Hidup Lylac yang datar tapi penuh perjuangan karena orangtuanya yang miskin, berubah total ketika tak sengaja ia bertemu hantu cantik Mika, di gudang sekolah saat ia ingin sendiri.
Mika terus merengek pada Lylac untuk mendekati Evan, Anak basket yang populer. Itu idolanya dulu saat masih hidup. ini membuat Lylac harus berhadapan dengan Angel geng cewek cantik dan populer yang merasa kesal melihat Lylac ada disekitar Evan dan Evan meresponnya. Padahal Lylac hanya disuruh Mika, hantu cantik itu.
Baca dan lihat bagaimana Lylac yang malas mengurusi orang malah bertemu dengan geng cowok dan cewek paling populer itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
Lyalc menggeser tatapannya ke kanan. Namun yang ia lihat adalah Evan sedang menemukannya melihat ke cowok itu.
"Hei, kamu sedang menatapku?" tanya Evan mengejutkan.
Mata Lylac mendelik kecil karena baru sadar kalau dia baru saja tertangkap basah memperhatikan cowok itu akibat kehebohan Mika.
"Bukan," bantah Lylac cepat, langsung memasang kembali wajah datarnya.
Evan tersenyum geli melihat reaksi cepat itu. Dia menurunkan tangannya perlahan. "Lalu? Apa ada sesuatu di tanganku?" Dia tahu cewek ini awalnya tadi melihat ke arah tangannya.
"Ya. Ada sendok," jawab Lylac asal. Dia mengatakannya dengan wajah super datar. Seolah itu adalah fakta paling jelas.
Evan menoleh pada tangannya sendiri, menatap benda berbahan stainless steel yang sedang dipegangnya. "Benar juga. Tanganku kan lagi megang sendok," ujarnya.
Sesaat kemudian, cowok itu tersenyum.
"Kamu benar-benar aneh, Lylac. Jika cewek-cewek di sekolah suka curi-curi pandang ke wajahku, kamu malah lebih tertarik lihat sendok di tanganku."
Evan menggeleng-gelengkan kepalanya, sengaja memasang wajah terluka yang dibuat-buat. "Aku tersinggung, lho. Kamu lebih memilih sendok daripada aku."
Lylac hanya meringis singkat merespon keheranan Evan. Dia tahu, tapi dia tidak sedang ingin menatap Evan. Untuk apa?
"Padahal aku terus menatapmu, lho." Mika membanggakan dirinya sendiri. "Lylac sih enggak paham kamu cakep."
Lylac tidak memedulikan protes hantu itu. Dia hanya menipiskan bibirnya dengan raut muka masam, merasa kalau meladeni tingkat percaya diri Evan malam-malam begini justru membuat energi tubuhnya makin terkuras habis.
Tinggal beberapa suap lagi makanan tersisa di piring Lylac. Tanpa membuang waktu, dia segera menghabiskannya, lalu meraih gelas dan meneguk air putih hangat hingga tandas.
Selesai. Perutnya akhirnya terasa tenang sekarang.
Evan yang menyadari piring Lylac sudah bersih pun ikut meletakkan sendoknya. Cowok itu melirik jam di ponselnya. "Sepertinya makin malam, ayo pulang. Jangan lupa nasi yang dibungkus ini," ujar Evan mengingatkan sambil menggeser bungkusan nasi hangat di atas meja ke dekat Lylac.
Lylac mengambil bungkusan itu. "Terima kasih."
"Aku antar, ya?" tawar Evan, berniat memastikan Lylac sampai dengan aman.
"Jangan. Aku enggak mau," jawab Lylac cepat dan tegas tanpa keraguan sedikit pun.
"Tapi ini udah agak malam, Ly. Aku agak merasa bersalah karena tadi memaksa kamu buat makan dulu di sini," Evan mencoba memberi alasan, tatapannya menunjukkan rasa khawatir yang tulus.
Mika yang melayang di samping mereka langsung ikutan heboh. "Ih, Lylac! Mau dong diantar Evan! Ayo bilang mau!"
Lylac menulikan telinganya dari hasutan Mika. Mata indahnya menatap Evan lurus-lurus. "Aku sudah biasa sendiri. Stop maksa."
Kalimat terakhir Lylac yang begitu mutlak membuat Evan terdiam sesaat. Sadar bahwa benteng pertahanan cewek di depannya ini tidak bisa ditembus dengan paksaan, cowok itu akhirnya mengangkat kedua tangannya perlahan tanda menyerah.
"Oke," Evan mengalah sambil tersenyum tipis. Cewek ini mau di ajak makan aja sudah lumayan. Jadi dia tidak mau memaksakan inginnya.
***
Pagi hari koridor sekolah.
"PTS? Aku bisa kasih kamu contekan," tiba-tiba muncul ide dari Mika saat mereka sedang berjalan di koridor.
