Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tergerus Air Mata
Cukup lama dia tertidur hingga kembali tersentak, waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, siaran TV yang entah sudah berapa kali berganti berhasil menjadi penghantar tidur untuk Clarissa.
Diraihnya remote untuk memadamkan tayangan yang tak ditontonnya sejak tadi. Tubuhnya terasa ringan dibandingkan tadi, berjalan menuju dapur dan mulai memasak.
Hari ini sangat berbeda dan jarang terjadi, biasanya pukul enam dia sudah menaruh deretan makanan yang disajikan dengan indah di atas meja. Namun, kali ini dia baru akan mulai memasak.
Bahkan sampai lupa membangunkan suaminya, demi menyiapkan sarapan yang tidak ingin dia lewatkan setiap harinya.
Ethan yang sudah terbiasa dibangunkan Clarissa tampak merekam itu dalam ingatannya, kali ini dia terbangun dengan sendirinya tepat dijam yang sama setiap harinya. Namun yang berbeda adalah sosok istrinya tak terlihat jejaknya di kamar itu.
Dia harus segera bergegas karena pekerjaan yang banyak telah menantinya. Dengan sigap dia menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutup sebagian tubuhnya, dia masih mencari sosok istrinya yang dalam bayangannya telah menyiapkan pakaian kerjanya.
Namun sayang karena tak ada pakaian rapi yang diletakkan di tepi ranjang. Ethan segera menuju lemari dan memilih kemeja dan mulai merapikan penampilannya didepan cermin.
Lain halnya dengan Clarissa yang sesekali masih melamun membuatnya agak berantakan, tangannya yang nyeri karena bersentuhan dengan wajan panas hingga telur mata sapi yang gosong.
Menu yang terbesit di kepalanya adalah nasi goreng dengan telur mata sapi. Masakan yang sederhana dan tak memakan banyak waktu. Clarissa kembali mengulang untuk menggoreng telur dengan hati-hati.
Dua porsi nasi goreng telah berhasil dan akan diletakkan di atas meja, bertepatan dengan kemunculan Ethan. Pandangan mereka beradu sejenak, Ethan memaklumi kejadian hari ini karena Clarissa masih sibuk di dapur.
Ethan duduk sembari menatap nasi goreng didepannya. Tak berselang lama Clarissa kembali dengan secangkir kopi yang biasa dibuat untuk Ethan.
"Nasi goreng ya" Sahut Ethan yang basa-basi mengusir sedikit kecanggungan namun tak ada sahutan.
Mereka mulai menikmati sarapan itu dengan tatapan yang fokus pada isi piring masing-masing.
Meski terlihat kaku, Clarissa masih mengantar suami sampai depan rumah seperti hari kemarin.
"Aku berangkat dulu ya Sa, kalau ada apa-apa telepon aku" Ucap Ethan sembari mengusap bahu Clarissa.
Sebuah kecupan manis dipipi seperti biasa dilakukan sebagai bentuk pamit seorang Ethan, meski Clarissa yang diajak bicara sejak tadi hanya diam atau sesekali mengangguk tapi Ethan masih memaklumi bahwa istrinya butuh waktu untuk menenangkan hati.
...****************...
Clarissa kembali ke dalam rumah, duduk di sofa dan kembali menyalakan TV. Mencari tayangan yang mengusir pikiran kacaunya.
Pandangannya ke layar TV namun imajinasi mulai menyelinap diam-diam memenuhi pikirannya. Membayangkan kemana suaminya akan pergi hari ini, apa yang dilakukan suaminya di kantor dan dengan siapa suaminya akan bertemu.
Imajinasi yang kian liar merobek ketenangan yang sudah dikendalikannya sejak bangun tadi. Rasa panik menyeruak dan menakut-nakutinya.
Hingga kejadian kemarin kembali berputar bagai adegan film yang ditonton berulang kali. Air matanya kembali mengalir tidak sesuai dengan tayangan didepan matanya yang membahas seputar acara gosip selebriti
Diusapnya beberapa kali meski akan tumpah lagi, diam yang sejak tadi tenang akhirnya ikut menyeruak meski ditahan oleh tenggorokannya.
Isak tangis terdengar memenuhi ruang tamu, tanpa malu akan dilihat oleh siapapun. Rasa sesak bertambah didadanya, membuatnya kembali mengepalkan tangan dan memukul pelan. Beberapa kali kepalan itu dilayangkan hingga tangis itu reda. Posisi duduknya berubah kini tubuhnya direbahkan diatas sofa dan tetap berpura-pura menikmati tayangan yang ada. Hingga matanya lelah dan kembali terpejam menikmati tidur yang tadi terjeda.