Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Beruntung
Beberapa saat kemudian, seorang wanita berhanfu hijau muncul dari balik pohon besar dengan langkah ringan. Wajahnya yang menawan dihiasi senyum centil yang mampu menggelitik hati pria mana pun. Rambut panjang hijaunya bergoyang lembut tertiup angin, sementara matanya dipenuhi godaan.
Namun sayangnya, semua itu sama sekali tidak mempan di depan Yan Diming. Ia bukan tipe pria yang mudah tergila-gila pada wanita mana pun.
"Siapa kamu?" tanyanya dingin tanpa sedikit pun melunakkan nada bicara.
"Pangeran tampan~, namaku Duan Mei." Wanita itu tersenyum semakin manis. "Duan adalah margaku dan Mei berarti cantik. Panggil saja Dudu. Aku berasal dari suku ular hijau~." Tatapan matanya begitu centil, bahkan sedikit tampak nymphomaniac.
"...."
Yan Diming langsung terdiam. Mengapa tidak memanggilnya Dume saja daripada Dudu?
Apakah itu masih terdengar seperti nama seseorang?
"Jadi apa hubungannya denganku?" tanyanya malas sambil menyipitkan mata.
"Tampan, apakah kamu membutuhkan bantuanku? Aku bisa melakukan apa saja." Duan Mei mengedipkan mata genit pada pria itu. "Termasuk membodohi Raja Zhi."
"Tidak perlu!" Yan Diming langsung menolak tanpa berpikir panjang. "Bai Muzhi bahkan tidak tertarik pada betina suku rubah. Bagaimana mungkin dia tertarik pada betina dari suku ular hijau? Itu hanya mimpi!"
Duan Mei sama sekali tidak tersinggung. Sebaliknya, ia justru tampak semakin percaya diri. "Tidak mungkin! Aku adalah betina tercantik dari suku ular hijau. Siapa pun yang melihatku pasti akan merasa segar. Termasuk Raja tampan Zhizhi~," katanya centil sambil sengaja memamerkan lekuk tubuhnya.
Entah mengapa, Yan Diming justru merasa sedikit merinding melihat tingkahnya. Ia segera berubah menjadi ular hitam besar dan mendesis dua kali.
"Apa maksudnya merasa segar setelah melihatmu? Apakah darahmu bisa diminum dan rasanya seperti air kelapa muda?" gumamnya, merasa percakapan ini semakin tidak masuk akal.
Ia harus segera meninggalkan tempat ini sebelum wanita aneh itu mengatakan hal yang lebih menyimpang lagi. Namun, bayangan besar tiba-tiba melintas di atas sungai. Embusan angin kencang langsung menerbangkan dedaunan ke segala arah.
Duan Mei yang masih sibuk berpose centil tidak mampu menahan embusan angin itu hingga langsung tersungkur ke tanah.
Sementara itu, insting ular Yan Diming langsung memperingatkannya akan bahaya. Ia mendongak. Namun semuanya sudah terlambat.
Seekor elang gunung raksasa tiba-tiba menukik dari langit dan mencengkeram tubuh ular hitam jelmaannya dengan cakar tajam. Wusshh! Elang itu langsung terbang tinggi membawa mangsanya.
Barulah beberapa detik kemudian Yan Diming menyadari bahwa dirinya benar-benar sedang dibawa terbang. Ia hampir lupa bahwa ular memang merupakan mangsa alami elang.
Di tempat semula, Duan Mei yang baru bangkit sambil membersihkan daun dari rambutnya tertegun karena Yan Diming sudah menghilang.
"Huh? Tampan, di mana kamu?" panggilnya bingung sambil melihat ke sekitar. Kemudian ia mendongak ke langit dan melihat bayangan elang yang terbang semakin jauh.
"Jangan-jangan si tampan dimakan elang? Sayang sekali~," gumamnya, benar-benar tidak menyangka hal itu akan terjadi.
