NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Putri Terbuang: Pelayan Itu Ternyata Suamiku

Reinkarnasi Putri Terbuang: Pelayan Itu Ternyata Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Putri asli/palsu / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
​Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
​Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
​"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
​Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: RAPAT DARURAT DAN BAYANG-BAYANG MAUT

​"Jika saham kita terus anjlok besok pagi, aku tidak akan ragu untuk mencoret namamu dari daftar ahli waris, Nerina. Kamu menghancurkan reputasi yang kubangun selama puluhan tahun hanya demi egomu!"

​Suara Elyas Lynn menggelegar di ruang rapat keluarga yang dingin. Lampu gantung kristal di atas meja makan kayu jati itu bergetar seiring dengan gebrakan tangannya. Di sebelah kanan, Anora Lynn hanya bisa terisak pelan sambil memijat pelipisnya, sementara Nero duduk dengan rahang mengeras, menatap Nerina seolah adiknya itu adalah orang asing yang berbahaya.

​Nerina duduk di ujung meja, tetap dengan posisi punggung tegak. Ia tidak menyentuh tehnya yang sudah mendingin. Di belakangnya, Ergino berdiri dengan tatapan waspada, sepasang matanya tidak pernah berhenti memindai seisi ruangan.

​"Ego, Ayah?" Nerina menyahut dengan nada yang sangat tenang, kontras dengan ledakan kemarahan Elyas. "Aku menyelamatkan apa yang tersisa dari integritas Lynn. Jika Andrew tetap menjadi bagian dari keluarga ini setelah apa yang dia lakukan, investor akan menganggap kita adalah komplotan penggelap dana. Apakah itu reputasi yang Ayah inginkan?"

​"Tapi dia tunanganmu!" Anora menyela dengan suara bergetar. "Bisa saja kita bicarakan ini secara tertutup, Nerina. Kenapa harus di depan media?"

​"Karena di kehidupan... karena di dunia ini, Ibu, diam berarti mati," jawab Nerina tajam.

​Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka perlahan. Elysia masuk dengan langkah gontai. Ia mengenakan piyama sutra putih yang membuatnya tampak pucat dan rapuh, seolah-olah beban dunia baru saja jatuh di pundaknya.

​"Ayah... Ibu..." Elysia terisak, langsung menghambur ke pelukan Anora. "Ini semua salahku. Jika saja aku tidak kembali, Kak Nerina tidak akan semarah ini. Aku... aku akan pergi saja. Aku tidak ingin melihat keluarga ini hancur."

​"Lihat!" Nero menunjuk ke arah Elysia. "Elysia sampai ketakutan seperti ini. Kamu puas sekarang, Nerina? Kamu membuat adikmu sendiri merasa seperti sampah di rumahnya sendiri!"

​Nerina menoleh ke arah Ergino, memberikan isyarat mata yang hanya dipahami oleh mereka berdua. Ergino sedikit mengangguk.

​"Elysia," panggil Nerina. "Drama 'sakit' dan 'ingin pergi' ini sudah terlalu membosankan. Jika kamu ingin pergi, silakan. Pintu depan selalu terbuka. Tapi jangan lupa mengembalikan semua fasilitas yang kamu gunakan selama seminggu ini, termasuk biaya perhiasan yang kamu pesan atas nama perusahaan."

​Elysia tersentak, tangisnya berhenti sejenak. Ia menatap Nerina dengan benci yang tak lagi bisa disembunyikan sepenuhnya. "Kakak benar-benar tidak punya hati..."

​"Cukup!" Elyas berdiri. "Nerina, mulai malam ini, aku membatasi aksesmu ke sistem utama kantor. Kamu tetap Direktur Operasional, tapi Nero yang akan mengawasi setiap langkahmu. Dan untuk pelayanmu ini..." Elyas menunjuk Ergino. "Aku tidak ingin melihatnya di area rumah lagi setelah malam ini. Dia harus tinggal di asrama pelayan di belakang!"

​Nerina hendak memprotes, namun ia merasakan tangan Ergino menyentuh bahunya sekilas—sebuah isyarat untuk tetap tenang.

​"Baik, Ayah," jawab Nerina singkat. "Jika itu yang Ayah inginkan."

......................

​Sementara itu, di sebuah bar remang-remang di pinggiran kota, Andrew Fred Fidelis duduk dengan segelas wiski di tangannya. Wajahnya yang dulu tampan kini terlihat berantakan. Ia baru saja kehilangan segalanya: tunangannya, hartanya, dan nama besar keluarganya.

​Di depannya, duduk seorang pria dengan jaket kulit hitam dan topi yang menutupi sebagian wajahnya.

​"Aku ingin dia hilang," desis Andrew, suaranya parau karena dendam. "Bukan hanya mati. Aku ingin dia merasakan ketakutan sebelum napasnya berhenti."

​Si pria misterius itu menggeser sebuah foto Nerina ke tengah meja. "Ini akan mahal, Tuan Fidelis. Dia selalu diikuti oleh pelayan itu. Dan pelayan itu... dia bukan orang sembarangan."

