Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Darurat Stabilitas Pangkalan Ojol Tambora
Deru mesin Honda Supra Fit 2006 milik Arya Prasetya kembali membelah keheningan malam di gang sempit Tambora. Suaranya kini terdengar begitu bulat, padat, dan berwibawa—sebuah bukti nyata dari sisa-sisa intervensi energi Sistem Godjek yang baru saja membawa kendaraan legenda itu menembus stratosfer rendah ibu kota layaknya peluru kendali udara. Saat Arya mematikan mesin di depan rumah petaknya yang berukuran tiga kali tiga meter, ia tidak lagi merasakan sensasi ngilu di pinggang, encok di punggung, atau lemas di persendian bawah yang biasa melanda setelah seharian membelah aspal Jakarta.
Berkat efek Skill Permanen: Stamina Kuda Sembrani yang baru saja diklaimnya dan kini mengalir konstan di setiap sel pembuluh darah, jaringan saraf, serta serat otot tubuhnya, fisik Arya terasa luar biasa bugar. Kapasitas energi dan kebugarannya melonjak drastis hingga 300 persen secara permanen. Rasanya saat ini ia sanggup mendorong motor bebek tuanya dari Jakarta menuju Surabaya secara nonstop tanpa perlu tidur atau mengoleskan minyak kapak sama sekali.
Arya menurunkan standar samping motor tuanya dengan satu sentakan kaki yang mantap dan presisi, melepaskan helm INK lecetnya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
"Ibu.. Arya Pulang," ucap Arya seraya mendorong pintu tripleks yang catnya sudah mengelupas dimakan usia.
"Iyo Le.. Nah, ini dia anak bujang Ibu yang paling ganteng dan rajin sedunia sudah pulang!" sahut Bu Aminah yang sedang mengelap meja kayu tripleks tempat mereka biasa berkumpul. Di atas meja tersebut, sebuah piring seng berisi nasi timbel hangat yang dibungkus daun pisang lengkap dengan ayam goreng bumbu lengkuas ukuran jumbo—yang tadi sore sempat tertunda penyelesaiannya—sudah tersaji dengan begitu menggoda indra penciuman.
Pak Surya yang baru saja selesai memasukkan sangkar burung perkutut kesayangannya ke dalam rumah ikut menggeser kursi plastik hitam. Beliau membetulkan letak sarung kotak-kotak hijaunya sebelum menatap anak laki-lakinya dengan mata menyipit penuh selidik dari balik kacamata bacanya.
"Kamu ini ya, Arya. Tadi pamitnya ada orderan darurat panggilan negara tingkat tinggi sampai buru-buru begitu. Bapak kira kamu dipanggil ke Istana Negara buat nganterin katering ketoprak pesanan presiden, kok pulangnya cepet bener tapi postur badan kamu malah kelihatan tambah tegap dan seger begini? Biasanya kalau habis narik jam segini, jalan kamu udah mirip kayak penguin kena rematik, lesu kurang darah," ujar Pak Surya sambil menggelengkan kepalanya keheranan.
Arya seketika tersemut canggung, menepuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal demi menyembunyikan kepanikan batinnya. "Ah... itu, Pak. Kebetulan rute jalannya lancar jaya karena Arya lewat jalur alternatif tersembunyi yang jarang diketahui orang. Penumpang tadi juga sangat buru-buru mengejar jadwal, jadi begitu tugas selesai, Arya langsung gas pol pulang ke rumah."
“Lancar jaya dari mana! Jalur alternatifnya aja langsung motong kompas membelah langit udara koridor Sudirman setinggi tiga puluh meter di atas tanah! Kalau Bapak sampai tahu motor Supra warisan Bapak baru aja dipasang sistem ban karet ketapel raksasa buat melompati papan reklame Rolex, Bapak pasti langsung jantungan di tempat dan itu burung perkutut yang bisu tiga tahun mendadak bisa nyanyi lagu dangdut karena syok berat akibat pelanggaran hukum fisika!” jerit monolog batin Arya yang tertawa pasrah di dalam lubuk hatinya yang terdalam.
"Ya sudah, ya sudah, jangan diinterogasi terus anak bujangnya, Pak. Namanya juga rezeki anak saleh yang berbakti," potong Bu Aminah hangat dengan senyum keibuan yang tulus. Beliau segera menyodorkan segelas air teh manis hangat yang langsung disambar oleh Arya. "Ayo buruan dimakan dulu nasi timbelnya, Ya. Keburu dingin itu ayam goreng bumbu lengkuas kesukaanmu. Ibu sengaja sisain potongan yang paling mantap buat stamina kamu."
