NovelToon NovelToon
Bayi Mungil Kesayangan Keluarga Petani

Bayi Mungil Kesayangan Keluarga Petani

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Salsabila mbil

Di desa xixiang, seluruh penduduk tahu bahwa keluarga Zhao baru saja memungut seorang gadis kecil. Gadis itu berusia tiga tahun, berkulit putih dan bertubuh montok menggemaskan. semua orang berkata bahwa anak perempuan hanyalah beban merugikan. namun keluarga Zhao justru memperlakukan nya bagai permata berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila mbil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Sifat suka bermain A Bao memang sangat besar, maklum saja, ini adalah pertama kalinya ia bersentuhan dengan yang namanya masyarakat manusia.

Saat Laidi membawa A Bao sampai di tepi jembatan, ia menunjuk ke bawah jembatan dan berkata, "Adik A Bao, di bawah sana ada banyak lumpur ajaib, ayo kita turun dan menggali lumpur."

Satu kaki pendek A Bao sudah melangkah maju, namun saat Mata besarnya melihat kaki Laidi sama sekali tidak bergerak, ia tiba-tiba teringat pesan ibunya. Jadi, ia menarik kembali kakinya.

"Adik A Bao, kenapa... Tidak jadi turun?" tanya Laidi heran.

A Bao mengerutkan alis kecilnya, suaranya terdengar manja seperti bayi, "kakak Laidi, badanku kecil, aku takut. Bisakah... Bisakah kakak turun dan mengambilkan lumpur itu untuk ku?"

Melihat A Bao tidak mau turun dan malah menyuruh nya turun, Laidi menengok ke sekeliling. Setelah memastikan tidak ada orang yang lewat, ia merasa kesal. Dengan kasar, ia mengulurkan tangan dan mendorong A Bao sekuat tenaga ke arah bawah jembatan sambil menggerutu, "Dasar anak sialan, posisi ibuku tidak boleh digantikan siapa pun. Ini semua salah ibumu yang menggoda ayahku. "

Rupanya, gosip jahat yang di sebarkan nyonya Jiang dan kawan-kawannya tentang kepala desa jiao dan Wang chunniang sudah sampai ke telinga Laidi.

Mungkin karena takut perbuatan jahatnya diketahui orang, setelah mendorong A Bao ke bawah, Laidi langsung lari menghilang tanpa jejak.

Tepat di saat tubuh A Bao hendak jatuh,sosok Zhao Xuan melesat terbang dan menangkap A Bao dengan mantap, lalu mendarat di bawah jembatan.

A Bao jelas sangat terkejut. Ia terus menerus menepuk dada kecilnya sendiri, menatap Zhao Xuan dengan wajah yang masih menyisakan ketakutan.

" Masih berani sembarangan ikut orang lain lagi? " tanya Zhao Xuan sambil menatap A Bao dan mencubit pipinya.

Mendengar itu, A Bao langsung menggelengkan kepala kecilnya kuat-kuat seperti mainan drum.

Namun, matanya masih saja berputar penasaran kesana kemari, jelas sedang mencari lumpur yang diceritakan Laidi tadi.

"Kakak, aku mau main lumpur," bisik A Bao sambil menggoyangkan tubuh mungilnya setelah ketahuan oleh Zhao Xuan.

Zhao Xuan sebenarnya tahu soal lumpur itu. Di bawah kolong jembatan ini memang ada sejenis tanah liat. Ia pun menggendong A Bao di punggungnya, mencari lokasi yang pas dan bersiap menggali segumpal tanah liat.

A Bao menendang-nendang kan kaki pendeknya dengan gembira.

Tepat ketika kakak beradik itu selesai mengambil tanah dan bersiap melompat naik, sudut mata Zhao Xuan menangkap sesuatu. Berpegang pada prinsip "lebih baik menghindari masalah," ia baru saja hendak membawa A Bao pergi, tapi siapa sangka, A Bao juga melihatnya. "kakak, disebelah sana Sepertinya ada orang."

"sepertinya ada seorang kakak kecil." A Bao mengulurkan lengan gemuknya, terus menunjuk ke arah kolong jembatan.

A Bao memang sudah dikelabui. Akhirnya Zhao Xuan menggendong A Bao berjalan kembali ke arah jembatan. Benar saja, ada orang disana. Satu dewasa dan satu anak kecil, pakaian mereka compang camping, sepertinya sepasang ibu dan anak. Anak laki-laki itu kelihatannya tidak jauh lebih tua dari A Bao. Keduanya tidur sambil berpelukan.

A Bao memberi isyarat" sstttt" dengan telunjuk di bibir pada Zhao Xuan.

Zhao Xuan mengangguk dan berbisik pada A Bao, "sepertinya mereka pengemis."

"Kakak, pengemis itu apa?" tanya A Bao penasaran.

Zhao Xuan berfikir sejenak, lalu menjelaskan, "mungkin karena bencana alam atau musibah, mereka menjadi gelandangan yang meminta-minta makanan."

Mendengar kata makanan, A Bao langsung merogoh sakunya lagi. Ia mengeluarkan semua cemilan yang ada disakunya dan meletakkannya di depan ibu dan anak itu.

