NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: RAPAT MALAM BALAI DESA

Malam sabtu itu, pelataran Kantor Kelurahan tampak jauh lebih padat dari biasanya. Lampu-lampu neon panjang yang terpasang di langit-langit aula utama memancarkan cahaya putih benderang, menerangi puluhan kursi lipat besi yang sudah tertata rapi membentuk leter U. Sesuai dengan agenda bulanan, malam ini diadakan Rapat Koordinasi Gabungan Akbar. Rapat ini tidak hanya dihadiri oleh perangkat RT dan RW setempat, melainkan digabung langsung dengan jajaran perangkat dari desa sebelah, persis seperti agenda besar yang sempat diadakan beberapa waktu lalu.

Suara riuh rendah obrolan bapak-bapak antar-desa yang membahas batas wilayah dan masalah keamanan lingkungan bercampur dengan deru kipas angin dinding yang berputar maksimal, mencoba menghalau hawa gerah yang mulai merayap naik sejak pukul setengah delapan malam.

Di sudut barisan belakang, dekat dengan pintu keluar yang menghadap langsung ke arah tempat parkir motor, Aldi duduk dengan posisi tegap. Pemuda itu mengenakan kemeja batik lengan panjang bermotif gelap yang membuat postur tubuh bongsornya terlihat sangat matang dan berwibawa sebagai seorang pemimpin muda. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, sorot matanya malam ini tampak jauh lebih datar dan tenang—sebuah ketenangan yang sengaja ia pasang sebagai benteng pertahanan raksasa.

Di sebelah kanannya, Kenan duduk dengan tenang sembari sesekali mencatat poin-poin penting agenda rapat di buku saku kecilnya. Sementara di sebelah kiri Aldi, Sendy duduk dengan posisi siaga. Pemandangan malam ini benar-benar terasa sangat berbeda dari rapat-rapat koordinasi biasanya. Jika biasanya Kenan dan Sendy langsung kelayapan ke sana kemari, tebar pesona, atau sibuk menggoda anak-anak gadis kelurahan dan desa sebelah yang bertugas di bagian konsumsi di pojok ruangan, malam ini mereka berdua benar-benar menepati janji setianya sebagai sahabat.

Mereka berdua duduk menempel di sisi Aldi, menjaga jarak, dan memastikan sang Ketua Karang Taruna tidak merasa sendirian di tengah keramaian. Bahkan, Sendy yang biasanya tidak bisa diam dan selalu punya seribu satu bahan lawakan, malam ini tampak lebih banyak diam, melirik Aldi dengan pandangan seolah siap pasang badan jika ada hal yang mengganggu ketenangan sahabatnya itu.

Tidak jauh dari posisi mereka, duduk Mikhaela. Adik perempuan Aldi itu sengaja ikut datang malam ini atas izin Bunda Baren, dengan alasan ingin melihat bagaimana jalannya rapat koordinasi gabungan antar-desa secara langsung. Gadis remaja itu mengenakan tunik kasual bermotif bunga kecil dengan rambut yang dikuncir rapi. Berbeda dengan remaja seusianya yang mungkin akan sibuk bermain ponsel di tengah rapat bapak-bapak yang membosankan, mata jernih Mikhaela justru bergerak aktif. Ia sesekali melirik ke arah kakaknya, lalu mengalihkan pandangannya ke barisan depan, tepat ke arah tempat para ketua RT berkumpul.

Di barisan depan sebelah kanan, dekat dengan meja Kepala Desa, duduk Jasmine. Malam itu, Jasmine tampil sangat anggun dan bersahaja. Ia mengenakan blus formal berwarna khaki yang dipadukan dengan jilbab senada yang ditata rapi. Wajahnya yang matang tampak bersih tanpa riasan yang berlebihan, namun pancaran keanggunannya tetap menonjol di antara jajaran perangkat desa lainnya. Di pangkuannya, Nadeo kecil sesekali menggeliat pelan, memandangi ruangan dengan mata bulatnya yang mengantuk sebelum akhirnya menyandarkan kepala di bahu Jasmine.

Sejak awal rapat dimulai, fokus Jasmine sebenarnya sama sekali tidak tertuju pada lembaran kertas laporan alokasi program kerja antar-desa yang dipegangnya. Begitu ia melangkah masuk ke dalam aula tadi, matanya langsung mencari-cari sosok pemuda jangkung yang kemarin sore baru saja melontarkan kalimat lamaran paling berani di depan pintu rumahnya.

Jasmine mengira, ia akan menemukan Aldi yang seperti biasa; pemuda yang akan langsung menyambut kedatangannya dengan senyuman lebar, berjalan mendekat dengan langkah tegap untuk sekadar menyapa Nadeo, atau menawarkan bantuan untuk membawakan tas jinjingnya ke barisan depan.

Namun, kenyataan malam ini berbanding terbalik.

