Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sulit Berkonsentrasi
Sejak menerima telepon dari ibunya, pikiran Niken tidak lagi benar-benar berada di dalam kelas. Tangannya tetap sibuk membantu anak-anak menyusun kertas warna-warni, namun pikirannya terus saja tentang percakapan dengan ibunya. Bahkan senyumnya masih terpasang ketika seorang anak menunjukan hasil gambarnya.
"Bu Guru, lihat!" titahnya yang langsung membuat Niken menoleh.
"Wah, bagus sekali." Katanya.
Kemudian anak itu menunjuk satu per satu gambar yang dibuatnya. "Ini rumah, ini Ayah, ini Ibu."
"Bagus," ucap Niken sambil tersenyum kepadanya.
Namun senyum itu tidak berlangsung lama ketika ia kembali teringat pada suara ibunya di telepon tadi.
"Kalau tidak ada jalan lain, rumah ini bisa dijual."
Niken menarik napas pelan. Rumah. Rumah yang selama ini menjadi tempat orang tuanya tinggal, rumah tempat ia tumbuh, tidak mungkin ia akan membiarkan rumah itu hilang begitu saja karena ulah Rangga.
"Bu Niken?" Suara Salsa kembali membuyarkan lamunannya.
"Iya?"
"Saya tidak bisa mengambar rumah, Bu...," kata Salsa yang membuat Niken kembali tersenyum.
Ia mengusap puncak kepala anak itu. "Ayo, Ibu bantu menggambarnya."
Niken kembali berusaha melakukan hal yang sama dengan sibuk membantu mereka menggambar, serta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkadang tidak sesuai dengan pelanjaran sekolah. Namun setiap kali ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas bayangan rumah orang tuanya memenuhi kepala.
Meski begitu, ia tetap memutuskan tidak ingin melibatkan Danendra. Bukan karena tidak percaya, tetapi justru karena ia tahu suaminya pasti akan membantu jika mengetahui masalah tersebut, dan itulah yang membuat Niken merasa tidak nyaman. Niken tidak ingin masalah keluarganya menjadi beban Danendra, terlebih setelah kemarin mereka baru saja menghadapi kekhawatiran tentang kondisi Pradipta.
Ia lalu menatap jam yang menempel di dinding. Masih ada kegiatan belajar pada siang itu, namun pikirannya sudah tidak sanggup berkonsentrasi.
Niken akhirnya menemui salah seorang guru. "Bu Ratna, maaf."
"Iya, kenapa, Bu Niken?"
"Saya boleh minta tolong sama Bu Ratna untuk menggantikan sisa tugas sampai jam pulang?"
"Memangnya kenapa?" tanya Bu Ratna bingung.
"Ada urusan keluarga yang harus segera saya selesaikan."
Melihat wajah serius Niken, Bu Ratna tidak lagi banyak bertanya. "Baik."
Niken mengangguk. "Terima kasih banyak, Bu."
"Sama-sama."
Niken kembali ke kelas untuk mengemasi barang-barangnya. Sebelum pergi, ia memastikan semua kegiatan anak-anak sudah diserahkan kepada guru pengganti, setelahnya barulah melangkah pergi.
Di luar gerbang, Niken merogoh ponsel dari dalam tasnya. Jemarinya berhenti sesaat di atas layar sebelum akhirnya membuka percakapan dengan Maya.
"May, maaf aku ada urusan mendesak sebentar, tapi aku bilang sama Mas Danendra kalau aku perginya sama kamu. Nanti kalau pas jemput tiba-tiba Mas Danendra tanya kamu, jawab saja kalau kita memang habis pergi,ya."
Niken membaca ulang pesan itu, kemudian menekan tombol kirim.
Setelah terkirim, Niken tidak tahu bahwa pada saat yang sama Maya sedang berada di dalam kelas, membantu anak-anak menyelesaikan tugas-tugasnya, sementara ponselnya berada di dalam tas.
Setelah mengirim pesan itu, Niken tidak menunggu jawaban lagi. Ia segera menggeser layar ponselnya, mencari nama suaminya, kemudian menekan tombol panggil.
"Iya, Nik?" Jawab Danendra dari ujung telepon.
"Mas, aku mau pergi sebentar sama Maya boleh, kan?"
Danendra terdiam sesaat, seolah menangkap nada suara istrinya yang terdengar berbeda. "Mau ke mana?" tanyanya.
"Belum tahu, tapi nggak akan lama, kok. Cuma sekedar jalan-jalan sebentar. Nanti kita kembali ke sekolah sebelum Mas jemput."
"Ya sudah, hati-hati."
Niken mengembuskan napas pelan. "Iya, Mas. Terima kasih," ucap Niken sebelum memutus panggilan.
Niken kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas tanpa melihat pesan yang ia kirim untuk Maya, atau mungkin sekedar melihat balasan darinya.
* *
Kendaraan umum yang ditumpangi Niken akhirnya berhenti tidak jauh dari jalan menuju rumah orang tuanya. Ia turun, lalu berdiri sejenak di pinggir jalan—menatap gang yang sudah sangat dikenalnya.
Setiap sudut terasa begitu familiar, namun Niken sendiri yang merasa berbeda. Ia bukan lagi gadis seperti dulu yang setiap sore pulang membawa tas sekolah, karena kini ia datang sebagai seorang perempuan yang memiliki kehidupan lain di luar rumah itu.
Langkahnya melambat, ia menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu. "Assalamu'alaikum, Bu."
Dari dalam, terdengar samar suara ibunya. "Wa'alaikumussalam."
Begitu pintu di buka, Niken langsung menyalami lalu memeluk ibunya. "Apa yang terjadi, Ibu? Di mana Ayah sama Mas Rangga?"
Ayahnya tampak sedang duduk di ruang tengah dengan wajah murung.
