NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Gaun Kuning Pucat

Makan malam sudah lama selesai.

Apartemen itu tenang, hampir sunyi. Hanya beberapa lampu cahaya redup yang menyala di ruang tamu, memancarkan cahaya redup yang mengubah setiap sudut ruangan menjadi bayangan hangat.

Arjuna Pratama tenggelam di sofa besar, kaki panjangnya bertumpu santai di tepi meja kopi. Kemeja abu-abu gelapnya belum diganti—menonjolkan lebar bahunya, dada yang tegap, lekuk tubuh yang terbentuk bukan dari keberuntungan tapi dari kebiasaan. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan grafik garis K yang berfluktuasi. Alisnya berkerut tipis.

*Pasar belakangan ini tidak bisa ditebak.*

Suara air di kamar mandi berhenti.

Pintu kamar tamu terdorong pelan.

Arjuna tidak langsung mendongak...matanya masih di layar. Tapi sedetik kemudian, kilatan warna terang masuk ke sudut pandangnya.

Refleksnya mengangkat kepala.

Citra Lestari berdiri di ambang pintu, di dalam lingkaran cahaya yang jatuh tepat di atasnya.

Dia hanya mengenakan gaun terusan ketat berwarna kuning pucat. Warna itu selembut bunga melati di awal musim semi...tapi di kulitnya yang putih seperti mutiara, warna itu justru menyala tanpa berusaha. Tali tipis menggantung di bahunya yang mungil dan bulat. Kain yang lembut mengikuti lekuk tubuhnya dengan dada yang penuh dan terangkat, pinggang yang ramping, dan ujung gaun yang hanya mencapai bagian atas pahanya, memperlihatkan dua kaki yang lurus dan bersih seperti giok.

Rambut panjangnya terurai, masih setengah kering, menyentuh punggung dan bahunya dengan kesegaran yang tidak dibuat-buat.

Tidak ada hiasan lain. Tidak perlu.

Tablet itu meluncur ke sofa tanpa Arjuna sadari tangannya sudah melepasnya.

Dia berdiri.

Beberapa langkah, dan jarak di antara mereka lenyap.

Di wajah mungil Citra, ada sesuatu yang tidak bisa dia sembunyikan,campuran malu dan kemenangan kecil yang mengintip dari sudut matanya yang berbentuk aprikot. Dia memang sengaja. Dan mereka berdua tahu itu.

Tangan besar Arjuna mencengkeram pinggang rampingnya, menariknya masuk ke dalam pelukannya. Tangan satunya bergerak ke punggungnya,membelai kulit yang terasa dingin dan lembut di balik kain tipis itu.

Tulang-tulang kecil yang lentur di bawah telapak tangannya membuat napasnya terasa lebih berat dari tadi.

"Berpakaian seperti ini..." Suaranya serak, napas panasnya menyentuh dahinya. "Kau sengaja menggodaku?"

Citra tidak menjawab dengan kata-kata.

Dia berjinjit....perlahan, aktif.

dan menekan bibirnya yang lembut ke bibir tipis Arjuna yang terkatup rapat.

Ringan. Dangkal. Hampir seperti pertanyaan.

Bagi Arjuna, itu tidak berbeda dari menyulut api di atas bensin.

Erangan pelan lolos dari tenggorokannya. Hampir seketika dia mengambil alih.

ciumannya berputar dan membelok, menguasai, tidak lagi bertanya tapi menjawab dengan lantang. Telapak tangannya yang lebar menopang belakang kepala kecilnya, jari-jarinya menyusup ke rambut yang masih agak dingin itu, menekan lebih dalam ke arahnya.

Dia memiringkan kepalanya, mengubah sudut, memperdalam.

Bibirnya menyusur ke sudut mulut Citra, turun ke cuping telinganya, berlama-lama di sisi lehernya yang ramping.

meninggalkan jejak panas di sana, satu per satu.

"Mmm—" Citra menjadi lemas. Tangannya berpegangan erat tanpa daya.

Arjuna merasakan getaran kecil tubuh mungilnya.

kehangatan dan kelembutan yang terkumpul di antara kedua lengannya. Matanya menggelap.

Bibirnya kembali menemukan bibirnya.

Dia mempererat cengkraman nya di pinggang rampingnya dan, masih dalam posisi menciumnya, mundur beberapa langkah. Bagian belakang lututnya menyentuh tepi sofa.

Dia tidak melepas bibirnya.

Tubuhnya yang tinggi terkulai ke belakang.

jatuh dengan berat ke dalam sofa yang empuk. Benturan itu membuat sofa sedikit ambles.

Citra terbawa jatuh, tak terkendali, mendarat di dada lebar dan keras di bawahnya.

Dalam posisi itu, di atas, rambut panjang Citra terurai bebas, beberapa helai menyentuh rahang dan leher Arjuna, menimbulkan rasa geli yang dia abaikan sepenuhnya.

Ciuman Arjuna berubah...lebih dalam, lebih lapar, melahap mulut kecilnya seperti orang yang sudah lama tidak makan. Dari celah di antara bibir mereka, hanya suara pelan Citra yang tersisa di ruangan itu.

Tangan besar yang melingkari punggungnya bergerak turun. Dengan sedikit tenaga, karena tubuh itu begitu ringan....dia mengangkat kedua kaki mungilnya yang seputih giok, menyatukannya, dan meletakkannya dengan mantap di atas pahanya yang kokoh.

Citra menyesuaikan diri, duduk menyamping di pangkuannya.

Napas Arjuna tidak lagi teratur. Dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya.

Dengan gerakan yang sudah menjadi naluri, tangannya membuka kancing kemejanya satu per satu. Kemeja abu-abu gelap itu melayang ke sudut ruangan.

Perutnya yang terbentuk sempurna kini menempel di pinggang lembut gadis di pangkuannya. Satu tangannya masih menopang kepala kecilnya—tidak membiarkan jarak terbentuk sedikit pun. Tangan satunya menelusuri kaki putih mulusnya yang tersandar di pahanya, bergerak ke atas, melewati perut bagian bawahnya, melingkar ke punggung bawahnya.

Arjuna Pratama tingginya 193 sentimeter, dan dalam balutan pakaian dia tampak ramping. Tapi lengan atasnya yang tebal,yang kini mengurung tubuh mungil Citra.

hanya sedikit lebih tipis dari paha putihnya yang menempel di pangkuannya saat ini.

Keras dan lembut. Besar dan kecil.

Di ruang tamu yang redup itu, cahaya ungu menggambar bayangan mereka menjadi satu di dinding.

dan tidak ada yang peduli pada tablet yang masih menyala sendirian di sofa.

--

1
cipung
keren...lanjut👍👍
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!