​"Aku tidak peduli!" Andrew melemparkan sebuah tas berisi tumpukan uang tunai ke atas meja. "Itu uang terakhirku. Lakukan besok pagi saat dia berangkat ke kantor. Singkirkan pelayannya, lalu habisi wanita itu."

​Pria berjaket kulit itu menyeringai, memperlihatkan gigi yang tidak rata. "Pesanan diterima. Besok malam, mawar hitammu tidak akan mekar lagi."

......................

​Kembali ke kediaman Lynn, Nerina sedang berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Ergino. Lorong itu sunyi, hanya suara langkah kaki mereka yang menggema.

​"Gino," panggil Nerina lirih. "Ayah benar-benar ingin memisahkan kita. Kamu harus pindah ke asrama pelayan malam ini."

​"Asrama itu hanya berjarak lima ratus meter dari sini, Nona. Itu tidak akan menghentikan saya untuk melindungi Anda," jawab Ergino.

​Nerina berhenti, berbalik menatap pria itu. "Aku punya firasat buruk, Gino. Andrew... dia bukan tipe orang yang akan menyerah begitu saja. Dia terlihat sangat gelap saat meninggalkan kantor tadi."

​Ergino melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka. Di bawah temaram lampu lorong, matanya tampak begitu dalam dan protektif. "Saya sudah tahu. Andrew telah menghubungi seseorang dari dunia bawah sore tadi."

​Nerina membelalak. "Bagaimana kamu tahu?"

​"Saya selalu tahu," jawab Ergino datar. "Dia menyewa pembunuh bayaran. Rencananya adalah menyerang mobil kita saat menuju kantor besok pagi."

​Nerina merasakan dingin menjalar di punggungnya. Bayangan kematian di gudang tua itu kembali menghantuinya. "Lalu... apa yang harus kita lakukan? Melapor ke polisi?"

​Ergino tersenyum tipis—senyuman yang membuat Nerina merasa bahwa pria ini jauh lebih berbahaya daripada pembunuh bayaran mana pun. Ia meraih tangan Nerina, menggenggamnya dengan kekuatan yang memberikan ketenangan instan.

​"Jangan takut, Nerina," bisik Ergino, untuk kedua kalinya menggunakan namanya tanpa gelar. "Biarkan mereka datang. Saya sudah menyiapkan sambutan yang pantas. Besok pagi, Anda akan berangkat ke kantor seperti biasa. Tapi jangan gunakan mobil sedan Lynn. Gunakan mobil SUV hitam yang sudah saya siapkan di garasi samping."

​"Gino... siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu bisa tahu rencana pembunuhan sebelum itu terjadi?" tanya Nerina, suaranya bergetar.

​Ergino membungkuk, wajahnya sejajar dengan wajah Nerina. Napasnya yang hangat menyentuh kulit Nerina. "Untuk malam ini, tidurlah dengan nyenyak. Anggap saja ini adalah bagian dari 'layanan ekstra' pelayan Anda."

​Ergino melepaskan tangan Nerina dan membungkuk hormat. "Selamat malam, Nona Aralynn."

​Nerina menatap punggung Ergino yang menjauh menuju arah asrama pelayan. Ia masuk ke kamarnya dan mengunci pintu dengan rapat. Ia berdiri di balik jendela, melihat ke arah asrama pelayan yang gelap.

​Di dalam hatinya, Nerina sadar bahwa Andrew sedang mencoba membunuhnya kembali. Tapi kali ini, ia tidak akan mati sendirian di gudang yang kotor. Ia memiliki Ergino—pria misterius yang sepertinya bisa menghentikan waktu dan takdir hanya dengan satu tatapan matanya.

​Namun, satu pertanyaan tetap mengganjal: Jika Ergino tahu segalanya, apakah dia juga tahu bahwa Nerina adalah seseorang yang kembali dari masa depan?

1
Ariska Kamisa
/Shhh//Shhh//Shhh//Shhh//Shhh/
aditya rian
burulah dinikahin nerina nya gino
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
anak angkat seakan sengaja dibuang agar bisa hidup
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
wow/Scare/
Ariska Kamisa: 🤔🤔🤔🤔🤔
total 1 replies
aditya rian
mulai babak drak romance
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
rahasia terbaru👍
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
gino tidak mati dulunya? apakah time traveler?
Ariska Kamisa: ikuti terus ya🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
ergino keren amat
Ariska Kamisa: terimakasih🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
cettaass
aditya rian
wow tentara bayaran
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
💪💪💪💪💪💪
Ariska Kamisa: 💪💪💪💪💪
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
sepertinya ergino terobsesi 🤭
Ariska Kamisa: yes👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
ini mulai babak baru , misteri ibu kandung nerina.
Ariska Kamisa: betul
total 1 replies
aditya rian
gob**k elysia 🤣
aditya rian
ibu kandung nya hidup???
aditya rian
dibutakan oleh rasa bersalah karena telah terpisah lama ini orang tuanya jadi anak salah geh kaya ga mau salah🤭
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
rame👍
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
siapa gino sebenarnya, begitu kuat kah sehingga di takuti
Ariska Kamisa: 💪💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!