NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 6 : DOKTER SOMBONG DAN PERAWATAN YANG PANAS

 Langkah kaki tegap Raditya Evan Baskara yang menjauh menuju gedung utama rumah sakit menyisakan debu ketegangan di area parkir VIP. Kalea Azzahra Putri masih berdiri mematung. Napasnya memburu menahan amarah yang mendidih di ubun-ubun. Tangannya mengepal kuat menatap kaca depan mobil Mercedes-Benz yang retak seribu akibat ulahnya sendiri.

"Ya Gusti, Non Kalea..." suara cemas Bi Minah memecah keheningan yang mencekam itu. Wanita paruh baya itu menepuk pundak Kalea dengan raut wajah panik yang luar biasa. "Non, tas selempang Non bagaimana? Tadi kan dibawa kabur sama copet itu!"

 Mendengar pertanyaan Bi Minah, Kalea seketika tersentak. Kesadarannya langsung kembali pulih seutuhnya. Ia memegang bahunya yang kosong, lalu menepuk dahinya yang dibungkus plester luka dengan wajah pucat. Karena terlalu sibuk beradu mulut dan mengurusi ganti rugi mobil dengan dokter arogan tadi, ia sampai melupakan nasib barang-barang berharganya yang digondol maling.

"Astagfirullah! Iya, Bi! Tas Kalea!" seru Kalea panik. Matanya yang biru bergerak liar menyisir area sekitar parkiran, mencari ke mana perginya pria berjaket hitam tadi. "Ponsel, dompet, dan dokumen hotel ada di dalam semua, Bi! Bagaimana ini?"

"Ini, Nona. Apakah ini tas milik Anda?"

 Sebuah suara bariton yang ramah dari arah samping membuat Kalea dan Bi Minah menoleh dengan cepat. Seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik rapi berdiri di sana. Tangan kanannya menyodorkan sebuah tas selempang mewah berbahan kulit hitam—tas milik Kalea yang talinya sudah putus mengenaskan. Di belakang pria itu, tampak beberapa petugas keamanan rumah sakit dan penunggu pasien yang ikut berkerumun.

"Eh? Iya, Pak! Ini tas saya!" Kalea langsung menerima tas tersebut dengan kedua tangan yang gemetar. Ia segera memeriksa bagian dalamnya. Beruntung, ponsel dan dompetnya masih utuh berada di posisi semula.

"Tadi saya mendengar teriakan Ibu ini dari arah lobi," ujar pria paruh baya itu sambil menunjuk Bi Minah. "Kebetulan copetnya lari ke arah gerbang keluar samping yang sedang dijaga oleh warga dan sekuriti. Dia langsung dikepung dan menjatuhkan tas ini sebelum berhasil kabur memanjat pagar belakang."

"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih banyak, Pak," ucap Bi Minah sambil mengusap dadanya lega, air matanya nyaris menetes karena bersyukur.

 Beberapa orang di sekitar parkiran yang ikut berkerumun mulai memberikan peringatan kepada Kalea. "Lain kali harus lebih hati-hati, Nona. Di area parkir luar memang kadang ada saja orang yang berniat jahat memanfaatkan kelengahan kita. Apalagi dahi Nona sedang terluka begitu, pasti fokusnya terpecah."

"Iya, Pak, Bu. Terima kasih banyak atas bantuannya. Saya benar-benar berterima kasih," balas Kalea dengan senyuman tulus. Sifat tegasnya mendadak melembut berganti rasa hormat yang mendalam kepada orang-orang baik di sekitarnya.

 Setelah kerumunan orang itu membubarkan diri, Bi Minah langsung memegang kedua lengan Kalea dengan erat. Beliau menatap plester di dahi Kalea yang kini sudah basah oleh rembesan darah segar yang baru akibat benturan emosi dan ketegangan tadi.

"Sudah, Non. Ayo kita langsung masuk ke dalam gedung IGD. Dahi Non harus segera diobati, darahnya mengalir lagi itu. Mari Bibi papah," ajak Bi Minah dengan nada lembut namun penuh paksaan yang tidak bisa dibantah.

