NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 Introgasi Diam Diam

Sejak pagi, suasana di ruang CEO terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan dingin yang orang-orang kenal dari Zayden Alvero selama ini, bukan juga ketenangan terkontrol yang membuat semua orang menjaga jarak secara alami. Udara di ruangan itu terasa tajam, seperti ada sesuatu yang ditekan terlalu lama dan belum menemukan jalan keluar.

Arsen berdiri di depan meja kerja dengan tablet di tangan, posturnya tegak seperti biasa. Ia sudah terbiasa menghadapi berbagai situasi, tetapi pagi ini ia memilih lebih berhati-hati dalam memilih kata. Ada perubahan kecil pada ekspresi atasannya yang sulit dijelaskan, namun cukup jelas untuk diwaspadai.

"Pak, ini data awal tentang Darren Velric."

Zayden tidak langsung menoleh. Tatapannya masih tertuju pada layar laptop yang menampilkan email panjang dari tim regional, namun fokusnya tidak benar-benar di sana. Ia membaca baris demi baris tanpa menyerap isinya, pikirannya terus kembali pada satu nama yang sama sejak pagi.

"Ringkas."

Arsen menggeser layar tablet dengan cepat, memastikan informasi yang disampaikan padat dan jelas. Ia tidak ingin mengulang atau membuat penjelasan bertele-tele di kondisi seperti ini.

"Usia tiga puluh dua tahun. Konsultan independen. Pernah bekerja di dua perusahaan investasi besar dengan rekam jejak proyek yang cukup stabil. Namun ada beberapa catatan yang menonjol."

Zayden akhirnya mengangkat sedikit kepalanya. Tatapannya tidak sepenuhnya dingin, tetapi cukup tajam untuk membuat orang lain berhenti bicara sembarangan.

"Catatan apa."

Arsen menelusuri data lagi sejenak untuk memastikan detailnya akurat. "Dua kontrak diputus mendadak oleh klien. Tidak ada laporan resmi pelanggaran, tetapi ada indikasi konflik kepentingan. Kedua kasus melibatkan klien wanita dengan nilai proyek cukup besar."

Rahang Zayden mengeras sedikit, hampir tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama. Ia tidak menyela, memberi isyarat agar Arsen melanjutkan.

"Lanjut."

Arsen mengangguk. "Riwayat pribadi menunjukkan bahwa yang bersangkutan pernah bertunangan dengan Bu Elvara sekitar lima tahun lalu. Pertunangan tersebut batal satu bulan sebelum jadwal pernikahan."

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Zayden akhirnya mengalihkan pandangannya sepenuhnya dari layar laptop ke arah Arsen. Ada jeda singkat sebelum pertanyaan berikutnya keluar.

"Kenapa."

Arsen ragu sepersekian detik, tetapi tetap menjawab sesuai data yang ada. "Tidak ada laporan resmi yang tercatat. Namun dari sumber tidak langsung yang cukup konsisten, alasan pembatalan adalah perselingkuhan dari pihak pria."

Hening kembali jatuh.

Kali ini lebih berat.

Zayden mengulurkan tangan, mengambil tablet dari Arsen tanpa terburu-buru. Ia mulai membaca sendiri setiap detail yang tersedia, memperhatikan tanggal, lokasi, nama perusahaan, bahkan catatan kecil yang mungkin terlewat oleh orang lain. Cara ia membaca bukan seperti orang yang sekadar mencari informasi, tetapi seperti seseorang yang sedang menyusun potongan teka-teki.

Setiap baris terasa menambah sesuatu yang tidak ia sukai.

Darren Velric.

Nama itu kini tidak lagi sekadar sosok asing yang muncul tiba-tiba di kantor. Ia menjadi pria dengan masa lalu nyata bersama Elvara, seseorang yang pernah berada di posisi yang tidak pernah dimiliki Zayden dalam hidup wanita itu.

Dan lebih buruk lagi, pria itu mengkhianatinya.

Zayden menutup tablet dengan gerakan pelan, tetapi cukup tegas.

"Pantau pergerakannya."

Arsen langsung mengangguk. "Sejauh apa, Pak."

"Semua yang relevan."

Jawaban itu cukup jelas untuk tidak ditanyakan lebih lanjut. Arsen tahu batas yang tidak perlu dilampaui.

"Dan satu lagi."

"Ya, Pak."

"Panggil Bu Elvara."

Arsen menatapnya sejenak, memastikan tidak salah dengar. "Sekarang."

"Sekarang."

Arsen keluar tanpa komentar tambahan.

---

Di luar, Elvara sedang menyelesaikan laporan ketika interkom di mejanya berbunyi. Suara itu membuat tangannya berhenti sejenak di atas keyboard. Ia tidak langsung mengangkat kepala, tetapi napasnya berubah sedikit lebih berat.

