NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Janda / Selingkuh
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 30. Bersinar

Wulan berdiri di depan cermin. Pagi ini ia nampak berpenampilan beda. Jika sehari-hari ia mengenakan daster rumahan yang sederhana, kali ini ia memakai rok span warna hitam selutut dengan atasan blouse warna navy. Rambut hitamnya ia kucir kuda yang semakin menegaskan aura manis di wajahnya. Tak lupa make-up tipis ia aplikasikan di wajah sehingga menimbulkan kesan flawless dan segar.

"Tuhan... Tolong bantu aku. Semoga langkahku ini selalu ringan."

Wulan merapalkan doa-doa dalam hati. Ia menghampiri Bagas yang masih berguling-guling di atas tempat tidur. Wanita itu tergelak pelan melihat perkembangan Bagas yang semakin hari semakin pintar saja. Bayi mungil yang sebelumnya hanya bisa terlentang, kini sudah bisa tengkurap dan mengangkat kepalanya. Ia raih tubuh Bagas dan ia ciumi pipinya.

"Ibu tinggal sebentar ya Sayang. Kamu sama nenek Rahmi dan kakek Sastro dulu ya. Doakan Ibu, semoga presentasi Ibu berjalan lancar."

Bayi mungil itu merespon ucapan Wulan dengan gelak tawa seakan paham dengan apa yang diucapkan oleh sang ibu. Gelak tawa yang terdengar begitu menggemaskan. Berkali-kali Wulan menghujani Bagas dengan ciuman gemasnya.

Sembari menggendong Bagas, Wulan mengambil sebuah map plastik yang berada di atas meja. Map yang berisikan beberapa desain home wear yang ia kerjakan di dua malam ini. Selain itu ia juga mengambil sebuah tas yang berisikan semua keperluan Bagas, mulai dari baju, celana, diapers, dot, dan beberapa kantong berisikan ASI. Setelahnya ia melangkah keluar di mana sudah ada Rahmi yang menunggu di teras.

"Sudah mau berangkat Lan?" tanya Rahmi. Tangan wanita paruh baya itu terulur, meraih tubuh Bagas untuk ia bawa ke dalam gendongan.

"Masih nunggu mas Langit Bu," jawabnya. "Bu, di dalam tas ini sudah ada semua keperluan Bagas ya. Nanti jika Bagas haus, ASI yang ada di dalam coller bag ini bisa dihangatkan."

"Iya Lan. Pokoknya kamu harus semangat. Semoga desain yang kamu buat disetujui oleh para direksi."

"Aamiin Bu. Terima kasih untuk doa-doa baiknya."

"Sama-sama."

Tak berselang lama, mobil Langit tiba di depan rumah Wulan. Lelaki itu turun dari mobil dan menghampiri Wulan juga Rahmi. Lelaki itu juga tidak lupa menyalami Rahmi sebagai rasanya hormatnya.

"Sudah mau berangkat mas Langit?" tanya Rahmi sedikit berbasa-basi.

"Iya Bu. Semakin pagi semakin baik karena biasanya kalau siang sedikit di jalan dekat pasar itu padat sekali."

"Iya lah lebih baik memang kalian segera berangkat."

Langit menatap bayi mungil yang ada di gendongan Rahmi. Hati Langit seakan terasa begitu hangat ditatap lekat oleh anak Wulan ini.

"Hai anak ganteng, doakan ibu agar semua lancar ya. Semoga hari ini menjadi rezeki untuk Bagas dan ibu."

Dengan penuh sayang, Langit mengusap kepala Bagas. Bahkan bayi itu memberikan satu respon yang cukup baik kepada Langit. Biasanya seorang bayi akan menangis jika bertemu dengan orang asing. Namun Bagas justru terlihat sangat gembira. Bahkan bayi mungil itu malah mengeluarkan suara yang seakan merespon ucapan Langit.

"Besok Om gendong ya. Sekarang, Om izin mengajak Ibu terlebih dahulu untuk menjemput rezeki. Doakan selalu ya nak ganteng."

Lagi, bayi mungil itu tergelak dengan tangan dan kaki yang digerak-gerakkan seakan paham dengan ucapan Langit. Pemandangan antara Langit dan Bagas itu tak luput dari perhatian Wulan. Tiba-tiba saja dada Wulan terasa begitu sesak. Ingatannya langsung tertuju pada masa yang telah lalu. Jika orang lain saja bisa sesayang ini kepada Bagas, mengapa bapak kandung Bagas sendiri tidak pernah bisa menunjukkan kasih sayang itu.

"Kalau begitu ayo berangkat Lan!" ajak Langit.