Saat Arya mulai mencubit daging ayam goreng lengkuas yang gurih dan renyah itu, lalu menyuapkannya ke dalam mulut bersama nasi timbel hangat penuh berkah doa ibunya, sebuah gelombang kedamaian slice of life yang murni dan hakiki kembali menyelimuti dadanya. Kontras emosional dan visual ini selalu berhasil menyentuh sisi kemanusiaan Arya. Di luar sana, di bawah kendali Sistem Godjek yang absurd, ia baru saja mengalami ketegangan psikologis tingkat tinggi: memeluk erat seorang atlet lari nasional berwajah eksotis di atas awan, menantang maut demi menyelamatkan impian karier seseorang, dan diancam akan dikutuk mengendarai skuter roda tiga Barbie berwarna pink menyala yang mengeluarkan melodi imut. Namun di dalam rumah petak yang sempit dan beratap seng ini, kebahagiaan sejati justru lahir dari hal yang teramat bersahaja; sepotong ayam goreng, segelas teh manis, dan obrolan hangat penuh kasih sayang dari orang tua yang tulus.
Namun, kedamaian domestik yang tenang itu tampaknya memiliki durasi yang sangat terbatas di bawah skenario komedi romantis alam semesta. Tepat saat Arya menelan suapan terakhirnya dan hendak membersihkan sisa bumbu di jarinya, ponsel pintar di dalam saku celana jeans-nya kembali bergetar dengan frekuensi yang cukup pekat.
Jantung Arya sempat mencelos sesaat. Ia khawatir melodi notifikasi gaib Ting-Tong yang traumatis itu akan kembali mencuat ke udara. Namun, setelah ia melirik layarnya, getaran tersebut ternyata berasal dari panggilan telepon biasa di dunia nyata. Layar ponselnya menampilkan nama kontak dengan huruf kapital yang sangat tegas: BANG JAY (KETUA BASECAMP OJOL TAMBORA).
Arya mengembuskan napas panjang, mengelap tangannya dengan tisu, lalu menekan tombol hijau seraya mendekatkan ponsel ke telinganya. "Halo, Bang Jay? Ada apa malam-malam begini menelepon?"
"Arya! Lu di mana sekarang, Tong?!" suara bariton Bang Jay yang serak-serak basah khas perokok berat terdengar sangat heboh dan panik di seberang telepon. Kebisingan latar belakang khas warkop pangkalan ojol Tambora—mulai dari dentingan gelas kopi hingga gelak tawa abang-abang ojol—terdengar samar namun sangat sibuk. "Lu bisa merapat ke basecamp depan gang sekarang juga gak, Ya? Ini darurat tingkat tinggi, Tong! Harga diri, reputasi, dan stabilitas mental pangkalan ojol Tambora lagi di ujung tanduk!"
Alis tebal Arya bertaut erat. Tingkat kewaspadaannya langsung meningkat. “Aduh mampus! Jangan-jangan ada warga Jakarta yang sempat memotret siluet gua pas terbang melintasi patung kuda tadi? Atau jangan-jangan ada badan intelijen negara yang melacak keberadaan motor Supra siluman gua karena dianggap merusak radar penerbangan sipil?!” batin Arya mulai menyusun skenario kepanikan komedi yang berlapis-lapis.
"Darurat kenapa sih, Bang? Tolong jangan bilang kalau anak-anak pangkalan sebelah ngajak tawuran antardriver lagi gara-gara rebutan zona hijau?" tanya Arya mencoba menyelidik dengan nada suara sekondusif mungkin.
"Bukan tawuran fisik antar-ojol, Arya! Kalau cuma tawuran mah si Dedi tinggal bawa kunci inggris juga kelar! Ini tawuran gengsi kasta elit, Tong!" Bang Jay menjelaskan dengan volume suara yang naik dua oktav akibat terlalu bersemangat. "Ini ada mobil sport mewah ceper warna merah menyala, harganya pasti miliaran rupiah, tiba-tiba parkir anggun di depan warkop pangkalan kita dari satu jam yang lalu! Dan yang keluar dari mobil itu... buset dah, Ya! Cewek cakepnya gak masuk akal sehat! Tingginya setingkat tiang listrik model tapi bodinya meliuk mirip gitar spanyol premium, pake gaun abu-abu rajut ketat yang kalau dia lewat, abang-abang ojol di sini mendadak langsung lupa sama sisa cicilan motor dan tagihan kontrakan mereka!"
