NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Hidup Mati Keluarga

"Kamu di mana sekarang?" tanya Nadhira.

Isak Nita tertahan. "Di kamar. Papa sama Bu Parti masih di ruang depan. Ada orang TV tadi siang. Sekarang acaranya tayang ulang."

"Pintu kamarmu bisa dikunci?"

"Bisa."

"Kunci dulu. Kalau ada yang membentak atau mencoba masuk, telepon saya lagi. Jangan berdebat dengan mereka."

Nita bergerak di seberang sambungan. Bunyi kunci terdengar, disusul napas yang masih tersendat.

"Mbak benar ninggalin keluarga karena uang?"

Pertanyaan itu lebih menyakitkan daripada ribuan komentar orang asing.

"Tidak. Saya pergi karena Pak Darmo ingin memaksa saya menikah dengan Pak Hartono dan mengambil bantuan yang diberikan untuk Alif. Kamu ingat waktu Bu Parti membawa perempuan pencari jodoh ke rumah?"

"Ingat."

"Saya tidak meninggalkan kamu. Saya sedang berusaha supaya hidup saya dan Alif tidak lagi ditentukan mereka."

Di ujung telepon, Nita menangis lebih keras. "Papa bilang kalau aku bicara sama Mbak, aku juga anak tidak tahu diri."

Nadhira menutup mata. Rayhan berdiri tidak jauh darinya, sementara tim komunikasi menunggu dalam diam.

"Dengar saya. Kamu tidak perlu memilih pihak malam ini. Yang penting kamu aman. Simpan nomor saya dengan nama lain kalau perlu, dan jangan beri tahu siapa pun isi pembicaraan kita."

"Mbak jangan marah sama aku."

"Saya tidak marah."

Nita berjanji akan mengirim pesan setelah keadaan rumah tenang. Nadhira tidak memintanya merekam diam-diam atau mencuri bukti. Ia hanya memastikan adiknya memiliki uang untuk transportasi, salinan identitas, dan satu alamat teman yang bisa didatangi jika rumah menjadi tidak aman.

Setelah panggilan berakhir, seorang staf menyalakan televisi di dinding ruang keluarga.

Wajah Pak Darmo memenuhi layar.

Ia duduk di sofa studio dengan kemeja batik terbaiknya. Suparti berada di samping, memegang tisu dan berkali-kali menyeka mata yang hampir tidak basah. Di bagian bawah layar tertulis judul besar tentang orang tua sederhana yang ditinggalkan anak setelah menjadi istri konglomerat.

Pembawa acara bertanya kapan terakhir kali Pak Darmo bertemu Nadhira.

"Sejak dia menikah diam-diam," jawabnya. "Kami tidak diundang dengan layak. Saya ayah kandungnya, tapi dia lebih percaya orang kaya daripada keluarga sendiri."

Nadhira menahan napas. Pak Darmo memang datang ke masjid. Ia bahkan bertindak sebagai wali melalui taukil resmi kepada penghulu setelah menyetujui mahar dan menandatangani dokumen.

Suparti mulai terisak di layar. "Dari kecil saya rawat seperti anak sendiri. Kami makan seadanya, tapi tidak pernah membedakan. Setelah hidup enak, nomor kami diblokir."

Nadhira teringat bubur encer untuk Alif, uang dalam amplop yang diambil, dan telapak tangan Suparti yang pernah mendarat di wajahnya.

Pembawa acara lalu memperlihatkan foto rumah lama dari luar. Narasinya menyebut orang tua lanjut usia ditinggal dalam kesulitan, sedangkan putri mereka tinggal di rumah mewah.

"Mereka masih punya rumah itu," kata Nadhira. "Pak Darmo juga menerima uang dari Pak Hartono saat mencoba menjodohkan saya."

Rayhan menonton tanpa ekspresi. Hanya tangan kanannya yang mengepal di atas paha.

Pak Darmo menatap kamera pada bagian akhir tayangan.

"Nadhira, pulanglah. Jangan tunggu keluarga hidup mati baru menyesal. Uang suami barumu tidak akan membeli restu seorang ayah."

Suparti menutup wajah dengan tisu. Musik sedih masuk. Tayangan berakhir sebelum ada satu pun pertanyaan tentang pernikahan paksa, tamparan, atau surat taukil wali.

Nadhira berdiri begitu cepat hingga lututnya membentur meja.

"Mereka memakai Nita untuk membuat saya takut."