"Masuk."

Suara Arsen terdengar singkat dan formal.

Ia menutup mata sebentar sebelum berdiri. Ia sudah bisa menebak alasan panggilan ini, atau setidaknya ia tahu arah pembicaraan tidak akan menyenangkan. Ia merapikan map di tangannya hanya untuk memberi dirinya waktu beberapa detik tambahan sebelum berjalan.

Saat pintu ruang CEO tertutup di belakangnya, ia langsung berdiri tegak tanpa mengambil kursi.

"Bapak memanggil saya."

Zayden tidak langsung menjawab. Ia masih berdiri di sisi meja, menatapnya dengan intensitas yang lebih lama dari biasanya. Tidak ada ekspresi berlebihan, tetapi jelas ada sesuatu yang sedang ia timbang.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Elvara, mencoba menjaga nada suaranya tetap stabil.

"Ada."

Zayden mulai berjalan perlahan mengitari meja, langkahnya tenang namun terukur. Ia berhenti beberapa langkah lebih dekat dari sebelumnya.

"Kenapa kamu masih bertemu mantanmu."

Pertanyaan itu jatuh tanpa pembuka, tanpa penjelasan, langsung menuju inti.

Elvara terdiam beberapa detik. Ia tidak terlihat terkejut, tetapi jelas tidak menyukai arah pembicaraan ini.

"Lalu."

"Itu pertanyaan saya."

"Dan itu bukan urusan Bapak."

Jawaban itu keluar cepat dan dingin, tanpa upaya memperhalus.

Zayden melangkah satu langkah lebih dekat. Jarak di antara mereka kini cukup untuk membuat suasana terasa lebih sempit.

"Dia datang ke kantor."

"Itu bukan pilihan saya."

"Kamu bicara dengannya."

"Karena dia memaksa."

"Kamu tidak pergi."

Nada suara Zayden tetap rendah, tetapi tekanan di dalamnya semakin jelas.

Elvara mengangkat dagu sedikit, menahan tatapan pria di depannya. "Saya bukan anak kecil yang harus lari dari semua orang yang pernah saya kenal."

"Dia bukan semua orang."

"Saya tahu."

"Dia pria yang mengkhianati kamu."

Kalimat itu membuat tubuh Elvara menegang. Bukan karena informasi itu baru, tetapi karena fakta itu diucapkan oleh orang yang tidak seharusnya tahu.

"Kamu menyelidiki saya sekarang?" suaranya mulai naik, meski masih terkendali.

"Saya mencari informasi yang saya butuhkan."

"Untuk apa."

"Untuk tahu siapa yang berdiri terlalu dekat dengan kamu."

Elvara menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. "Ini sudah keterlaluan."

"Mungkin."

"Tapi bukan berarti benar."

Ia menarik napas panjang, mencoba meredam emosi yang mulai naik ke permukaan. Ia tahu jika ia kehilangan kendali di ruangan ini, semuanya akan semakin rumit.

"Saya tidak punya kewajiban menjelaskan masa lalu saya ke Bapak."

Zayden berhenti tepat di depannya. Jarak mereka cukup dekat untuk membuat setiap perubahan ekspresi terlihat jelas.

"Tapi kamu menjelaskan ke dia."

"Itu tidak sama."

"Bedanya."

Elvara mengatupkan rahang. "Dia bagian dari masa lalu saya."

"Dan saya."

Pertanyaan itu keluar tanpa jeda, seolah tidak sempat disaring.

Hening sejenak memenuhi ruangan.

Elvara tidak langsung menjawab. Tatapannya sedikit berubah, tetapi tidak cukup untuk dibaca dengan mudah.

"Itu justru masalahnya," katanya akhirnya pelan. "Bapak tidak punya tempat di bagian mana pun."

Kalimat itu seharusnya cukup jelas.

Namun bukannya mundur, Zayden justru menatapnya lebih dalam, seolah mencari sesuatu di balik kata-kata tersebut.

"Kalau saya tidak punya tempat, kenapa kamu bereaksi seperti ini setiap kali saya mendekat."

Elvara menahan napas.

"Karena Bapak mengganggu hidup saya."

"Bukan hanya itu."

"Saya tidak tertarik membahasnya."

Ia berbalik hendak pergi, tetapi suara Zayden kembali menghentikannya.

"Dia masih menginginkan kamu."

Langkahnya terhenti tanpa sadar.

"Dan kamu tidak langsung memutusnya."

Elvara menoleh tajam. "Saya sudah menolak."

"Tidak cukup tegas."

"Menurut siapa."

"Menurut saya."

"Bagus. Simpan pendapat itu untuk diri sendiri."

Ia membuka pintu.

"Elvara."

Ia berhenti tanpa menoleh.

"Kalau dia datang lagi."

"Saya bisa urus sendiri."