 Kalea hanya bisa mengangguk pasrah. Dengan kaki yang kini sudah kembali mengenakan sepatu high heels kanan yang meleset tadi—sementara sepatu kirinya masih tersangkut mengenaskan di kaca mobil Raditya—ia berjalan pincang dituntun oleh Bi Minah melangkah masuk menembus pintu kaca otomatis ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Pusat Harapan Medika.

...****************...

 Sementara itu, di dalam sebuah ruangan khusus tindakan bedah minor yang ber-AC dingin, suasana tampak sangat steril dan tenang. Rumah sakit ini memang merupakan milik keluarga Baskara, dan Raditya Evan Baskara bukan sekadar Direktur Utama yang duduk manis di balik meja kerja mewah. Ia adalah seorang Dokter Spesialis Bedah Umum dan Traumatologi yang sangat genius dan bertangan dingin. Pagi itu, karena ada beberapa dokter jaga IGD yang sedang mendampingi operasi besar di gedung sebelah, Raditya memutuskan untuk turun tangan langsung memantau pasien-pasien VIP yang membutuhkan tindakan cepat.

 Raditya baru saja selesai mencuci tangannya di wastafel steril. Ia mengenakan masker medis hitam dan sarung tangan lateks dengan gerakan yang sangat tangkas dan profesional. Jubah putih dokternya berganti dengan baju jaga berwarna hijau tua khas ruang tindakan.

 Tok! Tok! Tok!

 Pintu ruangan terbuka. Seorang perawat senior masuk sambil membawa berkas rekam medis. "Dokter Radit, ada pasien baru yang membutuhkan tindakan penjahitan di area dahi akibat trauma benturan benda keras. Pasien meminta penanganan di ruang VIP karena mengeluhkan pening yang luar biasa."

"Bawa masuk saja," jawab Radit singkat dengan suara berat di balik maskernya. Ia tidak tahu siapa pasien tersebut, baginya semua pasien harus ditangani dengan tingkat kesempurnaan yang sama.

 Pintu kembali bergeser terbuka lebar. Bi Minah menuntun Kalea masuk ke dalam ruangan. Begitu melangkah melewati pembatas ruangan, mata biru Kalea langsung bertatapan lurus dengan mata elang milik pria berpakaian hijau yang sedang berdiri di dekat meja peralatan medis.

 Seketika, langkah kaki Kalea terhenti secara mendadak. Matanya yang biru membelalak sempurna, sementara Raditya juga tampak membeku di tempatnya berdiri dengan memegang pinset bedah.

"Kamu?!" seru mereka berdua secara bersamaan dengan nada suara yang sangat tidak bersahabat.

 Kalea langsung mundur satu langkah, wajah cantiknya yang pucat berubah menjadi ketus seketika. "Oh, jadi Anda dokternya? Kenapa dunia ini sempit sekali sih! Bi, ayo kita cari rumah sakit lain saja! Kalea tidak mau diobati oleh dokter sombong dan arogan seperti dia!"

 Mendengar ucapan ketus Kalea, Raditya langsung mendengus sinis di balik maskernya. Ia meletakkan pinsetnya ke atas nampan stainless steel dengan suara dentingan yang cukup keras. "Heh, Nona Mata Biru! Jaga ucapanmu ya! Ini rumah sakit saya, dan kamu saat ini adalah pasien yang membutuhkan pertolongan. Jangan berlagak sombong menolak pengobatan kalau dahimu itu sudah robek meneteskan darah ke lantai ruangan saya!"

 Bi Minah yang berdiri di antara mereka berdua langsung melongo. Wanita tua itu memandang Kalea dan Raditya bergantian dengan wajah penuh kebingungan yang luar biasa.

"Lho, jadi dokter tampan berpakaian hijau ini adalah pria sombong yang mobilnya dirusak oleh Non Kalea di parkiran tadi?" batin Bi Minah terkejut.

