Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Pertama
Bab 3
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, membangunkan Karin yang semalaman hampir tidak bisa memejamkan mata.
Setiap kali menutup mata, wajah Gio selalu muncul di benaknya. Disusul kenangan-kenangan pahit yang ingin ia lupakan.
Ia masih mengingat malam ketika Gio mulai berubah. Semua bermula dari kata-kata kasar, kemudian bentakan, hingga perlakuan yang perlahan menghancurkan harga dirinya. Namun yang paling menyakitkan bukanlah perlakuan itu. Melainkan kenyataan bahwa kedua orang tuanya ikut menjadi korban.
Karin menggenggam selimut hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi lagi."
Ia bangkit dari tempat tidur, lalu berdiri di depan cermin. Wajah muda yang sehat kembali menatapnya.
Usia dua puluh tahun. Usia ketika hidupnya seharusnya dipenuhi mimpi, bukan penyesalan.
"Terima kasih..."
Entah kepada siapa ucapan itu ditujukan.
Mungkin kepada Tuhan. Karena telah memberinya kesempatan kedua.
-
-
-
Di ruang makan, aroma nasi goreng buatan Hesti memenuhi ruangan.
"Kamu bangun juga," sapa Hesti sambil meletakkan sepiring telur dadar di meja.
"Selamat pagi, Ma."
"Selamat pagi."
Pak Wirawan yang sedang membaca koran mengangkat kepalanya.
"Hari ini kuliah, kan?"
"Iya, Pa."
"Semangat."
Ucapan sederhana itu membuat hati Karin kembali menghangat.
Dulu ia sering menganggap perhatian kecil kedua orang tuanya sebagai hal biasa.
Kini, setelah kehilangan mereka, setiap kata terasa begitu berharga.
"Mama buat bekal buat kamu," ujar Hesti.
"Ma, Karin sudah kuliah."
"Memangnya anak kuliah tidak boleh dibawakan bekal?"
Pak Wirawan tertawa.
"Mama mu memang begitu."
Karin ikut tertawa kecil.
"Terima kasih, Ma."
Hesti mengusap pelan pipi putrinya.
"Jangan lupa makan siang."
"Iya."
Untuk sesaat Karin hanya memandangi kedua orang tuanya. Dalam hati ia berjanji akan menjaga senyum mereka selama mungkin.
-
-
-
Perjalanan menuju kampus terasa berbeda. Jalanan yang dulu begitu akrab kini terasa asing sekaligus penuh kenangan.
Karin sengaja memilih naik angkutan umum. Ia ingin menikmati setiap sudut kota yang pernah menjadi bagian dari masa mudanya.
Saat kendaraan berhenti di depan gerbang kampus, napasnya tertahan.
Gedung fakultas masih berdiri megah. Lapangan tempat mahasiswa berkumpul masih ramai. Bahkan penjual es teh di depan gerbang masih orang yang sama.
"Benar-benar kembali..."
gumamnya lirih.
"Karin!"
Seseorang memanggil dari belakang.
Karin menoleh.
Seorang gadis berambut sebahu melambaikan tangan sambil berlari kecil menghampirinya.
"Nia."
Nama itu keluar begitu saja dari bibir Karin.
Nia justru berhenti.
"Kok kamu tahu namaku?"
Barulah Karin sadar.
Di masa ini mereka bahkan belum akrab.
Mereka baru beberapa kali bertemu di kelas.
"E... waktu orientasi, aku dengar teman-teman manggil kamu."
"Oh..."
Nia tersenyum.
"Aku kira kita sudah pernah kenalan."
Karin mengembuskan napas lega.
"Hari ini kelas jam berapa?" tanya Nia.
"Jam delapan."
"Sama. Yuk bareng."
Mereka berjalan berdampingan memasuki area kampus.
Nia ternyata cerewet, persis seperti yang diingat Karin. Ia bercerita tentang dosen yang galak, tugas yang menumpuk, hingga kantin baru yang makanannya murah.
Karin hanya sesekali menanggapi. Pikirannya justru sibuk mengingat sesuatu.
Hari ini...
Bukankah ada kejadian besar?
Ia mencoba mengingat tanggal.
Lalu matanya membelalak.
Hari ini adalah hari ketika nama Kai mulai dikenal seluruh kampus.
Brak!
Suara benturan keras terdengar dari arah parkiran. Disusul teriakan beberapa mahasiswa.
"Berantem!"
"Cepat lihat!"
Mahasiswa yang berada di sekitar koridor langsung berlarian menuju sumber suara.
Nia ikut penasaran.
"Ayo!"
Karin mengangguk.
Meski sudah mengetahui apa yang akan terjadi, ia tetap mengikuti kerumunan.
Semakin dekat, suara keributan semakin jelas.
"Berani sekali kamu melawan senior!"
"Bukannya melawan."
Suara seorang pria terdengar datar.
