Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.
Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.
Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.
Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.
Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.
Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.
Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.
Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.
Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pagi itu, bahkan matahari saja belum terbit.
Langit masih gelap kebiruan, saat kepanikan merajai hati para warga desa Dukuh Asem.
Ternyata memang benar, semalam ada 2 bayi yang menghilang.
Dan saat ini juga, para bapak-bapak dikerahkan untuk mencari para bayi itu.
Arumi juga memutuskan untuk ikut mencari, sebab hari juga sudah pagi, jadi aman saja apabila dirinya ikut mencari.
"Pak, Bu, aku mau ikut nyari, ya," ucap Arumi meminta izin pada orang tuanya.
"Boleh saja, tapi kamu belum sarapan, Nak," jawab Nyai Sawitri.
"Ah, nggak papa, Bu, nanti aku bisa beli di warung aja," ucap Arumi.
Di desa ini, terdapat sebuah warung yang menjual nasi uduk dan juga bubur ayam, jadi Arumib akan membelinya nanti.
"Ya sudah, hati-hati kalau begitu," jawab Nyai Sawitri.
Arumi berjalan kembali ke dalam rumahnya, karena ia akan mengambil dompet miliknya lebih dulu.
"Hoaaam, ada apa ini, Kak?" tanya Bella sambil menguap.
"Wah, tumben kamu udah bangun. Itu, loh, ternyata semalem itu ada 2 bayi sekaligus yang diculik," jawab Arumi.
"Iya, Kak, aku kan denger suara ribut-ribut, makanya kebangun. Eh, sebentar, kok bisa sih ada 2 bayi yang diculik?" Bella sedikit bergetar, tentu saja merasa terkejut.
Bagaimana tidak terkejut, 1 bayi saja sudah menggemparkan, ini malah sekarang 2 bayi sekaligus yang hilang.
"Nah, itulah aku juga nggak tahu," jawab Arumi.
"Terus, ini kamu mau ke mana, Kak?" tanya Bella.
"Mau ikut nyari 2 bayi itu, kan ini udah pagi," jawab Arumi.
"Aku ikut, ya, Kak," pinta Bella.
"Ya ikut aja, tapi cuci muka dulu sana!" perintah Arumi.
"Iya-iya, Kak," jawab Bella.
Bella langsung berlari kencang melewati Arumi begitu saja.
Arumi hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah adiknya itu.
Padahal Bella baru saja bangun, tapi gadis itu tidak memiliki rasa lemas sehingga berlari begitu saja.
"Ayo, Kakaaaak!" teriak Bella sambil lari ke arah Arumi.
"Udah jangan lari-lari begitu, wah kamu ini, bahaya ini," Arumi langsung menarik tangan adiknya itu supaya diam.
Arumi dan Bella keluar dari rumah mereka.
Udara berbau tanah basa begitu pekat tercium, membuat kedua gadis itu berjalan dengan santai karena merasa segar.
Bella berjalan sambil sedikit berlarian, membuat Arumi sedikit kewalahan mengikuti gadis itu.
"Kita ini mau mencari bayi, Bell. Nah, kamu malah lari begini," ucap Arumi.
"Ya gimana? Kamu aja yang lihatin sekitar, ya, aku mau lari," jawab Bella.
Namun, Bella berlari sambil tak memperhatikan jalan, alhasil gadis itu pun terjerembab.
Brak.
"Aduuuuuh, kurang ajar betul ini jalanan," Bella tampak emosi.
"Hahaha, bukan salah jalannya itu, tapi kamunya yang kurang hati-hati," ucap Arumi sambil tertawa cekikikan.
"Heh, lihat aku begini bukannya ditolong, malah kamu ketawa seperti itu!" Bella semakin marah.
Arumi membantu adiknya itu untuk berdiri dari jatuhnya.
"Bolehlah kalau kamu itu mau jalan sambil lari begitu, tapi harus hati-hati lo, Dek," ucap Arumi menasihati.
"Iya, Kak, aku jalan bener deh sekarang," jawab Bella.
Arumi dan Bella sudah menyusuri persawahan, perkebunan, hampir semua tempat sudah mereka datangi, namun 2 bayi yang dicari tak kunjung ditemukan juga.
Para bapak-bapak juga tampak kebingungan untuk mencari, sebab memang kedua bayi itu tidak bisabditemukan.
Arumi menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, saat ia melihat sesosok jin yang mengganggunya di sungai kemarin.
"Haiiii, kita ketemu lagi," sapa jin itu.
Arumi sedikit terkejut dengan kehadiran wanita itu, namun Arumi berusaha menetralisir rasa takutnya.
"Hehehe, kalian lagi nyari mayat 2 bayi yang dibunuh sama kunti itu, ya?" tanya wanita itu.
