NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:676
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

POV: WAHYU

Senin pagi, Wahyu duduk di kelas Hukum Tata Negara dengan buku catatan terbuka di depannya, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di ruangan itu.

Dosen—Pak Surya, seorang pria berambut putih yang cara mengajarnya selalu terasa seperti bercerita daripada menjelaskan—sedang membahas tentang sistem checks and balances dalam ketatanegaraan Indonesia. Suaranya monoton tapi menyenangkan, seperti radio yang volumenya tepat di titik nyaman.

Wahyu mencatat. Tangan bergerak otomatis, menyalin poin-poin penting ke dalam buku catatan yang sudah penuh separuh jalan dengan tulisan kecil dan rapi.

Tapi di bagian belakang kepalanya, ada sesuatu yang terus berputar.

Sidang putusan: dua minggu lagi.

Dua minggu.

Pak Hendra sudah mengirim email kemarin—berisi ringkasan posisi hukum mereka setelah kesaksian Hendra Kusuma. Kalimat terakhir emailnya adalah: "Saya yakin dengan arah ini, Wahyu. Tapi tetap siapkan mental untuk segala kemungkinan."

Tetap siapkan mental untuk segala kemungkinan.

Kalimat yang terasa seperti pengingat bahwa bahkan pengacara yang optimis pun tidak mau berjanji terlalu besar.

Wahyu mengerti itu. Dia sudah terbiasa dengan ketidakpastian—delapan tahun adalah waktu yang cukup lama untuk belajar tidak membiarkan harapan tumbuh terlalu tinggi sebelum ada kepastian.

Tapi kali ini lebih sulit dari biasanya.

Karena kali ini ada terlalu banyak hal yang bergerak sekaligus.

Sidang. Firma hukum. BEM. Kuliah.

Dan Riani.

Wahyu menekan ujung penanya ke halaman buku catatan—bukan menulis, hanya menekan—sampai meninggalkan titik tinta yang pelan-pelan melebar.

Riani.

Dua malam lalu di taman, dia mengatakan sesuatu yang tidak pernah dia rencanakan untuk dikatakan. Bukan karena dia menyesal—dia tidak menyesal. Tapi karena sekarang ada dimensi baru dalam hidupnya yang tidak dia punya pengalaman untuk menavigasinya.

Dia tidak tahu caranya melakukan ini.

Bukan dalam artian tidak tahu perasaannya—itu sudah jelas, sudah dia akui, sudah dia terima. Tapi dalam artian tidak tahu bagaimana menjadi seseorang yang... hadir untuk orang lain. Yang bisa memberi dan menerima tanpa selalu menghitung risiko, tanpa selalu menunggu saat ketika segalanya akan runtuh.

Karena pengalaman hidupnya selama bertahun-tahun mengajarkan bahwa itulah yang akan terjadi—semuanya selalu runtuh pada akhirnya.

Tapi Riani sudah ada selama dua bulan lebih.

Dan belum pergi.

Pak Surya mengetuk papan tulis, membawa Wahyu kembali ke ruangan.

"Wahyu. Apa pendapatmu tentang independensi Mahkamah Konstitusi dalam konteks sistem presidensial kita?"

Wahyu menatap papan tulis sebentar. Lalu menjawab—otomatis, karena materinya sudah masuk.

"MK secara teoritis independen karena hakimnya dipilih oleh tiga lembaga—DPR, Presiden, MA—untuk mencegah dominasi satu kekuatan. Tapi independensi itu tetap bisa terancam kalau proses pemilihan hakim terpolitisasi. Jadi ada gap antara desain konstitusional dan implementasinya."

Pak Surya tersenyum. "Tepat. Dan gap itulah yang menjadi salah satu isu sentral dalam kajian hukum tata negara kontemporer."

Wahyu kembali ke buku catatannya.

Gap antara desain dan implementasi.

Dia tahu sesuatu tentang itu.

Setelah kelas selesai pukul sepuluh, Wahyu berjalan keluar dari gedung dan langsung menuju perpustakaan kampus tiga. Ada dua artikel jurnal yang perlu dia baca untuk makalah Filsafat Hukum yang deadline-nya hari Jumat.

Perpustakaan kampus tiga jauh lebih sunyi dari kampus satu—mahasiswa hukum cenderung tidak nongkrong di perpustakaan untuk sekadar ngobrol. Semuanya datang dengan tujuan yang jelas.

Wahyu menemukan meja di sudut yang biasa dia gunakan. Meletakkan tas, membuka laptop, mulai membaca.

Tiga puluh menit berlalu dengan produktif.

Lalu ponselnya bergetar.

Bukan dari Riani. Dari nomor yang dia simpan dengan nama "Paman Ridwan".