Ia lalu menghampiri, "Ayah?"
Ayahnya langsung berdiri, memandang putrinya beberapa saat sebelum akhirnya memeluknya. "Kamu seharusnya tidak perlu datang, kamu sudah punya keluarga sendiri," katanya.
"Menikah bukan berarti tidak lagi menjadi anak Ayah," kata Niken sambil melepas pelukan ayahnya. "Niken juga ingin tahu semuanya, Yah."
Mereka semua lalu duduk dalam diam, kemudian Niken menarik napas panjang. "Seberapa besar masalah yang dibuat Mas Rangga?" tanyanya.
Ayah dan Ibunya tidak segera menjawab yang langsung membuat Niken mengerti. "Di mana Mas Rangga?"
"Di kamar," jawab ibunya lirih.
Ia lalu berjalan mendekati pintu kamar Rangga.
Niken berdiri beberapa saat di depan pintu kamar Rangga, kemudian menggetuknya pelan. "Mas?
Tak ada jawaban lalu ia mengulangnya lagi. "Mas Rangga?"
Dari dalam terdengar suara berat. "Apaan?"
Niken menoleh kedua orang tuanya yang masih duduk di belakangnya, kemudian kembali ke pintu kamar itu. "Aku masuk, ya."
"Jangan." Jawabnya cepat.
Niken menghela napas pelan. "Mas, aku cuma mau ngomong."
"Ngomong apa?"
"Aku dengar dari Ibu—"
Belum sempat Niken melanjutkan kalimatnya, terdengar suara kunci diputar. Kemudian pintu terbuka sedikit dan Rangga berdiri di baliknya.
Wajahnya tampak kusut, ada bekas luka di sudut bibirnya dan memar di pelipis yang membuat Niken langsung mengerutkan kening. "Jadi benar kata Ibu, kalau Mas Rangga berkelahi?"
Rangga mendengus. "Cuma ribut biasa."
"Ribut biasa tapi muka Mas sampai seperti itu?"
"Ini nggak parah, cuma kelihatannya saja."
Ibunya langsung menyela. "Nggak parah bagaimana, kamu hampir pingsan, Rangga."
Rangga melirik ibunya. "Bu, jangan mulai lagi."
Ayahnya menghela napas panjang. "Rangga, kamu sudah bukan anak kecil."
"Aku tahu, Yah."
"Kalau tahu kenapa harus begini?" Kata ayahnya yang membuat Rangga terdiam.
Niken memandang kakaknya. "Mas—"
"Apa lagi?" Potongnya cepat.
"Hutangmu benar sebanyak itu?"
Rangga langsung menatapnya. "Ibu melebih-lebihkan, Nik," ucapnya lalu mengalihkan pandangan. "Nggak sebanyak yang Ibu bilang."
Ayahnya kembali menyahut. "Terus berapa?"
Rangga terdiam.
"Rangga, Ayah sudah tahu dari beberapa orang yang datang ke rumah. Ayah juga tahu ada yang menelepon berkali-kali. Ayah harus bagaimana?"
Rangga mengusap wajahnya kasar. "Biar aku yang urus, Ayah. Ayah dan Ibu tidak perlu berpikir jauh."
"Kapan?" Suara ayahnya terdengar meninggi, "kapan kamu mau mengurusnya?"
Rangga tidak menjawab, kemudian ibunya mendekat. "Rangga, kita semua bukan mau menyudutkan kamu, kita cuma takut rumah ini diambil orang."
Hening...
Niken menatap ibunya yang sedang mengusap sudut matanya. "Ibu..."
Rangga menghela napas kasar, lalu berkata. "Jangan jual rumah ini, aku akan bayar," katanya dengan suara pelan.
"Dengan apa?" Sahut ayahnya yang kembali membuat Rangga terdiam, kemudian ia menatap putranya dengan wajah lelah. "Kamu sendiri tidak punya pekerjaan tetap."
"Aku bisa cari, Ayah."
"Sudah berapa kali kamu bilang begitu?"
Rangga kembali terdiam.
Kemudian Niken melempar tanya. "Mas, kenapa semuanya bisa sampai seperti ini?"
Rangga menatap adiknya beberapa detik sebelum akhirnya bicara, "aku nggak minta kamu pulang, jadi jangan ikut campur."
"Tapi, Mas—" ucap Niken yang langsung dipotong oleh Rangga.
"Aku bisa menyelesaikannya sendiri."
"Kalau memang bisa, kenapa Ayah dan Ibu sampai takut rumah ini akan dijual?"
Rangga kembali terdiam, pertanyaan itu tepat mengenai sesuatu yang selama ini berusaha ia hindari. Ia lalu membuang muka, "kalaian tidak usah khawatir, aku akan bereskan semuanya."
Niken mengangguk pelan. "Aku percaya, tapi aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Rangga menghela napas panjang. "Nggak ada yang perlu kamu tahu. Kamu sudah punya keluarga sendiri, aku nggak mau kamu ikut terseret."
Niken terdiam, ia merasa bahwa Rangga bukan seperti laki-laki arogan yang selama ini membuat keluarganya kewalahan, tetapi seperti seseorang yang sedang kehabisan jalan.
Ayahnya kemudian berkata pelan. "Kalau kamu memang ingin menyelesaikan semuanya, kami akan kasih kamu kesempatan."
Rangga mengangguk kecil. "Baik, Ayah. Tapi jangan libatkan Niken, karena dia sudah menikah. Jangan sampai masalah kita membuat rumah tangganya ikut terganggu," ucapnya yang dibenarkan oleh ayah dan ibunya.
Setelahnya, Niken tidak ingin membuang waktu lagi, karena takut akan dijemput oleh suaminya. Ia pun pamit kembali ke sekolah.
...****************...