Saat pandangan mata mereka sempat bertemu selama dua detik di pintu masuk tadi, Aldi hanya memberikan sebuah anggukan kecil yang sangat formal—sebuah anggukan yang biasa diberikan oleh seorang bawahan organisasi kepada pejabat desa—tanpa disertai senyuman, tanpa ada binar hangat yang biasanya selalu menyala di sepasang mata elangnya. Setelah itu, Aldi langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, berjalan lurus menuju barisan belakang bersama Kenan dan Sendy.

Jasmine bisa merasakan ada sesuatu yang dingin dan berjarak yang sengaja dibentangkan oleh Aldi malam ini. Perubahan sikap itu terasa begitu mendadak dan menyengat hatinya. Selama jalannya rapat yang membahas tentang koordinasi sosial antar-wilayah desa, Jasmine beberapa kali sengaja menoleh ke belakang, mencoba menangkap kembali arah pandangan mata Aldi. Namun, setiap kali ia menoleh, Aldi selalu terlihat sedang asyik berdiskusi dengan Kenan, membisikkan sesuatu ke telinga Sendy, atau sibuk membenarkan letak duduk Mikhaela yang tampak mengantuk.

Aldi bener-bener membatasi ruang geraknya. Ia seolah menolak untuk menatap ke arah depan, menolak untuk memberikan celah bagi Jasmine untuk sekadar membaca isi pikirannya malam ini. Hubungan hangat yang selama beberapa minggu terakhir ini terbangun di antara mereka, malam ini seolah menguap begitu saja, digantikan oleh profesionalisme kerja yang kaku dan dingin.

Jasmine menggigit bibir bawahnya pelan, dadanya mendadak dipenuhi oleh rasa sesak dan ketidaknyamanan yang asing. Apakah Mas Aldi marah karena sore kemarin aku meminta waktu untuk berpikir? Atau ini karena desas-desus lain? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di dalam benak Jasmine, membuat fokusnya buyar total hingga ia beberapa kali salah merespons saat namanya dipanggil oleh sekretaris desa untuk mengonfirmasi data warganya.

Saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, rapat koordinasi gabungan antar-desa akhirnya resmi ditutup oleh Kepala Desa dengan ketukan palu sebanyak tiga kali. Suara riuh kursi besi yang digeser langsung memenuhi seisi aula saat para peserta rapat dari kedua desa mulai berkemas untuk pulang.

Melihat kesempatan itu, Jasmine bergegas merapikan berkas-berkasnya ke dalam tas. Sembari menggendong Nadeo yang sudah tertidur lelap di pundak kirinya, ia melangkah memotong jalur barisan kursi, berusaha mendekati area pintu belakang tempat Aldi dan rombongannya berada. Jasmine ingin berbicara, ia ingin menanyakan langsung kenapa sikap pemuda itu berubah drastis dalam waktu semalam.

Namun, Aldi tampaknya sudah membaca pergerakan itu dengan sangat baik. Begitu kalimat salam penutup selesai diucapkan, Aldi langsung menepuk pundak Sendy dan merangkul bahu Mikhaela.

"Yuk, balik. Mikha udah ngantuk banget ini, kasihan Bunda kalau kita kemaleman," ujar Aldi dengan nada suara yang sengaja dikeraskan, cukup untuk terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.

"Ayo, Dul. Biar gue yang bawa motor di depan, lu jagain adek lu di belakang," sahut Sendy sigap, langsung bergerak membuka jalan di depan Aldi seolah menjadi pagar hidup yang menghalangi siapa pun untuk mendekat.

Kenan berjalan di sisi kanan Aldi, menutup ruang dari arah barisan depan. Dengan formasi ketat seperti itu, Aldi berjalan cepat menembus kerumunan perangkat desa yang sedang bersalaman, melewati pintu belakang, dan langsung menuju ke area parkiran motor yang temaram tanpa sekali pun menoleh ke belakang, ke arah tempat Jasmine yang berdiri terpaku di dekat tiang aula besar.

Jasmine menghentikan langkah kakinya tepat di selasar bangunan kelurahan. Angin malam yang dingin menerpa wajahnya, namun rasa dingin itu kalah telak dengan kekosongan yang mendadak melanda hatinya saat melihat lampu motor Aldi menyala, lalu bergerak pergi meninggalkan pelataran kelurahan bersama Kenan dan Sendy.

Jasmine berdiri diam di bawah temaram lampu selasar, mendekap Nadeo lebih erat ke dadanya. Ia sadar sepenuhnya sekarang; Aldi tidak sedang sibuk, pemuda itu bener-bener sedang menjauh, menarik kembali seluruh kehangatan yang kemarin sempat ditawarkannya dengan begitu tulus. Dan bagi Jasmine, keheningan baru ini terasa jauh lebih membingungkan daripada lamaran mendadak yang ia terima kemarin sore.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!