"Non Kalea, sudahlah jangan keras kepala," bisik Bi Minah dengan lembut, mencoba menenangkan adu mulut yang baru saja mau meledak kembali. "Dahi Non harus cepat dijahit. Dokter ini kan ahlinya, lagipula kita sudah di dalam ruangan. Jangan pindah rumah sakit lagi, Non, Bibi takut Non pingsan di jalan."

 Raditya melangkah mendekati ranjang periksa dengan wibawa seorang pemimpin yang mutlak. "Dengar apa kata ibumu itu, Nona Manajer Bar-bar. Naik ke atas ranjang sekarang, atau saya akan menyuruh sekuriti untuk menyeretmu keluar dari gedung ini dalam kondisi kepala bocor!"

"Dia bukan ibu saya, dia Bibi saya! Dan stop memanggil saya dengan sebutan bar-bar! Nama saya punya arti yang bagus, Dokter Sombong!" bentak Kalea sambil menghentakkan kakinya kesal. Namun, karena rasa pening di kepalanya mendadak kembali menyerang akibat tekanan emosi, Kalea terpaksa menurut. Ia perlahan merangkak naik dan duduk di tepi ranjang periksa dengan wajah yang dipalingkan ke arah lain, menolak menatap wajah Raditya.

 Raditya tidak membalas ucapan itu. Ia mengambil kapas yang sudah dibasahi cairan antiseptik, lalu melangkah semakin dekat hingga tubuh jangkungnya berdiri tepat di depan Kalea yang sedang duduk. Posisi mereka yang sangat dekat membuat aroma maskulin khas parfum mahal bercampur bau antiseptik dari tubuh Raditya terhirup jelas oleh indra penciuman Kalea.

"Angkat wajahmu," perintah Raditya dengan suara dingin yang tegas.

"Tidak mau!" tolak Kalea ketus.

 Tanpa membuang waktu untuk berdebat lagi, Raditya menggunakan tangan kirinya yang bersarung tangan lateks untuk mencengkeram dagu Kalea dengan lembut namun sangat kuat, memaksa wajah cantik wanita berhijab itu untuk mendongak menatapnya secara langsung.

 Kalea terpaksa mendongak. Di bawah siraman cahaya lampu operasi yang sangat terang benderang, wajah mereka berdua kini hanya berjarak tidak lebih dari sepuluh sentimeter. Raditya bersiap untuk membersihkan luka di dahi Kalea menggunakan kapas di tangannya. Namun, tepat di detik ketika manik mata elangnya bertatapan langsung dengan sepasang netra berwarna biru jernih yang indah milik Kalea dari jarak sedekat ini, gerakan tangan Raditya seketika membeku total.

 Raditya terpaku. Ia seperti tersedot ke dalam keindahan warna biru alami yang sangat langka di balik bulu mata lentik Kalea. Mata biru itu tampak berkilat jernih, memancarkan perpaduan antara rasa sakit, amarah, ketegasan, dan luka batin yang sangat dalam. Jantung Raditya mendadak berdesir dengan ritme yang tidak menentu—sebuah sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sepanjang 29 tahun hidupnya yang datar dan tanpa cinta.

 Kalea yang ditatap dengan pandangan sedalam itu oleh pria setampan Raditya mendadak merasa gugup. Pipinya yang putih bersih perlahan-lahan merona kemerahan di bawah sapuan lampu ruangan. Suasana di dalam kamar tindakan itu mendadak berubah menjadi sangat intens, panas, dan sunyi, menyisakan deru napas mereka yang saling berkejaran.

 Bi Minah yang berdiri di sudut ruangan memperhatikan momen tersebut dengan mulut yang sedikit terbuka. Beliau melongo melihat bagaimana kedua anak manusia yang tadinya saling membenci setengah mati di parkiran, kini justru tampak seperti sepasang kekasih yang sedang terkunci dalam tatapan mata yang penuh misteri.

