NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Level Dewa

Sistem Ayah Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Bapak rumah tangga
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.

Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.

Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.

Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 022 - Wisuda

Hari wisuda datang lebih cepat dari yang Arya bayangkan.

Universitas Surya Laut dipenuhi keluarga mahasiswa sejak pagi. Jalan masuk macet oleh mobil, motor, bunga, dan orang tua yang mencari anaknya di antara ribuan toga hitam.

Arya memakai toga di depan kaca apartemen.

Topinya miring.

Kirana memperbaikinya sambil menahan tawa.

"Direktur masa depan, topi saja kalah."

"Aku belum jadi direktur."

"Belum."

Kata itu terdengar seperti firasat.

Ibu Sri datang dari dapur dengan mata sudah merah.

"Jangan menangis dulu, Bu," kata Arya.

"Ibu belum menangis."

"Mata Ibu sudah rapat keluarga."

Bapak Hendra berdiri dekat pintu, rapi dengan batik cokelat. Ia hanya memeriksa jam.

"Berangkat. Nanti terlambat."

Namun saat Arya melewatinya, Bapak Hendra merapikan kerah toga anaknya.

Gerakan kecil itu membuat Arya diam.

"Pak..."

"Jangan banyak bicara. Hari ini kamu naik panggung."

Di aula utama kampus, kursi hampir penuh. Kirana duduk bersama Ibu Sri dan Bapak Hendra di barisan keluarga. Ia memakai baju hamil warna biru muda. Perutnya terlihat jelas, dan ia tidak lagi menyembunyikannya dengan tas.

Beberapa orang masih melirik.

Kirana menggenggam tangan Ibu Sri.

Ibu Sri langsung balas menggenggam.

"Duduk tegak, Nak. Hari ini suamimu lulus."

Di barisan wisudawan, Dimas duduk dua kursi dari Arya. Rizky dan Bayu berada di baris belakang.

Dimas berbisik, "Kalau namamu dipanggil, jangan jalan seperti CEO. Ini panggung kampus."

"Kamu sudah latihan jalan?"

"Aku punya gaya sendiri."

Rizky dari belakang menyela, "Tolong jangan memalukan kami."

Upacara dimulai.

Nama demi nama dipanggil. Tepuk tangan datang dan pergi.

Arya menatap buku acara.

IPK: 3.92.

Cum Laude.

Peringkat pertama program studi.

Angka itu terasa tidak nyata. Beberapa bulan lalu ia masih mahasiswa kos dengan motor tua dan saldo pas-pasan. Sekarang ia duduk di aula dengan istri hamil kembar, musuh keluarga kaya, pengacara, sistem, dan masa depan yang seperti pintu raksasa.

"Arya Pratama."

Suara pembawa acara membuat dadanya berhenti.

"Program Studi Teknik Informatika. IPK 3.92. Cum Laude. Lulusan terbaik program studi."

Tepuk tangan meledak.

Dimas berdiri setengah badan. "Itu temanku!"

Rizky menarik jubahnya. "Duduk."

Bapak Hendra bertepuk tangan paling keras di barisan keluarga.

Untuk pertama kalinya, Arya melihat ayahnya tidak menyembunyikan emosi. Mata Bapak Hendra basah. Rahangnya tetap kaku, namun tepuk tangannya kuat.

Ibu Sri menangis tanpa malu.

Kirana menatap panggung dengan kedua tangan di perut.

Arya naik.

Rektor menjabat tangannya.

"Selamat, Saudara Arya."

"Terima kasih, Pak."

Lampu kamera menyala. Sertifikat berpindah ke tangannya.

Di kursi belakang aula, beberapa mahasiswa berbisik.

"Dia yang kasus viral itu?"

"Iya. Tapi lulusan terbaik."

"Gila."

"Cowoknya ternyata serius."

Kata-kata itu tidak semuanya baik. Namun nada orang mulai berubah.

Setelah upacara, taman kampus penuh keluarga berfoto. Arya berdiri bersama Bapak Hendra, Ibu Sri, Kirana, Dimas, Rizky, dan Bayu.

Fotografer mengangkat kamera.

"Mbak Kirana sedikit ke kanan. Pak Arya, pegang sertifikat. Ibu, jangan menangis dulu."

Ibu Sri tetap menangis.

Foto pertama gagal karena Dimas memasang wajah terlalu serius.

Foto kedua gagal karena Bayu tertawa.

Foto ketiga berhasil.

Kirana berdiri di samping Arya, satu tangan di perut, satu tangan menunjukkan cincin. Arya memegang sertifikat. Bapak Hendra berdiri tegak di belakang mereka.

Fotografer menurunkan kamera dan tersenyum. "Keluarga muda yang kuat. Semoga semua lancar sampai hari lahir."

Nadia dari BEM fakultas datang membawa map kecil.

"Mas Arya, Mbak Kirana."

Kirana sempat kaku.

Nadia tersenyum sopan.

