Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Steve dan Leon.
“Eungh…”
Steve melenguh merasakan badannya yang sedikit kaku dan sulit di gerakkan, dia merasakan perutnya yang terasa berat. Dia melihat tangan kekar milik Niko yang merengkuhnya, Steve segera melepaskan tangan Niko dari perutnya.
“Sial, erat banget sih lo meluk tubuh gue.” Gerutu Steve sedikit kesal.
Niko yang sebenarnya dari tadi sudah bangun berpura pura tertidur, dia sengaja agar lebih bisa memeluk tubuh Steve lebih lama.
“Nik, bangun… gue enggap nih..” lirih Steve berusaha membangunkan Niko, dia berusaha bersuara sekecil mungkin, agar eric tidak terbangun.
Niko hanya bergerak sedikit, dia enggan bangun dan membuka kedua matanya, dan sial bagi Niko. Pagi ini tak sengaja tubuhnya bereaksi, karena gerakkan tubuh Steve yang berusaha melepaskan pelukkan Niko.
“Nik… lo s*nge…?” Tanya Steve yang merasakan tubuh bawah Niko mengeras.
“Shit…” ucap Niko yang dengan terpaksa melepaskan pelukannya, dia segera bangkit dan lari ke kamar mandi. Niko pikir dia harus segera menyelesaikan urusannya, sebelum Steve mengetahuinya.
Steve yang merasa aneh dengan sikap Niko menatapnya tajam, dia tidak habis berfikir bagaimana bisa tubuh Niko bereaksi hanya dengan memeluknya saat tertidur. Steve yang tidak ingin memikirkan tingkah konyol Niko memilih segera keluar dari kamar Niko, dia akan mengambil minuman untuknya.
Sudah jadi kebiasaan Steve, sesudah bangun tidur dia akan meminum air putih untuk melegakan tenggorokannya yang terasa kering. Cahaya matahari terlihat di tirai apartemen Niko, Steve yang menatap jam digital di dinding mengeryit tajam.
“Sudah jam tujuh rupanya, pantas sudah seterang ini.”batin Steve sambil meneguk minumannya.
“Steve… lo enggak mandi dulu…?” Tanya Niko berjalan mendekati Steve, dia mengambil gelas bekas minum milik Steve.
Masih tersisa separuh air mineral di gelas Steve, dengan beberapa kali tegukan Niko menghabiskannya.
“Hei… ngapain lo ambil gelas gue…?” Tanya Steve dengan nada kesal,
“Gue malas cuci gelasnya.” Jawab Niko sambil berjalan ke arah kulkas.
“Gue buatin sanwich ya…?” Niko mengambil beberapa telur di dalam kulkas, dia akan membuatkan sanwich untuk sarapan mereka pagi ini.
“Hmm… gue mandi dulu ya…?” Ucap Steve yang akan meninggalkan Niko.
“Nggak mau mandi bareng sama gue steve…?” Goda Niko sengaja.
“Enggak, tidur sama gue aja lo bisa tegang, apalagi lo mandi bareng gue, bisa habis gue entar an jadi pelampiasan lo.” Balas Steve menggoda niko, mereka memang sudah terbiasa saling menggoda waktu masih kuliah dulu.
Steve yang paham jika Niko hanya menggodanya membalasnya dengan tidak kalah sengit, Steve segera pergi dari depan Niko.
“Hmm… kalau lo mau gue siap kog Steve.” Lirih Niko membalas godaan Steve.
Pikiran Niko yang mulai kacau memilih mengalihkan nya dengan membuatkan sarapan untuk mereka bertiga, terdengar suara celotehan anak kecil dari dalam kamar Niko.
“Kita mandi dulu ya sayang, setelah itu ikut papa ke tempat kerja papa.” Ajak Steve yang mendapat angukan lemah dari eric.
“Tapi habis papa kerja, eric di ajak main ya…?” Pinta eric terdengar manja.
“Hmm… oke… papa janji.” Jawab Steve agar eric mau menurutinya dan tidak rewel pagi ini.
Niko yang telah selesai membuat tiga sanwich, dua gelas kopi dan satu susu hangat tersenyum lebar. Seakan dia sedang membayangkan hidup bersama dengan Steve untuk waktu yang lama, dia membuatkan sarapan dan Steve yang mengurus anak mereka.
Hah…. Konyol memang si Niko, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Langkah kaki kecil terdengar tergesa segera mendekati ke arah Niko, refleks Niko menoleh melihat ke arah eric yang berlari kecil menuju ke arahnya.