Wulan tersenyum seraya menganggukkan kepala. "Ayo Mas."

"Bu Rahmi, kami pamit ya."

"Silakan Mas Langit. Semoga semua lancar ya."

"Aamiin."

***

"Demikian presentasi dari saya, Bapak, Ibu... Jika ada pertanyaan mengenai desain home wear yang saya buat bisa langsung ditanyakan saja."

Meski jantungnya berdegup kencang, namun Wulan mencoba untuk totalitas dalam presentasi di hadapan jajaran para direksi. Wanita itu berdiri di hadapan orang-orang penting pemegang saham perusahaan garmen ini yang mana ini merupakan pengalaman pertama baginya. Sedari tadi Wulan meremas-remas telapak tangannya untuk membuang segala rasa gugupnya.

Semua yang hadir di ruang meeting nampak saling berbisik satu sama lain. Sesekali mereka sama-sama saling menganggukkan kepala. Hingga seorang laki-laki berpostur sedikit tambun berdehem dan membuat semua mata tertuju padanya.

"Mbak Wulan, bisa Anda jelaskan mengapa Anda memilih kain dengan motif batik pada desain ini?"

"Saya memilih kain dengan motif batik agar di dalam pakaian yang saya rancang tetap memiliki nilai-nilai budaya luhur yang ada di negeri kita Pak. Jika pakaian yang saya rancang ini bisa tembus hingga pasar internasional bukankah ini keuntungan bagi kita karena secara tidak langsung kita memperkenalkan budaya kita ke kancah internasional?"

"Apa motif ini tidak terlalu ketinggalan zaman mengingat saat ini merupakan era gen-Z di mana mereka lebih menyukai motif kekinian?" tanya lelaki itu pula.

"Justru menurut saya motif batik adalah salah satu motif timeless Pak. Di mana motif itu tidak akan pernah lekang oleh waktu dan bisa membersamai di generasi manapun."

"Seberapa yakin Anda dengan desain ini?"

"Jika saya menjawab seratus persen, saya khwatir hanya akan menjadi janji-janji manis. Maka saya hanya bisa menjawab, saya optimis jika desain ini akan diterima di semua kalangan masyarakat."

Lelaki itu menganggukkan kepala seakan mengerti dengan semua yang dijelaskan oleh Wulan.

"Baiklah kalau begitu. Saya mewakili semua jajaran direksi membuat keputusan, kami menyetujui semua desain pakaian yang Anda rancang. Minggu depan desain pakaian yang Anda rancang akan mulai masuk produksi."

Kedua bola mata Wulan terbelalak sempurna, bibirnya menganga lebar. Apa yang diucapkan salah seorang dewan direksi itu sungguh membuatnya syok. Bukan syok karena mendapatkan kabar buruk melaikan syok karena mendapatkan satu kabar bahagia.

Wulan menghampiri semua orang yang ada di ruangan ini. Ia menyalami satu persatu mereka sembari mengucapkan rasa terima kasihnya. Hingga tiba saatnya ia menyalami Langit.

"Terima kasih banyak Mas. Mas Langit sudah membukakan jalan untukku."

Langit memandang teduh wajah Wulan. Senyum manis pun terbit di bibirnya.

"Aku bangga padamu Lan. Aku yakin setelah ini nama Wulan Purnama Sari akan semakin bersinar di antara nama-nama designer ternama."

"Terimakasih banyak Mas, terimakasih."

***

Wulan keluar dari toilet dengan perasaan lega. Akhirnya presentasi hari ini berjalan lancar dengan hasil seperti yang ia impikan. Semua desain pakaian disetujui dan beberapa saat yang lalu MOU juga sudah ditandatangani. Mulai hari ini ia bisa sedikit lebih santai sembari terus meng-upgrade kemampuan yang ia miliki. Langkah kaki wanita itu jauh terasa lebih ringan. Setidaknya ia sudah memiliki penghasilan setiap bulan untuk biaya hidup bersama sang putra.

"Wulan?"

Wulan menoleh ke arah sumber suara. Ia mendengus kesal karena lagi-lagi bertemu dengan Awan dan juga Mega. Ia kira setelah berpisah dengan Awan, ia tidak pernah lagi bertemu dengan sang mantan. Namun sepertinya takdir sedang mempermainkannya yang membuatnya sering bertemu dengan Awan.

"Kamu ngapain di sini Lan?" tanya Awan penasaran. "Dan ini kenapa kamu memakai pakaian layaknya pekerja kantoran begini?" sambungnya pula.

"Memang kenapa sih kalau aku memakai pakaian kantoran seperti ini?" tanya Wulan jengah. "Memang apa yang aku pakai ini mengurangi jatah beras kalian? Kok kalian yang terlihat panas dingin?"

