NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Militer / Thriller
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Kemarahan lebih mudah ditanggung daripada rasa kehilangan."
Letnan Raditya tahu itu lebih baik dari siapapun. Sampai seorang dokter bernama Nayla datang ke Karang Wilis — dan tanpa sengaja, tanpa izin, mulai mengisi ruang yang sudah lama ia jaga tetap kosong.
Di antara luka yang belum sembuh, konflik yang belum selesai, dan waktu yang terus berkurang — keduanya belajar satu hal yang tidak ada dalam buku panduan militer manapun:
Beberapa luka tidak bisa disembuhkan sendirian.



Di medan yang salah, pada waktu yang tidak tepat — tapi perasaan tidak pernah menunggu instruksi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mulai terganggu

~{32}~

Langit belum sepenuhnya panas ketika aktivitas di lapangan mulai bergerak lebih cepat dari biasanya. Sejak kehadiran tim baru itu, ritme pos terasa sedikit berubah—bukan kacau, melainkan seperti ada lapisan tambahan yang tiba-tiba menempel di atas rutinitas yang sudah terbentuk rapi.

Nayla berdiri di dekat meja tenda medis, menata ulang obat-obatan yang sebenarnya sudah tersusun rapi kemarin. Tangannya bergerak otomatis, tetapi terlihat jelas, pikiran nya sedang tidak di situ.

Dari celah tenda, ia melihat lapangan. Di sana Raditya berdiri bersama Letda Nara. selembar kertas terbentang di atas kap mobil taktis. Ujung jari Nara menunjuk beberapa titik, lalu Raditya mengangguk,

Nayla Menghembuskan napas "kenapa juga harus Deket deketan gitu", tangan nya kembali merapikan kasa yang sudah rapi.

“Dok,” suara Sari memecah lamunannya.

Nayla menoleh. “Apa?”

Sari tidak langsung menjawab. Ia mengikuti arah pandang Nayla sebentar, lalu menghela napas kecil. “Dok… dari tadi aku perhatiin dokter natap kesitu terus.”

“Apaan si aku lagi kerja,” jawab Nayla cepat.

Sari mengangkat alis. “Iya. Kerja lihat lapangan.” jawab sari sambil terkikik.

Nayla tidak menanggapi, Dari kejauhan, terdengar tawa kecil. Bukan tawa besar, hanya reaksi ringan dari Nara. Entah apa yang dikatakan Raditya, tetapi itu cukup untuk membuat percakapan mereka terasa hidup. Nayla kembali melanjutkan pekerjaannya, lebih cepat dari sebelumnya.

Beberapa jam kemudian, persiapan patroli siang dimulai. Prajurit bergerak ke pos masing-masing. Peralatan diperiksa, senjata disiapkan, radio diuji ulang. Nayla berdiri di dekat kendaraan medis lapangan, Sari ada di sampingnya, memeriksa tas obat darurat.

“Dokter ikut kendaraan depan, ya,” ujar salah satu prajurit.

Nayla mengangguk. “oh Iya mas.” jawab NayIa sambil tersenyum.

Suara mesin mulai hidup satu per satu. Di sisi lain, Raditya dan Nara sudah berada di kendaraan utama, berdiri berdampingan, membaca ulang rute. Nayla melirik sebentar, tapi cukup untuk melihat satu hal kecil—Nara tidak pernah tampak ragu berdiri di sisi Raditya. Dan Raditya… tidak pernah tampak menghindari itu.

“Semua siap,” suara Raditya terdengar datar.

“Siap,” jawab Nara.

Lalu Mobil bergerak. Perjalanan patroli siang itu melewati jalan tanah yang memotong hutan kecil di sisi utara Karang Wilis. Debu naik perlahan di belakang kendaraan. Nayla duduk di kursi belakang kendaraan medis, diapit kotak peralatan. Sari duduk di sebelahnya, sesekali mencatat sesuatu di clipboard. Namun Nayla lebih banyak diam.