......................
Sementara itu, Yan Diming masih tergantung di cakar seekor elang gunung raksasa. Kebetulan, elang itu terbang ke arah selatan—arah yang justru mempercepat perjalanannya kembali ke wilayahnya.
"Dasar burung! Cepat lepaskan aku!" Yan Diming berteriak marah sambil meronta. "Apa kamu ingin merasakan betapa mengerikannya racunku?!"
Elang gunung raksasa itu tampaknya mendengar suara Yan Diming dan sedikit menoleh ke bawah. "Eh?" Suara beratnya terdengar polos. "Jadi kamu manusia setengah binatang?"
Yan Diming mendengus kesal. "Benar! Jadi cepat turunkan aku!"
"Ah ... sayang sekali."
"Apa maksudmu dengan sayang sekali?" tanya Yan Diming ketus.
Elang gunung spiritual yang baru membangkitkan kecerdasannya itu ternyata belum benar-benar memahami perbedaan antara manusia setengah binatang dan binatang biasa.
"Oh, soal itu, aku benar-benar minta maaf." Nada bicara elang itu terdengar tulus. "Aku benar-benar tidak tahu kalau kamu manusia setengah binatang. Kalau begitu, aku akan menurunkanmu sekarang."
Mata ular Yan Diming langsung melebar. Firasat buruk seketika memenuhi benaknya. "Tu-tunggu! Tunggu dulu—!"
Sayangnya, elang gunung raksasa itu tidak berpikir panjang. Ia langsung melonggarkan cakarnya hingga tubuh ular hitam besar jelmaan Yan Diming jatuh bebas dari langit.
Seekor ular tentu tidak memiliki sayap. Tubuh panjangnya meluncur menembus udara sebelum akhirnya terdampar di wilayah Lembah Gelap miliknya sendiri.
Yan Diming menabrak pepohonan gundul dan tersangkut di cabang besar dalam posisi menyedihkan. Beberapa ranting patah akibat benturan tubuh besarnya. Sesaat kemudian, ia langsung menyemburkan bisa ular sambil menatap langit dengan penuh amarah.
"Burung sialan! Lain kali kalau kita bertemu lagi, aku pasti akan menelanmu bulat-bulat!" desisnya penuh dendam.
Seolah menjawab ancamannya, pekikan elang gunung terdengar menggema dari kejauhan. Suara itu semakin menjauh menuju pegunungan di seberang lautan.
"...."
Yan Diming terdiam sejenak sambil masih tergantung di cabang pohon. Apakah burung jelek itu baru saja mengejeknya?
Yan Diming benar-benar tidak tahu harus melampiaskan kemarahannya kepada siapa. Setelah susah payah turun dari pohon, ia kembali berubah menjadi manusia. Jubah hitamnya sedikit robek karena tersangkut ranting, rambut panjangnya pun berantakan. Suasana hatinya lebih buruk daripada sebelumnya.
Sesampainya di rumah besar yang gelap dan suram, Yan Diming langsung menuju ruang dalam. Setelah menenangkan diri dan membersihkan tubuhnya, barulah ia kembali ke aula utama. Di sana, Xu Aoshan rupanya telah menunggu cukup lama.
"Tuan Yan, apakah kamu baru saja pergi bertarung?"
Xu Aoshan tampak terkejut melihat Yan Diming. Wajah pria ular itu lebih pucat dari biasanya, sementara beberapa memar samar terlihat di leher dan dadanya yang terbuka.
"Tidak." Yan Diming menjawab asal sambil duduk malas di kursi utama. "Hanya sedang sial di perjalanan."
"...."
Xu Aoshan tidak tahu, jalan seperti apa yang bisa membuat seseorang babak belur seperti itu.
"Mengapa kamu datang?" tanya Yan Diming malas.
