NovelToon NovelToon
Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ArdaKings

Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.

Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Batas Kesabaran

Tangan Arda menggenggam batang besi itu. Logam yang seharusnya keras dan kokoh itu mulai melengkung perlahan di bawah tekanan jari-jarinya, mengeluarkan suara decitan yang membuat bulu kuduk si pemegangnya meremang.

Wajah penyerang itu berubah pucat. Dia menarik tongkatnya sekuat tenaga, tapi tidak bergeser sedikit pun, seolah ujung besi itu tertanam di batu yang kokoh.

“Kamu… apa ini?” suaranya bergetar.

Arda tidak menjawab. Dia hanya menekan sedikit lebih kuat. Bunyi krek terdengar jelas, dan tongkat besi itu bengkok menjadi huruf U di tengah genggamannya. Dengan gerakan santai seolah membuang sampah, dia mendorong ujung besi itu ke arah dada orang itu.

Dampaknya tidak keras, tapi cukup membuat udara di paru-parunya tertekan seketika. Pria itu terlempar mundur beberapa langkah, jatuh terguling di lantai dan tidak bisa bangun lagi, hanya bisa terbatuk-batuk sambil memegang dadanya.

Semua orang di ruangan itu berhenti bergerak seketika. Suara benturan senjata lenyap, digantikan oleh napas yang terengah-engah dan tatapan tak percaya. Bahkan Kael dan kawan-kawannya pun menatap Arda dengan pandangan terkejut — mereka sudah tahu dia kuat, tapi belum pernah melihat dia menekuk besi hanya dengan satu tangan dan tenaga yang terlihat begitu santai.

Pemimpin penyerang itu, seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka melintang di pipinya, mengangkat obornya lebih tinggi untuk menerangi sosok Arda sepenuhnya. Matanya menyipit, mencoba menilai apa yang baru saja dia lihat.

“Jadi kamu Arda,” ucapnya dengan suara berat, berusaha menutupi rasa was-wasnya. “Kabar mengatakan kamu hanya pemalas yang tidur seharian. Ternyata kabar itu sengaja dibuat agar orang meremehkanmu.”

Arda melepaskan genggamannya, membiarkan besi yang bengkok itu jatuh ke lantai dengan bunyi dug yang berat. Dia mengusap telapak tangannya ke celana lusuhnya, seolah baru saja memegang benda kotor.

“Aku memang pemalas,” jawabnya datar. “Tapi itu bukan alasan untuk menginjak tempat tidurku, memecahkan pintuku, dan membangunkan aku di tengah malam. Kalau kalian datang hanya untuk mati, seharusnya cari tempat lain yang lebih nyaman.”

Pria bertanda luka itu mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada anak buahnya yang masih berdiri kaku. “Jangan terpengaruh triknya! Satu orang saja tidak akan bisa melawan kita semua! Tangkap dia hidup-hidup!”

Empat orang di sebelahnya langsung melompat maju, mengayunkan senjata mereka bersamaan — dua ke arah kaki, dua ke arah tubuh. Gerakan mereka terkoordinasi, sudah terlatih untuk menekan lawan dari segala sisi sekaligus.

Arda tidak mundur. Dia melangkah maju selangkah, tubuhnya sedikit condong ke depan. Saat ujung senjata mereka hampir menyentuh pakaiannya, dia bergerak.

Gerakannya tidak terlihat cepat, tapi matanya sulit mengikuti arahnya. Dia menepis gagang satu senjata, memutarnya sedikit sehingga menghantam pergelangan tangan pemiliknya, lalu menendang dengan ujung kaki tepat di bagian betis yang lembut. Satu orang jatuh terjerembab sebelum sempat sadar.

Dengan gerakan yang sama mengalir, dia menangkis serangan berikutnya dengan siku, lalu memutar tubuhnya sedikit sehingga hantaman ketiga meleset dan malah membuat penyerang itu kehilangan keseimbangan. Sebelum yang keempat bisa mengayun lagi, telapak tangan Arda sudah menempel di bahunya — tidak memukul, tapi hanya menekan dengan tekanan yang pas, cukup membuat seluruh otot lengan itu terasa kaku dan tidak bisa digerakkan.

Dalam hitungan detik, keempat orang itu sudah terbaring atau duduk terkulai, tidak mampu melanjutkan serangan. Tidak ada luka parah, tidak ada darah yang mengalir, tapi mereka semua merasa seluruh tenaga tubuhnya hilang begitu saja.

Pemimpin itu melangkah mundur selangkah, matanya melebar. Dia baru menyadari satu hal: Arda tidak berusaha membunuh mereka. Dia hanya melumpuhkan seperlunya, seolah sedang mengusir kucing yang masuk ke halaman rumah.

“Kalian masih punya kesempatan,” kata Arda, suaranya tidak meninggi tapi terasa membebani hati setiap orang yang mendengarnya. “Kembalilah ke orang yang mengutus kalian. Katakan padanya — jangan main-main dengan tempat ini lagi. Kalau aku harus bangun sepenuhnya lain kali, tidak akan ada yang pulang untuk menyampaikan pesan.”

