NovelToon NovelToon
DARI TUKANG PAKIR HINGGA LEGENDA

DARI TUKANG PAKIR HINGGA LEGENDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan besar, berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.
Tubuhnya ramping, kulitnya agak gelap karena sering terpapar sinar matahari, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang jarang dimiliki anak-anak muda seusianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Sisa Abu dan Tekad Baru

Hujan turun deras sekali, membasahi kaca gedung pencakar langit yang kini terasa dingin dan asing. Rian berdiri sendirian di tengah ruangan kerjanya yang luas. Dokumen-dokumen berhamburan di lantai, sisa kekacauan yang ditinggalkan Serli dan orang-orang Darmawan.

Di tangannya, ia masih menggenggam selembar foto—kenangan saat mereka baru memulai usaha, saat kantor mereka masih berukuran kecil, dan saat senyum Sara masih terlihat tulus, seolah tak ada kepalsuan sedikit pun di sana.

Ia meremas foto itu hingga terlipat, lalu melemparkannya ke lantai dengan kasar. Rasa sakit di dadanya terasa lebih tajam daripada luka fisik apa pun yang pernah ia derita di hutan atau gua bertahun-tahun lalu. Dulu, ia tahu siapa musuhnya. Tapi kali ini, musuhnya adalah orang yang ia izinkan masuk paling dalam ke dalam hidupnya.

"Semua yang kubangun... semua kepercayaan yang kuberikan..." gumamnya lirih, suaranya parau menahan amarah dan kekecewaan.

Berita buruk datang bertubi-tubi. Teleponnya berdering tak henti, pesan masuk bertumpuk—para investor yang marah, pemegang saham yang panik, mitra kerja yang membatalkan perjanjian.

Kebocoran data yang dilakukan Sara telah merusak nama baik Arka Group sepenuhnya. Darmawan Group langsung meluncurkan penawaran yang sama persis dengan rencana Rian, mencuri pasar, dan memposisikan diri sebagai pemenang mutlak.

Belum lagi, Serli membawa serta banyak rahasia internal, daftar klien, dan strategi masa depan. Ia tidak hanya pergi membawa hati Rian, tapi juga membawa separuh nyawa perusahaan itu bersamanya.

Malam semakin larut, tapi Rian tidak beranjak. Di tengah keputusasaannya, matanya tertuju pada sebuah kotak kayu tua yang tersimpan rapi di lemari besi—satu-satunya benda yang tidak disentuh Sara, mungkin karena ia tidak tahu arti bendanya. Di dalamnya ada lempengan batu peninggalan ayahnya, Raka.

Rian mengambil benda itu, meraba ukiran yang sudah sangat haus. Ingatannya kembali pada pesan terakhir ayahnya:

"Jangan biarkan kekuatan menguasaimu, tapi jangan biarkan kelemahan membuatmu menyerah."

"Ayah hampir saja menyerah saat dikhianati sahabatnya dulu," batin Rian. "Dan aku... aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."

Di detik itu, air mata yang sempat menggenang di matanya mengering. Rasa sakit berubah menjadi api yang membara di dada. Ia sadar, Darmawan tidak hanya ingin menghancurkan perusahaannya, tapi juga ingin menghancurkan jiwanya, persis seperti lima tahun lalu mereka gagal menguasai kekuatan alam. Pengkhianatan Sara bukan sekadar urusan bisnis, ini adalah balas dendam yang sudah direncanakan matang sejak lama.

Pagi harinya, berita utama di seluruh media keuangan hanya berisi satu judul besar:

 "Jatuhnya Arka Group: Darmawan Group Kuasai Pasar, Mantan Direktur Keuangan Bawa Kabar Rahasia."

Foto Serli terlihat tersenyum berdiri di samping Darmawan dalam konferensi pers, mengenakan pakaian yang lebih mewah, tampak bersinar. Di depan wartawan, ia berbicara dengan nada dingin dan profesional.

"Arka Group sudah lama berjalan dengan cara-cara yang tidak transparan," ucap Serli di depan kamera, matanya tak berkedip. "Saya memutuskan bergabung dengan Darmawan Group karena di sini saya melihat integritas dan masa depan yang lebih baik. Semua data yang saya bawa digunakan demi kepentingan industri, bukan untuk keuntungan pribadi."

Di layar televisi di ruang tunggu lobi, Rian menyaksikan semuanya dengan tenang. Ia tidak marah, tidak berteriak. Ia hanya menatap wanita yang dulu ia puja itu dengan pandangan yang kini sudah berubah total—tidak ada lagi cinta, hanya ada tekad untuk membuktikan kebenaran.

"Kau pikir kau sudah menang, Serli?" bisik Rian pelan. "Kau salah besar. Kau hanya mengambil kulit luarnya saja. Tapi akar dari perusahaan ini, akar yang ditanam ayahku dan aku... itu masih ada, dan itu yang akan membuatku bangkit kembali."

