NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO / Tamat
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manja

Memasuki usia kandungan delapan bulan, perubahan tidak hanya terlihat pada tubuh Annisa, tapi juga pada perasaannya. Gadis itu yang biasanya pendiam, mandiri, dan menjaga jarak, kini berubah menjadi lebih lembut, sensitif, dan… manja. Setiap kali Chensi hendak beranjak pergi, matanya langsung berkaca‑kaca, tangannya seolah secara refleks menggenggam lengan lelaki itu erat‑erat.

Pagi itu, Chensi sudah berpakaian rapi dengan jas kerja yang biasa ia pakai. Ia baru saja selesai sarapan dan bersiap menuju kantor—ada rapat penting yang tidak bisa ditunda, yang melibatkan seluruh direksi cabang perusahaan. Namun begitu ia melangkah menuju pintu, ia merasakan genggaman lembut namun kuat di lengannya.

“Tuan…” panggil Annisa pelan, suaranya terdengar sedikit merajuk.

Chensi berhenti, lalu menoleh sambil tersenyum melihat wajah wanita itu yang terlihat sedih dan takut ditinggal. “Ada apa, Sayang? Aku hanya pergi sebentar saja, rapatnya paling lama tiga jam, lalu aku segera pulang.”

Annisa menggeleng perlahan, tangannya tetap tidak melepaskan genggamannya. “Tapi… rasanya tidak tenang jika Tuan pergi sendirian. Kalau Tuan tidak ada di dekat saya, rasanya ada yang kosong. Bolehkah saya ikut saja? Saya bisa duduk diam di ruang tunggu, tidak akan mengganggu apa pun.”

Chensi tertawa pelan, suara tawa yang jarang didengar orang lain—tawa yang lembut dan penuh rasa sayang. Ia mengusap lembut puncak kepala Annisa yang tertutup rapat kerudungnya.

“Kamu ini, akhir‑akhir ini jadi sangat tidak mau ditinggal, ya?” godanya, namun matanya justru bersinar senang. “Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan. Tidak ada yang melarangmu ikut. Aku juga lebih tenang jika kamu ada di dekatku daripada menunggu di rumah sendirian.”

"Serius saya boleh ikut, Tuan?" Tanya Annisa tidak percaya. Matanya berbinar bahagia.

"Tentu saja. Ayo sekarang bersiap. Aku tunggu kamu di luar."

Annisa kembali tersenyum merekah. Andai saja mereka sudah menjadi pasangan suami istri, maka ia akan segera memeluk lelaki itu.

Tak lama kemudian, keduanya sudah melangkah keluar menuju mobil. Chensi membukakan pintu dengan hati‑hati, lalu membantu Annisa duduk dan memastikan posisinya nyaman sebelum melingkarkan sabuk pengaman. Selama perjalanan, tangannya tidak pernah lepas dari genggaman tangan gadis itu.

Sesampainya di gedung perkantoran megah yang menjadi pusat operasional perusahaannya, suasana langsung berubah menjadi sibuk dan resmi. Para karyawan dan pejabat yang lewat segera menunduk memberi hormat, namun mata mereka terbelalak melihat Chensi tidak datang sendirian. Ia berjalan di depan, menggandeng tangan seorang wanita yang berpakaian tertutup rapat, wajahnya terlihat lembut namun anggun.

Biasanya Chensi selalu berjalan cepat, dingin, dan tidak menyapa siapa pun kecuali urusan penting. Namun hari ini ia melangkah lebih lambat, menyesuaikan langkah dengan Annisa, sesekali bertanya dengan nada lembut. “Kamu tidak lelah, kan? Apakah pakaiannya cukup hangat?”

Saat mereka tiba di depan ruang rapat yang sudah dipenuhi pimpinan‑pimpinan perusahaan, Chensi tidak melepaskan genggaman itu. Ia berdiri di ambang pintu, lalu berbicara dengan nada tenang namun tegas.

“Perkenalkan, ini Annisa. Dia akan menemaniku hari ini. Siapkan ruang istirahat di sebelah ruang rapat, lengkapi dengan segala kebutuhannya. Jangan ada yang mengganggu, tapi jika dia membutuhkan sesuatu, segera kabari aku.”

Semua orang di dalam ruangan tertegun sejenak, saling berpandangan heran. Belum pernah ada wanita yang diperkenalkan sedemikian rupa, apalagi diperlakukan setinggi itu oleh Chensi yang dikenal sangat menjaga privasinya. Namun tidak ada yang berani bertanya atau berkomentar. Mereka hanya mengangguk hormat.