"Aku cuma tidak suka melihat kalian memalak mahasiswa baru."
Kalimat itu membuat langkah Karin terhenti.
Kai.
Di tengah kerumunan berdiri seorang pemuda bertubuh tinggi dengan seragam yang sedikit kusut. Rambut hitamnya tampak berantakan. Dan tatapannya dingin.
Di depannya, berdiri tiga mahasiswa bertubuh besar. Salah seorang dari mereka mencengkeram kerah baju Kai.
"Kamu cari mati!"
Bugh!
Sebuah pukulan melayang. Namun Kai menghindar dengan mudah. Dalam satu gerakan cepat, ia memutar tubuh lawannya hingga pria itu terjatuh keras ke aspal.
Semua yang menyaksikan terkejut. Dua senior lainnya langsung maju bersamaan.
Kai tetap tenang.
Ia menghindari satu pukulan, menangkis pukulan berikutnya, lalu mendorong salah satu lawannya hingga menabrak temannya sendiri.
Bruk!
Keduanya jatuh bersamaan. Sorak kagum terdengar dari berbagai arah.
"Hebat..."
"Itu Kai, kan?"
"Pantas saja banyak yang takut sama dia."
Karin memperhatikan tanpa berkedip. Di kehidupan sebelumnya, ia hanya mendengar gosip bahwa Kai suka berkelahi. Tidak ada yang pernah menceritakan penyebabnya.
Ternyata...
Kai berkelahi karena membela mahasiswa baru.
Seorang anak laki-laki bertubuh kurus yang sejak tadi gemetar akhirnya memberanikan diri mendekat.
"Kak... terima kasih."
Kai hanya melirik sekilas.
"Lain kali jangan kasih uang ke mereka."
"Iya, Kak."
"Lapor kalau diancam."
Anak itu mengangguk berkali-kali.
Melihat kejadian itu, hati Karin sedikit tersentuh. Selama ini semua orang hanya melihat Kai sebagai pembuat onar. Padahal tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.
Tak lama kemudian beberapa dosen datang.
"Ada apa ini?"
Kerumunan langsung bubar. Ketiga senior yang tadi berkelahi berdiri dengan wajah kesal.
"Semuanya ikut ke ruang dekan!"
Kai mengangkat tasnya yang jatuh. Tanpa membantah, ia mengikuti dosen itu.
Saat melewati kerumunan...Tatapannya bertemu dengan Karin.
Entah mengapa, Kai menghentikan langkahnya. Mereka saling memandang beberapa detik.
"Kita pernah bertemu?" tanya Kai.
Karin terdiam.
Belum.
Seharusnya mereka memang belum pernah berbicara.
"Belum."
Kai mengangguk pelan.
"Maaf."
Ia kembali berjalan meninggalkan tempat itu.
Nia langsung menyenggol lengan Karin.
"Astaga."
"Kamu ditanya Kai."
"Iya."
"Katanya dia itu dingin sama semua orang."
Karin hanya tersenyum kecil.
Ia juga heran. Mengapa Kai tiba-tiba menyapanya?
-
-
-
Sepanjang perkuliahan, pikiran Karin sulit berkonsentrasi. Wajah Kai terus terbayang.
Bukan karena ketampanannya. Melainkan karena kenyataan bahwa semua gosip tentang pria itu ternyata tidak sepenuhnya benar.
Mungkin...
Orang-orang hanya melihat akibatnya. Bukan penyebabnya.
Saat jam kuliah berakhir, Karin dan Nia berjalan menuju gerbang kampus. Namun langkah Karin kembali terhenti.
Di bawah pohon mahoni yang rindang, ia melihat seseorang sedang berdiri sambil bersandar pada sebuah mobil hitam. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan senyum yang begitu dikenalnya.
Gio.
Jantung Karin langsung berdegup keras.
"Apa yang dia lakukan di sini?"
Nia ikut menoleh.
"Kamu kenal?"
Karin belum sempat menjawab.
Gio sudah lebih dulu melambaikan tangan.
"Karin!"
Beberapa mahasiswa langsung menoleh ke arah mereka.
Gio berjalan menghampiri dengan senyum ramah.
"Aku kebetulan ada urusan di dekat sini," katanya. "Sekalian ingin memastikan kamu sudah sampai kampus dengan selamat."
Ucapan itu terdengar manis. Namun Karin tahu, semuanya hanyalah alasan.
Pria itu mulai mengejarnya.
Dan yang membuatnya semakin gelisah...
Dari kejauhan, Kai yang baru keluar dari gedung fakultas tanpa sengaja melihat pemandangan itu. Tatapannya bergantian mengarah kepada Gio dan Karin.
Untuk pertama kalinya, wajah Kai yang selalu datar memperlihatkan sedikit rasa penasaran.
Sementara Karin hanya bisa menghela napas pelan. Masalahnya ternyata datang lebih cepat daripada yang ia duga.
-
-
-
Bersambung...