Dihianati oleh kekasih yang dicintai memang begitu menyakitkan, apalagi kekasih yang ia percaya akan membuat dirinya bahagia ternyata diam diam menjalin hubungan dengan sepupunya. Namaku Alisha Azura inilah kisah cintaku dan perjalanan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersy 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Pagi itu Alisha sudah sibuk didapur membantu bik Surti dan mbak Siti memasak, ia memasak beberapa menu untuk sarapan. "Non Alisha memang paling the best dah kalau soal masak apapun. Bibi yakin den Fandi pasti makin cinta sama non Alisha kalau makan masakan non Alisha" puji bik Surti jujur.
Siti yang mendengar itu juga ikut nimbrung "Betul apa yang dikatakan bik Surti non, saya aja sering nambah kalau makan masakan non Alisha hehehe.." ucap Siti jujur. Alisha dan bik Surti yang mendengar perkataan Siti terkekeh kecil.
"Enggak kok, justru Alisha harus lebih banyak belajar dari kalian berdua beberapa resep masakan yang belum Alisha tau" sahut Alisha merendah.
"Ah non Alisha mah gitu, suka merendah kalau dipuji" goda Siti tersenyum. Tanpa terasa waktu terus berjalan dan pada akhirnya masakan yang mereka olah sudah siap dihidangkan.
"Akhirnya masakan kita sudah selesai, waktunya kita hidangkan diatas meja" ucap Alisha tersenyum cerah.
"Siap nona muda.." jawab bik Surti dan mbak Siti berbarengan. Mereka bertiga segera menata masakan diatas piring yang sudah disiapkan oleh mbak Siti. Aroma masakan semakin tercium semerbak saat masakan sudah dihidangkan diatas meja makan. Setelah selesai menata masakan diatas meja makan, Alisha kembali kedalam kamarnya untuk mandi.
Tak lama setelah kepergian Alisha, pasangan paruh baya yang sudah memakai pakaian rapi baru saja keluar dari dalam kamar mereka. Mereka berdua berjalan beriringan menuju meja makan. Bik Surti dan mbak Siti langsung menyapa tuan serta nyonya rumah. "Selamat pagi tuan, nyonya.." sapa mereka serempak.
"Pagi juga.." sahut nyonya Alena tersenyum lembut. Sedangkan Tuan Mohan hanya mengangguk singkat. "Bik, Alisha dan Vania apa belum bangun?" tanya nyonya Alena. Seraya duduk di kursi dan disebelahnya tuan Mohan sudah duduk seraya menikmati kopi hitamnya.
"Non Alisha sudah bangun dari tadi nyonya, bahkan nona Alisha ikut masak bersama kami. Setelah selesai menyiapkan makanan diatas meja, non Alisha kembali ke dalam kamarnya mau mandi dan bersiap mau pergi" jawab bik Surti.
"Oh yaudah bik, kalau begitu tolong bangunin Vania biar sekalian ikut sarapan bersama" ujar nyonya Alena seraya menyeruput teh hijau kesukaannya.
"Baik nyonya" jawab bik Surti segera melakukan perintah nyonya Alena.
Tak lama terdengar suara langkah kaki menuruni tangga.
Tap ..
Tap ..
Tap..
Alisha nampak begitu cantik sekaligus terlihat anggun dengan pakaian dress selutut berwarna cream dengan motif bunga kecil kecil. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai indah dan memakai jepit berbentuk cantik sehingga menambah kecantikan gadis berusia 20 tahun tersebut. Mohan dan Alena yang melihat penampilan putri mereka ikut kagum melihat kecantikan putri tunggal mereka.
Alisha segera menuruni tangga setelah melihat kedua orang tuanya sudah duduk dimeja makan.
" Hati hati sayang, nanti kamu jatuh nak.." ujar nyonya Alena kawatir. Sedangkan Tuan Mohan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya.
"Selamat pagi papaku yang paling tampan sedunia, selamat pagi mamaku yang paling cantik sedunia, cup cup" Alisha mencium pipi kedua orang tuanya serta pelukan hangat untuk mereka berdua. Mohan dan Alena membalas pelukan putri mereka dengan tersenyum lembut.