Bang Jay mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan dengan bisikan heboh yang tertahan. "Cewek elit itu dari tadi berdiri bersandar di mobil sambil megang kacamata hitam, nanyain dengan tegas nama driver 'Arya Prasetya' yang katanya biasa narik pake Supra Fit butut. Si Dedi sama abang-abang ojol senior yang lain sekarang lagi pada salah tingkah total di warkop! Ada yang mendadak rapiin rambut pake sisa oli samping, ada yang sok-sokan baca koran tapi posisinya terbalik, bahkan ada yang mendadak rajin ngelap knalpot karatan mereka biar kelihatan maskulin! Lu cepetan merapat ke sini sekarang juga, Ya, sebelum warkop kita dikira tempat penampungan gigolo internasional terselubung!"
BRAAKK!
Arya seketika tersedak air teh manisnya sendiri hingga batuk-batuk hebat. Tenggorokannya terasa terbakar dan wajah tampannya mendadak memerah. “Mampus! Mobil sport Porsche merah menyala?! Cewek tinggi dengan gaun abu-abu rajut ketat?! Itu sudah pasti Nadia Anastasia, sang supermodel internasional mewah yang tadi sore habis gua terapi psikologis pake ketoprak lima puluh cabai rawit setan di Menteng! Kenapa itu perempuan bisa tahu alamat basecamp pangkalan gua secara presisi begini?! Padahal gua sama sekali gak pernah memberikan detail lokasi Tambora ke dia! Sistem, lu jujur sama gua, ini pasti ulah lu yang sengaja membocorin koordinat GPS rumah gua demi memicu skenario baper yang mempersulit hidup gua kan?!”
Melihat reaksi Arya yang mendadak panik dengan mata melotot lebar, Bu Aminah langsung menoleh dari arah rak piring. "Ada apa, Arya? Kok mukanya mendadak pucat dan panik kayak habis melihat hantu penunggu pohon pisang begitu?"
"Ah... ini, Bu, anu... Bang Jay manggil ke basecamp warkop depan gang sebentar," kilah Arya dengan senyum canggung terbaiknya, mencoba mempertahankan profesionalisme raut wajahnya di depan sang ibu. "Katanya ada urusan administrasi kas pangkalan yang mendesak dan harus diselesaikan malam ini juga karena besok mau ada audit internal ojol. Arya keluar sebentar ya, Bu, Pak. Gak bakal lama kok."
"Oh, ya sudah. Jangan malam-malam pulangnya, Nak. Ingat besok subuh harus narik lagi mencari rezeki yang halal," sahut Bu Aminah lembut tanpa curiga sedikit pun.
"Iya, Bu," jawab Arya sambil buru-buru bangkit dari kursinya. Ia menyalami kedua orang tuanya dengan penuh hormat, lalu menyambar jaket premium hijau peraknya yang memancarkan kilau maskulin tingkat tinggi di bawah temaram lampu ruang tengah, tidak lupa membawa helm INK butut kesayangannya dengan satu gerakan tangan yang efisien.
Arya melangkah keluar dari rumah petaknya, menutup pintu dengan pelan, lalu berjalan dengan langkah kaki yang tergesa-gesa membelah kegelapan gang sempit Tambora yang dipenuhi jemuran pakaian warga. Pikirannya berputar dengan kecepatan prosesor kuantum, mencoba menyusun strategi diplomasi tingkat tinggi untuk menghadapi sang supermodel papan atas di depan rekan-rekan ojolnya yang terkenal memiliki tingkat hobi bergosip setingkat ibu-ibu komplek yang bisa bertahan hingga tujuh hari tujuh malam.
Namun, tampaknya semesta malam ini sedang berada dalam suasana hati yang sangat gemar memberikan kejutan komedi berlapis-lapis untuk menguji batas ketahanan mental sang driver tampan.
Tepat saat Arya baru saja melangkahkan kamunya keluar dari mulut gang sempit Tambora dan pandangannya menangkap kilauan bodi mobil sport Porsche merah milik Nadia Anastasia yang terparkir kontras di samping deretan motor bebek ojol yang berdebu penuh tanah, sebuah pemandangan lain di sisi jalan yang berlawanan mendadak membuat langkah kaki Arya terhenti total di atas trotoar.
Dari arah jalan arteri utama, sebuah mobil sedan mewah Mercedes-Benz S-Class berwarna hitam metalik dengan kaca jendela yang segelap malam tiba-tiba ikut meluncur pelan dengan keanggunan yang luar biasa sunyi. Mobil mewah berpelat nomor cantik itu berbelok dengan presisi tinggi dan berhenti tepat di sisi lain dari warkop pangkalan Tambora, menciptakan posisi simetris yang mengapit warkop miskin tersebut.