Hari-hari berikutnya adalah masa-masa terberat dalam hidup Rian. Ia harus menjual aset demi menutupi kerugian, melepas karyawan yang setia karena tidak mampu membayar gaji, dan bernegosiasi dengan kreditor yang mulai menagih utang. Gedung tinggi yang dulu menjadi kebanggaannya terpaksa harus diserahkan, kantornya dipindahkan kembali ke ruangan kecil, persis seperti saat ia baru memulai.

Banyak orang meninggalkannya, menganggapnya sudah tamat riwayatnya. Namun, ada segelintir orang yang tetap bertahan—orang-orang yang Sara abaikan, staf lama yang tahu betapa kerasnya Rian bekerja, dan para mitra yang percaya bahwa skandal ini penuh kejanggalan. Salah satunya adalah Bram, kepala bagian teknik yang sudah tua dan setia.

"Pak Rian," kata Bram saat mereka sedang memindahkan berkas-berkas ke kantor baru yang sempit dan sederhana. "Bapak masih punya hak paten teknologi pengolahan sumber daya alam yang belum dipublikasikan. Itu satu-satunya hal yang tidak dibawa Nona Serli, karena hanya bapak yang pegang rumus lengkapnya."

Mata Rian berbinar. Itu adalah proyek rahasia yang ia kerjakan diam-diam selama dua tahun terakhir, sesuatu yang jauh lebih hebat dari apa pun yang dimiliki Darmawan saat ini. Sesuatu yang didasari oleh pengetahuan kuno yang ia dapatkan dari petualangannya dulu, disesuaikan dengan teknologi modern.

"Terima kasih, Bram," jawab Rian, tangannya mengepal kuat di atas meja kayu yang sederhana itu. "Darmawan dan Sara berpikir mereka sudah mengambil segalanya. Mereka berpikir aku sudah habis.

Tapi mereka lupa satu hal: mereka mengambil apa yang ada di permukaan, tapi mereka tidak pernah tahu apa yang tersimpan di dalam kedalaman, sama seperti mereka tidak pernah paham kekuatan di gua itu dulu."

Rian mulai menyusun rencana baru. Ia tidak akan bertarung dengan kekayaan, karena itu sudah dirampas darinya. Ia akan bertarung dengan keahlian, kebenaran, dan ketahanan yang diwarisi dari ayahnya.

Sementara itu, di gedung Darmawan Group yang megah, Serli berdiri di ruangan kerjanya yang baru, luas dan mewah—persis seperti yang dulu dimiliki Rian. Di tangannya ada secarik kertas berisi laporan keuangan Arka Group yang kini merosot tajam. Ia mendapatkan apa yang ia inginkan: jabatan tinggi, kekayaan, dan posisi terhormat.

Namun, ada kekosongan yang mengganjal di hatinya. Setiap malam, saat ia sendirian, bayangan wajah Rian saat ia meninggalkannya kembali terlintas. Tatapan kecewa dan sakit hati itu bukan kebencian, melainkan keterkejutan yang mendalam. Sara sadar, meski ia memenangkan pertempuran bisnis ini, ia telah kehilangan satu-satunya orang yang tulus mencintainya tanpa syarat.

Darmawan masuk ke ruangannya, tersenyum puas. "Kerja bagus, Serli. Rian sudah jatuh, dan kali ini aku yakin dia tidak akan bangkit lagi. Kita sudah menguasai pasar sepenuhnya."

Serli hanya mengangguk kaku. "Ya... Tentu."

"Kenapa kau terlihat tidak senang?" tanya Darmawan curiga.

"Saya hanya lelah, Pak," jawabnya cepat. "Ini semua berjalan terlalu cepat."

Darmawan tertawa dingin. "Nikmati saja kemenangannya. Ingat, ini semua demi membalaskan dendam keluargamu, demi apa yang dilakukan ayah Raka dulu. Jangan sampai kau lupa tujuan utamamu hanya karena sedikit rasa bersalah."

Setelah Darmawan pergi, Serli duduk lemas di kursinya. Ia menatap keluar jendela, ke arah gedung kecil di pinggiran kota tempat Arka Group sekarang berkantor. Di sana, di antara tumpukan puing yang ia tinggalkan, ia tahu Rian sedang membangun sesuatu. Sesuatu yang mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang mereka bayangkan.

Perang belum berakhir. Itu baru permulaan. Dan kali ini, Rian tidak lagi bertarung dengan hati yang terbuka, melainkan dengan mata yang sudah terlatih melihat segala kepalsuan.

1
Indra P.
lanjutkannnn
Indra P.
mantappp.....inspirasi yg hebatt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!