NovelToon NovelToon
Menikah Karena Tekanan Keluarga

Menikah Karena Tekanan Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 33 : IKRAR DI BALIK KABUT MISTERI

Malam di Jakarta terasa lebih pekat dari biasanya. Sisa-sisa bau hangus dari butik Mama Clarissa seolah-olah masih menempel di indra penciuman Anya, meski ia sudah berada di dalam kamarnya yang nyaman di mansion Arkatama. Anya Clarissa duduk di tepi tempat tidur, jemarinya bergetar saat memegang secarik kertas kecil yang baru saja diberikan Bi Inah.

"Cari di tempat di mana kalian pertama kali saling membenci."

Kalimat itu menari-nari di kepalanya seperti hantu. Anya memejamkan mata, dan seketika ingatannya terlempar kembali ke siang bolong yang panas di lokasi proyek The Emerald Garden. Saat itu, ia berdiri dengan bot penuh lumpur, memaki pria sombong yang kini menjadi suaminya karena masalah parkir dan ego.

"Ada apa, Sayang? Kenapa wajahmu sepucat itu?"

Suara bariton yang lembut itu memecah lamunan Anya. Devan melangkah masuk, hanya mengenakan kaus polos hitam yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Ia baru saja selesai berkoordinasi dengan tim intelijennya yang masih melaporkan hasil nihil.

"Mas... lihat ini," bisik Anya.

Untuk pertama kalinya, Anya memanggil Devan dengan sebutan "Mas". Devan tertegun di ambang pintu. Jantung sang CEO yang biasanya sedingin es itu mendadak mencair hanya karena satu kata pendek itu. Ia mendekat, duduk di samping Anya, dan mengambil kertas tersebut.

"Mas, ini pasti dari mereka. Mereka sedang mempermainkan kita," ucap Anya lagi, matanya berkaca-kaca.

Devan merangkul bahu Anya, menariknya ke dalam pelukan yang hangat. "Sabar, Sayang. Kita akan bedah maksud pesan ini bersama Papa dan Mama Sarah di bawah. Tapi sebelumnya, aku ingin kamu tenang. Jangan biarkan mereka menang dengan melihatmu hancur seperti ini."

Di ruang tengah, Papa Arkatama dan Mama Sarah (Nyonya Sarah Arkatama) sudah menunggu dengan wajah cemas. Anya meletakkan pesan itu di atas meja marmer.

"Tempat pertama kali saling membenci? Apa itu artinya kantor pusat?" tanya Papa Arkatama, mencoba berpikir logis.

"Bukan, Pa. Itu di lokasi proyek The Emerald Garden," jawab Anya pelan. "Tapi Mas Devan sudah mengirim orang ke sana tadi sore, dan tempat itu kosong, kan Mas?"

Devan mengangguk. "Benar, Sayang. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Sepertinya Bram benar-benar sudah merencanakan ini dengan sangat rapi. Dia tahu kita akan mencari di tempat-tempat logis, maka dia menggunakan teka-teki untuk menyesatkan kita."

Mama Sarah, yang sejak tadi diam sambil memegang daster sutranya, tiba-tiba berdiri. "Anya, Sayang... jangan-jangan maksudnya bukan lokasi fisik! Tapi rasa benci itu sendiri! Apa ada tempat lain yang punya kenangan buruk buat kalian?"

"Ma, ini bukan kuis teka-teki silang," potong Papa Arkatama lelah.

"Lho! Justru teka-teki begini yang bikin pusing! Mama Sarah tadi coba tanya ke grup WhatsApp 'Ibu-Ibu Arisan Anti-Pelakor', katanya biasanya kalau orang hilang begini, mereka sembunyi di tempat yang paling dekat tapi nggak kepikiran. Contohnya... di bawah kolong tempat tidur?!" seru Mama Sarah sambil mulai membungkuk mengecek kolong meja tamu.

Anya tersenyum tipis melihat tingkah mertuanya yang sangat luar biasa itu. Devan hanya bisa menghela napas sambil mengusap wajahnya. "Ma, Om Bram itu buronan internasional, nggak mungkin sembunyi di kolong meja kita."

...****************...

Sementara itu, jauh di bawah permukaan tanah di kawasan Tangerang yang terbengkalai, Om Bram dan Rico sedang merayakan keberhasilan mereka. Mereka melihat melalui tablet rahasia yang terhubung dengan penyadap di area publik Jakarta, betapa konvoi mobil Arkatama mondar-mandir kebingungan.

"Lihat itu, Pa! Devan si sombong itu seperti ayam kehilangan induk!" Rico tertawa terbahak-bahak hingga tersedak wiskinya. "Dia mengirim pasukan ke pelabuhan, ke studio, bahkan ke rumah lama Mama Clarissa. Semuanya kosong!"

Om Bram tersenyum sinis, asap cerutunya mengepul di ruangan lembap itu. "Biarkan mereka lelah, Rico. Semakin lama mereka mencari, semakin hancur mental mereka. Besok, saat Eleonora mengirimkan koordinat penjemputan kita, kita akan meninggalkan pesan terakhir yang akan membuat mereka menyesal telah membuang kita."

