NovelToon NovelToon
Dalang Di Balik Pembunuhan

Dalang Di Balik Pembunuhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dian umar

Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Kayla masih terpaku di tempat, sorot matanya lurus ke depan dan tampak kosong. Adegan barusan seakan mimpi buruk baginya. Seketika potongan-potongan momen dirinya bersama Alfian muncul memenuhi otaknya. Momen-momen berkesan itu berubah menjadi senjata tajam, lalu menerjang hingga melukai hatinya yang paling dalam.

Alfian mencoba meraih tangan Kayla, namun Kayla menepis tangan Alfian dengan kasar tanpa menoleh sedikitpun. Seolah-olah dia baru saja mengusir serangga yang mengganggu.

"Kunci mobil?" Tanya Kayla dengan suara lirih, tatapannya masih terlihat kosong, tak berubah sama sekali.

Klik!

Setelah pintu mobil terbuka. Kayla segera memberikan kunci mobil kepada Alfian. Ia membuang muka ke samping seakan jijik melihat wajah pria di depannya ini.

"Aku akan menemaninya!" Sahut Jenny.

Sekarang Jenny berada di dalam mobil bersama dengan Kayla. Mereka duduk di bangku belakang, karena untuk saat ini tempat itu lebih nyaman ketimbang di bangku depan.

Tak ada suara sama sekali. Kayla masih dengan tatapan kosongnya, ia menatap jendela dengan tatapan menerawang jauh.

Jenny memeluk tubuh Kayla yang terlihat mulai bergetar. Dengan lembut dia berkata,"Kalau mau nangis, nangis aja! Orang kuat bukan orang yang tidak menangis, tapi orang yang tetap bertahan meskipun dalam keadaan yang terpuruk."

"Jen..." Panggil Kayla dengan suara pelan.

Ia mengarahkan pandangannya ke arah Jenny. Terlihat mata coklat itu sudah penuh dengan air mata, namun tak ada satu pun yang menetes, mereka masih tertampung dengan baik di kelopak matanya

"Aku dipermainkan... Aku terlalu menggantungkan hidupku kepadanya..." Ucap Kayla lirih seraya memeluk tubuh Jenny.

Air mata yang tadi di tahan akhirnya keluar semua. Tubuhnya bergetar hebat, suhu tubuhnya menjadi dingin. Kayla menangis sejadi-jadinya di pelukan Jenny yang hangat.

"Apa aku tidak berarti untuk siapapun? Apakah aku dilahirkan hanya untuk mendapatkan penolakan?" Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ia pertanyakan akhirnya keluar juga.

Disaat seperti ini, kejadian-kejadian waktu kecil teringat kembali. Momen-momen menyesakkan itu kembali terbayang. Luka lama yang ia tutupi rapat kini mulai terbuka kembali, menambah rasa sesak di dada.

Jenny tak berkata apa-apa, ia hanya terdiam sambil mendengarkan semua keluh kesah yang disembunyikan oleh wanita ini. Karena seseorang yang sangat sedih tidak butuh nasehat, yang mereka butuhkan adalah pendengar yang baik, pendengar yang tidak akan menghakimi mereka saat sedang bercerita.

"Jen... Adakah orang tua yang membenci anaknya?" Pertanyaan polos namun menyakitkan itu dengan susah payah ia ucapkan, namun ia tetap berusaha untuk mengucapkannya.

Kayla menghadap ke atas, ia berusaha menampung air matanya di kelopak agar tidak membasahi pipinya." Kamu tahu? Aku dan Claudy saudara kembar. Tapi aku diperlakukan berbeda! Dia selalu mendapat barang baru dan bagus, sedangkan aku? hanya akan mendapatkan barang bekas atau barang yang tidak dia sukai!"

"Hehehe... Hehehe... Lucu kan? Saat aku sakit atau terluka... Mereka selalu menyalahkan aku! Seakan aku ini sengaja membuat diriku terluka! Siapa sih yang mau melukai diri sendiri? Tidak ada kan?" Raut wajahnya kini berubah menjadi merah padam penuh emosi. Walaupun begitu, air matanya masih tetap ada dan setia menemaninya.

Setelah mengeluarkan semua unek-unek dalam hati, kini Kayla berbaring di pangkuan Jenny. Perlahan suara tangisnya tak terdengar lagi, kelopak matanya perlahan-lahan menutup.

Kejadian hari ini sangat membuatnya capek dan emosional. Tubuhnya memberikan kode untuk segera beristirahat. Mungkin setelah ini perasaannya akan jauh lebih baik dari pada tadi.

..................................

"Untuk saat ini jangan berinteraksi dengannya dulu, tunggu emosinya stabil baru selesaikan kesalahpahaman ini." Ucap Jenny setelah tahu alasan Alfian mendorong Kayla.

"Tapi aku tidak tahan melihatnya seperti ini!" Ucap Alfian seraya menatap Jenny dengan tatapan tidak suka.

