Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Yang Terlarang
“Bunuh pewaris Arkanel!”
Suara itu menggema keras di ruangan Putra Mahkota.
Dan dalam sekejap suasana berubah total.
Para pembunuh bertopeng langsung mengalihkan target mereka pada Arcelia Vareinne.
Tatapan mereka dipenuhi kegilaan.
Seolah nama Arkanel sendiri adalah dosa yang harus dihapus.
Auriel langsung berdiri di depan Arcelia. Tiga ekor cahayanya bergerak liar di udara.
“Mundur!” teriak Auriel.
Aura putih kemerahan meledak dari tubuh kecil rubah itu.
BOOM!
Dua pembunuh langsung terpental menghantam dinding. Darahnya menyembur ke lantai marmer. Namun jumlah mereka terlalu banyak.
“Arcelia!” Putra Mahkota Elias Astrael bergerak cepat menebas seorang pembunuh di depan gadis itu.
Pedangnya memancarkan cahaya emas terang. Gerakannya bersih, cepat dan mematikan.
Dan itu membuat Arcelia sadar Putra Mahkota Elias selama ini menyembunyikan kemampuan aslinya.
“Yang Mulia ternyata cukup kuat.” kata Seorang pembunuh sambil melempar belati beracun.
Putra Mahkota Elias menangkis belati beracun itu tanpa menoleh.
Detik berikutnya—
CLANG!
Arcelia menahan serangan lain dengan belati hitam miliknya.
Tangannya sedikit bergetar namun tubuhnya bergerak jauh lebih ringan sekarang.
[Sinkronisasi penjaga suci meningkat.]
[Kecepatan +40%.]
[Refleks +35%.]
Auriel melompat melewati udara. Cahaya dari ekornya berubah menjadi rantai tipis bercahaya.
“Tidur.” kata Auriel pelan.
Rantai cahaya langsung mengikat kaki salah satu pembunuh sebelum meledak.
Pria itu menjerit lalu pingsan seketika.
Marcus yang bertarung di sisi lain ruangan tampak terkejut dan tatapan matanya menyipit ke arah Auriel.
“…Makhluk spiritual tingkat tinggi.” gumam Marcus.
“Fokus dalam bertarung,” teriak Putra Mahkota Elias dingin.
Ruangan kini dipenuhi suara logam beradu dan jeritan.
Pecahan kaca berjatuhan dari jendela besar.
Sementara para kesatria kerajaan mulai masuk membantu dari luar.
Namun Arcelia segera menyadari sesuatu yang aneh.
Para pembunuh ini sepertinya tidak berniat keluar hidup-hidup.
Bahkan beberapa di antara mereka sengaja menyerang membabi buta hanya demi mendekat padanya seperti fanatik.
“Auriel!” Panggil Arcelia.
“Aku tahu!” katanya.
Mata biru Auriel menyala terang. “Mereka memakai segel bunuh diri!” kata Auriel.
Mata Arcelia langsung menyipit. “Semua?”
“Hampir!” kata Auriel.
"Ini terlalu berbahaya. Kalau mereka terdesak mereka bisa membunuh diri sebelum diinterogasi." batin Arcelia.
"Dan itu berarti semua petunjuk akan kembali menghilang." Arcelia menggertakkan giginya karena marah.
“Yang Mulia!” Marcus tiba-tiba berteriak.
Salah satu pembunuh berhasil lolos ke arah Putra Mahkota Elias sambil membawa kristal hitam kecil.
Tatapan Auriel langsung berubah. “Jangan biarkan dia menghancurkannya!”
Namun peringatan Auriel sudah terlambat.
KRAK!
Kristal itu pecah di tangan pembunuh tersebut.
Dan detik berikutnya kabut hitam pekat langsung memenuhi ruangan.
Udara berubah menjadi dingin dan mengakibatkan napas terasa berat.
Para kesatria mulai batuk darah.
“Apa itu?!” teriak Marcus.
Auriel langsung melompat ke depan Arcelia. “Racun kabut!” kata Auriel.
[Perlindungan racun aktif.]
Cahaya putih menyelimuti tubuh Arcelia dan Putra Mahkota Elias.
Namun para kesatria lain mulai roboh satu per satu.
Sementara di tengah kabut tawa pelan terdengar.
“HAHAHAHA…”
Semua langsung menoleh.
Salah satu pembunuh berdiri sempoyongan sambil memegangi dadanya sendiri. Darah mengalir dari balik topengnya.
Namun matanya dipenuhi kegilaan. “Arkanel akan mati malam ini…” katanya.
Putra Mahkota Elias melangkah maju dengan wajah dingin. “Siapa yang mengirimmu?” tanyanya.
Pria itu malah tertawa semakin keras. “Yang Mulia Kael… akan membuka gerbangnya…” katanya.
Mata Arcelia langsung menyipit tajam. "Gerbang?"
“Apa maksudmu?” tanya Putra Magkota Elias dingin.
Namun pria itu justru menatap Arcelia tatapannya berubah fanatik. “Darah Arkanel adalah kuncinya…”
Detik berikutnya tubuh pembunuh itu mendadak kejang.
Auriel langsung berteriak,
“Mundur!”
BOOM!
Tubuh pria itu meledak menjadi kabut hitam.
Gelombang energi menghantam seluruh ruangan.
Arcelia hampir terjatuh namun Putra Mahkota Elias langsung menarik tangannya cepat.
Tubuh mereka bertabrakan ringan.
Dan untuk sesaat mata merah anggur Arcelia bertemu dengan mata emas Elias dalam jarak sangat dekat.
Ruangan masih dipenuhi kabut hitam.
Namun Putra Mahkota Elias tetap menatapnya tajam. “…Kau terluka?”
Arcelia sedikit terdiam.
Aneh, di situasi seperti ini kenapa pria itu justru menanyakan dirinya?
Namun sebelum ia menjawab—
[Peringatan Darurat.]
[Segel bawah tanah bereaksi.]
[Gerbang Arkanel mulai terbuka.]
Auriel langsung membeku karena terkejut seluruh bulunya berdiri.
Dan dengan suara pelan penuh ketegangan ia berkata: “Tuan Rumah… Mereka sedang membuka istana tua Arkanel di bawah kerajaan.”