Wahyu mengangkat, berjalan keluar perpustakaan agar tidak mengganggu orang lain.

"Halo, Om."

"Wahyu! Lagi sibuk?" Suara pamannya terdengar hangat—Om Ridwan adalah adik ayahnya, satu-satunya anggota keluarga besar yang masih aktif mendukung mereka selama proses ini.

"Lagi di perpustakaan. Tidak apa."

"Oh, bentar aja. Aku mau tanya, sidang putusan dua minggu lagi kan?"

"Iya."

"Kamu sudah bilang ke adik-adikmu?"

Wahyu terdiam sebentar.

Adik-adiknya.

Dira, adik pertamanya—delapan tahun lebih muda, sekarang kelas dua SD. Masih terlalu kecil untuk benar-benar mengerti kompleksitas kasus ini, meskipun pasti sudah merasakan ketegangan di rumah selama bertahun-tahun.

Dan Naya, adik bungsunya—yang baru tiga tahun, tidak tahu apa-apa tentang dunia selain mainan dan susu dan pelukan ibu.

"Dira masih kecil untuk urusan ini, Om."

"Bukan soal kasusnya. Tapi mungkin... kamu perlu pulang ke rumah sebentar. Sebelum sidang. Dira sering nanya kamu, kata ibumu."

Wahyu menekan dahinya dengan jari telunjuk.

Kapan terakhir kali dia pulang?

Dua bulan lalu. Waktu sidang sebelumnya. Dan sebelum itu, lebih lama lagi.

Kost di Jakarta—sewa murah, kondisi seadanya—terasa seperti tempat yang lebih aman untuk dijalani dari hari ke hari. Di rumah, ada terlalu banyak pengingat tentang apa yang sudah berubah: ruang tamu yang dulu lebih ramai, foto keluarga yang wajah ayahnya di dalamnya terlihat sepuluh tahun lebih muda dari sekarang, meja makan yang biasa dipakai untuk makan bersama sekarang sering hanya dipakai ibu sendirian karena ayah tidak selalu ada selera makan.

"Aku coba atur jadwal, Om," jawab Wahyu akhirnya.

"Bagus. Oh iya, kamu baik-baik saja kan? Ibumu bilang kamu kelihatan lebih—apa kata ibumu—'ringan' pas sidang kemarin."

Wahyu diam sebentar.

Lebih ringan.

"Baik-baik saja," jawabnya.

"Ada sesuatu yang beda?"

Wahyu menyandarkan punggungnya ke dinding luar perpustakaan. Menatap langit yang hari ini lebih biru dari biasanya.

"Tidak ada yang signifikan."

Bohong kecil. Atau bukan bohong—hanya belum siap untuk menjelaskan.

Pamannya tertawa kecil. "Kalau ibumu tanya aku bilang apa, aku bilang tidak tahu ya."

"Terima kasih, Om."

"Hati-hati. Salam buat dirimu sendiri."

Sambungan terputus.

Wahyu berdiri di luar perpustakaan beberapa detik lagi, menatap langit.

Pulang.

Dia harus pulang sebelum sidang.

Untuk Dira yang sering menanyakannya. Untuk ibu yang mungkin butuh melihat wajahnya. Untuk ayah yang—meskipun tidak pernah mengatakan—pasti terasa lebih kuat kalau anaknya ada di sampingnya menjelang putusan.

Wahyu masuk kembali ke perpustakaan.

Duduk. Membuka artikel jurnal yang belum selesai dibaca.

Tapi sebelum mulai membaca, dia membuka WhatsApp dan mengetik pesan.

Wahyu: "Riani, aku mungkin pulang ke rumah akhir minggu ini. Sebelum sidang."

Balasan datang lima menit kemudian—mungkin Riani sedang di kelas.

Riani: "Oh, bagus! Lama nggak pulang ya?"

Wahyu: "Dua bulan lebih."

Riani: "Pasti adik-adikmu kangen. Pergi deh. Ambil waktu untuk keluarga."

Wahyu: "Iya. Rencananya Sabtu."

Riani: "Kalau butuh seseorang untuk ngobrol sebelum berangkat atau setelah pulang, aku di sini."

Wahyu membaca itu.

Selalu ada kalimat itu dari Riani—"aku di sini"—yang tidak pernah terasa klise karena selalu terbukti benar.

Wahyu: "Aku tahu."

Dia menyimpan ponsel dan kembali ke artikel jurnalnya.

Tapi kali ini, konsentrasinya datang lebih mudah.

Rabu sore, ada kejadian yang tidak Wahyu rencanakan.

Dia sedang di sekretariat BEM—meeting koordinasi untuk program semester depan—ketika Ardi memanggil namanya di tengah diskusi.