"Pagi juga kesayangan papa mama" jawab Mohan mencium kening putrinya penuh kasih begitupun Alena. Sungguh pemandangan pagi itu begitu membahagiakan bagi siapapun yang melihatnya tapi tidak bagi seorang gadis yang sejak tadi melihat interaksi keluarga Cemara tersebut. Hatinya sakit dan terasa panas karena iri hati melihat kebahagiaan keluarga Alisha.
"Aku semakin membencimu Alisha, kenapa hidupmu lebih beruntung dariku. Seharusnya aku juga bisa merasakan kebahagiaan itu tapi kenapa papa dan mamaku tidak menyayangi aku seperti om Mohan dan Tante Alena begitu menyayangi putrinya. Kenapa hidupku begitu menyedihkan sekali, ini semua gara gara kamu Alisha. Aku semakin membencimu Alisha dan kamu pantas untuk aku benci. Apapun yang kamu miliki harus aku miliki kalau perlu aku akan menyingkirkan kamu agar tidak menghalangi kebahagiaanku" ucap Vania dalam hati seraya mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya memutih.
Hingga lamunan Vania terusik saat mendengar bik Surti memanggil namanya. "Non, non Vania tidak apa apakan, atau non Vania perlu sesuatu?" tanya bik Surti sedikit heran melihat expresi wajah Vania yang sepertinya menahan kesal.
"Tidak apa apa bik" jawab Vania singkat tanpa menatap wajah bik Surti. Gadis tersebut langsung berjalan meninggalkan bik Surti menuju meja makan. Tidak lupa memasang wajah kalem serta senyuman manis.
Bik Surti yang melihat tingkah keponakan majikannya hanya menggelengkan kepalanya. "Aneh sekali sikapnya non Vania, ah sudahlah mungkin perasaanku saja" gumam bik Surti segera kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya bersama Siti.
"Selamat pagi semuanya.." sapa Vania terdengar lembut namun tidak bagi Mohan yang merasa janggal dengan sikap keponakan istrinya namun ia hanya diam tidak berbicara apapun.
"Pagi Vania.." jawab Alisha tersenyum manis.
"Pagi juga nak, ayo silahkan duduk kita sarapan bareng" ucap nyonya Alena lembut. Sedangkan Mohan hanya mengangguk kecil. Akhirnya mereka berempat sarapan dengan tenang tanpa ada obrolan apapun.
Setelah 15 menit kemudian tuan Mohan bersiap berangkat ke kantor, tak lupa berpamitan kepada dua wanita yang ia cintai dengan mencium kening istri serta putrinya setelah itu langsung pergi tanpa menyapa Vania. Tanpa ada yang menyadari expresi wajah Vania langsung berubah drastis yang tadinya wajahnya terlihat lembut langsung berubah memerah serta sorot matanya berubah tajam. Kedua tangannya terkepal erat dibawah meja makan.
"Brengsek, aku benci situasi seperti ini" tiba tiba setetes air mata terjatuh membasahi kedua pipinya tatapan yang awalnya tajam berubah sendu bercampur sedih.
"Vania kamu pasti bisa, ingat tujuanmu datang ke rumah ini. Kamu harus bisa merebut kasih sayang kedua orang tua Alisha serta pelan pelan menggantikan posisi Alisha" gumam Vania dengan tersenyum licik.
Dan tanpa Vania sadari lagi lagi bik Surti melihat tingkah aneh Vania. "Ya Allah semoga hanya perasaanku saja" gumam bik Surti.
Setelah mengantarkan suaminya sampai depan pintu, tak lama kemudian Alena masuk kedalam rumah bersama Alisha. "Ma, nanti siang mas Fandi ngajak makan siang bareng. Alisha perginya bawa mobil sendiri aja, enggak usah diantar sopir. Soalnya nanti setelah makan siang bareng mas Fandi, Alisha mau pergi ke mall bareng Santa mau beli beberapa keperluan Alisha" ucap Alisha seraya menggandeng lengan mamanya.