Mereka benar-benar merasa di atas angin. Pekerjaan mereka kini hanya satu: menghancurkan Arkatama dari kegelapan. Meskipun mereka tidak lagi punya jabatan atau gaji triliunan, rasa dendam telah memberi mereka energi yang luar biasa.

...****************...

Kembali ke mansion, malam semakin larut. Setelah rapat keluarga yang tidak membuahkan hasil pasti, Devan membimbing Anya kembali ke kamar. Suasana di dalam kamar begitu tenang, hanya terdengar suara detak jam dinding dan desau angin di luar jendela.

Anya berdiri di depan jendela besar, menatap gemerlap lampu Jakarta yang tampak tidak peduli dengan luka di hatinya. Devan mendekat, memeluk Anya dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggang ramping sang istri.

"Mas..." bisik Anya, menyandarkan kepalanya di bahu Devan.

"Iya, Sayang?" Devan mencium leher jenjang Anya, membuat sensasi hangat merambat ke seluruh tubuh wanita itu.

"Aku takut. Bagaimana kalau kita tidak pernah bisa menemukan mereka? Bagaimana kalau butik Mama itu hanya awal dari kehancuran kita?"

Devan memutar tubuh Anya, menangkup wajahnya dengan kedua tangan yang kokoh namun penuh kelembutan. "Dengarkan Mas, Sayang. Arkatama bukan dibangun dari uang semata, tapi dari keberanian. Dan pernikahan kita bukan lagi soal kontrak. Mas akan memberikan segalanya—harta, kekuasaan, bahkan nyawa Mas—untuk memastikan kamu dan keluarga kita aman."

Tatapan mata Devan yang dalam dan penuh pemujaan membuat Anya luluh. Ia bisa merasakan cinta yang begitu tulus mengalir dari pria yang dulu ia anggap sebagai monster. Anya menjinjit, mendaratkan ciuman lembut di bibir Devan.

Ciuman itu awalnya lembut, sebuah bentuk penghiburan, namun dengan cepat berubah menjadi penuh gairah yang menuntut. Devan mengangkat tubuh Anya dengan gaya bridal style, membawanya perlahan menuju ranjang mereka yang luas.

Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, Devan melepaskan kaus hitamnya, memperlihatkan otot dada dan perutnya yang bidang—hasil dari kedisiplinan yang luar biasa. Anya menelan ludah, hatinya berdegup kencang. Devan perlahan membuka kancing baju Anya satu per satu, matanya tak pernah lepas dari mata istrinya, seolah sedang meminta izin untuk setiap inci kulit yang ia buka.

"Kamu adalah karya seni terindah yang pernah Mas lihat, Sayang," bisik Devan dengan suara serak yang sangat maskulin.

Sentuhan tangan Devan di kulit Anya terasa seperti api yang membakar semua ketakutan. Mereka melebur dalam keintiman yang dalam, sebuah perayaan cinta yang murni di tengah ancaman dunia luar. Di malam itu, tidak ada lagi CEO dan Arsitek; yang ada hanyalah dua manusia yang saling memiliki seutuhnya. Setiap desah napas dan sentuhan menjadi janji bahwa mereka adalah satu kekuatan yang tak terpisahkan.

...****************...

Pagi harinya, Anya terbangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Ia melihat Devan masih tertidur di sampingnya, wajahnya tampak damai tanpa kerutan stres yang biasanya ada di kantor. Anya tersenyum sendiri, mengingat panggilan "Mas" yang membuat Devan tersipu semalam.

Namun, ketenangan itu kembali terusik saat Anya melihat ponselnya. Sebuah pesan suara dari nomor yang tidak dikenal masuk. Suara itu adalah suara Rico.

"Hai, Anya... sudah puas bermain-main dengan Devan semalam? Kami punya hadiah kedua untukmu. Kali ini, bukan butik yang akan terbakar, tapi... coba cek studio bunga kesayanganmu sekarang. Selamat pagi, Nyonya Arkatama."

Anya langsung melompat dari tempat tidur. "Mas! Mas Devan, bangun! Studio bunga, Mas!"

Pekerjaan Devan sebagai CEO dan Anya sebagai arsitek kini benar-benar menjadi taruhan. Mereka menyadari bahwa mencari Bram dan Rico bukan lagi soal melacak sinyal, tapi soal memenangkan perang mental. Bram dan Rico sengaja membuat mereka susah melacak agar bisa menyerang satu per satu aset emosional Anya.

Di sisi lain, Papa Arkatama yang sedang sarapan di bawah tampak sangat kecewa saat membaca berita bahwa beberapa mitra bisnisnya mulai ragu karena masalah keluarga ini. "Bram... kamu benar-benar ingin aku mati di tangan adikku sendiri," gumam Papa dengan sangat sedih.

Petualangan mencari para pengkhianat ini masih sangat panjang, dan mereka harus bersiap untuk kehilangan lebih banyak sebelum bisa mendapatkan segalanya kembali.

1
Emily
ada ada aja orang jahat
Emily
😂😂😂jus pare satu ember ...ada aja mama sarah
Emily
Valerie otak kriminal
Emily
memang kampret si valerie
Emily
Valerie Mak lampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!