“Om Niko buat apa…?” Tanya eric terdengar manja.
“Jangan panggil om ah, panggil ayah aja. Kan eric sudah punya papa, tapi eric belum punya ayah kan…?” Ucap eric mengharap eric mau mengubah panggilannya.
“Hmm… baik, eric senang kalau punya ayah seperti om… ups… ayah Niko. Ayah baik, mau buatin sarapan buat aku dan papa.”
Niko tersenyum lebar, akhirnya keinginan mengubah panggilannya berhasil dalam hitungan detik. Niko memang pandai memainkan setiap kata, dan pandai membujuk seseorang agar mau menurutinya.
Steve berjalan mendekat ke arah eric dan Niko, dia menatap eric yang tersenyum lebar. Kedua matanya menyipit melihat interaksi Niko dan eric yang tidak biasa.
“Ngapain kalian…? Apa ada sesuatau yang terjadi…?”
Steve duduk tepat di depan Niko, tatapan mata Niko berkedip sesekali melihat penampilan segar Steve.
“Ngapain lo lihat gue…?” steve mengambil potongan sanwich miliknya, tanpa menunggu aba aba dari Niko Steve segera menikmati sanwich buatan Niko.
“Lo ganteng Steve….” Ucap Niko refleks.
“Basi nik… gue udah sering dengar lo ucapan kata kata itu.”
Steve menoleh menatap eric yang memilih sayuran untuk dia singkirkan, Steve yang merasa kesal memegang tangan mungil eric.
“Hei boy, ingat apa kata papa apa…?” Ucap Steve memperingatkan.
“Makan sayur yang banyak, biar kamu busa tumbuh besar sama kayak papa.” Gerutu eric terlihat lemas.
“Good boy…” Steve mengacak rambut lembut milik eric.
“Kalian kayak anak sama emak.” Sindir Niko melihat interaksi eric dan Steve.
Eric yang asing mendengar ucapan Niko segera bertanya.
“Ayah… apa itu emak…?” Tanya eric menatap Niko.
“Sudah boy, makan dan kamu setelah ini ikut papa.” Steve menyuruh eric segera menghabiskan makanannya, tanpa menunggu jawaban sadari niko.
“Gue mandi dulu, setelah ini gue antar kalian.” Niko segera pergi dari depan Steve dan masuk kedalam kamarnya.
Sedangkan di sebuah apartemen yang berbeda lantai dengan milik Niko, terlihat Leon yang akan keluar dari dalam apartemennya. Langkahnya terhenti, dia teringat jika ponselnya tertinggal di atas meja makan.
Leon berbalik arah, dia memilih mengambil ponselnya lebih dulu.
Langkah lebar leon terlihat saat berjalan menuju ke arah pintu lift, dia menatap pintu lift yang masih tertutup rapat. Tak menunggu lama, akhirnya pintu lift terbuka pelan.
Kedua mata Leon terbuka sempurna, dia menatap seseorang yang berdiri tengah menatapnya. Kedua mata itu saling berpandangan, seakan dunia ini hanya ada mereka berdua.
“Steve….” Lirih Leon menatap Steve.
“Kak Leon…” batin Steve juga menatap Leon.
Leon menggerakkan kakinya melangkah menuju ke dalam lift, dia memutarkan tubuhnya memilih menghadap ke arah pintu. Posisi Leon yang membelakangi Steve, membuat Steve dapat mencium bau parfum milik Leon.
“Kak Leon, ternyata tinggal di apartemen ini juga.” Tanya Niko memecah kesunyian.
Leon masih diam tidak menjawab pertanyaan Niko, kepala Leon tiba tiba menunduk ke bawah. Dia melihat seorang anak kecil yang menarik jas kerjanya.
“Om… kalau di tanya itu di jawab, jangan diam saja. Itu tidak baik dan tidak sopan.” Ucap eric yang membuat Leon tiba tiba tersenyum.
“Hmm… iya…” jawab Leon dengan suara yang terdengar sangat lembut.
Entah kenapa jantung Steve tiba tiba berdetak dengan cepat, mendengar ucapan lembut dari Leon. Dia seketika teringat jika Leon pernah berucap selembut itu dengannya, sama seperti sekarang.
“Eric, jangan tidak sopan seperti itu…?” Ucap Steve yang tidak enak dengan Leon.
“Eric hanya mengingatkan saja pa…” jawab eric sambil mengangkat kepalanya menatap Steve.
“Papa…” batin Leon menatap Steve dengan tatapan penuh tanya.