dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.
Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.
Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.
Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.
Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.
Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Rumah Yang Hangat
Hari Sabtu pagi ini terasa berbeda selama Nayla bekerja, bagaimana bisa jika selama ini setiap harinya Nayla disibukkan dengan pekerjaan kali ini untuk pertama kalinya Nayla tidak memiliki jadwal praktik maupun operasi.
Hari yang langka sangat langka, jika biasanya akhir pekan dan awal pekan tidak ada bedanya, karena tetap akan dipenuhi dengan jadwal pekerjaan ataupun panggilan darurat dari rumah sakit. Namun hati ini Nayla bisa menikmati sarapan dengan tenang bersama sang Ayah, sampai akhirnya ponselnya bergetar memperlihatkan nama Arsen muncul dilayar.
" Ekheemmm..." Ayah Nayla tersenyum kecil.
Nayla pura-pura tidak mendengar suara sang ayah, tapi senyuman kecil di bibirnya tidak bisa disembunyikan.
" Eeekkheeemmm..." kini suara deheman sang Ayah lebih keras.
" Ayah kenapa? nih minum dulu, kalau makan pelan-pelan jadi keselek kan" ucap Nayla yang sengaja mengalihkan.
" Aahh terimakasih anak Ayah, tapi sepertinya Ayah tidak apa-apa" sang Ayah menerima gelas yang diberikan sang anak, tawa kecil mengikuti setelahnya.
" Selamat pagi, Nay... Sudah sarapan?"
Nayla membuka isi pesan dari Arsen, bahkan sekarang membaca pesan itu saja sudah cukup membuat jantung Nayla merasa hangat.
" Pagi... Aku udah sarapan, kamu gimana?"
Balasan itu langsung terkirim, bahkan tanpa menunggu lama pesan baru dari Arsen langsung datang.
" Aku sudah sarapan, aahh iya hari ini ada acara?"
" Enggak ada, Ar. kenapa?"
" Bagus, jam 10 aku jemput kamu ya... Mama ngajak kamu buat makan siang dirumah 😉"
Setelah membaca balasan pesan terkahir dari Arsen, Nayla membeku beberapa saat, sampai akhirnya pesan berikutnya masuk lagi.
" Jangan panik, Nay. Aku bisa merasakan kepanikan kamu sampai kesini"
Nayla langsung menutup wajahnya, sementara Ayahnya yang melihat dari seberang meja mulai tertawa.
" Kenapa, Nay? Bagi-bagi dong senyumnya Ayah juga mau" ucap sang Ayah.
" Ayah... Arsen ngajak Nay makan siang ke rumahnya" Nayla menghela nafasnya.
" Ooohhh...." jawab singkat sang Ayah.
" Oh apanya, Yah? Kok cuma Oh sih" Nayla langsung menatap wajah Ayahnya.
" Bagus dong, Nay. Berarti Arsen serius sama kamu, ini bahkan udah kedua kalinya kan kamu diajak kerumahnya untuk bertemu keluarga Arsen" Ayah Nayla tersenyum hangat.
" Ayaaahhh..." rengek Nayla.
" Lagi pula Ayah penasaran sama orang tua yang berhasil membesarkan Arsen sebaik itu seperti apa" jawab sang Ayah dengan lembut, mencoba menenah perasaan sang anak.
Kalimat itu membuat Nayla terdiam.
Pukul sepuluh siang sesuai dengan janji, Arsen menjemputnya dirumah dengan wajah yang cerah. Seperti biasa ia turun dari mobil untuk menyapa Ayah Nayla terlebih dahulu, sebuah kebiasaan kecil yang selalu membuat Nayla diam-diam tersentuh.
" Ayah, Saya izin mengajak Nayla ke rumah ya" ucap Arsen seperti sebuah permintaan.
" Iyah, hati-hati dijalan dan tolong jaga anak saya dengan baik" Ayah Nayla menepuk pundak Arsen lembut.
" Pasti, Om. Terimakasih sudah memberi izin, Om" Arsen langsung mengangguk dengan ekspresi serius.
Jantung Nayla langsung berdegup lebih cepat, sepanjang perjalanan Nayla terlihat lebih gugup dari biasanya. Bahkan berkali-kali tangannya merapihkan rambut yang sebenarnya sudah rapih, membuat Arsen tersenyum lucu.
" Nay, jangan tegang biasa aja kan udah pernah ketemu juga" ucap Arsen menenangkan.
" Iya, aku enggak tegang kok" Nayla mendesah pelan.
" Jangan bohong, keluarga aku enggak se menyeramkan itu kan? Ini kali kedua kamu kerumah aku" ucap Arsen tertawa kecil.
" Aku tahu, tapi aku tidak mau mengecewakan mereka" Nayla menatap ke luar jendela dengan jawaban yang jujur.
Untuk beberapa detik Arsen terdiam karena kalimat itu terdengar begitu tulus, begitulah Nayla selalu memikirkan perasaan orang lain.
" Kamu tidak akan mengecewakan siapapun, Nay" ucap Arsen lembut.
Dan entah kenapa kalimat itu membuat Nayla sedikit lebih tenang.
Tiga puluh menit kemudian mobil Arsen memasuki kawasan perumahan yang asri, tidak terlalu berlebihan tapi tetap mewah dan pastinya nyaman. Sama seperti kesan yang selalu diberikan Arsen, begitu mobil berhenti pintu rumah sudah terbuka dengan seorang perempuan paruh baya sudah berada dihalaman memberikan senyuman lebar.
