Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi gelap rumah mewah
Setelah memisahkan diri dari rombongan teman-teman sekolah Reza di persimpangan jalan utama, formasi mereka kini menyusut. Arvin berkendara di depan membonceng Lulu menggunakan motor sport-nya, sementara Karin mengendarai motor matic-nya sendiri dengan Reza yang duduk di jok belakang.
Sepanjang sisa perjalanan, Reza yang duduk di belakang tantenya tidak berhenti menggerutu. Angin malam yang dingin seolah menambah kekesalannya.
"Tante, besok-besok jangan ngajak si Lulu ah kalau Tante mau ikut main!" omel Reza.
Karin melirik dari kaca spion, sedikit menaikkan volume suaranya agar terdengar. "Lah, emang kenapa?"
"Nyusahin, Tante! Nyusahin! Tadi dia jajan abis berapa coba pas di pantai?" tanya Reza sewot.
"Dikit, cuma seratus ribu doang," jawab Karin santai.
"Cuma, cuma?!" ucap Reza menggerutu, tidak habis pikir dengan ketenangan tantenya. "Dah ah, pokoknya besok-besok gue gak mau lagi ngajak Tante main!"
"Eh, kok gitu?!" sahut Karin tidak terima sambil tertawa kecil, menganggap omelan keponakannya itu hanya angin lalu.
Sementara di motor depan, pemandangan kontras justru terlihat. Lulu dan Arvin tampak sangat anteng. Lulu yang duduk di depan sama sekali tidak rewel, dia justru asyik bernyanyi-nyanyi kecil, menikmati terpaan angin malam bersama Arvin yang mengemudikan motor dengan sangat hati-hati. Cowok dingin itu sesekali tersenyum tipis mendengar celotehan Lulu.
Tak lama kemudian, kedua motor itu akhirnya berbelok dan berhenti di halaman rumah Reza. Di teras depan, Mama Maya sudah berdiri menunggu kedatangan anak-anaknya.
"Eh, kok Lulu malah sama Kak Arvin sih pulangnya?" tanya Maya heran, langsung berjalan mendekat dan menggendong putri kecilnya untuk diturunkan dari motor.
"Gak apa-apa, Tante," ujar Arvin sopan, mematikan mesin motor.
Reza langsung menyambar setelah turun dari motor. "Dari tadi nempel sama si Arvin mulu tahu, Mah! Nyusahin orang aja nih bocah."
"Oh ya?" Tanya Maya sambil menunduk, menatap wajah putri kecilnya yang tampak segar.
Lulu langsung menggelengkan kepala, membela diri. "Iya, Ma, tapi tadi Lulu foto loh sama Tante Alin, sama Kak Alvin juga!" ucap Lulu.
"Mana coba, Mama mau lihat?" kata Maya penasaran.
Karin buru-buru membuka tasnya, berniat mengalihkan perhatian. Dia mengeluarkan satu lembar foto yaitu foto dirinya bersama Lulu saat tertawa lebar di atas pasir kemudian memberikannya kepada Maya.
"Lulu cantik, kan, Ma?" tanya Lulu bangga melihat gambarnya sendiri. Namun, bocah itu tiba-tiba teringat sesuatu. "Tante, foto yang sama Kak Alvin mana?"
Karin seketika menghela napas panjang dalam hati. Keponakan kecilnya ini benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama. Awalnya, Karin sama sekali tidak berniat menunjukkan foto bertiga itu kepada kakaknya dan mau menyimpannya sendiri.
"Alvin, Alvin... Arvin sayang, Arvin," ucap Karin membenarkan ucapan Lulu yang cadel dengan nada gemas yang dibuat-buat, mencoba mengulur waktu.
Namun karena tatapan Maya sudah menuntut, Karin dengan sangat terpaksa merogoh kembali tasnya dan memberikan lembaran foto bertiga itu kepada kakaknya. Maya menerima foto tersebut, memperhatikan kedekatan Karin dan Arvin yang sedang menggendong Lulu dengan alis yang sedikit terangkat.
"Terus yang itu foto apa?" tanya Maya melihat masih ada selembar foto lagi yang dipegang Karin.
"Foto aku sendiri, Kak," ucap Karin cepat sambil menunjukkan sekilas foto dirinya yang sedang berpose di pinggir pantai, mencoba menyembunyikan sisa foto milik Arvin.
"Aku mau ngasih lihat ke Papa!" seru Lulu tiba-tiba. Bocah itu dengan cekatan merebut kedua foto yang sedang dipegang oleh ibunya, lalu berlari riang masuk ke dalam rumah.
Maya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putrinya, lalu beralih menatap adiknya. "Karin, kamu tidur aja di sini ya, udah malam."
"Iya, Kak," jawab Karin patuh.
Maya kemudian menoleh ke arah Arvin yang masih berdiri di dekat motornya. "Kamu juga tidur di sini aja, Arvin. Udah larut jalanan bahaya."
"Enggak, Tante. Saya pulang aja. Nanti aja nginepnya kapan-kapan," jawab Arvin menolak dengan sopan.
Setelah diangguki oleh Maya, wanita itu pun melangkah masuk duluan ke dalam rumah untuk menyusul Lulu. Tinggallah mereka bertiga di halaman. Reza yang sudah kelelahan langsung menepuk pundak sahabatnya.
