NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 14 : Sihir

"Tidak perlu takut dengan kekuatan sihir mu. Aku juga memilikinya, jadi rahasiaku aman di tanganku. Oh, mungkin aku harus menunjukkannya."

Robertus menutup matanya, sontak darah menetes dari mata kirinya membentuk dua garis darah di wajah Robertus.

"In sanguis et terra, et Ignis. Sphera vitae."

Sebuah bola darah keluar dari tangan Robertus. Bola itu kemudian berputar, mengelilingi Robertus.

Robertus kemudian mengambil seekor tikus mati, dan menyentuhkannya dengan bola.

Mengecil...

Bola itu semakin kecil, seakan terserap masuk ke dalam tikus.

Squik

Tikus itu kembali bergerak, membuat Theo kemudian tercengang.

Robert kemudian membuka matanya, memperlihatkan mata kirinya yang sudah semerah darah.

"Hah."

Theo yang hendak berteriak kemudian menutup mulutnya.

"In sanguis et necrosis, et Ignis. Mortum inferni."

Banyak tangan berwarna hitam keluar dari punggung Robertus. Tangan itu menyentuh tikus, dan menarik jiwanya kembali. Lalu, seluruh tangan itu menghancurkan jiwa tikus itu dengan menyobeknya.

"Gil..." lagi-lagi Theo yang hendak berteriak menutup mulutnya.

"Yah, setidaknya itu adalah sihir yang aku punya. Kalo kamu?"

"Mmm... A—Aku cuma bisa sihir ruang ringan."

Theo menutup matanya, lalu ia mengeluarkan minuman berbau menyengat dari ruang jiwanya.

"Ohh, menarik. Menarik." Robertus melihat Theo mampu melakukan sihir tanpa pelafalan hanya terkekeh seperti orang gila.

'Dasar maniak.'

Theo segera memberi minuman itu kepada Robertus. Lalu, ia menjelaskan hipotesisnya mengenai asal usul penyakit itu, serta keterkaitannya dengan hellhound.

"Apa?! Jadi hellhound itu adalah orang yang tidak sempat mati saat sakit dan bermutasi?"

"Ya, setidaknya itulah yang bisa aku simpulkan."

"Hmm, menarik. Sepertinya, aku harus berbincang denganmu setidaknya lebih lama lagi. Maaf, tapi aku ada urusan. Mungkin nanti ketika lonceng kuil berbunyi, kamu bisa bertemu denganku di rubanah suci." Robertus segera berdiri dan berbalik, hendak meninggalkan ruangan itu.

"Oh... Aku lupa."

Robertus menjentikkan jarinya dan segera keluar dari ruangan.

"Hei! setidaknya beritahu aku apa itu rubanah suci!"

Theo segera mengejar, tapi aneh, orang itu sudah menghilang dari pandangannya.

Karena dia tidak tahu ada dimana, Theo segera menunggu di ruang itu. Berharap Silas dan Lucy akan menuntunnya keluar dari ruang itu.

Sejam berlalu, Theo masih memikirkan banyak hal terutama tentang bagaimana penyakit itu bisa menyebar.

Theo kemudian kembali duduk dan menutup matanya, dia hendak masuk ke ruang jiwanya.

"Ha!" Theo terkejut sebab di ruang itu ada Leviathan.

"Ara, tuan ada di sini?" Wanita berambut pirang, dan hanya ditutup dengan selembar kain muncul di hadapan Theo.

"Hahh... Kenapa kamu ada di sini? Lagian, kenapa ini mayatmu di sini?"

"Hahaha, aku. Akulah yang memasukkan mayat itu ke sini. Gimana, hebat kan? puji aku puji aku."

Tok

Snow muncul dan langsung mengetuk kepala wanita itu.

"Aduuh."

"Dasar ikan sialan, beraninya kau menginjakkan kaki di sini!"

"Aahh.. Aku kan cuma masuk keruangan punya kamu. Hehehe" ucap wanita itu dengan wajah yang usil dan kesakitan memegang kepalanya.

"Nggak." balas Snow dengan tatapan tajam.

"Hei monyet pintar, cepetan bedah dia. Oiya, jangan lupa kamu harus makan dagingnya. Daging Leviathan itu sangat enak, jadi kamu harus mencobanya."

"IHH. Jahat banget kamu, masa kamu mau bikin dagingku di makan? Ih jahat." Wanita itu kembali menggerutu layaknya anak kecil.

"Sudah sudah, sekarang aku mau membelah ikan itu. Oiya, aku nggak mau tau namamu siapa, tapi..."

"Kiddo."

"Hahahahhaha, kamu... Pfft. Sialan, buahhahahaha. Kiddo?" Snow dan Theo spontan tertawa, terpingkal-pingkal setelah mendengar nama wanita di depannya.

"IHH, kalian jahat. Aku pergi ah."

Kiddo pergi, lalu menghilang dari udara.

"Hah... Perutku sakit. Oiya, kok White belum bangun?"