Namun, rasa takut sering kali kalah oleh rasa ingin membuktikan diri. Salah satu penyerang yang masih berdiri di belakang mengangkat busur kecil yang tersembunyi di balik punggungnya, menarik tali dan mengarahkan panah berujung besi tepat ke arah punggung Arda yang sedang membelakanginya.

“Waspada!” teriak Bastian.

Arda tidak menoleh. Dia hanya mengangkat satu tangan ke belakang, tanpa melihat ke mana arah panah itu meluncur. Detik berikutnya, jari-jarinya menjepit batang panah itu tepat di depan punggungnya, seolah menangkap lalat yang terbang lewat.

Dia menoleh perlahan, menatap orang yang menembaknya dengan tatapan yang akhirnya berubah sedikit — tidak lagi datar, tapi terasa dingin seperti es di puncak gunung.

“Kalian tidak mengerti arti peringatan, ya?”

Sebelum dia bisa melangkah lebih dekat, suara keras memecah suasana dari luar.

“Cukup!”

Seorang pria melangkah masuk dari celah pintu yang rusak. Pakaiannya lebih rapi, kainnya lebih tebal, dan lambang Elang Darah yang dia kenakan terbuat dari benang emas, bukan kain biasa. Wajahnya tenang, tapi matanya menyapu seluruh ruangan dengan pandangan yang tajam menghitung kerugian dan kekuatan.

Dia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua anak buahnya segera mundur.

“Kita salah menilai situasi malam ini,” katanya, suaranya tenang dan terukur. “Kembali sekarang.”

Pemimpin penyerang itu menatapnya tidak percaya. “Tuan Vorn, tapi kita bisa—”

“Aku bilang kembali!” potongnya tegas.

Tanpa menunggu jawaban lagi, dia menoleh ke arah Arda, lalu sekilas ke arah Kael dan yang lain.

“Ini hanya pertemuan awal saja,” ucapnya, suaranya terdengar jelas meski tidak keras. “Kalian mungkin bisa menahan serangan malam ini, tapi ingat — Elang Darah tidak pernah berhenti sampai tujuannya tercapai. Kita akan bertemu lagi nanti, dalam kondisi yang lebih seimbang.”

Dia berbalik dan melangkah keluar, diikuti oleh anak buahnya yang segera mengangkat kawan-kawannya yang terjatuh dan mundur teratur. Tidak ada lagi teriakan, tidak ada lagi ancaman tambahan — hanya keheningan yang tertinggal setelah mereka menghilang di kegelapan malam.

Suasana di dalam pabrik kembali sunyi, hanya terdengar suara napas mereka yang perlahan mulai teratur kembali. Obor-obor yang ditinggalkan menyala perlahan, menerangi lantai yang berantakan dan pintu belakang yang sudah hancur.

Kael melangkah mendekati Arda, matanya masih penuh tanya. “Kamu menahan diri. Kenapa tidak menghabisi mereka saja?”

Arda melepaskan jepitannya, membiarkan panah itu jatuh ke lantai. Dia mengusap peluh tipis di dahinya, lalu menghela napas panjang seolah baru saja melakukan pekerjaan yang sangat melelahkan.

“Kalau aku menghabisi mereka malam ini, perang terbuka akan pecah besok pagi juga,” jawabnya pelan. “Elang Darah akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membalas, dan kita tidak cukup siap menghadapi skala sebesar itu sekarang. Lebih baik buat mereka bertanya-tanya, meragukan kekuatan mereka sendiri, dan membuang waktu untuk menganalisis apa yang baru saja mereka lihat.”

Dia melangkah kembali ke sudut ruangannya, menendang sisa kayu yang menghalangi jalannya, lalu menjatuhkan diri ke atas tumpukan karung dengan bunyi duh yang lembut.

“Lagipula,” tambahnya sambil menarik selimut menutupi bahunya, “aku benar-benar ingin tidur lagi. Jangan ganggu aku sampai pagi.”

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Niko yang sedang memeriksa sisa barang di sekitar pintu belakang tiba-tiba berhenti. Dia berjongkok, mengangkat selembar kain kecil yang tersangkut di paku kayu yang patah. Di atas kain itu tercetak simbol kecil yang tidak terlihat oleh mata biasa — tanda yang hanya dikenal oleh mereka yang pernah berurusan dengan jaringan gelap.

Dia menoleh ke arah mereka semua, wajahnya berubah menjadi lebih serius.

“Mereka tidak hanya datang untuk menyerang atau menguji kekuatan kita,” katanya perlahan. “Mereka juga memeriksa sesuatu. Dan lihat ini… ini tanda bahwa mereka sudah tahu lokasi persembunyian barang yang mereka cari sebenarnya — bukan hanya kita yang menjadi sasaran.”

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!