Rayhan mematikan televisi. "Biar saya yang urus."

Kalimat yang dulu mungkin terdengar menenangkan kini membuat Nadhira menoleh.

Rayhan melanjutkan sebelum ia sempat membantah. "Maksud saya, biar tim mengurus bukti dan jalur media. Kamu yang memutuskan apa yang boleh keluar."

Ketegangan di bahu Nadhira turun sedikit.

Tim komunikasi menampilkan draf pernyataan. Tidak ada hinaan kepada Pak Darmo atau Suparti. Isinya menyebut Nadhira menikah secara sah, wali telah hadir dan memberi taukil resmi, serta klaim bahwa keluarga tidak mengetahui pernikahan tidak benar. Pernyataan itu juga menyebut terdapat riwayat kekerasan yang terdokumentasi dan upaya memaksa perkawinan yang telah dilaporkan kepada kuasa hukum.

"Jangan keluarkan alamat Nita," kata Nadhira. "Jangan sebut dia menelepon."

"Tentu, Bu."

"Foto wajah saya setelah dipukul boleh. Rekam medis hanya bagian tanggal dan jenis cedera. Tutup nomor identitas dan nama tenaga kesehatan."

Pengacara memeriksa tiap kalimat agar tidak menyimpulkan perkara pidana yang belum diputus. Tautan ke putusan pengasuhan tidak dipublikasikan penuh karena memuat informasi anak. Sebagai gantinya, tim mengutip hasil pokok bahwa gugatan Bu Sumini ditolak dan pengasuhan tetap pada Nadhira.

Pernyataan itu dirilis melalui akun resmi Pradipta Group dan dikirim sebagai hak jawab kepada program televisi.

Reaksi muncul dalam beberapa menit.

Sebagian orang meminta bukti. Sebagian meminta maaf karena langsung percaya. Foto lebam Nadhira, tanda penerimaan IGD, dan salinan halaman taukil wali yang sudah menutup data pribadi menyebar berdampingan dengan potongan wawancara Pak Darmo.

Bu Wulan menulis di grup arisan bahwa ia tidak akan membahas trauma anak sebagai bahan hiburan. Bu Mega mengirim satu emoji hati kepada Nadhira. Bu Ratna tidak berkata apa-apa.

Satu jam kemudian, Nita mengirim pesan singkat: `Aku aman. Mereka masih di depan. Jangan balas nomor Papa.`

Nadhira meneruskan nomor telepon darurat dan alamat layanan pendampingan perempuan kepada adiknya, tanpa memaksanya pergi saat itu juga. Ia juga meminta sopir perempuan bersiaga di luar kawasan, bukan masuk ke rumah dan memperburuk keadaan. Keputusan keluar tetap milik Nita kecuali ada bahaya langsung.

Rayhan membaca rencana itu. "Kalau dia meminta dijemput, mobil bisa bergerak kapan saja."

"Saya tidak mau memindahkan Nita seperti barang," jawab Nadhira. "Dulu semua orang menentukan kapan saya harus tinggal dan pergi."

"Saya setuju."

Jawaban sederhana itu membuat Nadhira menatapnya. Rayhan tidak menawarkan rumah sebagai utang atau menuntut Nita memihak mereka. Ia hanya menambahkan nama petugas keamanan perempuan ke daftar kontak yang boleh mendampingi.

Namun, program televisi itu tidak mundur. Seorang produser menelepon nomor yang ditinggalkan tim komunikasi.

"Kami menawarkan ruang yang sama kepada Bu Nadhira," katanya. "Wawancara dapat direkam, pertanyaan disepakati dalam batas tertentu, dan kuasa hukum boleh hadir di lokasi."

Rayhan menekan tombol bisu. "Kamu tidak wajib menerima. Hak jawab tertulis sudah cukup."

Nadhira memandang layar televisi yang kini gelap. Jika ia datang, orang akan menilai pakaian, suara, air mata, bahkan cara tangannya bergerak. Jika ia tidak datang, Pak Darmo akan terus memakai kata keluarga sebagai tali untuk menariknya pulang.

"Saya tidak mau berdebat langsung dengan mereka," katanya.

"Tidak perlu."

"Saya juga tidak akan membawa Alif atau menunjukkan wajahnya."

"Itu syarat pertama."

Nadhira menonaktifkan tombol bisu.

"Saya bersedia diwawancarai satu kali," katanya kepada produser. "Setelah itu, jangan hubungi anak saya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!