NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Jejak di Hutan Belantara

Setelah meninggalkan desa yang terbebas dari cengkeraman dukun sesat, Cepot dan Dawala melanjutkan perjalanan menuju arah barat. Semakin jauh mereka melangkah, pemandangan berubah menjadi hutan yang semakin lebat dan jarang dilewati manusia. Pepohonan menjulang tinggi hingga menutupi sinar matahari, membuat suasana di dalamnya terasa sejuk namun juga sunyi senyap.

“Kang, rasanya sudah tiga hari kita berjalan tanpa bertemu satu desa pun. Apakah kita tidak tersesat?” tanya Dawala sambil memotong dahan yang menghalangi jalan.

Cepot menghentikan langkah sejenak, mengamati arah tumbuhnya lumut di batang pohon dan aliran air sungai kecil yang melintas. “Belum tersesat, Da. Justru semakin sunyi, berarti kita semakin dekat dengan tempat yang jarang dijamah. Ingat pesan yang dulu kita terima: tempat yang membutuhkan penjagaan seringkali tersembunyi di tempat yang tidak disangka-sangka.”

Belum sempat mereka melanjutkan langkah, tiba-tiba terdengar suara berisik dari balik semak-semak yang lebat. Suaranya seperti suara orang yang sedang berlari tergesa-gesa, disertai rintihan lemah. Segera setelah itu, muncul seorang pemuda berusia sekitar tujuh belas tahun, berpakaian compang-camping, kakinya berdarah, dan wajahnya pucat pasi ketakutan.

Begitu melihat Cepot dan Dawala, pemuda itu terhenti sejenak, lalu langsung berlutut memohon. “Tolong… tolong saya! Jangan biarkan dia menangkap saya!”

Dawala segera mendekat dan membantunya berdiri. “Tenanglah, kami tidak akan menyakiti siapa pun. Siapa yang mengejarmu? Dan apa yang terjadi?”

Pemuda itu menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. “Nama saya Raka. Saya berasal dari desa yang terletak di tengah hutan ini. Seminggu belakangan ini, banyak orang di desa saya menghilang secara misterius. Konon ada makhluk yang menjelma menjadi bayangan hitam, yang keluar saat senja dan membawa pergi siapa saja yang berjalan sendirian. Saya hampir saja menjadi korbannya, untung bisa lari ke dalam hutan.”

Cepot mengerutkan dahi, mendengarkan dengan saksama. “Makhluk bayangan hitam? Apakah ada ciri lain yang kau lihat? Atau ada kejadian aneh sebelum hal itu mulai terjadi?”

Raka mengangguk cepat. “Sebelumnya, ada seorang pendatang yang masuk ke desa kami. Ia mengatakan dirinya ahli peramal, dan menawarkan jasa melindungi desa dari bahaya. Namun, ia meminta agar kami tidak berani mendekati reruntuhan purba yang ada di pinggir hutan. Sejak saat itu, bayangan itu mulai muncul.”

Mendengar penjelasan itu, Cepot dan Dawala saling berpandangan. Mereka sudah mulai menebak adanya kaitan antara pendatang itu dengan kejadian aneh yang sedang terjadi.

“Baiklah, Raka. Tenang saja. Kami akan menemanimu pulang ke desa, dan melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi,” kata Cepot dengan nada meyakinkan.

Dengan hati yang sedikit lebih tenang, Raka memimpin jalan kembali menuju desanya. Setelah berjalan sekitar dua jam, mereka tiba di sebuah lembah yang dikelilingi bukit-bukit tinggi. Di sana terdapat desa kecil yang penduduknya tidak banyak, namun suasana di sana terasa sangat tegang dan sedih. Warga berjalan dengan hati-hati, selalu memandang ke sekeliling dengan waspada, dan semua pintu rumah sudah ditutup rapat jauh sebelum matahari terbenam.

Kedatangan mereka disambut dengan rasa curiga dan takut, namun setelah Raka menceritakan apa yang terjadi, kepala desa akhirnya mengizinkan mereka tinggal dan mendengarkan penjelasan lebih lanjut.

“Benar apa yang dikatakan Raka,” kata kepala desa dengan suara berat. “Semua ini dimulai sejak kedatangan orang asing itu. Ia menyebut dirinya Ki Sangga. Ia melarang kami mendekati reruntuhan batu tua, katanya tempat itu menyimpan kutukan. Namun, semakin lama, semakin banyak orang yang hilang, dan setiap malam terdengar suara bisikan dari arah reruntuhan itu.”

Malam itu, saat seluruh desa sudah terlelap, Cepot dan Dawala memutuskan untuk menyelidiki tempat yang dilarang itu. Mereka berjalan perlahan menuju pinggir hutan, hingga sampai di sebuah dataran yang dipenuhi tumpukan batu tua yang sudah lapuk dimakan waktu. Di tengah reruntuhan itu berdiri sebuah pintu batu besar yang tertutup rapat, dan di sekelilingnya terlihat bekas lukisan simbol-simbol kuno yang sudah memudar.

“Lihat, Kang! Ada bekas jejak kaki yang tidak biasa, dan juga sisa arang yang baru saja dipakai untuk membakar sesuatu,” bisik Dawala sambil menunjuk ke tanah.

Cepot mengamati sekeliling dengan cermat. “Ini bukan tempat yang dikutuk, melainkan tempat yang dulunya dibuat untuk menyegel kekuatan tertentu. Tapi sepertinya segel itu sudah mulai rusak, dan ada orang yang sengaja membukanya sedikit demi sedikit.”