"Wahyu, satu hal lagi. Kita butuh seseorang yang bisa ngisi sesi sharing di acara orientasi mahasiswa baru semester depan. Tentang manajemen waktu dan keseimbangan akademik-organisasi-kerja. Lo mau?"

Wahyu menatap Ardi.

"Sharing di depan mahasiswa baru?"

"Iya. Nggak panjang. Tiga puluh menit. Tapi kita butuh yang beneran ngejalanin, bukan yang cuma teori. Dan di antara semua orang di BEM ini, lo yang paling relevan—lo kuliah, kerja, aktif BEM, dan nilainya tetap bagus."

Bagas menambahkan dari pojok ruangan, "Plus lo juga yang paling bisa bikin jadwal rapi. Gue pernah lihat spreadsheet lu. Itu seni."

Wahyu tidak langsung menjawab.

Berbicara di depan mahasiswa baru. Berbagi tentang pengalaman pribadi. Dua hal yang secara individual sudah cukup membuat dia tidak nyaman, apalagi digabungkan.

"Materinya tentang apa persisnya?" tanya Wahyu.

"Manajemen waktu, prioritas, cara jaga kesehatan mental sambil tetap produktif. Lo bisa share pengalaman sendiri, nggak harus formal kayak seminar."

Kesehatan mental.

Wahyu hampir tersenyum kecil—ironis, bahwa dia diminta bicara tentang menjaga kesehatan mental ketika dia sendiri masih dalam proses belajar melakukan itu.

Tapi mungkin justru itu yang relevan.

"Aku perlu waktu mikir," jawab Wahyu.

"Oke. Deadline konfirmasi Jumat ya."

Malam itu, Wahyu cerita tentang tawaran itu ke Riani lewat pesan—bukan karena dia membutuhkan pendapat, tapi karena dia mulai terbiasa menceritakan hal-hal seperti ini.

Kebiasaan yang masih terasa asing tapi tidak tidak-nyaman.

Wahyu: "Ardi minta aku ngisi sesi sharing untuk orientasi mahasiswa baru. Tentang manajemen waktu dan kesehatan mental."

Riani: "Oh! Kamu mau?"

Wahyu: "Belum memutuskan."

Riani: "Menurut aku kamu bisa dan kamu bagus. Tapi aku juga ngerti kalau kamu tidak nyaman."

Wahyu: "Bukan soal nyaman atau tidak. Aku merasa... kurang tepat. Orang yang diminta bicara tentang menjaga kesehatan mental harusnya orang yang sudah berhasil melakukannya."

Riani: "Atau orang yang sedang belajar melakukannya dan jujur tentang prosesnya. Itu justru lebih berguna untuk mahasiswa baru."

Wahyu membaca balasan itu.

Membacanya lagi.

Wahyu: "Itu sudut pandang yang tidak pernah aku pertimbangkan."

Riani: "Karena kamu selalu terlalu keras sama diri sendiri."

Wahyu: "Itu bukan—"

Riani: "Itu pernyataan, bukan kritik 😊 Wahyu, kamu tidak harus sudah sempurna untuk bisa membagikan sesuatu yang berguna. Yang penting kamu jujur."

Wahyu meletakkan ponsel sebentar.

Menatap langit-langit kamarnya.

Jujur.

Selama bertahun-tahun dia tidak jujur—bukan dalam artian berbohong kepada orang lain, tapi dalam artian tidak pernah membiarkan dirinya jujur tentang kondisinya sendiri. Selalu "baik-baik saja", selalu "cukup", selalu "bisa dihandle".

Sampai Riani datang dan membuat kebiasaan itu perlahan-lahan terasa tidak perlu dipertahankan setiap saat.

Dia mengambil ponsel lagi.

Wahyu: "Aku akan bilang iya ke Ardi."

Riani: "Bagus! Kamu pasti bagus."

Wahyu: "Kamu tidak tahu itu."

Riani: "Aku tahu karena aku sudah lihat kamu bicara di depan orang. Di BEM event, di ruang kelas, di presentasi kelompok kita. Kamu selalu bagus kalau materinya kamu kuasai dan kamu peduli."

Wahyu membaca itu.

Dan untuk pertama kalinya hari ini, sesuatu di dadanya yang sudah sepanjang hari terasa sedikit ketat—tentang sidang, tentang pulang, tentang segala ketidakpastian yang masih menggantung—sedikit melonggar.

Wahyu: "Terima kasih."

Riani: "Sama-sama. Sekarang tidur. Besok kamu ada kelas pagi."

Wahyu: "Kamu tidak perlu ingatkan itu."

Riani: "Tapi tetap aku ingatkan."

Sudut bibir Wahyu terangkat.

Dia meletakkan ponsel, mematikan lampu kamar.

Berbaring di kegelapan yang sudah tidak terasa sesepi dulu.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!