Chensi mengantar Annisa masuk ke ruang samping yang luas dan nyaman, lengkap dengan tempat duduk empuk, meja kecil, dan jendela yang menghadap ke taman. Ia menata bantal di belakang punggung Annisa, meletakkan air minum dan camilan di jangkauan tangan, lalu mencium punggung tangannya dengan lembut.

“Tunggu sebentar di sini, ya. Aku akan menyelesaikan rapatnya secepat mungkin. Jika ada apa‑apa, tekan tombol ini saja, asistenku akan segera datang.”

Annisa mengangguk tersenyum, merasa sangat nyaman dan aman. “Baik, Tuan. Pergilah, saya akan menunggu dengan tenang.”

Selama rapat berlangsung, Chensi terlihat lebih fokus namun tetap sesekali melirik ke arah pintu penghubung. Ia tidak merasa terganggu, justru kehadiran Annisa membuatnya lebih tenang dan tegas dalam mengambil keputusan. Bahkan saat ada pertanyaan sulit atau laporan yang kurang memuaskan, ia tidak lagi meledak amarah seperti dulu—ia hanya menjawab dengan dingin namun terkontrol, seolah ingat ada hati yang sedang menunggunya di sebelah.

Setelah rapat selesai lebih cepat dari jadwal, Chensi segera melangkah masuk ke ruang istirahat itu. Ia melihat Annisa sedang duduk bersandar, matanya terpejam sedikit, tampak rileks. Begitu mendengar langkahnya, Annisa segera membuka mata dan tersenyum lebar, lalu mengulurkan tangannya seolah ingin segera digenggam kembali.

“Sudah selesai, Tuan?” tanyanya ceria.

“Sudah. Sekarang kita bisa pulang atau jalan‑jalan sebentar dulu, sesuai keinginanmu,” jawab Chensi sambil duduk di sampingnya, langsung menggenggam tangan gadis itu erat.

Di luar, para karyawan yang melihat pemandangan itu hanya bisa berbisik‑bisik pelan, namun mereka sudah paham satu hal: Wanita ini bukan sembarang orang. Dia adalah sosok yang telah mengubah hati dan sikap Chensi yang selama ini dianggap tak tergoyahkan.

1
Kasih Bonda
trima kasih thor
Naufal Affiq
terimakasih atas karya nya aku suka
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
huaa udah ending aja pokoknya bahagia terus buat Chensi dan Annisa. Sukses terus karyanya Thor
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
lama lama ibu pasti bisa menerima Chensi dengan melihat bukti bahwa Chensi bisa menjaga Annisa dengan baik dan mau melakukan apa saja
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
lucu Rasyid udah bisa merangkak lagi bahagia terus ya kalian 😍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Alhamdulillah akhirnya ibu dan adiknya Annisa menerima Chensi sebagai suami Annisa. Kebahagiaan Annisa semakin bertambah sekarang. Makasih kak Dewi sudah menyajikan cerita yang menarik dan keren 🥰🥰🥰
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝗪𝗜𝗗𝗬𝗔 ☘𝓡𝓳
akhirnya happy ending kisahnya 😍
Kasih Bonda
next Thor semangat
Naufal Affiq
semoga di mudah urusan dan usahamu ya tuan
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Semoga ibunya Annisa bisa menerima Chensi sebagai menantunya 👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Bahagia selalu ya untuk kalian berdua, Annisa dan Chensi 🥰🥰
Naufal Affiq
semoga rumah tangga kalian menjadi keluarga yang saling menyayangi satu sama lain nya
Kasih Bonda
next Thor semangat
Indriani Kartini
,bahagia bngt, Nisa di cinta censi, semoga selalu bahagia
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
lengkap sudah kebahagiaan Chensi dan Annisa dengan hadirnya bayi laki laki semoga jadi anak yang Sholeh dan berbakti
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
Selamat Chensi dan Annisa pernikahan semoga samawa dan bahagia selalu 🤗
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
Selamat Chensi akhirnya login juga moga Istiqomah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
Pasti ada aja yang pro dan kontra dengan keputusan Chensi, jangan dengerin suara sumbang yang gak jelas mending fokus aja kedepannya menjadi orang yang lebih baik lagi
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
hadeuhh kenapa gak jujur aja sich Chensi gak udah malu daripada Annisa jadi marah gak jelas 🤭😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!