"Iya sayang, tapi apa enggak sebaiknya kamu ajak juga Vania. Kasihan dia pasti dirumah sendirian, soalnya mama nanti ada pertemuan penting dengan rekan kerja mama" jawab Alena lembut. Sedangkan Alisha sempat terdiam sejenak saat mendengar mamanya meminta dirinya mengajak Vania pergi bersamanya. Sedangkan Santa sahabatnya tidak terlalu menyukai Vania sepupunya. Namun jika ia menolak keinginan mamanya Alisha juga tidak tega, kawatir mamanya sedih.
"Baiklah ma, Alisha akan ngajak Vania sekalian nanti pergi bareng Santa" jawab Alisha mengiyakan keinginan mamanya.
Alena tersenyum lembut "Terimakasih ya sayang, kamu memang anak mama yang paling pengertian" ujar Alena tersenyum bangga.
" Oya mama sampai lupa belum telfon tante Laras. Tapi sebelum mama telfon tante Laras, mama mau berbicara sama Vania kamu juga ikut ya sayang" ajak Alena langsung menggandeng tangan putrinya menuju kamar yang ditempati Vania.
Tok
Tok
"Vania ini tante, boleh tante masuk sayang" izin Alena sebelum masuk kedalam kamar yang ditempati Vania. Didalam kamar Vania tersentak kaget saat mendengar suara lembut tantenya. "Iya tante silahkan masuk, pintunya enggak aku kunci kok" sahut Vania dari dalam kamarnya.
Ceklek..
Tak lama terdengar suara pintu terbuka perlahan, nampak tantenya tersenyum lembut masuk dan diikuti Alisha dibelakangnya.
"Kamu sedang apa nak..?" tanya Alena lembut ikut duduk ditepi ranjang sebelah Vania. Sedangkan Alisha duduk di sofa yang ada didalam kamar tersebut.
"Vania enggak ngapa ngapain kok te, Vania juga bingung mau ngapain" jawab Vania dengan tersenyum kecil.
"Vania, tante mau tanya. Sebenarnya ada masalah apa sayang, karena tidak biasanya kamu datang seorang diri tanpa ditemani mama dan papamu" tanya Alena lembut. Vania yang ditanyai seperti itu tiba-tiba wajahnya berubah sendu dengan mata berkaca-kaca.
"Tante, boleh tidak untuk sementara Vania tinggal disini. Dirumah Vania mereka kesepian, mama dan papa selalu sibuk dengan urusan mereka sehingga melupakan Vania yang juga butuh perhatian. Art hanya datang pas pagi dan pulang saat menjelang sore. Sedangkan mama dan papa jarang dirumah, kalaupun pulang selalu larut malam. Kami memang tinggal satu rumah tapi seolah Vania hidup sendiri hiks hiks.." tangis Vania pecah ia menangis terisak sampai kedua bahunya bergetar. Alena yang tidak tega langsung memeluk keponakannya seraya mengelus punggung Vania.
"Nak, kamu jangan merasa sendiri. Masih ada tante, om Mohan dan Alisha. Kami disini juga menyayangi kamu, jadi jangan pernah merasa sendirian ya sayang. Kamu bisa tinggal disini, anggap saja ini rumahmu juga" ucap Alena lembut seraya menghapus jejak air mata di pipi Vania.
Vania yang diperlakukan seperti itu hatinya begitu bahagia, sejak dulu ia menginginkan belaian kasih sayang seorang ibu namun Laras mamanya bersikap acuh dan cuek.
" Terimakasih tante, maaf kalau Vania jadi merepotkan kalian semua" ucap Vania seolah tidak enak hati.
" Kamu bicara apa nak, kamu sudah tante anggap seperti putri tante sendiri, tante juga menyayangimu jadi jangan merasa tidak enak hati ya sayang" ucap Alena lembut.
Sedangkan Alisha sejak tadi hanya diam saja, ia hanya mendengar tanpa ikut nimbrung pembicaraan mereka.
"Kasihan sekali Vania, beruntung aku memiliki orang tua seperti mama dan papa yang begitu menyayangiku sehingga aku tidak merasa kekurangan kasih sayang kedua orang tuaku" batin Alisha ikut prihatin dengan keadaan sepupunya.