Arumi ingin menjawab, namun tidak bisa, karena masih ada Bella bersamanya.
"Berkomunikasilah dengan secara batin, Neng, supaya kamu tidak dianggap aneh," bisik Nyai Sekar Arum.
Arumi menurut, gadis itu berusaha untuk berbicara di dalam hati saja.
"Iya, aku sedang mencari mereka," ucap Arumi dalam hati.
"Aku tahu tempatnya, loh, tapi ada syaratnya," jawab wanita itu.
"Apa syaratnya?" tanya Arumi.
"Kamu harus bolehin aku jagain kamu. Please, boleh ya," wanita itu tampak memelas.
"Iya, bolehlah. Jadi di mana jenazah mereka?"
Arumi terpaksa menyetujui keinginan sosok jin tersebut, lagipula yang Arumi rasakan dia memiliki aura yang menenangkan, jadi mungkin saja itu adalah jin baik.
"Kuntilanak itu membunuh mereka di sana, di tanah kosong yang ada di pinggir desa ini," jawab wanita itu, sambil menunjuk ke suatu arah.
Arumi menghela napas, tempat itu memang belum ia datangi, rupanya malah jenazah mereka ada di sana.
"Baiklah, terima kasih sudah memberitahu, ya," ucap Arumi pada sosok jin itu.
Bella terus memperhatikan Arumi yang dari tadi hanya melamun saja.
Tentu saja gadis itu heran, tak biasanya kakaknya itu sampai melamun selama itu.
"Kak, kamu itu kenapa sih? Malah ngelamun gitu, kesambet ntar," ucap Bella sambil menggeplak pundak kakaknya itu.
"Heh, main geplak saja kamu itu," Arumi tentu saja terkejut mendapat pukulan tiba-tiba dari adiknya itu.
"Ya siapa suruh kamu begitu, mau jalan nggak kamu ini?" Bella tampak sangat kesal.
"Ya mau, ayo loh," Arumi kembali lanjut berjalan.
Saat ia berpapasan dengan rombongan bapak-bapak, Arumi pun segera menghentikan mereka.
"Permisi, Bapak-bapak. Mohon maaf, kalian ini mau ke mana selanjutnya?" tanya Arumi.
"Oh, kami mau kembali pulang, Neng. Jasad bayi itu tak bisa ditemukan," jawab salah 1 dari mereka.
"Apa nggak sebaiknya kita cari di tanah kosong yang ada di pinggir desa itu, Pak? Bukankah tanah itu udah lama kosongnya, siapa tahu aja mereka dibawa ke tempat itu," ucap Arumi.
"Oh iya ya, saya setuju sama Neng Arumi. Memang siapa tahu saja mayat mereka ada di sana, apalagi tempat itu jarang kita datangi," ujar salah seorang bapak yang rupanya menyetujui usul dari Arumi.
Arumi menghela napas lega, ia sungguh bersyukur, karena para warga itu mau mengikuti sarannya.
"Kak, kamu beneran yakin jenazah 2 bayi itu ada di sana?" tanya Bella.
"Ya nggak tahu, Dek. Tapi, kan nggak ada salahnya kita ihtiar dengan nyari ke tanah kosong itu. Lagipula, tempat itu belum kita datangi," jawab Arumi.
"Hmmm, iya juga sih,"
***Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya sampailah mereka di tanah kosong itu.
Para bapak-bapak ada yang menyorotkan senternya ke sekitar, karena saat itu cahaya masih cukup redup, karena matahari belum terbit.
"Astaghfirullah haladzim, innalillahi, beneran ada di sini mereka!" seru seorang bapak saat menyorotkan senternya, dan melihat 2 orang bayi tergeletak dengan kondisi sudah dikerumuni lalat.
Kondisi tubuhnya sama seperti bayi yang menghilang di malam sebelumnya.
Bedanya kali ini jenazah kedua bayi itu berbau busuk, mungkin karena semalaman dibiarkan berada di sana.
Pak Gugun, yang merupakan ayah dari salah 1 bayi tersebut, sampai menangis meraung-raung melihat kondisi anaknya yang seperti itu.
"Anakku, kenapa ini terjadi padamu, Nak," ucap Pak Gugun dengan berurai air mata.
"Yang sabar, Gun. Ayo bawa anakmu, kita harus segera memakamkan mereka," ucap salah seorang warga yang lain.
Arumi dan Bella juga tak kuasa melihat itu semua, kedua gadis itu meneteskan air mata.
Dibantu beberapa laki-laki, jenazah kedua bayi itu dibungkus menggunakan kain, lalu digendong menuju ke tempat para wanita berkumpul.