Pintu belakang mobil sedan mewah hitam itu terbuka dengan perlahan. Dari dalam kabin yang sejuk, melangkah keluar sesosok wanita muda berambut bob pendek hitam rapi yang membingkai wajah cantiknya dengan sempurna. Wanita itu mengenakan setelan blazer kerja premium berwarna navy blue yang sangat pas di tubuhnya, memancarkan aura otoritas korporat, kedewasaan matang, serta kemewahan kelas atas yang sangat dingin namun teramat sangat menawan.
Dialah Citra Kirana, sang CEO muda dari Grand Indonesia Mall. Wanita berdarah konglomerat yang beberapa waktu lalu berhasil diselamatkan oleh Arya dari insiden sabotase makanan beracun di restoran elit berkat intervensi skill Karbo-Kinesis sementara dari sistem.
Kehadiran dua wanita papan atas yang menduduki kasta tertinggi dalam hierarki sosial dan finansial kota Jakarta di satu warkop ojol pinggiran yang sama seketika membuat atmosfer di sekeliling pangkalan Tambora mendadak membeku secara instan. Tekanan udara di tempat itu seolah-olah turun drastis menjadi minus nol derajat.
Bang Jay yang sedang memegang gelas kopi hitamnya langsung mematung di tempat dengan mulut terbuka lebar, sampai-sampai air kopinya hampir menetes ke celananya tanpa ia sabari. Sementara itu, Dedi yang sedang memegang rokok filter menyala langsung merasakan jarinya kepanasan karena rokoknya hampir habis terbakar akibat ia terlalu fokus melotot syok menatap pemandangan di depannya. Abang-abang ojol senior lainnya yang semula sok sibuk langsung berubah menjadi patung lilin pajangan toko baju.
Nadia Anastasia yang sejak tadi sedang bersandar santai di bodi mobil sport Porsche-nya sambil memainkan kacamata hitam dengan gaya elegan perlahan-lahan menolehkan kepalanya. Mata cokelat terangnya yang indah bertatapan langsung secara horizontal dengan mata tajam, dingin, dan penuh kalkulasi bisnis milik Citra Kirana yang baru saja menutup pintu sedan mewahnya.
Dua pasang mata wanita populer berdarah elit itu saling mengunci satu sama lain di bawah temaram lampu jalanan Tambora. Udara di sekitar mereka seolah-olah memancarkan percikan arus listrik persaingan kasat mata yang sangat pekat, tebal, dan sarat akan intrik batin. Kehadiran mereka berdua menciptakan sebuah distorsi tekanan psikologis yang luar biasa mencekik, sebuah kontras visual tingkat tinggi antara kemewahan kosmetik kelas dunia dan realitas dinding batako warkop pinggir jalan yang sudah menghitam oleh jelaga kompor.
Arya Prasetya yang baru saja tiba di ujung jalan masuk hanya bisa menghentikan langkah kakinya secara total dengan ekspresi wajah yang mengalami blue screen total setingkat sistem operasi komputer kuno yang hang. Ia memegangi helm INK bututnya dengan kedua tangan, menatap pemandangan absurd di depannya dengan kepasrahan batin yang terdalam.
“Tuhan... kalau boleh meminta, tolong aktifkan hukuman penalti sistem dan ubah motor Supra Fit gua jadi skuter roda tiga Barbie warna pink menyala sekarang juga... Gua bersumpah lebih milih narik ojol keliling Jakarta pake sepeda mainan bocah TK sambil bunyi klakson 'Aku Imut, Tolong Jangan Tabrak Aku' sepanjang hari, daripada harus berjalan maju dan terjebak di tengah-tengah arena perang dunia ketiga para dewi ini! Harga diri gua sebagai cowok Tambora rasanya mau menguap jadi abu gosok!” ratap monolog batin Arya dengan tingkat kepasrahan komedi tertinggi yang pernah ada dalam catatan sejarah garis hidupnya.
Di bawah sorotan lampu jalan merkuri yang remang-remang, ketegangan visual antara kedua wanita itu semakin memuncak. Nadia Anastasia mengambil satu langkah maju dengan keanggunan seorang model catwalk internasional, memperlihatkan bentuk kakinya yang jenjang di balik gaun abu-abu ketatnya. Ia melipat kedua lengannya di bawah dada, menatap Citra Kirana dengan senyuman tipis yang sarat akan nada provokasi yang elegan.
