NovelToon NovelToon
Skenario Rahasia Sang CEO

Skenario Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Shee Lyn

"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 (Lembaran Baru di Menteng)

Suara ketukan pintu yang teratur memecah keheningan yang penuh haru di dalam kamar Kakek Surya. Tak lama kemudian, pintu kayu jati itu terbuka perlahan, menampilkan sosok Mike dan Alisha yang baru saja tiba dari gedung Raharja Group. Aura ketegangan yang tadi siang sempat menyelimuti sepasang suami istri itu kini telah sepenuhnya sirna, digantikan oleh ekspresi kelegaan yang amat besar setelah berhasil melewati adangan para pencari berita.

Mike melangkah masuk terlebih dahulu, matanya langsung tertuju pada pemandangan di depan ranjang: tangan Alvin dan Anita yang masih bertautan erat di atas genggaman Kakek Surya. Sebuah senyuman tipis, yang kali ini benar-benar bersih dari maksud tersembunyi, terukir di wajah tegas sang CEO.

"Sepertinya aku melewatkan sebuah pengakuan besar di sini," ucap Mike, suaranya yang bariton memecah keheningan kamar.

Alvin buru-buru melepaskan genggaman tangannya dari Anita sembari berdeham salah tingkah, sementara Anita hanya bisa tersenyum dengan pipi yang merona merah. Kakek Surya terkekeh pelan melihat tingkah laku asisten kepercayaan cucunya itu.

"Kamu selalu terlambat untuk hal-hal yang menyenangkan, Mike," ujar Kakek Surya, suaranya kini terdengar jauh lebih bertenaga dibandingkan siang tadi. Pria tua itu melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Mike dan Alisha mendekat. "Kemari, Alisha. Duduk di dekat Kakek."

Alisha berjalan mendekat dengan anggun, lalu duduk di tepi ranjang di sisi lain Kakek Surya. Ia meraih tangan keriput pria tua itu dan menciumnya dengan penuh takzim. "Kakek, maafkan kami karena baru bisa menyusul ke sini. Konferensi pers di bawah memakan waktu sedikit lebih lama dari perkiraan."

"Kakek sudah melihatnya dari televisi di kamar ini, Alisha," ucap Surya dengan mata yang berkaca-kaca bangga. Ia mengusap kepala Alisha dengan penuh kasih sayang. "Kamu luar biasa, Nak. Jawabanmu tadi di depan para wartawan... Kakek tahu, mendiang ayahmu pasti akan sangat bangga melihat putrinya tumbuh menjadi wanita yang begitu tangguh dan berhati mulia."

Alisha tersenyum haru, matanya sedikit berkaca-kaca mendengar nama ayahnya disebut. Ia menoleh ke arah Mike yang kini berdiri di samping ranjang, menatapnya dengan pandangan yang sarat akan rasa terima kasih dan pemujaan yang mendalam.

Setelah suasana haru itu perlahan mencair, Anita bangkit dari kursinya dan merapikan pakaiannya. "Kakek, karena Mike dan Alisha sudah ada di sini, dan urusanku untuk meminta maaf secara pribadi sudah selesai, aku rasa ini saatnya aku dan Alvin pamit."

Surya Raharja mengangguk dengan senyuman penuh restu. "Iya, pergilah. Alvin, ingat pesan Kakek tadi. Jangan biarkan Anita menunggu terlalu lama lagi. Empat tahun sudah lebih dari cukup untuk sebuah penantian."

"Siap dilaksanakan, Kakek," jawab Alvin dengan tegas, membuat Mike menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi menyelidik.

"Jadi, kalian berdua sudah resmi sekarang?" tanya Mike saat mereka berjalan bersama menuju pintu keluar kamar.

Alvin merangkul pundak Anita dengan berani di depan mata Mike. "Tentu saja. Dan sebagai bos yang baik, aku harap kamu bersiap untuk memberikan cuti panjang serta bonus pernikahan yang besar untukku dalam waktu dekat, Mike."

Mike mendengus pelan, namun sebuah senyuman tulus tak dapat disembunyikannya. Ia menepuk pundak sahabat setianya itu dengan erat. "Ambil apa pun yang kamu butuhkan, Vin. Kamu dan Anita sangat layak mendapatkannya setelah semua yang kalian lakukan untukku."

Setelah Alvin dan Anita berpamitan dan melangkah pergi, suasana di dalam kamar Kakek Surya kembali menjadi lebih privat. Tersisa tiga orang yang kini menjadi inti dari masa depan dinasti Raharja.

Kakek Surya menatap Mike dengan ekspresi yang kembali serius, namun tidak ada lagi kemarahan di dalamnya. "Mike, duduklah."

Mike menarik kursi yang tadi diduduki oleh Anita, lalu duduk di samping ranjang kakeknya. "Iya, Kek."

"Kakek sudah memikirkan semuanya dengan matang," ujar Surya, suaranya terdengar berwibawa. "Aksi sabotase yang dilakukan oleh Hardi hari ini adalah alarm keras bagi kita semua. Keluarga Raharja harus dibersihkan dari duri-duri dalam daging. Kakek akan mencabut seluruh hak asuh saham milik Hardi dan mengalihkan seluruh hak suara mayoritas mutlak kepadamu, Mike. Mulai hari ini, kamu adalah penguasa tunggal Raharja Group tanpa ada yang bisa mengusikmu lagi."

Mike mengangguk pelan. "Terima kasih atas kepercayaannya, Kek. Aku akan memastikan perusahaan tetap berada di jalur yang benar."

"Tapi..." Surya menjeda kalimatnya, matanya melirik ke arah Alisha yang masih duduk diam menyimak pembicaraan, lalu kembali menatap cucunya dengan binar jenaka yang kembali muncul. "...Kakek memiliki satu syarat mutlak yang tidak bisa kamu tawar lagi dengan dokumen palsu atau kontrak bisnis."

