Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.
Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.
Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.
Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.
Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?
[Ding!]
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Genesis Forging: Lahirnya Senjata Rank Legendary
Di aula demonstrasi istana Draconis, Dyah Ayu tidak membuang waktu satu detik pun.
Begitu Harjasa menggelindingkan puluhan peti logam, dan tanaman herbal dari gudang istana ke dalam aula demonstrasi. Dyah Ayu sudah duduk bersila di tengah semua itu dengan mata yang memancarkan cahaya yang tidak pernah ada sebelumnya.
Brama Kumbara berdiri di sampingnya dengan tangan yang mencengkram perutnya.
"Aku … lapar."
"Makan tanahnya kalau lapar!" hardik Dyah Ayu tanpa berpaling.
Brama Kumbara menatap lantai panel logam di bawahnya dengan ekspresi yang sangat serius seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat penting. Kemudian ia berlutut, dan menggigit sudut lantai panel logam itu.
Tiga orang anggota dewan pemerintah yang masih berada di aula serentak memalingkan wajah.
Harjasa memejamkan mata satu detik penuh. “Aish, kenapa seperti?”
Dyah Ayu tidak peduli. Tangannya sudah terangkat, dan formasi Arc Of Embodiment terbentuk di sekelilingnya.
Llingkaran cahaya cokelat keemasan berlapis tiga yang berputar dengan kecepatan yang semakin meningkat setiap detiknya.
"Arc Of Embodiment: Supreme Forging!" serunya.
Puluhan ingot logam dari peti pertama melayang ke dalam formasi serentak. Simbol-simbol kuno di setiap lapisan lingkaran berputar semakin cepat hingga cahaya yang memancar dari formasi itu membutakan seluruh sudut aula.
Satu per satu senjata, armor, dan artefak terbentuk dari dalam formasi dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk pengrajin senjata manapun di seluruh Benua Sangakama.
“Pedang rank Ultra Rare?!”
“Armor tempur rank Ultra Rare?!”
“Artefak peningkat kecepatan rank Legendary?!”
Jenderal klan Basilisk, dan kedua belas jendral lain yang masih berdiri di tepi aula tidak mampu menutup mulutnya. “I-ini sangat gila?!”
Kemudian Dyah Ayu berhenti.
Matanya memandang tumpukan logam yang tersisa di dalam peti dengan sorot yang berubah menjadi sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata teknis apapun tentang Arc Of Embodiment.
Tangannya bergerak mengambil satu ingot logam merah tua dari sudut peti paling bawah. Logam yang tidak ada dalam daftar bahan yang diminta Arjuna. Logam yang bahkan tidak ia kenali namanya.
Namun Arc Of Embodiment di dalam dantiannya berdenyut keras ketika jari-jarinya menyentuhnya.
Dyah Ayu menggigitnya.
"Rasanya … berbeda," gumamnya dengan nada yang sangat serius.
Kemudian ia meletakkan logam itu di pusat formasi sendirian. Tanpa bahan tambahan, dan tanpa campuran apapun.
"Arc Of Embodiment: Genesis Forging!"
Formasi yang terbentuk kali ini berbeda dari semua formasi sebelumnya. Bukan tiga lapisan. Bukan simbol-simbol kuno yang berputar. Melainkan satu lingkaran tunggal yang sangat sederhana, tetapi memancarkan tekanan yang membuat seluruh aula bergetar hingga ke pondasinya.
Ingot logam merah tua itu meleleh, mengalir, membulat, dan mengeras dalam waktu yang jauh lebih singkat dari semua senjata sebelumnya.
Sebuah bola merah darah sebesar kepalan tangan melayang di atas formasi dengan aura yang menampar seluruh indera siapapun yang ada di dalam ruangan.
“Rank Legendary!”
Dyah Ayu mengambilnya. Bola itu bergerak di atas telapak tangannya seolah hidup, dan berputar perlahan dengan cahaya merah yang berdenyut seperti jantung.
"Arc Ball," ucapnya dengan nada yang mengandung sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak bisa sepenuhnya artikan.
Kemudian ia meremas bola itu dengan telapak tangannya. Arc Ball mengalir mengikuti kehendaknya, memanjang, menajam, dan membeku menjadi sebilah pedang merah darah yang memancarkan aura yang membuat jenderal klan Basilisk selangkah mundur.
Ia meremas lagi. Pedang itu kembali menjadi bola.
Dyah Ayu tertawa dengan cara yang sangat tidak selaras dengan situasi gawat yang sedang berlangsung di perbatasan. “Ini senjata yang sangat menarik.”
***
Di sudut aula yang lain, Brama Kumbara sudah berhenti makan lantai.
Ia duduk bersila di hadapan deretan tanaman herbal dengan mata yang setengah tertutup, dan nafas yang tersengal meskipun ia tidak melakukan apapun selain duduk.
Pengetahuan Arc Of Medicine mengalir di dalam dantiannya seperti sungai yang tidak mengenal henti.
Pengetahuan itu memperlihatkan kombinasi demi kombinasi, formula demi formula, ratusan ribu jenis pil yang bisa ia ciptakan dari bahan-bahan yang tersebar di hadapannya.
Namun satu formula berdenyut jauh lebih keras dari semua yang lain.
"Pil Naga Besukih," gumamnya dengan nafas yang terpotong di tengah kata, "Ini … untuk aku sendiri."