"Ya tidak pantas saja pakaian itu kamu kenakan. Kamu kan bukan siapa-siapa di tempat ini," timpal Mega.

Wulan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat dua orang yang sangat jumawa seperti mereka ini. Ingin rasanya ia segera memamerkan apa yang sudah berhasil ia capai beberapa saat yang lalu di ruang meeting, namun ia urungkan niatnya itu.

"Loh pak Awan, bu Mega, Anda semua ada di sini?"

Kehadiran Langit yang tiba-tiba membuat Awan dan Mega menghentikan niatnya untuk mengolok-olok Wulan. Mereka sedikit keki ketika melihat Langit datang menghampiri.

"Begini pak Langit, saya sengaja datang kemari untuk memberikan undangan pesta pertunangan saya dengan Mega," ucap Awan seraya mengulurkan undangan ke arah Langit.

"Oh, kapan acaranya Pak?"

"Nanti malam Pak. Saya harap Pak Langit bisa datang."

Langit hanya tersenyum simpul. "Saya usahakan ya Pak."

"Oh iya, Wulan mengapa bisa ada di sini Pak?" tanya Awan penasaran. "Apakah ia menjadi buruh pabrik di sini? Tapi jika hanya buruh pabrik kenapa pakaian Wulan ini seperti wanita karir?"

"Anda mengenal Wulan juga Pak?" tanya Langit.

"Hanya sekedar kenal saja sih Pak," dusta Awan.

"Oh seperti itu?" ujar Langit ber-oh ria. "Wulan memang bekerja di sini Pak. Tapi dia bukan menjadi karyawan pabrik."

"Lantas menjadi apa Pak? Office girl?" sela Mega.

Langit menggelengkan kepala. "Bukan juga Bu. Wulan merupakan salah satu desainer di perusahaan yang saya miliki ini. Baru saja Wulan selesai presentasi di depan para direksi dan semua desain yang ia buat di acc."

"Apa? Desainer?!!" pekik Awan dan Mega bersamaan dengan mata melotot yang hampir saja copot dari kelopaknya.

Wulan hanya tergelak pelan melihat ekspresi yang ditampakkan oleh dua orang ini. Ia sungguh puas karena secara tidak langsung ia bisa memamerkan pencapaiannya.

"Karena kesombongan harus dilawan dengan kesombongan pula," monolog Wulan di dalam hati.

.

 .

.

1
Laviolla
selamat membaca semua😍
sunaryati jarum
Ibumu sudah dapat karma, dan alasan meninggalkan kamu demi kesembuhan kakekmu,itu merupakan pengorbanan juga.Termasuk mengorbankan kamu yang harus diasuh nenekmu
falea sezi
lanjutt karma buat dewa mantep misahin. anak dari ibu-nya😒
sunaryati jarum
Semoga Langit bukan putra Bu Arimbi,jadi bisa menikah dengan Wulan
Laviolla
selamat membaca semua😍😍
Ayunda
ada gitu laki model kek gtu misahin anak SM ibunya
Lee Mba Young
gendeng berarti dewa, laki bejad. mau ibuk e gk mau anak. e. semoga dpt karma.
Laviolla
selamat membaca semua😍😍
Ayunda
ya kan Arimbi ibunya Wulan,nah langit sodaraan dong SM wulan
Laviolla: hayoo saudaraan enggak🤣🤣🤣
total 1 replies
sunaryati jarum
Kok Wulan dibilang anak ibunya Langit
Laviolla: tunggu episode selanjutnya ya kak😂
total 1 replies
Laviolla
selamat membaca semua... kita ke flashback dulu ya... untuk memecahkan teka-teki perihal siapa Wulan, Inah, Arimbi dan Langit... 😂😂
sunaryati jarum: Semoga Langit bukan putra kandung Bu Arumi,jadi bisa menikahi Wulan
total 1 replies
Laviolla
selamat membaca semua😍
Hanindia
tuh kan terpesona.. nyesel kan lu wan??
Hanindia
awan siap2 terpesona lg sama wulan🤣🤣
Hanindia
badasss... wulan ternyata s3makin bersinar😍😍😍
Hanindia
awan.. lu bakalan syok liat penampilan baru wulan
sunaryati jarum
Ada orang semacam itu Ambar cuma sebagai penopang hidupnya,Ambar nanti segera blokir kartu kredit kamu jika ketahuan hilang,biar Reza tahu rasa
falea sezi
lanjut banyak🤭
Laviolla
selamat membaca semua
sunaryati jarum
Untuk apa pernikahan mewah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!