"Ya udah kalau gitu gue masuk duluan ya. Makasih banyak ya, Bro, udah jagain adek gue," ucap Reza tulus.
"Yoi," jawab Arvin singkat.
Begitu Reza melangkah masuk dan menutup pintu, suasana di halaman rumah yang remang-remang itu mendadak berubah sunyi. Tinggal mereka berdua, berdiri di antara dua motor yang mesinnya sudah mendingin.
Karin mendekati Arvin. Dari dalam tasnya, dia mengeluarkan dua lembar foto. Foto mereka bertiga bersama Lulu, dan foto estetik dirinya sendiri di tepi pantai. Karin mengulurkan kedua foto itu kepada Arvin.
"Nih, jatah foto kamu," ucap Karin pelan.
Arvin menerima dua lembar kertas foto tersebut. Begitu matanya menatap foto Karin yang sedang tersenyum sendirian dengan rambut yang tertiup angin pantai, seulas senyuman tulus dan sangat manis terukir di wajah tegas cowok itu.
"Makasih ya, Tan," ujar Arvin hangat, suaranya terdengar sangat rendah di keheningan malam.
"Iya, sama-sama. Disimpen yang bener, awas kalau ditaruh sembarangan," ancam Karin, walau nadanya tidak terdengar galak sama sekali.
Arvin tidak menjawab, dia hanya memasukkan kedua foto itu ke dalam ransel hitamnya dengan sangat hati-hati, seolah benda itu adalah barang paling berharga yang dia miliki. Setelah menutup ritsleting tasnya, Arvin memakai helmnya kembali.
"Gue pulang duluan, Tan," pamit Arvin dari balik kaca helmnya yang dinaikkan sedikit.
"Iya, hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut, Vin," pesan Karin.
Arvin mengangguk, lalu menstarter motornya. Deru mesinnya yang besar memecah kesunyian kompleks perumahan malam itu saat dia perlahan melajukan motornya keluar dari halaman dan menghilang di belokan jalan.
Karin memandangi kepergian Arvin sampai bayangan lampu motornya itu benar-benar hilang. Setelah itu, dia menghela napas, menuntun motor matic-nya masuk ke dalam garasi rumah. Setelah memastikan motor terparkir aman, Karin berjalan ke depan, mengunci pagar besi rumah rapat-rapat, lalu melangkah masuk ke dalam rumah sambil menjinjing tasnya.
Di jalan pulang, Arvin tidak bisa menyembunyikan senyum tipis di wajahnya. Angin malam yang menerpa jaket denimnya terasa hangat, dan pikirannya terus melayang pada lembaran foto yang tersimpan rapi di dalam ranselnya, terutama foto Karin yang sedang tersenyum manis sendirian di tepi pantai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arvin merasakan secercah kebahagiaan yang nyata di dadanya.
Namun, kesenangan itu mendadak menguap tanpa sisa begitu motornya memasuki halaman rumah mewah miliknya.
Suasana rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, malam itu terasa begitu mencekam. Bahkan sebelum Arvin mematikan mesin motornya, suara kaca pecah yang nyaring terdengar dari arah dalam, disusul oleh lengkingan suara mamanya yang penuh amarah dan bentakan papanya yang menggelegar.
Orang tuanya sedang ribut besar lagi.
Arvin turun dari motor dengan gerakan lambat. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh hingga urat-uratnya menonjol, menahan rasa muak dan sesak yang langsung menghantam dadanya. Penyesalan mendalam langsung datang menyerbu, dia benar-benar menyesal kenapa tadi menolak tawaran Mama Maya dan memilih untuk pulang ke rumah ini.
Keributan di antara sepasang suami istri itu sebenarnya berakar dari masalah klasik kaum kelas atas: perselingkuhan, ego yang sama-sama tinggi, dan tuntutan bisnis.
Papanya Arvin adalah seorang pengusaha sukses yang gila kerja, sedangkan mamanya aktif di dunia sosialita dan memiliki bisnis butik sendiri. Masalah mulai muncul ketika sang papa ketahuan menjalin hubungan gelap dengan rekan bisnisnya di luar kota. Alih-alih meredam suasana, sang mama yang merasa dikhianati dan harga dirinya terluka, membalasnya dengan mulai sering pulang larut malam dan menghabiskan uang secara tidak terkendali demi gengsi.
Mereka jarang berada di rumah karena masing-masing sibuk dengan urusan di luar, baik itu urusan pekerjaan, pelarian, maupun menyembunyikan kesalahan masing-masing. Namun, sekalinya mereka berada di bawah atap yang sama, rumah itu langsung berubah menjadi medan perang. Mereka saling melempar tuduhan, meributkan pembagian aset, membahas ego masing-masing, hingga saling menyalahkan atas dinginnya suasana keluarga.
Mereka terlalu fokus pada ego dan rasa benci satu sama lain, sampai lupa bahwa ada seorang anak laki-laki berusia 17 tahun yang hancur perlahan di tengah-tengah egoisnya mereka.
Arvin menarik napas dalam-dalam, mengabaikan suara makian yang masih bersahut-sahutan di dalam rumah. Dengan langkah berat dan kepala tertunduk, dia memilih melewati pintu samping.