"Well... lihat siapa yang datang ke tempat bersahaja seperti ini," ujar Nadia dengan suara serak-serak basah yang sangat menggoda namun dipenuhi dengan nada sindiran yang tajam. "Seorang CEO muda dari Grand Indonesia yang biasanya hanya mau menginjakkan kaki di lantai marmer impor, tiba-tiba ada di pangkalan ojol Tambora malam-malam begini. Apa AC di mal megah Anda sedang rusak total, Corporate Lady?"
Citra Kirana tidak memperlihatkan perubahan ekspresi sedikit pun di wajah cantiknya yang tenang. Ia membetulkan letak jam tangan mewah berharga ratusan juta di pergelangan tangan kirinya sebelum menatap balik Nadia dengan pandangan mata yang sedingin es kutub utara. Langkah kakinya yang terbalut sepatu hak tinggi premium terdengar mengetuk aspal dengan ritme yang sangat teratur dan penuh percaya diri.
"Saya ke sini untuk urusan yang sangat penting terkait investasi masa depan pribadi saya, Nadia," sahut Citra Kirana dengan nada suara yang datar, profesional, namun mengandung kekuatan intimidasi yang sangat solid khas seorang pemimpin perusahaan besar. "Dan jika saya tidak salah ingat, wilayah operasi pangkalan ini adalah tempat umum. Pertanyaannya adalah, apa yang dilakukan seorang mantan supermodel yang baru saja membuat heboh galeri seni Menteng dengan gosip memakan ketoprak pedas, berdiri di pinggir jalan berdebu seperti ini? Apakah agensi model Anda kekurangan anggaran untuk menyewa tempat pertemuan yang layak?"
DEEGGG!
Bang Jay dan Dedi yang mendengar percakapan tingkat tinggi tersebut langsung saling berpandangan dengan mata melotot. Mereka merasa seperti sedang menonton drama televisi kelas atas secara langsung tanpa perlu membayar kuota internet. Atmosfer di sekitar warkop semakin dipenuhi oleh aroma persaingan asmara yang sangat pekat, meskipun Arya sendiri yang menjadi objek persaingan tersebut masih berdiri mematung di pojokan seperti tiang listrik cadangan.
Nadia Anastasia mendengus pelan, matanya sedikit menyipit mendengar jawaban dingin dari Citra. "Investasi masa depan pribadi? Jangan membuatku tertawa, Citra. Kita berdua tahu persis siapa yang sedang kita cari di tempat ini. Dan biarkan aku memperingatkanmu satu hal... ada beberapa ikatan emosional di dunia ini yang tidak bisa kamu beli menggunakan seluruh lembaran saham korporasi atau saldo rekening perusahaanmu."
"Saham mungkin tidak bisa membeli perasaan, Nadia," balas Citra Kirana dengan satu sudut bibir yang terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman penuh kemenangan taktis yang sangat anggun. "Tetapi manajemen logistik yang efisien dan kepastian masa depan finansial yang terjamin adalah fondasi utama untuk mempertahankan sebuah hubungan jangka panjang. Sesuatu yang jelas tidak bisa diberikan oleh dunia hiburan yang penuh dengan kepalsuan panggung."
Arya yang mendengarkan perdebatan absurd tersebut dari jarak lima meter merasa kepalanya mendadak berputar pening seperti baru saja dihantam oleh ban truk kontainer. Monolog batinnya kembali berteriak histeris dengan kecepatan yang luar biasa kocak.
“Sistem gila!! Ini semua gara-gara lu yang ngasih rating bintang lima kelap-kelip dengan efek samping keterikatan emosional! Sekarang lu lihat hasilnya! Dua dewi papan atas Jakarta lagi berdiri di depan warkop Tambora yang dindingnya penuh tempelan iklan sedot WC, saling melempar argumen tingkat tinggi tentang investasi masa depan dan fondasi finansial, padahal yang mereka omongin itu cuma seorang driver ojol yang dompet fisiknya masih sering kosong! Kalau Bang Jay sampai tahu kalau gua yang jadi penyebab utama kegilaan ini, besok pagi tarif uang kas pangkalan gua pasti bakal dinaikin tiga ratus persen karena dianggap membawa risiko gangguan keamanan nasional!”
Sebelum ketegangan antara Nadia dan Citra meledak menjadi konfrontasi verbal yang lebih ekstrem, pandangan mata kedua wanita itu entah bagaimana secara serempak langsung bergeser ke arah sudut jalan—tepat ke arah tempat berdiri Arya yang sedang memegangi helmnya dengan posisi canggung.