Di kendaraan depan, terlihat dari kaca depan yang sedikit berdebu, Raditya dan Nara. Mereka tidak banyak bergerak, tetapi ada komunikasi yang terus terjadi di antara keduanya—singkat, seperti dua orang yang sudah terbiasa bekerja dalam tekanan yang sama.

“Dok… mau minum Nggak?” ,Sari menyodorkan botol aqua.

Nayla menggeleng. “Nggak sar makasi.”

Sari menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Dok… dokter sadar nggak, dari kemarin dokter kelihatan kayak lagi tertekan.

Nayla akhirnya menoleh. “Maksudnya?”

"dokter jadi pendiam sering juga aku lihat dokter" ngelamun.

Nayla tidak menjawab. Di depan, kendaraan tiba-tiba melambat. Radio berbunyi. “Pos dua, ada pergerakan warga di sisi sungai.

Raditya menjawab cepat. “Diterima".

Nara menambahkan, “Saya ikut ke lokasi let.” ucap nara

Nayla menatap ke depan lebih lama dari seharusnya. Lokasi sungai tidak jauh dari jalur utama. Kendaraan berhenti di pinggir jalan tanah, lalu semua turun. Suara air terdengar sebelum mereka benar-benar melihat sungainya. Arusnya tenang, tetapi cukup dalam untuk melewati batas kaki.

Beberapa warga terlihat di seberang, mengumpulkan kayu dan hasil kebun kecil. Raditya berdiri di tepi, mengamati situasi. Nara berada di sebelahnya, mencatat sesuatu di tablet lapangan kecil.

Nayla turun terakhir. Saat kakinya menyentuh tanah, matanya langsung mencari posisi aman untuk tenaga medis jika terjadi sesuatu. Instingnya bekerja lebih dulu daripada pikirannya.

“Aman kok dok.” ucap sari

“Iya,” jawab Nayla singkat. Namun matanya tetap waspada. Di seberang sungai, seorang anak kecil terlihat melambaikan tangannya. Nara membalas dengan melambaikan tangan juga lalu kembali ke catatannya. Raditya tidak bereaksi, seperti biasa. Tetapi ketika salah satu prajurit melangkah terlalu dekat ke tepian licin, Raditya langsung memberi isyarat tangan.

“Jangan terlalu ke depan.” Suaranya tegas. Prajurit itu mundur. Nara melirik Raditya sebentar, lalu menulis sesuatu. Nayla melihat itu—hanya sebentar, tetapi cukup.

Beberapa menit kemudian, Warga kembali ke aktivitas mereka. Tim mulai bersiap kembali. tetapi sebelum naik ke kendaraan, Nara berjalan ke arah Raditya.

“Rute ini aman le, tapi ada potensi longsor kecil di sisi timur,” katanya.

“apakah Perlu diubah?” tanya Raditya.

“tidak. Tapi perlu pengawasan.”

“baik akan aku kirim perajurit.” Percakapan itu singkat lagi. Nayla berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Sari di sampingnya tidak berkata apa-apa kali ini. Namun suasana di sekitar mereka terasa berbeda bagi Nayla. Bukan karena ancaman, tetapi karena sesuatu yang lebih halus, lebih sulit dijelaskan.

Saat perjalanan kembali dimulai, langit mulai sedikit berubah warna. Awan tipis bergerak perlahan, menutupi sebagian cahaya matahari. Di dalam kendaraan, Nayla bersandar ke kursinya, tangannya memegang tali tas kecilnya tanpa sadar. Di depan, Raditya dan Nara kembali berbicara,

ia menoleh ke jendela. Di luar, terlihat pohon-pohon bergerak melewati pandangannya seperti garis-garis hijau yang tidak punya suara. Namun di dalam kepalanya, ada sesuatu yang mulai bergerak —pelan, tidak jelas, tetapi nyata.

1
Oom Kusmiati
lanjut
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
Oom Kusmiati: koq blm lanjut ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!