun yang kamu mau."

Kalimat itu sederhana. Tetapi bagi Erlyn, yang selama ini merasa hidupnya dipindahkan dari Belitung ke Surabaya oleh keputusan orang dewasa, kalimat untuk apa pun yang kamu mau terdengar seperti pintu lain yang dibuka sedikit.

"Kalau aku ke sana," katanya hati-hati, "Koh tunjukkan bunga itu?"

Chisen menatapnya.

Jeda pendek.

"Kalau masih ada."

"Kalau tidak ada?"

"Kita cari yang lain."

Erlyn mengira pembicaraan akan berhenti di sana. Tetapi Chisen sudah menarik buku catatannya, membalik ke halaman kosong, lalu menulis beberapa baris.

Nilai rapor.

Bahasa Inggris.

Portofolio akademik.

Beasiswa.

"Koh sedang apa?"

"Membuat jalan."

"Jalan ke London?"

"Jalan ke mana pun yang kamu mau."

Erlyn melihat daftar itu. Tulisannya rapi, terlalu rapi untuk sesuatu yang baru saja ia ucapkan seperti mimpi setengah bercanda.

"Aku belum tahu mau apa."

"Tidak apa-apa. Orang yang belum tahu tujuan tetap bisa belajar membaca peta."

"Koh malam ini terlalu bijak. Menakutkan."

"Besok aku kembali menyebalkan."

"Syukurlah."

Chisen menambahkan satu garis di bawah daftar. "Kalau kamu ingin keluar negeri, Bahasa Inggris harus lebih kuat. Mulai minggu depan, kita tambah reading."

Erlyn langsung menyesal. "Aku baru saja punya mimpi, Koh sudah jadikan PR."

"Mimpi tanpa PR biasanya cuma tidur."

"Itu kalimat paling menyebalkan yang pernah Koh ucapkan."

"Belum. Aku masih punya banyak."

Erlyn tertawa, tetapi kali ini tawa itu membawa sesuatu yang ringan. Chisen tidak mengatakan jangan sedih. Tidak mengatakan ia akan cepat pulang. Ia hanya memberi daftar, seperti orang yang meletakkan batu-batu kecil di atas sungai agar Erlyn bisa menyeberang suatu hari nanti.

Ia menyentuh tulisan bunga mawar rambat di layar ponsel dengan ujung mata, bukan jari.

"Kalau aku benar-benar sampai London, Koh jangan pura-pura lupa."

"Aku tidak pelupa."

"Koh suka pura-pura."

Chisen menatapnya. "Kalau kamu sampai sana, aku ingat."

Erlyn melihat halaman daftar itu lagi. "Ini boleh aku simpan?"

"Itu bukumu."

"Tulisannya Koh."

"Kalau begitu jangan hilangkan."

Ia merobek halaman itu dengan hati-hati, lebih rapi daripada biasanya, lalu melipatnya sekali dan menyelipkannya ke dalam buku fisika. Kertas itu terasa tipis, tetapi anehnya membuat dadanya sedikit lebih penuh.

Seolah jarak punya pegangan kecil.

Untuk ia genggam nanti.

Sendiri.

Erlyn menunduk agar senyumnya tidak terlalu terlihat. Di luar ruang belajar, rumah sudah mulai sepi. Dari halaman, wangi melati masuk tipis. Di layar ponsel Chisen, bunga mawar rambat di London tetap menyala kecil di bawah langit kelabu.

Malam itu, sebelum tidur, Erlyn menulis satu baris di halaman belakang buku catatannya.

London. Bunga mawar rambat.

Ia tidak tahu apakah itu cita-cita, janji, atau hanya cara bodoh untuk membuat kepergian Chisen terasa sedikit lebih bisa ditahan.

Yang ia tahu, untuk pertama kalinya sejak email London datang, jarak itu tidak hanya terasa seperti kehilangan.

Jarak itu juga punya warna merah muda di pagar besi tua.

1
May Maya
baru mampir Thor semoga cerita nya bgus n GK berhenti d tngh jln
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!