"Arya!" seru Nadia Anastasia dengan mata yang seketika berbinar cerah, menghilangkan seluruh aura dinginnya dalam sekejap layaknya es batu yang disiram air panas.
"Arya Prasetya," ucap Citra Kirana dengan nada suara yang sedikit melunak, meskipun ekspresi wajah utamanya tetap mempertahankan ketenangan seorang CEO berwibawa.
Seketika itu juga, seluruh pasang mata yang ada di warkop pangkalan Tambora—termasuk Bang Jay, Dedi, pemilik warkop, hingga beberapa sopir angkot yang sedang menumpang lewat—langsung berputar seratus delapan puluh derajat ke arah Arya. Tatapan mata rekan-rekan sesama ojolnya memancarkan kombinasi rasa tidak percaya, kecemburuan sosial tingkat dewa, serta rasa hormat yang teramat sangat tinggi kepada sang driver tampan.
Bang Jay melepaskan gelas kopinya ke atas meja kayu dengan bunyi brakk kecil, lalu menunjuk Arya dengan jari telunjuknya yang gemetar. "Arya... lu... lu beneran khodam penunggu pangkalan kita ya, Tong? Ini gimana ceritanya dua cewek spek bidadari kayangan dari pusat kota bisa nyariin lu barengan begini?! Lu pake pesugihan model apa, Ya? Tolong bagi-bagi rahasianya sama abang-abang di sini, biar kita gak perlu narik ojol sampai encok lagi!"
"Iya, Arya! Lu bener-bener merusak peta persaingan cowok normal di Tambora!" timpal Dedi dengan ekspresi komedi yang penuh keputusasaan yang kocak. "Gua dari tadi udah rapiin rambut pake oli samping sampai kepala gua wangi mesin, tapi dilirik aja kagak! Lu baru datang pake jaket ijo perak langsung dipanggil barengan!"
Arya hanya bisa mengembuskan napas panjang yang sarat akan beban spiritual yang sangat berat dari dalam dadanya. Ia membetulkan letak kerah jaket premiumnya, melangkah maju dengan postur tubuh yang tegap dan kokoh berkat sokongan Stamina Kuda Sembrani, mencoba menghadapi situasi ini dengan profesionalisme tertinggi seorang pekerja mandiri kelas bawah yang teguh pada prinsip hidup bersahaja.
"Nona Nadia, Nona Citra," sapa Arya dengan suara beratnya yang tenang dan sarat akan wibawa maskulin moral kelas pekerja. "Ada perlu apa ya malam-malam begini mendatangi pangkalan Tambora? Di sini tempatnya agak kotor dan berdebu, kurang cocok untuk mobil-mobil mewah Anda berdua."
Nadia Anastasia melangkah mendekati Arya, mengabaikan tatapan mata melotot dari abang-abang ojol di sekitarnya. Aroma parfum vanilla mewahnya langsung menyeruak kembali, bertarung dengan aroma asap knalpot Tambora. "Aku ke sini karena aromamu masih tertinggal di galeriku, Arya. Dan aku ingin memastikan bahwa driver yang sudah menyelamatkan kesehatan mental dan lidahku sore tadi tidak menghilang begitu saja dari radar kehidupanku. Aku ingin menyewamu sebagai driver pribadi eksklusif untuk seluruh jadwalku minggu depan."
Citra Kirana tidak mau kalah. Ia melangkah maju dari sisi lain, berdiri sejajar dengan Nadia di depan Arya, menciptakan pemandangan visual yang sangat luar biasa kontras bagi siapa pun yang melihatnya. "Saya juga ke sini dengan tujuan yang sama, Arya. Manajemen pusat Grand Indonesia telah menyusun kontrak kerja sama formal untuk menjadikanku sebagai mitra logistik kuliner utama kami. Dan secara pribadi... saya membutuhkan layanan pengantaran primamu setiap kali saya harus menghadiri rapat eksekutif penting di luar kantor."
Mendengar tawaran-tawaran fantastis dari dua wanita elit tersebut, Arya Prasetya hanya bisa tertegun sesaat di tempatnya berdiri. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk merespons dilema asmara tingkat tinggi yang sangat mencegah ini, ponsel pintar gaib di dalam saku celananya mendadak kembali memancarkan getaran hebat yang disertai dengan kilatan cahaya keemasan redup yang hanya bisa dilihat oleh mata Arya sendiri.
TING-TONG!