"Tenang, dia memaksakan dirinya. Jadi, kantong racunnya pecah dan akhirnya harus menciptakan kantong lagi. Mirip lah sama kalian olahraga."

"Oooh, ok. Oh iya, ini kan ada inti sihirnya. Aku udah netepin. Aku ga mau makan atau telen ini. Aku mau White aja yang nelen."

"Yah, terserah kamu. Lagian sebagai monyet kau nggak akan bisa manfaatin kekuatan dari ikan itu."

Theo segera mengasah pisaunya, lalu mulai membedah ikan di depannya.

Berjam-jam Theo memotong ikan itu, lalu ia membelah sebuah kantung ikan.

Sreeek!

Muncul seekor ikan dari kantung itu.

"Kecil? Inimah ikan sebesar sapi."

Ikan itu keluar, dan berenang di sungai di dekat situ.

"Ara, akhirnya tuan sudah menyelamatkan anakku." Kiddo segera mendatangi anaknya, lalu ia memeluknya erat.

"Inti sihirku ada di sini."

Kiddo menunjukan lokasi inti sihirnya, lalu tidak lama badannya mulai memudar.

"Wahai manusia, terima kasih sudah menyelamatkan anakku. Tolong rawatlah dia. Kristal itu, tidak perlu kamu berikan ke anakku."

Kiddo menghilang dari pandangan Theo, kemudian Theo mengambil ikan itu dan menamainya.

"Mulai sekarang, namamu Kiddo mengikuti ibumu."

Ikan itu terlihat senang dan melompat kesana kemari.

Theo kemudian keluar dari ruang jiwanya, ia tersadar sedang diguncangkan oleh Silas.

"Akhirnya, kamu terbangun."

Silas dan Lucy segera mengantar Theo keluar dan mengajaknya menuju sebuah penginapan di luar kuil.

Theo, Silas, dan Lucy mengunjungi sebuah tavern. Tavern itu berbentuk bangunan, dengan banyak meja kursi dan beberapa pelayan yang mondar-mandir mengantar pesanan.

"Paman, beli bir hitam tiga gelas."

"Ok, ehh, Kamu bawa pacar?" Seorang pria berjanggut tebal menyeringai.

"Paman!" Lucy berteriak, malu dengan tingkah pamannya itu.

Pria itu datang dan duduk di depan Theo.

"Jadi, gimana perasaanmu ke keponakanku ini?"

"Paman!"

"Anu... Saya pikir ada kesalahpahaman di sini. Kebetulan Lucy adalah teman Silas yang teman saya, jadi begitulah."

Pria itu menarik janggutnya, lalu ia memanggil seorang pelayan.

"Cepat ambilkan itu."

Sambil mengelus jenggotnya, pria itu menatap Theo dengan pandangan yang aneh.

"Hmm... Sepertinya, kamu... Sudahlah, ayo kita minum ini."

Pelayan di samping pria itu keluar dan membawa sebuah botol bening dengan isi berwarna kuning kecoklatan.

Ketika dibuka, botol itu mengeluarkan aroma wangi khas gandum, dan sedikit aroma buah segar.

"Hmm, Whiskey?"

"Oh hohoho, jadi kamu tau toh? Inilah minuman dewa yang bisa membongkar kebenaran."

Mendengar hal itu, Theo segera menatap Lucy dan Silas dengan penuh pertanyaan.

"Jadi, raja dari Kerajaan barat ini seringkali membuat seseorang mabuk demi menginterogasi mereka."

"Ooh, siap deh."

Theo mengambil gelas whiskey di depannya.

"Bersulang."

Glek glek

Theo kemudian lanjut meminum birnya, dan lanjut lagi dengan sesi minum whiskey bersama paman itu.

"Aku Paul, paman dari dua bocah di sampingmu."

"Ha. Paman, hik. Boleh aku hik, bertanya gimana kamu bikin bir?"

"Haaah, tentu. Aku cuma nyampur endapan bir dengan bir manis. Hehehuahahahaha."

Theo kemudian menghabiskan sisa waktunya dengan mabuk, lalu ia diantar oleh Lucy dan Silas ke kamarnya.

Keesokan paginya, Theo bangun dengan kepala yang sangat berat.

"Minumlah." Paman Paul memberi Theo ramuan yang pernah ia beri sebelumnya, lalu ia keluar dari ruangan.

"Makasih" Theo meminum ramuan itu, lalu ia berbaring di kasur.

"Mmm...

Oh iya."

Theo segera bangun, dan bertanya.

"Paman, dimana Silas dan Lucy?"

"Mereka barus aja pergi. Kenapa?"

"Tidak apa-apa paman, makasih."

Theo segera berlari, beruntung ia bertemu seseorang di jalan.

...****************...

Selamat hari raya Idhul Adha bagi semua pembaca setia shower of blood.

Sekali lagi, ku ucapkan terima kasih karena telah membaca karya ini.

Oiya, jangan lupa like, comment, dan favorit ya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!