 Rasa canggung yang teramat sangat akhirnya membuat Kalea menjadi orang pertama yang memutus keheningan gila tersebut.

 Ehem! Ehem!

 Kalea berdehem dengan sengaja dengan volume suara yang cukup keras, membuat tubuh Raditya langsung tersentak kaget seperti baru saja dibangunkan dari mimpi panjang.

"Dokter Sombong, kalau mau mengobati ya cepat obati! Jangan malah memanfaatkan kesempatan untuk menatap wajah saya dari dekat seperti itu! Saya tahu saya cantik, tapi tidak usah sampai segitunya juga kali!" ketus Kalea dengan wajah yang semakin memerah menahan malu sekaligus kesal.

 Bi Minah juga ikut berdehem kecil sambil tersenyum canggung. "Ehem... iya Dokter, tolong segera diperiksa dahi Non Kalea."

 Raditya dengan cepat menarik kembali tangannya dari dagu Kalea. Ia berbalik membelakangi ranjang sejenak, berpura-pura merapikan letak botol obat bius lokal di atas meja medis demi menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang luar biasa. Telinganya yang putih bersih di balik rambut hitam rapinya tampak memerah padam.

"Sial, kenapa aku bisa sampai melamun menatap mata wanita bar-bar ini?" batin Raditya merutuki dirinya sendiri.

 Ketika berbalik kembali menghadapi Kalea, Raditya sudah berhasil menguasai emosinya sepenuhnya. Ia kembali memasang wajah dingin, kaku, dan tegas seperti biasanya sebagai seorang Direktur Utama yang berwibawa.

"Diam dan jangan banyak bicara, Nona Mata Biru," ucap Raditya dengan nada suara yang sengaja dibuat sedatar mungkin demi menjaga harga dirinya yang sempat goyah. "Luka di dahimu ini cukup dalam akibat benturan keras. Saya harus memberikan suntikan bius lokal terlebih dahulu sebelum menjahitnya agar kamu tidak berteriak histeris seperti orang kesurupan di dalam ruangan saya."

 Kalea mendelik tajam, tangannya mencengkeram seprai kasur periksa dengan kuat saat melihat Raditya mulai menyiapkan jarum suntik kecil di tangannya. "Suntik saja sepuas Anda, Dokter Sombong! Saya tidak takut dengan jarum kecil begitu! Pukulan yang lebih menyakitkan dari ini saja sudah biasa saya terima, jadi jangan remehkan kekuatan saya!"

 Raditya menghentikan gerakannya sejenak, menatap Kalea dengan pandangan menyelidik yang samar di balik maskernya setelah mendengar kalimat 'pukulan yang lebih menyakitkan'. Ada rasa penasaran yang mendadak muncul di lubuk hatinya tentang latar belakang kehidupan wanita tegas berhijab modis ini. Namun, ia memilih untuk tetap diam dan mulai menempelkan ujung kapas antiseptik ke luka dahi Kalea dengan gerakan yang sangat lembut—sebuah kelembutan yang sangat berbanding terbalik dengan ucapan ketus yang keluar dari mulutnya sejak awal pertemuan mereka di parkiran luar tadi, membuat Bi Minah di sudut ruangan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Raditya Evan Baskara mengikat simpul jahitan terakhir di dahi Kalea Azzahra Putri dengan gerakan tangan yang luar biasa cekatan, presisi, dan rapi. Sebagai seorang dokter bedah traumatologi genius, luka robek di dahi wanita di depannya ini berhasil ia tangani dengan teknik jahitan kosmetik terbaik agar tidak meninggalkan bekas luka yang mencolok di wajah cantiknya.

Radit menarik tangannya, lalu melepas sarung tangan lateksnya dan membuangnya ke tempat sampah medis. "Selesai. Tiga jahitan rapi untuk dahi bar-barmu itu, Nona Mata Biru. Setidaknya wajahmu tidak jadi cacat karena kebodohanmu sendiri di parkiran."