Jantung Arya rasanya hampir melompat keluar dari rongga dadanya begitu mendengar melodi notifikasi ikonik yang selalu menjadi pertanda datangnya malapetaka komedi dari alam semesta. Layar ponselnya yang tersembunyi di dalam saku jeans-nya memproyeksikan teks holografis keemasan langsung ke dalam pusat kesadaran visualnya dengan font formal yang sangat rapi namun mengandung aura intimidasi yang luar biasa kocak.
[NOTIFIKASI SISTEM: GEJALA KRISIS CINTA SEGITIGA TINGKAT DEWA TERDETEKSI!]
Status Misi Kontingensi: Wajib Diambil untuk Mempertahankan Stabilitas Hubungan Pelanggan Bintang 5 Kelap-Kelip.
Analisis Situasi: Kehadiran Nadia Anastasia (Tipe Supermodel Mewah) dan Citra Kirana (Tipe CEO Dingin Menawan) di satu titik koordinat yang sama telah memicu anomali medan emosional sebesar 450%. Jika Driver salah mengambil keputusan diplomasi dalam waktu 3 menit ke depan, rating kepuasan kumulatif dari kedua pelanggan VIP ini akan merosot tajam menjadi Bintang 1, yang akan mengakibatkan kehancuran total reputasi Driver tampan di basis data astral.
[TANTANGAN OPERASIONAL DARURAT]: Driver diwajibkan untuk meredakan tensi perang dingin antara kedua dewi papan atas Jakarta tersebut tanpa memihak salah satu dari mereka, dengan membawa mereka keluar dari area konflik warkop menuju tempat kuliner malam yang benar-benar legendaris, otentik, dan sakral di sekitar wilayah Tambora/Jembatan Besi.
[BANTUAN ITEM MISI DISEDIAKAN SEMENTARA]:
Sistem mengaktifkan item modifikasi kuliner: "Kecap Manis Pengikat Jiwa (Level Mahakarya)" & "Sambal Rawit Penggetar Ego Korporat".
Cara Penggunaan: Bawa kedua pelanggan cantik ini berjalan kaki sejauh seratus meter menuju kedai SOTO TANGKAR DAN SATE KUAH DAGING SAPI LEGENDARIS TAMBORA yang telah berdiri sejak tahun 1980-an di sudut jalan arteri. Pesanlah tiga porsi Soto Tangkar berkuah santan kuning pekat beraroma rempah purba. Teteskan ramuan Kecap Manis Pengikat Jiwa ke dalam mangkuk mereka. Struktur rasa otentik gurih dari kuliner legendaris yang berpadu dengan item gaib sistem akan secara otomatis meretas pusat saraf emosional kuliner kedua pelanggan, menurunkan tingkat keangkuhan elit mereka sebesar 80%, dan mengubah atmosfer persaingan korporat menjadi momen slice of life penuh kebersamaan yang hangat khas kelas pekerja.
[ANCAMAN PENALTI JIKA MISI GAGAL ATAU DITOLAK]: Sistem akan secara otomatis meretas basis data perpajakan internasional dan mengalihkan seluruh tagihan denda pajak tahunan dari kedua perusahaan milik pelanggan cantik tersebut langsung ke atas nama akun Go-Pay Driver, menyisakan saldo minus Rp 999.000.000 yang harus dicicil oleh Driver dengan menarik ojol selama 750 tahun berturut-turut tanpa hari libur.
Arya Prasetya memegangi kepalanya yang mendadak terasa pening luar biasa seperti baru saja dihantam oleh palu godam milik Thor untuk kedua kalinya malam ini. Monolog batinnya kembali berteriak histeris dengan transmisi data yang sanggup menandingi kecepatan cahaya di ruang hampa udara.
“Sistem gila, edan, gak waras!! Ini sih namanya pemerasan berkedok aplikasi ojek online berbasis kerakyatan tingkat internasional! Saldo minus sembilan ratus sembilan puluh sembilan juta?! Lu menyuruh gua nyicil utang dengan menarik ojol selama tujuh ratus lima puluh tahun?! Itu mah gua belum lunas nyicil udah berubah jadi fosil ojol purba di Tambora! Tapi tunggu... membawa supermodel internasional dan CEO muda konglomerat jalan kaki menyusuri trotoar sempit Tambora buat makan Soto Tangkar legendaris di tenda pinggir jalan?! Ini bener-bener definisi kehancuran kasta! Tapi kalau dipikir-pikir, kuah soto tangkar Tambora yang kaya rempah kapulaga dan kayu manis itu emang gak pernah gagal bikin orang waras. Oke sistem, gua terima tantangan gila lu!”
