Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di belahan kota yang lain, jauh dari intrik perebutan takhta Maheswara Group yang menegangkan, jam dinding di rumah kontrakan sederhana itu menunjukkan tepat pukul tujuh malam.
Kontras dengan kemewahan rumah Sari yang berlantai marmer dan dipenuhi lampu kristal, kehidupan di sini berjalan dalam kesederhanaan yang sunyi namun sarat akan perjuangan.
Arka sudah berdiri di dekat pintu depan. Pria itu tampak gagah dengan jaket jin kusam andalannya yang berfungsi sebagai tameng dari angin malam.
Kunci motor bebeknya sudah berada di genggaman, siap untuk kembali membelah aspal menuju pasar induk yang mulai berdenyut.
Sementara itu, Sari yang baru saja keluar dari kamar tamu harus menekan dalam-dalam ego dan kekesalannya soal insiden "sentilan dahi" sore tadi.
Meski dahinya masih terasa sedikit hangat dan harga dirinya sebagai CEO agak tercoreng akibat penolakan mentah-mentah dari Arka, ia tahu betul sekarang bukan waktunya untuk bermanja-manja atau merajuk.
Kembali ke realita, inilah saatnya bagi Sari untuk menjalankan tugas berat berikutnya yang telah disyaratkan oleh Arka.
"Mbak Sari, sudah siap?" tanya Arka, melirik ke arah tangan Sari yang untungnya sudah dilapisi kasa baru yang bersih dan kering.
"Kita berangkat sekarang."
Sari mengangguk mantap, mengencangkan ikatan jaketnya.
"Sudah. Ayo berangkat."
Malam ini, mereka harus berburu bahan baku kue mulai dari tepung, gula, hingga kelapa langsung di jantung pasar induk demi mengejar harga grosir yang jauh lebih murah dan kesegaran bahan yang tiada tanding.
Bagi Sari, ini adalah babak baru dalam petualangannya—sebuah pelajaran tentang bagaimana setiap butir rupiah diperjuangkan dari dasar terbawah.
Langkah kaki Sari dan Arka membelah hiruk-pikuk malam pasar induk yang kian bising. Bau sayuran segar berpadu dengan uap knalpot pikap yang menderu.
Tepat saat Arka berjalan mendahului beberapa langkah menuju ke toko bahan kue langganannya, takdir seolah sengaja mempertemukan mereka kembali dengan badai.
Di depan sebuah lorong sempit, Sari dan Arka berpapasan dengan Niken. Kali ini, Niken tidak sedang bersama Baron.
Wanita itu justru tampak sedang dikerumuni oleh beberapa kuli panggul dan pedagang kasar akibat masalah internal pasar—tampaknya terkait selisih paham soal setoran ayam potong.
Niken yang semula terdesak, mendadak menangkap siluet Sari yang berjalan di belakang Arka.
Kilat licik seketika melintas di matanya. Alih-alih menyelesaikan urusannya dengan para kuli, Niken justru memanfaatkan momen ini untuk mengalihkan perhatian sekaligus meluapkan dendamnya yang membara sejak subuh tadi.
Niken sengaja melangkah lebar memotong jalur Sari, membuat keributan yang memicu perhatian orang-orang pasar yang haus akan tontonan.
"Oh, lihat! Ini dia perempuan yang sok suci itu!" teriak Niken dengan suara melengking, menunjuk tepat ke wajah Sari.
"Hei, kalian semua harus tahu! Perempuan ini yang jadi wanita simpanan! Dia pengganggu yang merusak rumah tanggaku dulu dengan Arka sampai kami bercerai! Luarnya saja kelihatan anggun, aslinya cuma sampah!"
Tuduhan keji itu seketika membuat beberapa kuli panggul berbisik-bisik, menatap Sari dengan pandangan menghina.
Sari, yang memiliki harga diri setinggi langit sebagai keturunan Maheswara, merasa darahnya mendidih.
Ia tidak pernah membiarkan siapa pun menginjak-injak kehormatannya.
Dengan tatapan mata yang berubah sedingin es, Sari maju satu langkah, mengabaikan luka di tangannya.
"Jaga mulut kotormu," balas Sari dengan nada rendah yang menohok, getaran suaranya begitu berwibawa hingga mampu membungkam bisikan di sekitar mereka.