"Seorang penjaga rahasia dari istana datang menemuiku dan memberiku surat." Xu Aoshan segera mengeluarkan gulungan surat dari balik lengan bajunya. "Mereka memintaku menyerahkannya padamu."
"Surat?"
Xu Aoshan menyerahkan gulungan surat itu. "Tampaknya terjadi sesuatu di istana hingga surat ini dikirim terburu-buru. Aku khawatir ini bukan pertanda baik bagi rencana kita."
Yan Diming mengambil surat itu lalu membacanya tanpa menghindari Xu Aoshan. Lagi pula, mereka telah berada di pihak yang sama selama ratusan tahun. Semakin lama membaca isinya, ekspresinya semakin suram.
"Putra Mahkota Jin akhir-akhir ini mulai mencurigai pergerakan aneh di Istana Kekaisaran. Bahkan Kaisar Jin juga mulai curiga." Yan Diming menyipitkan mata ularnya. "Sepertinya rencana orang itu untuk menggulingkan Putra Mahkota Jin tidak akan berjalan mudah."
Xu Aoshan juga tampak tidak senang. "Sudah ratusan tahun, mengapa Putra Mahkota Jin baru mulai bergerak sekarang?"
"Siapa yang tahu isi pikiran naga itu. Apakah Putra Mahkota Jin meninggalkan istana akhir-akhir ini?"
Xu Aoshan menggeleng. "Tidak. Itulah sebabnya sulit membunuhnya di luar istana. Lagi pula, dia keturunan naga emas yang diberkati langit. Mana mungkin semudah itu dibunuh?"
Sorot mata Yan Diming dipenuhi ejekan saat mendengar jawaban itu. Ia memejamkan mata sejenak. "Kamu boleh pergi sekarang. Aku ingin hibernasi selama beberapa waktu. Jangan datang lagi kecuali ada urusan mendesak."
Xu Aoshan mengangguk kecil. Ia memang tidak bisa berlama-lama di tempat ini, jadi segera pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari kemudian di Istana Shing, meski masih mengingat serangan Yan Diming, kewaspadaan Li Yunru mulai menurun. Hari ini ia bersiap pergi ke hutan yang lebih dalam. Berbekal peta kasar buatan Bai Muzhi, ia merasa jauh lebih percaya diri dan yakin tidak akan tersesat lagi.
Li Yunru menoleh ke arah Bai Muzhi yang berdiri di ambang pintu sambil memperhatikannya. "Kamu tidak ikut denganku?"
Bai Muzhi menjawab dengan ekspresi tetap datar. "Aku akan menyusul setelah urusanku selesai. Ingat, jangan tersesat."
Diam-diam, ia telah menempatkan penjaga rahasia di sekitar istana dan hutan terdekat agar kejadian seperti kemunculan Yan Diming tidak terulang. Dengan begitu, keselamatan Li Yunru lebih terjamin. Selama tidak ada bahaya yang mengancam nyawa, para penjaga tidak akan menampakkan diri.
Li Yunru tiba-tiba memeluk Bai Muzhi dengan erat. Tubuh pria naga putih itu langsung menegang. "Aku akan pergi berpetualang mencari lobak dan daging. Beri aku ciuman perpisahan~," katanya centil sambil memonyongkan bibir hendak menciumnya.
Melihat wajah Li Yunru semakin dekat, Bai Muzhi langsung merasa sedikit mati rasa di kepalanya. Ia buru-buru menutupi wajah gadis itu dengan telapak tangannya yang besar. Ekspresinya bahkan tampak sedikit jijik.
"Raja ini tidak akan menciummu. Jangan bermimpi."
Namun setelah mengatakannya, ujung telinganya justru memerah samar. Entah mengapa, ucapan Li Yunru terdengar seolah dirinya adalah seorang istri kecil yang harus dibesarkan dengan lobak dan daging.
Sebagai raja wilayah Baiyun, apakah dia masih harus dibesarkan oleh seorang wanita?
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