Sebelum batas waktu tiga menit yang diberikan oleh sistem gaib tersebut menguap menjadi malapetaka finansial jangka panjang bagi masa depannya, Arya harus segera mengambil keputusan taktis tercepat dengan profesionalisme tertinggi seorang driver ojol veteran yang sudah terbiasa menghadapi berbagai komplain ekstrem dari pelanggan jalanan.
Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya yang bidang, lalu menatap Nadia Anastasia dan Citra Kirana secara bergantian dengan pandangan mata elangnya yang memancarkan kejujuran, ketegasan, serta ketenangan moral kelas pekerja yang mutlak tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Nona Nadia, Nona Citra," ujar Arya dengan suara beratnya yang berwibawa, memecah keheningan di antara deru mesin mobil mewah yang masih menyala. "Tawaran kontrak kerja sama eksklusif dan posisi driver pribadi dari Anda berdua adalah sebuah kehormatan yang sangat besar bagi seorang pekerja mandiri seperti saya. Namun, bagi saya, setiap pelanggan yang memesan layanan melalui aplikasi—baik itu seorang supermodel, seorang CEO, maupun seorang ibu rumah tangga yang ingin membeli sayuran di pasar—memiliki hak pelayanan prima yang sama rata dari seorang mitra Godjek."
Mendengar penegasan moral yang begitu mantap dan tidak silau akan kilauan materi dari mulut Arya, baik Nadia Anastasia maupun Citra Kirana seketika tertegun di tempat mereka berdiri. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dada mereka masing-masing—sebuah rasa kagum yang teramat sangat pekat terhadap integritas moral pria bersahaja di depan mereka ini. Pria ini tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa ditaklukkan dengan kekuasaan, dan tetap teguh pada prinsip hidup jujur kelas pekerja.
"Tapi... daripada kita membahas masalah kontrak bisnis yang kaku, dingin, dan melelahkan di depan pangkalan ojol ini," lanjut Arya sambil melemparkan senyuman tipis penuh pesona maskulin yang sanggup membuat pertahanan batin wanita mana pun goyah dalam sekejap. "Bagaimana kalau kita meredakan ketegangan malam ini dengan menikmati kuliner malam yang benar-benar legendaris, otentik, dan paling sakral di kawasan Tambora ini? Di dekat tikungan gang depan, ada warung tenda Soto Tangkar Daging Sapi legendaris yang resep kuah santan rempahnya sudah bertahan puluhan tahun sejak zaman Jakarta kuno. Saya yang traktir Anda berdua."
Nadia Anastasia tertegun, alisnya yang terawat rapi terangkat. "Soto... Tangkar? Kuliner legendaris pinggir jalan?"
Citra Kirana memiringkan kepalanya sedikit, menganalisis kata 'legendaris' dari sudut pandang nilai otentik produk historis. "Sebuah tempat makan yang mampu bertahan puluhan tahun di tengah gempuran modernisasi perkotaan pasti memiliki manajemen rasa dan loyalitas pelanggan yang luar biasa kuat. Baiklah, saya setuju untuk melihatnya."
"Bagus. Kalau begitu, mari berjalan kaki sebentar. Mobil mewah Anda berdua bisa dititipkan di sini bawah pengawasan Bang Jay dan anak-anak pangkalan," ucap Arya penuh wibawa.
Arya kemudian menoleh ke arah Bang Jay dan Dedi yang masih melotot tak percaya. "Bang Jay, Dedi! Gua titip mobil-mobil ini ya! Jangan sampai ada yang berani nyenggol atau nyoret pake paku!"
"Si-Siap, Arya! Laksanakan! Jangankan nyenggol, ada lalat mau hinggap di spionnya aja bakal gua tebas pake kipas sate!" sahut Bang Jay dengan heboh, langsung memasang posisi sigap layaknya komandan satuan pengamanan VVIP intelijen negara.
Dengan langkah kaki yang mantap, Arya Prasetya berjalan memimpin di depan, diapit oleh dua wanita paling menakjubkan di ibu kota. Di sebelah kanannya, seorang supermodel internasional dengan gaun rajut abu-abu rajutan ketat yang melangkah dengan keanggunan berkelas dunia, dan di sebelah kirinya, seorang CEO muda berwajah sedingin es dengan blazer navy blue yang memancarkan pesona otoritas tingkat tinggi. Mereka berjalan menyusuri trotoar sempit Tambora, melewati jejeran gerobak warga dan tiang listrik dengan kabel yang semrawut, menciptakan sebuah pemandangan visual paling absurd, kontras, namun luar biasa estetik di bawah remang-remang lampu merkuri Jakarta.