Tiba-tiba, angin berhembus kencang membawa kabut hitam yang menyelimuti seluruh tempat. Dari balik kabut itu muncul sosok bayangan hitam yang bentuknya tidak jelas, hanya terlihat dua titik cahaya merah menyala sebagai matanya. Suara mendengung yang dalam dan dingin terdengar memenuhi udara.

“Siapa yang berani mengganggu tempat ini? Pergilah, atau kalian akan menjadi bagian dari kegelapan ini selamanya!”

Bersamaan dengan itu, muncul juga sesosok lelaki yang mengenakan jubah gelap, berdiri di samping bayangan itu dengan senyum licik. Ternyata itu adalah Ki Sangga yang diceritakan oleh warga desa.

“Ternyata ada tamu yang datang sendiri,” katanya dengan nada mengejek. “Sama seperti orang-orang bodoh di desa itu, kalian juga akan menjadi korban kekuatan yang luar biasa ini.”

Cepot melangkah maju dengan tenang, tangannya memegang gagang Golek Pancasona. “Kau tidak lebih baik dari Ki Jaka yang baru saja kami hentikan. Kau membuka segel kuno demi keserakahan sendiri, lalu membiarkan makhluk yang terperangkap di dalamnya memakan tenaga manusia. Inikah yang kau sebut kekuatan?”

Ki Sangga tertawa keras. “Apa yang kalian ketahui? Makhluk ini bernama Siluman Bayangan Abadi. Ia menyerap energi untuk menjadi kuat, dan sebagai gantinya ia memberiku ilmu yang tidak dimiliki manusia biasa. Tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang!”

Ia segera mengangkat tangannya, mengucapkan mantra untuk memerintahkan siluman itu menyerang. Bayangan hitam itu melesat cepat seperti angin, berusaha melingkari tubuh Cepot dan Dawala agar mereka tidak bisa bergerak. Namun, begitu bayangan itu mendekat, Cepot segera mengangkat Golek Pancasona, memancarkan cahaya putih keemasan yang terang benderang.

Cahaya itu langsung menyentuh bayangan itu, membuatnya menjerit kesakitan dan mundur tergesa-gesa. “Cahaya ini… membakar keberadaanku!”

“Kekuatan yang berasal dari kegelapan tidak akan pernah tahan terhadap cahaya kebenaran,” kata Cepot tegas. “Segel ini dibuat oleh leluhur untuk melindungi alam dan manusia. Dengan membukanya, kau telah melanggar aturan yang menjaga keseimbangan.”

Dawala pun segera bergerak, memutar galah bambunya dengan cepat dan mengarahkan ujungnya ke arah Ki Sangga yang berusaha melarikan diri. “Jangan lari! Kau harus bertanggung jawab atas apa yang telah kau perbuat!”

Melihat kekuatan sekutunya mulai melemah, Ki Sangga menjadi panik. Ia mencoba melindungi dirinya dengan jubahnya, namun cahaya dari pusaka itu menembus pertahanannya dan membuat seluruh mantra yang ia gunakan menjadi tidak berdaya. Ia jatuh berlutut, menyadari bahwa kekuatan yang ia banggakan itu hanyalah kekuatan semu yang rapuh.

Sementara itu, Cepot mendekati pintu batu besar itu, lalu mengangkat Golek Pancasona setinggi dada. “Wahai kekuatan penyeimbang! Kembalikanlah segel ini ke keadaan semula, dan kembalikanlah makhluk ini ke tempat yang semestinya, agar ia tidak lagi mengganggu kehidupan makhluk lain!”

Seketika itu juga, cahaya putih keemasan menyebar ke seluruh reruntuhan, menutupi kembali celah-celah yang terbuka. Siluman Bayangan Abadi itu berteriak panjang, namun tidak bisa berbuat apa-apa saat ditarik masuk kembali ke dalam ruang tertutup, dan pintu batu itu menutup rapat dengan sendirinya, dipenuhi kembali oleh simbol-simbol yang menyala terang sebagai tanda segel sudah pulih sempurna.

Kabut hitam pun lenyap, udara kembali menjadi segar dan tenang. Ki Sangga duduk terkulai lemas, semua ilmu dan kekuatan palsunya hilang seketika, menyisakan dirinya sebagai manusia biasa yang menyesali perbuatannya.

“Kau bebas pergi, tapi ingatlah pesan ini,” kata Cepot kepadanya. “Ilmu apa pun yang dipakai untuk menyakiti orang lain dan merusak keseimbangan akan membawa kehancuran bagi dirimu sendiri. Gunakanlah akal budimu untuk hal yang bermanfaat, bukan untuk mencari keuntungan semata.”

Keesokan harinya, saat matahari terbit terang benderang, warga desa melihat perubahan yang terjadi. Suasana yang mencekam hilang, dan rasa takut di hati mereka perlahan menghilang. Bahkan, orang-orang yang sempat hilang dan masih tersisa tenaganya mulai pulih kembali seiring dengan memulihnya energi alam di tempat itu.

“Terima kasih banyak, tuan-tuan. Kalian telah membebaskan kami dari rasa takut yang menghantui siang dan malam,” ucap kepala desa dengan penuh rasa syukur.

“Kami hanya melakukan tugas yang seharusnya,” jawab Cepot sambil tersenyum. “Ingatlah selalu untuk menjaga tempat-tempat yang dianggap keramat dan dijaga oleh leluhur. Jangan mudah tergoda oleh janji manis yang menyembunyikan bahaya di baliknya.”

Setelah berpamitan dan menerima doa restu dari seluruh warga, Cepot dan Dawala pun melanjutkan perjalanan mereka, menyadari bahwa di setiap sudut tempat yang mereka lewati, selalu ada tantangan yang mengajarkan mereka arti kebijaksanaan dan tanggung jawab.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!