"Dia bukan tipe yang berhenti."

Nada suara Zayden berubah sedikit, lebih berat dari sebelumnya.

"Saya sudah mengenalnya."

Elvara tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana.

"Saya tahu persis tipe pria seperti dia."

Zayden memperhatikan ekspresi itu dengan saksama. Ada sisa luka yang tidak diucapkan, tidak ditunjukkan secara terbuka, tetapi tetap ada. Itu cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya terasa tidak nyaman.

"Kenapa kamu tidak pernah cerita."

Elvara tertawa kecil tanpa humor. "Kepada siapa."

"Kepada saya."

Ia akhirnya menoleh.

Tatapan mereka bertemu, lebih lama dari sebelumnya.

"Kenapa saya harus."

Zayden tidak langsung menjawab. Ia menyadari bahwa ia tidak punya alasan logis untuk itu, tidak ada posisi resmi yang memberinya hak atas jawaban tersebut.

Namun perasaan itu tetap ada.

Mengganggu.

Menekan.

Tidak bisa diabaikan.

Elvara membuka pintu.

"Saya kembali kerja."

Ia keluar tanpa menunggu respon.

---

Begitu pintu tertutup, Zayden berdiri diam beberapa saat. Ia tidak langsung kembali duduk, tidak langsung mengambil pekerjaan lain. Pikirannya masih tertahan pada percakapan yang baru saja terjadi.

Ia berjalan kembali ke meja, mengambil tablet, dan membuka lagi file Darren. Kali ini ia membaca lebih lambat, seolah berharap menemukan sesuatu yang terlewat sebelumnya.

Riwayat hubungan.

Proyek yang ditangani.

Catatan konflik.

Semua membentuk gambaran pria ambisius dengan moral yang fleksibel, seseorang yang mampu memanfaatkan peluang tanpa mempertimbangkan dampaknya pada orang lain.

Tipe yang tidak ia hormati.

Dan tipe yang pernah dipilih Elvara.

Pikiran itu membuat rahangnya mengeras.

Ia meletakkan tablet kembali ke meja, lalu mengusap wajah dengan pelan. Perasaan ini tidak ia sukai, karena tidak terstruktur dan tidak bisa dikendalikan seperti hal lain dalam hidupnya.

Interkom berbunyi.

"Pak, Pak Darren sudah selesai meeting. Beliau meminta waktu lima menit lagi."

Zayden terdiam sejenak.

"Lima menit untuk apa."

"Beliau ingin bertemu Bu Elvara."

Ruangan kembali sunyi.

"Bilangkan Bu Elvara sibuk."

"Baik, Pak."

Sambungan terputus.

Beberapa detik kemudian, Zayden berdiri lagi, seolah keputusan barusan belum cukup.

"Arsen."

"Ya, Pak."

"Pastikan dia tidak mendekati area kerja Elvara."

"Baik."

Perintah itu keluar tanpa jeda, lebih cepat dari yang ia rencanakan.

Ia berjalan ke jendela, menatap kota di bawah sana. Namun pandangannya kosong, pikirannya tidak berada di luar gedung itu.

Elvara bilang ini bukan urusannya.

Secara logika, itu benar.

Namun perasaan tidak pernah mengikuti logika dengan rapi.

Ia mengingat kembali cara Darren menatap wanita itu tadi pagi. Cara bicara yang terlalu santai, seolah jarak lima tahun tidak berarti apa-apa. Cara pria itu berdiri, seolah masih memiliki hak untuk kembali.

Dan cara Elvara menjawab.

Tidak memberi harapan.

Namun juga tidak sepenuhnya menutup ruang.

Atau mungkin itu hanya interpretasinya yang terlalu jauh.

Ia tidak yakin.

Dan ketidakyakinan itu mengganggu lebih dari yang ia akui.

Ia mengambil ponsel, menatap layar beberapa detik sebelum mulai mengetik.

Jangan temui dia di luar kantor.

Pesan itu terkirim.

Beberapa detik kemudian, balasan muncul.

Itu bukan urusan Bapak.

Zayden menatap kalimat itu cukup lama. Jarinya bergerak lagi, mengetik balasan berikutnya dengan lebih cepat.

Sekarang sudah jadi urusan saya.

Ia berhenti tepat sebelum menekan kirim.

Beberapa detik berlalu.

Lalu ia menghapus seluruh kalimat itu.

Namun meski tidak terkirim, kata-kata itu tidak benar-benar hilang.

Kalimat itu tetap tinggal di kepalanya.

Dan kali ini, ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa semua ini tidak berarti apa-apa.

1
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gasskeun lah bang zay.. selidiki rheon anak mu apa bukan.. biar makin jelas posisi mu saat membela n mempertahankan keberadaannya
Lisa
Kapan y Zayden bisa mendekati Rheon lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!