Melihat A Bao terus menatapnya lekat-lekat setelah meletakkan cemilan, Zhao Xuan meraba sakunya dan meletakkan beberapa keping uang tembaga disana juga.

"Kakak yang baik!" A Bao terkekeh senang.

Zhao Xuan hanya bisa menggeleng sambil tersenyum tak berdaya, lalu menggendong A Bao terbang kembali ke atas jembatan.

Begitu kakak beradik itu pergi, anak laki-laki yang meringkuk di samping ibunya di bawah jembatan itu membuka matanya....

***

Dalam perjalanan pulang, Zhao Heng memegang tongkat untuk meraba jalan sambil berkata dengan nada yang hampir galak,"sudah ingat pelajarannya? Jika ada sesuatu yang tidak wajar,pasti ada niat jahat dibaliknya."

A Bao mendengarnya dengan bingung,"apa maksudnya? Siluman apa?"

Zhao Heng kehabisan kata-kata," seperti ayam berbicara dengan bebek (tidak nyambung).

" Kenapa ayam bicara dengan bebek? Bukannya ayah itu keledai?"alis kecil A Bao semakin berkerut. Kenapa orang dewasa bicaranya aneh sekali?

Zhao Heng:"......"

Kamu tidak kenal Laidi,tapi Laidi tiba-tiba sangat ramah padamu dan mau membawamu ke tempat asing. Dalam situs seperti itu,kamu harusnya waspada,bukan malah ikut dengannya." jelas Zhao Xuan dengan sabar saat melihat ayahnya diam saja. Ia masih menggendong A Bao di punggungnya.

" Tapi aku sudah bilang sama kakak,aku bilang aku mau main keluar." kata A Bao sambil memanyunkan bibir.

" Kakak tahu,tapi A Bao,selain bilang pada kami,kamu sendiri juga harus belajar membedakan niat orang,"lanjut Zhao Xuan."tatapan Mata Laidi tadi terus bergerak gelisah,kamu harus punya kemampuan untuk menilainya."

A Bao jadi lesu,kuncir rambutnya ikut terkulai sedih," tapi aku kan masih bayi kecil."

" Kamu memang kecil,tapi bukan berarti tidak punya otak."sela Zhao Heng lagi.

A Bao kesal dan langsung menerjang ke punggung Zhao Heng. Sekeluarga itu pun pulang dengan penuh canda tawa.

Sup ayam sisa tadi siang masih ada sisa sedikit. Sayur liar yang digali tadi pagi juga masih ada. Wang chunniang memilah-milah sayuran itu, merebusnya sebentar dengan air panas,lalu menyuwir daging ayam menjadi potongan kecil dan mencampurnya dengan minyak panas.

A Bao menunggu dengan tidak sabar di samping tungku. Ia berputar-putar disekitar Wang chunniang seperti ekor kecil.

Terdengar keributan di jalanan luar. A Bao berlari keluar dapur karena penasaran,namun aroma masakan segera menariknya kembali ke dalam.

Wang chunniang menyuwirkan sedikit daging paha ayam untuk A Bao. Ia juga mendengar keributan di luar dan bertanya dengan heran,"kenapa diluar ribut sekali? Apa ada acara di desa?"

Menurut Wang chunniang,sejak keluarga mereka pindah ke desa xixiang,ini pertama kalinya ia mendengar keributan sebesar ini di jalanan. Sepertinya...seluruh penduduk desa keluar rumah.

"xuan'er,ada apa?" tanya Wang chunniang kepada Zhao Xuan.

A Bao juga berpegangan pada kusen pintu,menatap Zhao Xuan dengan penasaran.

Untuk pertama kalinya, jawaban Zhao Xuan tidak tegas. Ia tampak ragu-ragu ingin bicara,namun akhirnya berkata pada Wang chunniang,"ibu,keluar lah dan lihat sendiri."

Wang chunniang mengelap tangannya,lalu mengajak A Bao dan Zhao Xuan keluar halaman.

Dan saat itulah,A Bao melihat pemandangan yang paling tak terlupakan dalam hidupnya.

Dibawah sinar matahari senja,kakak kecil yang seumuran dengannya itu berjalan selangkah demi selangkah sambil berlutut dan bersujud. Dahinya sudah berdarah karena terus dibenturkan ke tanah. Suaranya serak dan menyayat hati."Tolong....tolong kalian selamatkan ibuku."

Seorang wanita terbaring tak jauh dari sana. Bibirnya sudah memutih pucat..tampak seperti sudah tak ada harapan. Namun anak laki-laki itu seolah tak mengenal lelah,jejak darah dari sudutnya membentuk garis panjang yang berkelok-kelok di jalanan.

Wang chunniang segera merangkul Zhao Xuan yang matanya sudah memerah dan A Bao yang tampak bingung.

Dulu,saat keluarga mereka di jatuhi hukuman, Zhao Xuan yang baru berusia enam tahun juga pernah berlutut dan bersujud di depan gerbang istana sampai dahinya pecah seperti itu.

"Xuan'er,ayo kita tolong orang itu."

1
lin sya
aku suka karakter a bao peka trhdp tanaman dan tanah yg subur atau tdk, dan brsyukur a bao berada dkt kluarga angkat yg tulus, msih penasaran identitas a bao, 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!