"Kamu mencoreng wajahmu sendiri dengan mengemis simpati menggunakan kebohongan murah. Berkaca lah, kegagalan rumah tanggamu bukan karena orang lain, melainkan karena tabiatmu yang murahan."
"Kurang ajar!" pekik Niken, wajahnya merah padam.
Ia mengangkat tangannya, hendak melayangkan tamparan fisik ke wajah Sari.
Situasi memanas hingga hampir terjadi kontak fisik yang brutal.
Namun, tepat saat Sari bersiap menghindar dan menjatuhkan mental Niken lebih dalam dengan serangan balasan, sebuah pergerakan tak terduga terjadi.
Grep!
Sebuah lengan kekar menahan pundak Sari, menariknya mundur dengan paksa. Itu Arka.
Namun, bukannya berdiri di depan Sari untuk melindunginya, Arka justru melangkah maju menengahi keduanya, memunggungi Sari, dan menghadap langsung ke arah Niken.
"Cukup, Mbak Sari! Hentikan!" bentak Arka. Suaranya menggelegar, namun bukan ditujukan pada Niken, melainkan pada Sari.
Di depan mata kepala Sari, dan di hadapan kerumunan orang pasar, Arka menahan dirinya dan justru membela mantan istrinya.
"Niken tidak sepenuhnya salah dalam hal ini. Ini urusan masa lalu kami yang belum selesai, dan Mbak tidak berhak mencampurinya atau merendahkannya di tempat umum seperti ini. Tolong, jangan buat keributan lebih besar lagi di pasar saya."
Kata-kata Arka malam itu bagai petir di siang bolong.
Tindakan pria itu menjadi tamparan yang jauh lebih keras dan menyakitkan ketimbang fisik bagi Sari.
Jiwa CEO Sari yang biasanya kokoh kini terluka hebat, menyisakan rasa perih yang teramat dalam di dadanya.
Setelah semua hal yang ia lalui hari ini—menahan perih luka di tangannya, nekat membungkus tangan dengan plastik demi mencuci piring kotor Arka, bahkan secara diam-diam menggerakkan seratus orang untuk melariskan dagangan pria itu—ia justru dibuang dan disalahkan di depan umum demi wanita yang jelas-jelas telah mengkhianati Arka di masa lalu.
Sari mundur selangkah, menatap punggung Arka dengan tatapan tak percaya yang berbaur dengan rasa kecewa yang teramat besar.
Rasa dikhianati itu kini membakar habis sisa-sisa kehangatan yang sempat tercipta di antara mereka sore tadi.
Sari seketika terbungkam. Kata-kata Arka barusan layaknya pisau tak kasat mata yang menghujam telak harga dirinya.
Seluruh pembelaan tajam yang sudah berada di ujung lidahnya menguap begitu saja, berganti dengan rasa sesak yang merayap naik ke tenggorokan.
Sebagai seorang CEO yang terbiasa memegang kendali, ini adalah kali pertama Sari merasa begitu tak berdaya dan diabaikan.
Namun, alih-masing meledak marah atau membuat drama di tengah pasar, Sari memilih menggunakan topeng terbaiknya: dinding es yang dingin tanpa ekspresi.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sari langsung diam.
Ia memundurkan langkahnya, memutuskan tatapan dari Arka, dan berbalik dengan anggun namun kaku.
Dengan sisa-sisa harga diri yang terluka, ia kembali berjalan mengikuti Arka dari belakang, melangkah seperti bayangan yang tak lagi memiliki suara di tengah keriuhan pasar induk.
Sementara itu, di tempatnya berdiri, Niken langsung besar kepala.
Senyum kemenangan yang menjijikkan terukir lebar di bibirnya yang bergincu tebal.
Sorot matanya berbinar-binar penuh kepuasan melihat bagaimana Arka membentak wanita kota itu demi dirinya.
Di dalam benak Niken yang picik, sebuah kesimpulan sepihak langsung terbentuk.
Ia merasa berada di atas angin. Arka membelaku di depan semua orang Dia pasti masih mencintaiku. Ya, dia belum bisa melupakan aku dan pasti mau rujuk denganku setelah ini, batin Niken penuh percaya diri, merasa posisinya kini jauh lebih tinggi daripada Sari.
Niken menatap punggung Arka yang mulai menjauh dengan perasaan jemawa, tanpa menyadari ada badai kesalahpahaman yang jauh lebih besar yang baru saja tercipta di antara Arka dan Sari.
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