"Aku tahu kau khawatir kepadanya, tapi yang ia butuhkan adalah ruang. Berikan dia ruang untuk memulihkan diri! Kau tidak tahu sesakit apa dia rasakan!" Jenny yang biasa terlihat ceria dan periang itu menatap Alfian dengan tatapan dingin dan datar.

"Tapi..." Belum sempat melanjutkan kalimat selanjutnya, ucapannya dipotong.

"Bijaklah sedikit! Kau selalu bijak dan tenang saat sedang melakukan misi, aku tahu kau bisa melakukannya sekarang. Jangan gegabah! Ini demi Kak Kay." Ucap Jenny serius.

Joy segera menarik tangan Alfian agar menjauh dari kamar Kayla. Ia melepaskan tangan Alfian saat mereka sampai di taman depan.

Joy mengajak Alfian duduk di kursi taman sembari menikmati rokok yang ia ambil dari kamarnya.

"Tapi aku nggak ngerokok." Tolak Alfian ketika Joy menyodorkan rokok kepadanya.

"Coba saja! Ini bisa menenangkan mu. Terkadang kita membutuhkannya di saat lagi bermasalah seperti ini." Jawab Joy seakan mengerti dengan kondisi Alfian.

Dalam hati Alfian membenarkan perkataan Joy, apalagi saat sedang kacau seperti ini hanya Kayla yang bisa menenangkannya. Tapi sekarang Kayla belum bisa ia temui sama sekali.

"Tapi ini bikin kecanduan kan? Kayla nggak suka bau rokok." Tolak Alfian.

Ia tahu Kayla sangat tidak suka dengan bau rokok, sehingga ia tak pernah menyentuh barang itu walaupun hati sedang kacau. Perasaan ingin mencoba itu ada, tapi ia tahan demi bisa dekat-dekat dengan Kayla.

"Yasudah!" Joy kembali mengisi rokok tadi ke dalam kemasannya. Ia menatap Alfian dengan tatapan kagum.

"Suatu saat aku akan menceritakan rahasiaku kepada kalian, tapi untuk saat ini aku belum siap." Ucap Joy dengan serius dan meyakinkan.

"Penting? Kenapa tidak sekarang?" Tanya Alfian penasaran. Kini fokusnya sedikit teralihkan.

"Lumayan penting! aku sudah anggap kalian seperti keluargaku. Jadi walaupun rahasia ini sangat besar, aku akan menceritakannya." Jawab Joy sembari menatap bunga-bunga di taman.

"Aku akan pulang ke rumah." Ucapan Alfian lalu beranjak dari tempat duduk.

.......................................

"Kak Alfian mana?" Tanya Jenny seraya melihat kesana kemari mencari sosok itu.

"Dia sangat terpukul, mungkin saat ini dia ingin mencari tempat yang bisa membuatnya nyaman." Joy segera duduk di sofa yang terlihat empuk.

Jenny pun mengambil tempat di sebelah Joy, "Orang yang biasanya tidak terpisahkan, kini harus berpisah karena sebuah kesalahpahaman. Entah akan bersifat sementara atau tidak." Ucap Jenny bingung.

"Jangan terlalu dekat." Ucap Joy sembari menggeser tubuhnya agar menjauh dari Jenny.

"Ohhh! Jadi gitu? Kemarin peluk-peluk aku nggak gitu! Kenapa sekarang malah menjauh? Kamu anggap aku apa?" Ucap Jenny dengan suara keras dan lantang.

"Ini beda Jen... Kemarin pikiran aku kacau, jadi aku tidak sempat memikirkan yang aneh-aneh. Tapi sekarang? Aku udah sembuh, dan normal. Ini akan sangat bahaya untuk kita." Ucap Joy dengan penjelasan yang masuk akal.

"Aku tidak perduli!" Ucap Jenny seraya tersenyum jahil.

Yang anehnya senyum itu malah terlihat sangat menyeramkan di mata Joy. Jenny terlihat seperti serigala yang terlihat sedang kelaparan.

Jenny berdiri sembari mengangkat tangannya ke atas, menyerupai serigala yang akan mencengkram mangsanya. Sementara Joy masih duduk di di sofa dengan perasaan tidak karuan dan was-was.

"Aaauuuu!" Jenny mengaung selayaknya serigala di malam hari.

Kemudian Jenny duduk di pangkuan Joy, dengan cepat dia langsung mengarahkan mulutnya ke leher Joy.

Dia mencium dengan lembut leher yang terlihat sangat menggoda itu. Matanya kini beralih pada jakun yang terlihat menonjol dan bergerak ke atas lalu ke bawah.

"Jenny! Stop!" Teriak Joy dengan sekuat tenaga. Namun ia sama sekali tak menyingkirkan tubuh Jenny. Tubuhnya seakan menerima dan tak ingin menghentikannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!