Tangannya bergerak dengan presisi yang sangat kontras dengan tubuhnya yang gemuk dan nafasnya yang selalu tersengal. Memilih, memilah, dan menggabungkan.
Tanaman api berwarna oranye tua, mineral bumi berwarna cokelat kehitaman, dan satu bahan yang bahkan tidak ada namanya dalam catatan Arc Of Medicine. Namun dantian Brama mengenalnya secara naluriah.
"Arc Of Medicine: Divine Compounding!"
Formasi hijau keemasan terbentuk di atas telapak tangannya. Lingkaran sederhana yang berputar dengan ritme yang mengikuti denyut dantiannya sendiri. Bahan-bahan yang sudah ia pilih melayang masuk ke dalam formasi satu per satu, melebur, menyatu, dan mengeras dalam waktu empat puluh detik.
Sebuah pil berwarna merah emas sebesar ibu jari melayang di atas formasinya.
“Pil rank Legendary?!”
Brama Kumbara memandang pil itu dengan ekspresi yang mengandung keheranan yang sangat tulus.
"Aku … yang membuatnya … sendiri?"
Kemudian perutnya berbunyi.
Ia menelan pil Naga Besukih tanpa berpikir panjang.
Cahaya merah emas meledak dari seluruh tubuhnya. Tubuhnya yang gemuk berguncang dengan intensitas yang membuat lantai di bawahnya retak melingkar.
Aura Qi Resonance Realm: Morning Star meledak serentak bersama tiga cahaya berbeda yang memancar dari titik-titik di tubuhnya yang belum pernah aktif sebelumnya.
“Aku merasakan … skill Body Expansion … Roller Ball … dan … Fire Gatling Gun … sudah aku pahami … 1000%. Ini … menarik ….”
Brama Kumbara berdiri dengan nafas yang jauh lebih tersengal dari biasanya akibat ledakan energi yang baru saja melewati seluruh meridiannya.
"Lapar," ucapnya dengan nada yang datar.
Dyah Ayu melempar sepotong tanah ke arahnya tanpa berpaling dari Arc Ball yang masih berputar di atas telapak tangannya. Karena ia tahu tanah yang sedikit bisa meredakan rasa lapar Brama Kumbara.
Harjasa melangkah keluar dari istana dengan tiga belas jenderal klan Dragonoid di belakangnya.
Setiap jenderal membawa senjata, dan armor baru dari tangan Dyah Ayu yang memancarkan aura yang berbeda dari semua perlengkapan tempur yang pernah mereka gunakan sebelumnya.
Di bracelet penyimpanan setiap jenderal, pil pemulihan, dan pil peningkat Ether buatan Brama Kumbara tersimpan dalam wadah kristal kecil.
Kaisar Maharaja Durgandha berdiri di ambang pintu istana memandang formasi itu bergerak dengan sorot yang tidak bisa dibaca oleh siapapun.
"Harjasa."
Jenderal Hydra berhenti tanpa berbalik.
"Jangan biarkan perbatasan itu jatuh!”
Harjasa tidak menjawab. Kakinya kembali melangkah maju.
---
Di perbatasan Prefektur Draconis, Arjuna masih berlutut dengan satu lutut menyentuh tanah.
Seal Of Eternity melilit seluruh tubuhnya tanpa melemah sedikitpun. Darah masih menetes dari sudut bibirnya.
Batara Niskala di dalam inventaris sistem berdenyut pelan dengan cahaya yang sudah jauh lebih redup dari sebelumnya.
Namun matanya merah membara tidak berhenti bergerak. Kalkulasinya tidak pernah berhenti berputar bahkan dalam kondisi tersegel sekalipun.
Arjuna merasakannya.
Setiap gelombang Flesh Corps Army menguras dantian Kalawidya dengan jumlah yang tidak proporsional dengan kekuatan yang ditampilkan.
"Gelombang pertama," batin Arjuna dengan mata yang tidak berkedip, "Penurunan tiga persen. Gelombang kedua, empat persen. Gelombang ketiga—"
Kalawidya mengangkat tangannya untuk gelombang keempat.
Getaran di dantiannya turun lebih dalam dari sebelumnya.
Sudut bibir Arjuna yang berlumuran darah bergerak sangat tipis.
"Dua belas gelombang lagi."
Namun sebelum kalkulasi itu selesai, Kalawidya berbalik dan menatap Arjuna dengan topeng tulang yang memancarkan cahaya ungu gelap.
Sesuatu di balik topeng itu bergerak, dan senyuman yang terbentuk di sana jauh lebih mengerikan dari semua ancaman yang pernah Arjuna hadapi sebelumnya.
"Kau menghitung kelemahanku?" ucap Kalawidya dengan nada yang mengandung kekaguman yang tidak tulus, "Manusia murni yang menarik, hahaha …."
Kemudian tangannya mengangkat untuk gelombang berikutnya. Bukan satu gelombang. “Flesh Corps Army: Ten Amplification!”
Sepuluh gelombang serentak.
Flesh Corps Army meledak dari segala arah dalam jumlah yang melampaui semua gelombang sebelumnya digabungkan, dan getaran di dantian Kalawidya turun jauh lebih dalam dari kalkulasi manapun yang pernah Arjuna susun dalam hidupnya.
“Sekalipun kamu tahu kelemahnku, tapi apakah kamu akan hidup setelah menahan seranganku? Hahaha ….”