Mike menghela napas pendek, sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan kakeknya. "Apa syaratnya, Kek?"

"Kakek ingin melihat kamar bayi di rumah ini segera terisi," ucap Surya tanpa basa-basi, membuat Alisha seketika menundukkan kepalanya dalam-dalam karena malu, sementara rona merah langsung menjalar hingga ke lehernya. "Sekarang seluruh dunia sudah tahu bahwa kamu sehat walafiat, Mike. Kakek juga sudah semakin tua. Satu-satunya keinginan Kakek sebelum menutup mata adalah menimang cicit sejati dari darah dagingmu dan Alisha."

Mike tidak membantah seperti biasanya. Ia justru menoleh ke arah Alisha, menatap wajah istrinya yang menggemaskan saat sedang tersipu malu. Senyuman penuh arti dan penuh dengan gairah yang sah terukir di bibir tegap sang CEO.

"Kakek tidak perlu khawatir tentang hal itu," jawab Mike dengan nada suara yang rendah namun sarat akan janji yang pasti. "Aku akan memastikan syarat dari Kakek terpenuhi dalam waktu secepatnya."

"Mike!" bisik Alisha pelan sembari menyenggol lengan suaminya, merasa semakin salah tingkah di depan Kakek Surya yang kini tertawa puas melihat interaksi kedua pasangan muda itu.

Malam harinya, setelah memastikan Kakek Surya tertidur pulas setelah meminum obatnya, Mike dan Alisha memutuskan untuk menginap di kediaman utama Menteng. Kamar lama Mike yang terletak di ujung koridor lantai dua kini telah disiapkan dengan rapi oleh para pelayan.

Kamar itu sangat luas, didominasi oleh warna-warna maskulin seperti abu-abu gelap dan biru tua, sangat mencerminkan karakter Mike yang dingin dan tertutup. Namun malam ini, keberadaan Alisha di dalam kamar itu seolah memberikan warna baru yang hangat dan hidup.

Alisha baru saja selesai membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya dengan gaun tidur satin berwarna putih gading yang sederhana namun tampak begitu pas di tubuh rampingnya. Ia berdiri di dekat meja rias, menyisir rambut panjangnya yang hitam bergelombang.

Tiba-tiba, sepasang lengan yang kokoh dan hangat melingkar sempurna di pinggangnya dari arah belakang. Alisha sedikit tersentak, namun sedetik kemudian ia merilekskan tubuhnya saat mencium aroma maskulin khas parfum kayu cendana milik Mike yang begitu menenangkan.

Mike menumpukan dagunya di pundak Alisha, menatap pantulan diri mereka berdua di cermin besar di depan mereka. Tangan Mike yang besar perlahan bergerak naik, mengelus permukaan perut datar Alisha dengan gerakan yang sangat lembut namun sarat akan kepemilikan yang mutlak.

"Kamu sangat cantik malam ini, Nyonya Raharja," bisik Mike tepat di telinga Alisha, membuat bulu kuduk gadis itu meremang karena hembusan napas hangat suaminya.

Alisha memegang tangan Mike yang berada di perutnya. "Kamu sengaja, ya, tadi di depan Kakek? Mengatakan hal seperti itu membuatku sangat malu, Mike."

Mike terkekeh rendah, sebuah suara seksi yang menggetarkan dada Alisha. Ia memutar tubuh Alisha di dalam dekapannya hingga mereka kini saling berhadapan. Mata elang Mike berkilat dengan intensitas gairah yang tidak lagi ia sembunyikan dibalik topeng dinginnya.

"Aku tidak sedang bercanda atau sekadar menyenangkan hati Kakek, Alisha," ucap Mike, suaranya memberat dan terdengar begitu bersungguh-sungguh. Jemari tangannya yang hangat terulur untuk membingkai wajah cantik Alisha, ibu jarinya mengusap lembut bibir bawah istrinya. "Selama empat tahun ini, aku menahan diri untuk tidak menyentuhmu karena aku ingin menjagamu tetap suci sampai waktunya tiba. Dan malam ini, di kamar ini, setelah semua badai dan kebohongan itu selesai... kamu adalah milikku sepenuhnya. Sah secara hukum, sah secara agama, dan sah di lubuk hatiku yang terdalam."

Jantung Alisha berpacu dengan sangat cepat, rasa hangat merayap di sekujur tubuhnya. Tatapan mata Mike seolah mengunci seluruh kesadarannya, menyisakan rasa cinta dan kepasrahan yang tulus di dalam dadanya. Ia tahu bahwa pria di depannya ini telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidupnya hanya untuk momen ini.

"Aku milikmu, Mike..." bisik Alisha parau, matanya menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. "Malam ini, dan untuk selamanya."

Kata-kata Alisha bagaikan pemantik api di atas tumpukan jerami kering. Tanpa membuang waktu lagi, Mike merunduk dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang teramat mendalam. Ciuman yang penuh dengan letupan emosi, kerinduan yang terpendam selama empat tahun, dan janji perlindungan yang abadi.

Mike mengangkat tubuh ramping Alisha dengan mudah, membawanya menuju ranjang besar di tengah ruangan tanpa sedikit pun memutuskan tautan bibir mereka. Di bawah temaram cahaya lampu kamar di kediaman Menteng malam itu, lembaran baru kehidupan mereka resmi dimulai—sebuah awal yang murni, tanpa ada lagi sekat rahasia atau sangkar emas, melainkan sebuah penyatuan dua jiwa yang telah memenangkan pertempuran melawan dunia demi cinta mereka yang sejati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!