"Contekan?" Lylac takjub. Tidak menyangka hantu semacam Mika bisa kepikiran hal se-kreatif itu. Tentu saja Lylac ngomong sambil memakai earphone kabel.
"Ya. Tinggal aku baca soal kamu, lalu aku cari jawabannya di buku. Atau aku bisa lihat punya teman kamu yang paling pintar," tawar Mika dengan wajah tanpa dosa, merasa idenya adalah solusi terbaik sedunia.
Lylac mendengkus pelan. "Wah, ide yang brilian."
"Mau?" tawar Mika antusias, matanya berbinar-binar.
"Enggak. Rugi aku. Yang pintar kan kamu, bukan aku," ketus Lylac, mengingatkan fakta logis kalau mencontek tidak akan membuat otaknya sendiri bertambah pintar.
"Benar juga," Mika tergelak menyadari kebodohan idenya sendiri. Hantu itu tertawa renyah sambil melayang berputar di udara.
Langkah Lylac terhenti saat Riri muncul dari area parkir. "Pagi, Lylac," sapa Riri lembut dengan senyum khasnya yang menenangkan.
"Pagi." Lylac senyum.
Riri berjalan beriringan di sebelah Lylac menuju kelas. "Gimana persiapan ujianmu?" tanya Riri kemudian.
"Mmm ... enggak ada kayaknya." Lylac jujur.
"Enggak ada?" Riri heran. Dia yang tergolong murid rajin jelas terkejut dengan jawaban santai Lylac. Namun setelah diam sesaat, Riri akhirnya ingat kalau itulah Lylac.
Lylac melirik Mika yang masih melayang santai di dekat mereka. "Tadi Mika ngusulin mau kasih contekan ke aku," kata Lylac mencoba menceritakan kembali obrolan mereka barusan.
Mendengar nama Mika disebut secara terang-terangan, Riri langsung waspada. Langkah kakinya mendadak kaku. Raut wajahnya berubah drastis menjadi tegang.
"D-dia... ada di sini?" bisik Riri dengan suara bergetar.
"Ya."
Mendengar konfirmasi pendek dari Lylac, Riri langsung merinding. Tanpa ba-bi-bu, dia segera memeluk erat lengan Lylac. Menjadikan tubuh sahabatnya itu sebagai benteng pertahanan.
Kepalanya berputar ke kanan dan ke kiri. Mencoba mencari keberadaan Mika di udara kosong, tapi tentu saja hasilnya nihil. Sambil terus memegang erat lengan Lylac dengan tubuh yang agak gemetar, Riri berusaha mempercepat langkahnya.
Melihat respons berlebihan itu, senyum tipis terbit di bibir Lylac. "Dia enggak gigit," Lylac tergelak kecil. Merasa geli sendiri melihat ketakutan sahabatnya.
"Aku bukan dino ya! Tentu saja enggak gigit!" protes Mika dari atas udara. Melipat kedua tangannya di dada sambil mengerucutkan bibir karena tersinggung disamakan dengan monster. Tapi tentu saja Riri tidak bisa mendengar suara cempreng hantu itu.
Riri tetap ketakutan. Dia mempererat pelukannya di lengan Lylac seolah enggan lepas. "Iya sih... tapi ya tetap aja... merinding, Ly!" bisik Riri dramatis. Matanya masih melirik ke segala arah dengan cemas sampai mereka tiba di depan pintu kelas.
"Hmmp!" Mika cemberut sambil melipat kedua tangannya di dada. Melayang membelakangi mereka karena kesal dituduh bisa menggigit.
"Pagi, Lylac," sapa Evan tiba-tiba dari arah belakang mereka.
Mendengar suara Evan, mood Mika langsung baik.
"Kya! Evan menyapamu, Lylac!" Mika berseru heboh sambil menangkup kedua pipinya sendiri. Melayang turun ke depan wajah Lylac dengan mata berbinar-binar genit. "Duh, kenapa malah aku yang jantungan begini, sih?! Padahal kan aku udah mati!"
Keduanya menoleh serentak.
"Pagi," sahut Riri tetap ramah seperti biasanya meski otaknya mulai dipenuhi tanda tanya.
Evan berjalan menyamai langkah mereka. Lalu melirik Lylac dengan senyum tipis. "Gimana nasi Padangnya tadi malam? Enak?" tanya Evan melontarkan pertanyaan yang sebenarnya sama sekali tidak penting.
Kenapa tanya itu? Lylac membatin kesal.
Padahal tadi malam cowok itu jelas-jelas melihat sendiri piring Lylac bersih tak tersisa. Lagipula seharusnya pertanyaan basa-basi semacam itu muncul tadi malam sebelum mereka pulang. Bukan sekarang.