Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.
Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara Dan Ketulusan Yang Menyatu
Ryan masih menolak percaya bahwa Ares adalah kakak kandungnya tapi Tuan Tama memberikan bukti tes DNA yang sulit disangkal. Ryan sangat marah, entah karena ayahnya membawa pulang anak haram ataukah karena anak haram itu adalah Ares-pria yang merebut kekasih hatinya.
Namun, satu hal yang Ryan inginkan saat ini, yaitu memisahkan Ares dari Lyra bagaimana pun caranya.
“Minggir!” Ryan mendorong Vano yang menghalanginya masuk ke ruang kerja Ares. Ryan tak bisa menahan diri lagi, ia begitu murka dan ingin melampiaskan amarahnya pada Ares.
“Saat ini Tuan Tuan Ares benar-benar sedang tidak bisa diganggu, Tuan Ryan,” tegas Vano. “Jika ada yang sangat penting, tinggalkan pesan saja.”
Ryan tak mau mendengar, ia menerobos masuk ke ruang kerja Ares di mana sudah ada Leo dan Lian di sana.
“Tuan Ares, saya sudah berusaha menghentikan_”
“Nggaka pa-apa, Vano.” Ares menanggapi dengan tenang meski saat ini ia melihat sorot mata Ryan begitu tajam seakan ingin mengulitinya hidup-hidup. Lalu ia memberi isyarat pada Leo dan Lian untuk meninggalkan ruangan.
“Ada apa?” tanya Ares setelah tak ada orang lain di ruang kerjanya.
“Kamu tahu kalau Papa itu ayah kandungmu?” Ryan langsung bertanya pada intinya sambil mengamati reaksi Ares.
Tenang, tidak terlihat keterkejutan sedikit pun di raut wajah pria itu membuat Ryan langsung tersenyum getir.
Sepertinya yang tidak tahu hanya dirinya.
Sementara Ares membalas tatapannya dengan datar, pria itu bahkan tidak mau repot-repot bertanya mengapa Ryan mengajukan pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba.
“Jadi kamu memanfaatkan Papa untuk mendapatkan Lyra.” Ryan menggebrak meja kerja Ares, tatapannya tertuju tepat ke mata sang kakak yang saat ini juga menatapnya. “Sejak kapan kamu mengincarnya?”
Ares menegakkan punggung, satu sudutnya terangkat lalu dengan percaya diri dia menjawab, “Yang pasti jauh sebelum kamu mengenalnya.”
“Ares!” Ryan menggeram tertahan, bahkan tangannya sudah terangkat untuk melayangkan pukulan pada Ares, tetapi ia segera menyadarkan diri bahwa tidak ada gunanya melakukan kekerasan.
Itu bukan gayanya.
“Kamu menjebak keluarga kami untuk memisahkan kami. Iya, kan?”
Ares hanya menaikkan alis seakan menantang menantang Ryan untuk membuktikan tuduhannya.
Benar, saat ini Ryan masih tidak memiliki bukti yang kuat tentang kelicikan Ares tapi ia yakin pasti ada jejak yang pria itu tinggalkan saat Menyusun siasat.
“Lyra mencintaiku, Ares, perasaan kami tulus dan murni. Jika nanti dia tahu kamu sengaja memisahkan kami, menurutmu akan seperti apa reaksinya, uh?”
“Aku nggak melakukan apa pun.” Ares berkata dengan tenang. “Papa yang memaksa kami menikah, Lyra juga setuju dengan suka rela, bahkan … sekarang dia sudah membuka hati dan diri untukku.”
“Kamu_” Napas Ryan memburu, dadanya naik turun, darahnya terasa panas membayangkan wanita yang dicintainya membuka hati dan diri untuk pria lain sedang ia tak bisa berbuat apa-apa. “Dasar licik!” maki Ryan.
Ares tersenyum tipis lalu berkata, “Terima kasih.”
***
“Ra, sudah mau jam sembilan. Nggak pulang?”
Lyra melirik arlojinya lalu menggeleng. “Kamu ngejar target apa gimana sih, Ra?” Sena menghampiri sahabatnya yang kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan. “Akhir-akhir ini kamu kerja kayak nggak kenal waktu.”
“Mumpung lagi semangat aja.” Lyra menjawab dengan asal membuat Sena menghela napas berat.
“Kamu malas pulang ke rumah Ares?”
Lyra langsung terkesiap mendengar pertanyaan Sena yang tepat sasaran. Ia memang sangat malas pulang ke rumah dan bertemu dengan Ares, malas berakting seakan perasaannya baik-baik saja di depan pria itu.
“Kalau malas pulang ke rumah Ares, pulang ke rumahku aja,” usul Sena.
“Bisa bantu aku carikan apartemen di dekat kantor, Na?”
Sena langsung mengerutkan dahi mendengar permintaan Lyra. “Kamu mau pindah rumah?”
Lyra mengangguk. Cepat atau lambat pernikahannya dengan Ares akan berakhir jadi ia harus mencari tempat tinggal setelah perceraian nanti.
“Apartemen yang dulu terlalu jauh dari kantor, aku nggak mau buang waktu di perjalanan.”
Sena terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. Saat keluar dari rumah orang tuanya, Sena membujuk Lyra agar mau tinggal bersama dengannya tapi Lyra menolak, sahabatnya itu berkata ingin mandiri, tidak bergantung pada siapa pun termasuk Sena.