Mama Arsen dan kini dibelakangnya berdiri seorang pria paruh baya Ayah Arsen dan kini bertambah satu orang perem muda yang langsung melambaikan tangan dengan antusias Alena adik perempuan Arsen.
" Naylaaaaa... Lama sekali sampainya" Mama Arsen langsung menghampirinya, seperti biasa heboh.
" Aaaaahhh halloo kak Naylaaaa aku Alena adik kak Arsen, iiihhhhh senangnyaaaa akhirnya kita bisa bertemu langsung, cantik bangeet" Alena memberikan sambutan hangat dipertemuan pertama mereka.
" Hallo Tante, Hallo Alena senang sekali juga ketemu" jawab Nayla hati-hati.
" Tante? Aduhhh jangan panggil Tante dong, panggil Mama aja" Mama Arsen menepuk punggung tangan Nayla.
" Heboh banget ini, Mama jangan suka bikin Nayla kaget kasian" Arsen langsung menyela.
Mama Arsen tertawa renyah sekali, sedangkan Nayla langsung salah tingkah karena rasanya terlalu cepat, terlalu hangat, terlalu nyaman.
Makan siang berlangsung jauh lebih menyenangkan dari yang dibayangkan, Papa Arsen yang senang bercanda membuat suasana lebih cair. Alena adik Arsen ternyata jauh lebih cerewet dari pada Arsen sang Kaka.
" Kak Nayla, terimakasih ya.." ucap Alena.
" Terimakasih untuk apa, dek?" tanya Nayla bingung.
" Ihhh Ayah, dengar tidak? Aku dipanggil adek loh. Senangnyaaaa.... Beda sama kakak" ucap Alena heboh.
" Setelah ketemu sama Kak Nayla, sekarang Kak Arsen sudah menjadi manusia yang seutuhnya" Alena menunjuk Arsen.
Satu meja langsung tertawa termasuk kedua orangtua Arsen.
" Alena..." Arsen memijat pelipisnya.
" Apaaa? Aku terlalu jujur ya? Tapi serius loh Kak Nayla... Sekarang kak Arsen benar-benar sudah menjadi manusia..." ucap Alena.
" Memangnya gimana dulu, dek?" tanya Nayla.
" Dulu Kak Arsen isi hidupnya cuma kerja terus, gak inget keluarga apalagi rumah" ucap Alena antusias.
" Leeennn.... Cukup" Arsen kini semakin merasa gemas.
" Oh ya? Terus... Terus... gimana lagi, Dek?" bukannya membela Nayla justru memberikan bumbu kehangatan.
" Naaayyyyu..." rengek Arsen dengan tatapan dibuat sedih.
" Cihh manja, gak cocok di kamu Kak" ucap sang Mama menambahkan.
" Naahh kaann... Kak Arsen itu enggak pernah senyum, enggak pernah pulang cepat, dikantor aja terus kayaknya dia enggak tau kalau dunia seindah ini" jawab Alena panjang.
" ALENA..." suara Arsen kini naik.
Semua orang yang berada disana kembali tertawa, dan untuk pertama kalinya Nayla melihat sisi Arsen yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sisi yang membuatnya menjadi laki-laki seperti sekarang.
" Habis sudah harga diri kamu di obral kak, semoga Nayla tidak berubah pikiran ya" ejek sang Ayah.
Selesai dengan kegiatan makan siang, Mama Arsen mengajak Nayla membantu di dapur. Padahal sebenarnya tidak ada yang perlu dikerjakan, namun Nayla tahu jika wanita paruh baya itu hanya ingin berbicara dengannya.
" Nay..."
" Iya, Ma"
Panggilan itu masih terasa asing namun juga hangat.
" Laki-laki itu keras kepala, ya? Ehh salah tapi sangat keras kepala" Mama Arsen tersenyum.
" Heheh sedikit, Ma" Nayla langsung tertawa kecil.
" Terimakasih sudah hadir dalam hidup Arsen, Ya. Dia terlihat jauh lebih bahagia sekarang. Dan sebagai seorang Ibu Mama sangat bersyukur atas kehadiran Nayla" tatapan mata Mama Arsen melembut.
Jantung Nayla langsung menghangat karena tidak ada tuntutan, tidak ada tekanan, hanya ketulusan yang terasa.
" Maa, Arsen sangat baik... Justru Nayla yang tidak sempurna" lirih Nayla yang kini menundukkan kepalanya.
" Nay, Mama dan Ayah sudah tahu tentang kamu dan itu sama sekali tidak merubah apapun... Kalau kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, maka mari kita ciptakan keinginan itu dengan sempurna...." ucap Mama Arsen yang kini membawa tubuh Nayla kedalam pelukannya.
" Kami semua siap menjadi tim sukses untuk menciptakan kesempurnaan yang kamu inginkan, Nay..." tambah sang Mama Arsen.
" Terimakasih banyak Ma, sudah mau menerima Nayla yang banyak kurangnya ini... Apalagi usia Nayla lebih dewasa dari Arsen..." Nayla kembali mencurahkan kekhawatirannya.
" Tidak ada masalah dengan usia, yang dibutuhkan itu saling melengkapi dan saling menerima itus sudah sangat cukup bagi Mama..." entah mengapa ucapan mama Arsen benar-benar menyejukkan.
Hari ini Nayla benar-benar merasa hari terbaik setelah segala badai terlewati, akhirnya kebahagiaan itu menemukan tempat yang membutuhkan kehadirannya dan Nayla sangat bersyukur.