Kalea meringis sedikit saat merasakan sisa-sisa ketegangan di dahinya yang kini sudah tertutup perban kasa steril. Ia melompat turun dari ranjang periksa dengan gerakan yang sedikit menghentak, meskipun kepalanya masih terasa agak keliyengan. Sifat tangguh dan tidak mau kalahnya langsung menyala kembali begitu tindakan medis selesai.

"Terima kasih untuk jahitannya, Dokter Sombong," ketus Kalea sambil merapikan letak jilbab segiempat voal birunya yang sempat agak berantakan. Ia mendongak menantang Radit yang tubuhnya jauh lebih tinggi. "Sekarang, sebutkan berapa biaya administrasi dan tindakan dokter bedah di rumah sakit ini. Bi Minah, tolong ambilkan dompet di tas Kalea."

Bi Minah dengan cekatan merogoh tas selempang Kalea yang talinya putus, lalu menyerahkan sebuah dompet kulit kecil kepada Kalea.

Raditya yang sedang mencuci tangannya di wastafel melirik dari balik bahunya. Sebuah senyuman sarkastik yang memperlihatkan lesung pipi menawannya muncul sekilas. "Biaya pengobatanmu bisa kamu selesaikan di kasir depan, Nona. Tapi... biaya pengobatan itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan urusan utama kita."

Radit berbalik, bersandar pada meja marmer wastafel sambil melipat kedua tangannya di dada. Tatapan mata elangnya mengunci manik mata biru Kalea. "Mari kita bicarakan ganti rugi kaca depan mobil Mercedes-Benz saya yang hancur berkeping-keping karena hantaman sepatu high heels kirimu yang tajam itu."

Kalea mengernyitkan dahinya, mendengus meremehkan. "Berapa sih memangnya harga ganti kaca depan mobil Anda? Jangan berlagak seolah saya tidak mampu membayar ya. Saya ini General Manager hotel bintang lima, pendapatan saya lebih dari cukup untuk urusan sepele begini!"

"Oh ya?" Radit terkekeh sinis, melangkah maju dua langkah hingga bayangan tubuh tinggi besarnya mengurung sosok mungil Kalea. "Kaca depan mobil saya itu dipesan khusus, tipe double laminated acoustic glass langsung dari pabrikan Jerman. Harganya seratus lima puluh juta rupiah, belum termasuk biaya pengiriman kilat dan ongkos pasang montir resmi. Totalnya seratus delapan puluh juta rupiah. Harus dibayar tunai atau transfer penuh minggu ini."

DEG!

Mendengar nominal seratus delapan puluh juta rupiah, jantung Kalea rasanya seperti berhenti berdetak seketika. Matanya yang biru membulat sempurna, dan ia refleks menggigit bibir bawahnya yang sobek dengan sangat kuat hingga rasa perih kembali menjalar.

Di dalam hatinya, Kalea menjerit frustrasi. "Seratus delapan puluh juta?! Gila ya ini dokter sombong! Meskipun jabatanku General Manager di Hotel Grand Luminance, gajiku per bulan tidak akan pernah cukup untuk membayar uang sebanyak itu dalam waktu satu minggu! Tabunganku saja habis terkuras untuk mencicil biaya pengobatan dan keperluan pribadi karena keluarga Wijaya tidak pernah memberiku sepeser pun! Mati aku... dari mana aku dapat uang sebanyak itu?"

Melihat perubahan drastis di wajah Kalea yang mendadak pucat dan gugup, Radit tahu betul bahwa tebakannya tepat. Wanita di depannya ini sedang terdesak keuangan.

"Kenapa diam, Nona?" goda Radit dengan nada suara yang sangat menyebalkan. "Mana kesombonganmu yang katanya sanggup membayar ganti rugi tadi? Kenapa bibirmu sampai digigit seperti itu? Jangan bilang uang di dompet kecilmu itu tidak cukup?"