Namun, setelah menikah, Ares memintanya pindah ke rumah pria itu dengan alasan untuk menenangkan kedua keluarga.
“Kalau gitu aku pulang duluan, ya. Besok pagi aku bantu cari informasi apartemen di dekat kantor.”
Lyra hanya menjawab dengan gumaman singkat. Setelah Lyra pergi, ia kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
“Oh Tuhan!” Lyra mendesah lesu saat tak menyadari waktu berlalu dengan sangat cepat, apalagi ini kali pertama ia lembur di kantor sampai hampir tengah malam.
Lyra mengendarai mobil dengan kecepatan rendah, ia menyetir dengan tenang sambil mendengarkan lagu favoritnya. Akan tetapi, sebuah mobil hitam di belakangnya membuat Lyra sedikit cemas karena ia merasa mobil itu mengikutinya sejak dari kantor tadi.
Awalnya Lyra berusaha mengabaikan perasaan itu, yakin tidak akan terjadi apa-apa. Akan tetapi, pada akhirnya Lyra merasa takut apalagi ia sendirian. Tanpa pikir panjang, Lyra langsung menghubungi Ares karena hanya pria itu yang saat ini muncul dalam benaknya.
“Ada apa, Sayang?” Suara Ares terdengar begitu lembut dari Seberang telepon.
“Kamu di mana?” Lyra kembali melirik mobil hitam yang semakin dekat dengannya.
“Di kantor, ada apa?”
“Bisa jemput aku? Sepertinya aku diikuti seseorang.”
Ares tak menjawab, membuat Lyra semakin cemas, bahkan ia berpikir Ares mungkin akan mengabaikannya. “Nggak usah, mungkin hanya perasaanku aja,” ketus Lyra lalu mengakhiri panggilan dengan kesal.
Jika dipikir kembali, sepertinya Ares memang tidak mengkhawatirkannya. Ia tidak pulang sampai tengah malam tapi pria itu tidak menghubunginya sama sekali, bahkan tidak ada satu pesan pun yang bertanya tentang keberadaannya.
Walaupun status mereka hanya sepasang suami istri kontrak, tetapi bagi Lyra terlalu kejam jika tak ada kepedulian sedikit pun.
“Walaupun hanya Binatang peliharaan tapi kalau bersama tiap hari pasti ada kepedulian, kan? Emang dasar aja, benar-benar iblis dari nereka, nggak punya perasaan.” Lyra terus menggerutu hingga ponselnya kembali berdering, tertera nama suaminya di layar benda pipih itu.
Lyra menjawab panggilan itu dengan malas.
“Apa?” ketusnya.
“Aku di belakangmu, Sayang.”
“Uh?” Secara spontan Lyra menoleh dan benar saja, ada mobil suaminya tepat di belakang mobilnya.
“Menepi, Lily. Pulang sama aku.”
Lyra kehilangan kata-kata apalagi saat mobil Ares menyalip mobilnya, membuat Lyra terpaksa menepikan mobilnya.
Ia sungguh tidak mengerti bagaimana bisa Ares yang katanya ada di kantor, sekarang justru tiba-tiba muncul di hadapannya hanya dalam waktu beberapa menit. Suaminya itu bukan super hero yang bisa terbang, kan?
Ares keluar dari mobilnya lalu menghampiri mobil Lyra, meminta istrinya itu pulang bersamanya. “Kamu pasti lelah, jadi pulang sama aku, oke?”
Lyra memang sangat lelah, bahkan ia sudah mulai mengantuk. “Kok kamu bisa ada di sini?” Lyra celingukan, mencari mobil hitam yang ia yakin mengikutinya.
“Bukannya kamu minta jemput, hm?”
“Tapi_”
“Cuaca sangat dingin.” Ares memakaikan jasnya pada Lyra lalu merangkul wanita itu masuk ke mobilnya.
“Gimana sama mobilku?” tanya Lyra bingung.
“Biar orangku yang urus.”
Lyra tak lagi mengatakan apa pun meski saat ini ia sangat penasaran bagaimana Ares bisa muncul di hadapannya, bagaimana pria itu bisa tahu posisinya.
“Tidur aja, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai,” pinta Ares seraya mengusap kepala Lyra dengan sayang.
Lyra hanya mengangguk lalu memejamkan mata sedangkan Ares kembali fokus menyetir. Karena sangat lelah, Lyra benar-benar tertidur dan ia baru terbangun ketika Ares menggendongnya turun dari mobil.
“Maaf, Lily, aku membangunkanmu,” ucap Ares penuh penyesalan sedangkan Lyra yang berada dalam dekapan pria itu hanya mengerutkan dahi.
Cara Ares memperlakukannya masih sama, terlihat begitu tulus, bahkan ia meminta maaf hanya karena Lyra terbangun saat digendong.
“Sebenarnya kamu yang asli itu yang mana, Ares?” lirih Lyra seraya mengalungkan lengannya di leher Ares. “Saat kamu di rumah atau saat di luar rumah?”
“Maksudnya?”
“Maksudku, kapan kamu berakting? Saat berada di rumah atau saat di luar rumah? Yang mana sandiwaramu? Suami yang penuh perhatian di rumah atau pria asing nggak berperasaan di luar rumah?”
Ly mungkin cinta Ares salah tapi percayalah dia tulus mencintaimu dan dia lakukan itu untuk melindungi mu.