"Saya datang menyampaikan keputusan komisi disiplin. Laporan cohabitation kemarin ditutup. Dokumen nikah siri, surat dokter, dan keterangan keluarga sudah diterima. Kampus memberi catatan agar proses KUA segera dilanjutkan. Tidak ada sanksi akademik lanjutan."

Arya menghela napas.

"Terima kasih, Nadia."

"Saya juga mau minta maaf. Waktu isu itu ramai, BEM lambat merespons."

Kirana menatapnya.

"Yang penting sekarang selesai."

Nadia mengangguk. "Selamat wisuda, Mas. Selamat juga, Mbak."

Setelah Nadia pergi, Dimas langsung mengangkat tangan.

"Satu masalah resmi gugur. Sisa masalah: Hartono, perusahaan masa depan, dua bayi, dan selera makan Kirana."

Kirana menatapnya datar.

"Masalah terakhir jangan kau lawan."

"Siap, Mbak."

Beberapa mahasiswa lewat.

"Lihat, itu Kirana."

"Perutnya sudah besar."

"Tapi mereka kelihatan bahagia."

"Arya itu punya nyali. Di kelas kemarin juga dia ngomong langsung."

Kirana mendengar. Bahunya sempat kaku, lalu rileks.

Arya menoleh. "Tidak apa?"

"Aku masih takut. Tapi sekarang tidak separah dulu."

Bapak Hendra mendekat ke Arya.

"Kamu lulus baik."

"Terima kasih, Pak."

"Saya pernah takut hidupmu selesai karena masalah ini."

Arya menatap ayahnya.

Bapak Hendra melanjutkan dengan suara rendah.

"Hari ini saya lihat hidupmu belum selesai. Baru mulai."

Kalimat itu lebih berharga dari sertifikat.

Panel sistem menyala.

【Tonggak pendidikan selesai.】

【Hadiah: kecerdasan permanen +20%.】

【Hadiah: basis pengetahuan lintas program studi dibuka.】

【Hadiah: reputasi sosial +100.】

Arya membaca cepat.

Di kejauhan, Denny Hartono berdiri di bawah pohon besar. Ia tidak memakai toga. Entah untuk siapa ia datang, atau hanya ingin melihat.

Denny menatap Kirana.

Lalu menatap sertifikat di tangan Arya.

Wajahnya gelap.

Seorang pria berjas mendekat ke Denny dan berbisik. Denny mengangguk singkat, lalu pergi tanpa memberi selamat.

Arya melihatnya, tapi tidak mengejar.

Hari ini milik keluarganya.

Profesor Sudarso ikut mendekat setelah berbicara dengan beberapa dosen.

"Arya, selamat."

"Terima kasih, Prof."

"Rekomendasi kompetisi nasional sudah saya kirim. Kalau kamu mau lanjut, kampus bisa memberi surat dukungan."

Rizky langsung menyenggol Arya.

"Ambil."

Profesor Sudarso tersenyum. "Saya lihat temanmu lebih semangat."

"Dia selalu begitu kalau ada proyek," kata Arya.

"Bagus. Jaga orang seperti itu. Dunia setelah kampus lebih keras. Orang yang bisa dipercaya lebih langka daripada nilai tinggi."

Arya menatap Dimas, Rizky, Bayu, lalu Kirana.

"Saya mulai paham, Prof."

Sore menjelang saat mereka keluar dari kampus. Ibu Sri membawa bunga. Dimas masih sibuk mengatur foto grup. Rizky sudah bicara tentang kemungkinan mengembangkan proyek skripsi. Bayu mengingatkan semua orang makan.

Ponsel Arya bergetar.

Panel emas muncul lagi.

【Hadiah wisuda akan dikirim dalam 24 jam.】

【Catatan: hadiah kali ini akan mengubah jalur hidup host.】

Arya berhenti di tangga.

Kirana menoleh.

"Ada apa?"

Arya memasukkan ponsel ke saku.

"Sistem memberi pesan."

"Hadiah?"

"Besok."

"Besar?"

Arya melihat gerbang kampus.

Di luar sana, dunia mahasiswa berakhir.

"Sepertinya sangat besar."

Kirana menggenggam tangannya.

"Kalau sangat besar, kita makan dulu. Bayi tidak bisa menunggu sampai sistem selesai dramatis."

Arya tertawa.

Ia menggandengnya menuju mobil.

Malam itu mereka merayakan dengan nasi rawon di meja makan apartemen, sederhana, hangat, dan lengkap.

1
Ria Gazali Dapson
kirana bnyak tanya ya, udh untung arya mo tanggung jawab, dg fasilitas wow , ga da rasa syukur nya ,cuma penasaran⁹ doang , liatin ja dulu , bersama dg waktu akn mnjawab semua , karena suatu anugerah, sedang tercurah k arya
Maulana Sejati
buruk
Maulana Sejati
ni yg nggak masuk akal, punya sistem,sdh tau ada ancaman tpi trnyata msh dbuat cerita yg bgini...prettt
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
sitanggang
gak seru, kok system org Lain ad yg tau🤣🤣🤣🤣🤣
σяιмσтσ (^• . •^)
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!