Bi Minah yang mendengar nominal ratusan juta itu ikut gemetaran di sudut ruangan. Beliau memegang lengan Kalea dengan cemas. "Ya Allah, Non... Mahal sekali kaca mobilnya. Uang tabungan kita mana cukup..."

"Bibi, diam dulu," bisik Kalea menenangkan Bi Minah, meskipun suaranya sendiri terdengar sedikit bergetar. Ia kembali menatap Radit dengan pandangan benci. "Saya... saya akan bayar! Tapi saya minta waktu untuk mencicilnya! Anda tidak bisa memaksa saya membayar lunas sekarang juga!"

"Di kamus hidup saya, tidak ada istilah cicilan untuk perusakan barang, Nona Mata Biru," jawab Radit dingin dan telak.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu yang cukup keras mendadak memotong adu mulut yang sedang memanas di antara mereka. Pintu geser ruangan tindakan itu terbuka lebar.

"Dokter Radit, maaf mengganggu. Saya mau menyerahkan berkas laporan evaluasi pasien—"

Ucapan wanita yang baru masuk itu terhenti seketika. Wanita itu mengenakan jas dokter putih rapi dengan papan nama emas yang bertuliskan: dr. Fitri Amelia Wijaya, Sp.JP. Ya, dia adalah Fitri, kakak kandung Kalea yang bekerja sebagai Dokter Spesialis Jantung di rumah sakit terkenal milik keluarga Baskara ini.

Fitri terkesiap. Matanya melotot sempurna saat melihat ada Kalea dan Bi Minah berdiri di dalam ruangan tindakan pribadi milik Direktur Utama rumah sakit tempatnya bekerja. Suasana di dalam ruangan mendadak berubah menjadi sangat kaku dan sedingin es.

Kalea menatap kakaknya dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sangat tajam dan dipenuhi luka masa lalu. Bayangan tamparan dan makian "anak haram" dari mulut Fitri semalam langsung terngiang kembali di kepalanya, membuat dadanya terasa sesak akibat kebencian yang membara.

Namun, Fitri dengan cepat menguasai keterkejutannya. Ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat dingin, angkuh, dan sinis. Ia menatap Kalea dan Bi Minah seolah-olah sedang melihat tumpukan sampah yang tidak sengaja masuk ke dalam ruangan suci. Fitri sengaja memalingkan wajahnya dan berpura-pura tidak mengenal adiknya sendiri di depan sang Direktur Utama.

"Dokter Radit, maaf. Saya tidak tahu kalau Anda sedang melayani pasien dari... kalangan bawah," ucap Fitri dengan nada suara yang sengaja ditekankan pada kata 'kalangan bawah', sangat sinis dan merendahkan.

Kalea mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik blazer birunya. Sifat bar-barnya nyaris meledak untuk menjambak rambut kakaknya saat itu juga, namun ia menahan diri demi menjaga martabatnya di depan Radit.

Raditya yang memiliki kepekaan tinggi langsung menyadari ada atmosfer permusuhan yang sangat tidak biasa di antara Dokter Fitri dan pasien bermata birunya ini. Mata Radit menyipit, melirik mereka berdua bergantian.

"Ada keperluan apa, Dokter Fitri?" tanya Radit dengan suara baritonnya yang sangat tegas dan berwibawa, kembali ke mode Direktur Utama yang formal.

Fitri langsung tersenyum ramah yang dibuat-buat kepada Radit, sangat kontras dengan tatapan sinisnya kepada Kalea tadi. "Ini, Dok. Saya mau menyerahkan berkas laporan perkembangan pasien gagal jantung di ruang VIP nomor 402 yang kemarin sempat Anda konsultasikan kepada saya. Saya butuh tanda tangan Anda untuk persetujuan tindakan kateterisasi besok pagi."

Fitri melangkah mendekati meja Radit, sengaja menyenggol bahu Kalea dengan kasar saat ia lewat. Kalea hanya mendengus sinis, memberikan tatapan mata biru yang menantang maut kepada kakaknya.

"Letakkan saja berkasnya di atas meja saya, Dokter Fitri. Nanti saya periksa dan tanda tangani setelah urusan saya dengan pasien ini selesai," perintah Radit dingin, tidak ingin memperpanjang kehadiran Fitri di ruangannya.

"Baik, Dokter Radit. Terima kasih banyak," ucap Fitri sopan. Sebelum berbalik pergi, Fitri kembali melirik Kalea dari atas sampai bawah dengan pandangan jijik, lalu berbisik sinis yang cukup terdengar oleh Kalea. "Rumah sakit ini tempat terhormat, bukan tempat untuk orang-orang miskin pembawa sial yang tidak jelas asal-usulnya mencari perhatian."

"Jaga mulutmu, Dokter Fitri yang terhormat," balas Kalea dengan suara rendah yang sangat tajam dan penuh penekanan, menatap lurus ke dalam mata kakaknya tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Atau saya akan berteriak di koridor sekarang juga tentang bagaimana kelakuan asli seorang dokter spesialis jantung di dalam rumahnya sendiri!"

Fitri seketika pucat mendengar ancaman balik dari Kalea yang terkenal bar-bar dan tidak punya rasa takut itu. Takut rahasia keluarganya atau masalah semalam terbongkar di depan sang Direktur Utama, Fitri langsung mendengus kesal dan bergegas melangkah keluar dari ruangan sambil membanting pintu geser dengan cukup keras.

Brak!

Bi Minah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih melihat bagaimana Fitri tega memperlakukan adik kandungnya sendiri seperti musuh di tempat kerja.

Raditya Evan Baskara menyaksikan seluruh interaksi panas itu dengan pikiran yang berputar cepat. Otak jeniusnya langsung menangkap sebuah kesimpulan besar: wanita bermata biru di depannya ini memiliki konflik yang sangat berat dengan Dokter Fitri, dan dia sedang berada dalam posisi finansial yang sangat terdesak untuk membayar ganti rugi kaca mobilnya.

Radit berjalan mendekati meja kerjanya, mengambil sebuah kartu nama mewah berwarna hitam dengan tulisan emas dari dalam kotak kecil, lalu menyodorkannya ke hadapan Kalea.

"Ini kartu nama saya," ucap Radit dengan nada suara yang penuh teka-teki. "Urusan ganti rugi seratus delapan puluh juta rupiah tadi... saya rasa kamu tidak akan mampu membayarnya dalam waktu dekat, Nona Manajer."

Kalea merebut kartu nama itu dengan kesal. "Lalu Anda mau apa, hah?!"

Radit mendekatkan wajahnya ke telinga Kalea, berbisik dengan nada mengintimidasi yang dipenuhi rencana gila. "Datang ke ruangan kerja saya di lantai lima gedung ini besok jam tujuh malam. Sendiri. Saya punya sebuah penawaran kesepakatan yang bisa menghapus seluruh utang seratus delapan puluh juta rupiahmu itu dalam sekejap. Jika kamu tidak datang... bersiaplah melihat surat panggilan polisi tiba di meja kerjamu di Hotel Grand Luminance atas tuduhan perusakan."

Kalea menelan salivanya, menatap kartu nama di tangannya lalu menatap mata elang Radit dengan perasaan campur aduk antara marah, bingung, dan terdesak.

"Ayo, Bi. Kita pamit sekarang. Tempat ini udaranya terlalu beracun karena dipenuhi orang-orang sombong," ketus Kalea akhirnya, menarik lengan Bi Minah untuk segera keluar dari ruangan tindakan tersebut.

"Terima kasih, Dokter..." ucap Bi Minah sopan sambil membungkuk kecil sebelum menyusul langkah cepat Kalea yang berjalan pincang keluar menembus pintu.

Raditya Evan Baskara berdiri mematung di tengah ruangan, memandangi kepergian wanita bermata biru itu dengan senyuman misterius yang mengembang lebar di bibirnya. Lesung pipinya yang dalam muncul dengan sangat menawan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!